My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Standar



Helaian daun kecil berguguran diterpa angin, seiiring langkahnya yang terhenti di parkiran depan sekolah. Pemandangan itu terlihat lagi, wanita cantik berambut panjang turun dari mobilnya dengan supir pribadi membukakan pintu. Memakai sepatu mahal berwarna putih.


Iri? Tentu saja, sampai saat ini sepatu yang dipakainya sepatu KW murah. Tas? Jangan ditanya lagi, jika resletingnya rusak tinggal ambil tang perbaiki sendiri. Tapi belum sampai satu hari akan rusak lagi.


Namun, perasaan iri menyengatnya itu terbantahkan dengan satu hal. Dirinya menggunakan WIFI rumah Grisella diam-diam, berciuman dengan Ferrell tunangannya, mendapatkan imbalan Handphone Android second-nya tersayang.


Membawanya ke sekolah? Tentu saja, tapi menjaganya baik-baik bahkan meletakkannya dalam kotak. Walaupun Handphone second terkadang mendapatkan kotak juga kan?


Wajahnya tersenyum hari ini pada Grisella, berjalan melewatinya tanpa ingin membuat masalah mengingat singal WIFI yang didapatkannya.


Tapi tetap saja, jika tidak ada pertengkaran akan terasa sepi bukan? Rasanya terlalu gatal tidak bersinggungan dengan Glory yang selalu kalah.


"Aku bertemu denganmu di club'malam beberapa minggu yang lalu. Kamu jadi korban KDRT ya?" ucapnya tertawa, menunjukkan rekaman Glory yang terjatuh di lantai club'malam dengan warna riasan bagaikan orang dipukuli.


Glory menghela napas kasar, mengelus dadanya berkali-kali, mulai berjalan pergi. Hingga kalimat hinaan yang lebih parah terdengar.


Grisella tertawa, berbisik pada teman disampingnya, "Benar-benar badut sekolah, cuma jadi nomor dua. Ingin berusaha menyaingiku, ibunya saja masih mengikuti ibuku. Numpang tenar di group arisan, parasit..."


Baik, ini keterlaluan! Dirinya boleh dihina, boleh ditertawakan, tapi tidak dengan ibunya. Seberapapun ibunya membandingkannya dengan Grisella tapi tetap saja, wanita itu orang yang paling menyayanginya, paling mengasihinya, walaupun dirinya hanya si peringkat dua yang selalu iri dengan sang nona muda.


Glory akhirnya menghentikan langkahnya, menatap ke arah Grisella. Melanggar janjinya pada Ferrell, untuk mempertahankan harga dirinya,"Aku berciuman dengan tunanganmu, Ferrell!! Ini hadiah dari tunanganmu untukku!!" ucapnya penuh kebanggaan, menjadi seorang pelakor tidak tahu malu, menunjukkan Handphone Android second miliknya.


Mereka semua terdiam, hingga Grisella mengenyitkan keningnya, tertawa lebih kencang."Berciuman!? Hadiah dari Ferrell? Kamu jangan bercanda!! Ini cuma handphone second dengan merek murahan, jika benar-benar kamu berhasil menjadi pacarnya. Tidak akan mendapatkan hadiah benda seperti ini... tapi ini..." ucapnya mengeluarkan handphone dengan lambang apel digigit, di bagian belakangnya.


"Ini hadiah ulang tahunku dari Ferrell!!" lanjutnya tertawa.


Hadiah ulang tahun? Sejatinya itu pemberian ayahnya. Tapi sekali lagi entah Glory jujur atau berbohong, Grisella tidak akan mau kalah.


"Aku tidak berbohong!! Ini memang hasil uang jajan pemberian Ferrell!!" ucapnya meninggikan intonasi suaranya. Semua siswa yang kebetulan lewat mendengar, mencibir, menertawakan kebohongannya.


"Aku tidak bohong!!" teriaknya pergi berlalu.


Mengatakan kejujuran, juga tidak akan ada yang mempercayainya. Jadi tidak masalah melanggar janji, dirinya juga tidak mungkin bertemu lagi dengan Ferrell. Tidak mungkin pria mesum itu benar-benar akan menghamilinya hanya karena hal ini bukan? Itulah pertimbangannya.


Dan seperti biasanya juga, dirinya selalu tersisihkan ketika memasuki kelas. Anak populer akan dengan anak populer, sementara dirinya akan bergabung dengan spesies yang sedikit lebih baik dari cumi-cumi.


Ada Budi si tinta cumi-cumi, yang memiliki kulit hitam legam bagaikan tinta. Ira, si wajah cumi-cumi bentuk wajannya lonjong dengan hidung pesek. Satu lagi Caca wanita cantik, berasal dari keluarga berada pada awalnya. Hingga, ayahnya terjerat kasus korupsi dan prostitusi, sebagai pria hidung belang.


Dulu dirinya menjadi salah satu dari teman Grisella, tapi tidak lagi. Akibat kerap mendapatkan cibiran dan tekanan, Caca lebih memilih duduk di dekat mereka. Orang-orang yang paling dihindari. Bukankah di sekolah yang seharusnya setara, tidak memiliki srata sosial? Tapi ini seakan ada strata sosial di setiap individu, aneh bukan? Namun, itulah kenyataannya.


"Akhirnya kamu punya handphone, sudah buat akun Facebook?" tanya Caca, menatap ke arah Glory.


"Sudah, tapi tidak bisa menyetujui pertemanan, tidak ada paketannya. Uang jajanku hanya 5.000, jadi tidak cukup," ucapnya menghela napas kasar.


"Akhirnya orang tuamu diberikan kesadaran, untuk membelikan anak tunggalnya handphone," Budi menimpali, membalik kursinya yang duduk di depan mereka.


"Ini uang jajan, ada orang yang menciumku. Lalu memberikan uang jajan 1 juta sebagai imbalannya. Ya, aku belikan handphone..." jawabnya jujur.


Namun respon berbeda di dapatnya. Ketiga sahabatnya itu percaya."Bagaimana bisa!? Dicium saja? Apa dia tua dan penyakitan?" Ira, ikut-ikutan membalik arah kursinya, duduk berhadapan dengan Caca dan Glory.


"Apa dia jelek? Om gemuk, mesum dan genit?" tanya Budi sama antusiasnya.


"Aku hanya ingin bertanya satu hal, bagaimana rasanya melepas ciuman pertamamu? Apa dia bersikap lembut, saat memainkan lidahnya?" Caca tersenyum, semakin antusias mendengarkan.


"Dia Ferrell, aku tidak sengaja bertemu dengannya saat mengikuti Grisella. Lalu...lalu..." ucapnya tertunduk, melirik ke arah teman-temannya. Sudah menduga-duga mereka tidak akan percaya.


"Lalu?" Caca mengenyitkan keningnya semakin penasaran.


"Aku ketahuan menggeledah kopernya, isinya berbagai macam boxer pria dan kotak yang berisikan alat-alat medis, bahkan ada pisau juga. Setelah itu dia menarikku ke tempat sepi, mencium dan memberikan uang jajan..." jawabnya polos.


Budi menghela napas kasar,"Kamu berbohong?"


"Aku tidak..." kata-kata Glory terpotong.


"Dia tidak berbohong," ucap Caca dengan wajah pucat pasi."Apa boxer pria-nya berbentuk aneh? Seperti ada resleting, tali dan sebagainya?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Glory.


"Aku fansnya jadi aku tau, dia seorang dokter bedah, memiliki rumah sakit sendiri. Pernah ada wawancara, jika Ferrell sering menguji kwalitas boxer yang akan diproduksi masal pabrik bibinya. Pemilik butik yang dulu sering aku kunjungi..." ucapnya selaku fans yang sering mengintai artis idolanya.


Mata Caca tiba-tiba menatap tajam ke arah Glory. Menariknya paksa, memajukan bibirnya.


"Kamu mau apa!?" teriak Glory meronta-ronta.


"Mengambil ciuman Ferrell yang menempel di bibirmu!!" jawabnya, masih menarik Glory.


"Aku sudah sikat gigi!! Bahkan berkali-kali!!" ucapnya mendorong sahabatnya, barulah Glory dilepaskan oleh Caca.


"Jika aku jadi kamu! Aku tidak akan sikat gigi atau berkumur selama tiga hari..." Caca mulai kembali duduk.


"Dasar jorok!! Omong-ngomong kamu tidak marah?" Glory mengenyitkan keningnya.


Caca menggeleng,"Aku hanya fans, bukan pacarnya atau orang gila yang ingin memilikinya. Berbeda dengan wanita halu di depan sana,"


Mengetahui segalanya? Hanya Caca yang tahu benar, tentang kebohongan yang dibuat Grisella, terutama tentang akan bertunangan dengan Ferrell. Tentu saja, Caca fans fanatik yang tahu betapa padatnya jadwal idolanya, walaupun tidak pernah memiliki kesempatan bertemu secara langsung.


Hingga bel berbunyi, jam pelajaran dimulai, wanita yang duduk di depan sana (Grisella) tetap akan menjadi siswi yang paling bersinar...


***


Seorang pemuda berpakaian dokter makan siang di dalam mobilnya. Menghela napas mengingat waktu makan siangnya masih 40 menit lagi. Sebelum harus bersiap-siap, melakukan operasi yang tidak begitu besar.


Hingga akhirnya kotak bekalnya tandas, makhluk itu belum terlihat juga.


Dan benar saja beberapa menit kemudian, akhirnya makhluk itu terlihat mengenakan pakaian SMU.


Ferrell segera meraih maskernya, kemudian memakainya, berjalan keluar dari mobil,"Ikut aku, jika tidak ingin aku laporkan karena menggeledah barang-barangku..." ucapnya pada Glory.


"Tapi kamu berjanji!!" kata-katanya dipotong.


Ferrell menariknya ke kursi penumpang bagian belakang. Memaksanya duduk di pangkuannya.


"Aku akan berteriak!!" ucapnya ingin turun dari pangkuan Ferrell, hendak kembali membuka pintu mobil.


"Ingin uang jajan tidak?" kata-kata mematikan dari sang pemuda rupawan,"Hanya perlu berciuman tidak lebih, syaratnya jaga bibirmu agar tidak bersentuhan dengan bibir pria lain. Aku tidak suka menggunakan barang bekas pakai," bisiknya, dengan jemari menyentuh dagu Glory.


Perasaan berdebar yang nyaman ini kembali, adrenalinnya terpacu. Dokter muda ini merasa sudah benar-benar gila, hanya karena satu ciuman. Dan benar saja, gadis itu menurut memejamkan matanya terlihat ketakutan, tidak centil atau genit padanya. Ini menjadi semakin menggemaskan baginya...


Bersambung