My Kenzo

My Kenzo
Menjadi Wanita Yang Dapat Dibanggakan



Secangkir kopi dan teh hangat telah terhidang, lengkap dengan poch egg dan tost sebagai sarapan mereka. Kenzo belum juga terbangun, pelipisnya masih terlihat memar, mengenakan piyama hitam, berwarna kontras dengan kulit putihnya. Entah kenapa seusai diobati, pemuda itu berendam cukup lama di kamar mandi, hingga bangun sedikit lebih siang dari biasanya.


Model rambut yang menutupi dahinya sedikit tersingkap menampakkan bekas luka memanjang. Amel menunduk di hadapan wajahnya, perlahan meraba bekas luka lama pada kening kekasihnya.


"Sudah ada satu, bukannya menghilang, bekas lukanya akan bertambah lagi..." gumamnya, menghela napas kasar."Aku mencintaimu. Jangan terluka lagi..." bisiknya, entah kenapa membuat Kenzo yang tertidur lelap membuka matanya.


Sang pemuda menarik Amel berbaring dalam pelukannya. Menghirup aroma tubuh gadis itu dari ceruk lehernya, meyakinkan dirinya ini bukan mimpi. Dirinya kini telah sepenuhnya memiliki rumah, tempat yang hangat untuk menghapus lelahnya.


"Aku juga mencintaimu.... Asalkan kamu tetap bersamaku, aku tidak akan pernah terluka lagi..." ucapnya penuh kesungguhan.


"Em," Amel tersenyum, mengangguk, mengecup pipi Kenzo sekilas.


"Beberapa hari ini, aku akan sibuk, pulang lebih larut. Bagaimana jika aku menyewakan jasa travel, agar pacarku tidak bosan?" tanya Kenzo tersenyum, mengelus pipi kekasihnya.


Amel menonggakkan kepalanya, menatap wajah kekasihnya,"Aku mempunyai hoby baru, aku ingin belajar menjadi heaker..."


"Heaker?" Kenzo mengenyitkan keningnya.


Amel mengangguk,"Teman Nindy yang bernama Lorenzo bersedia mengajariku. Katanya cukup menyenangkan, dan bisa dipelajari secara otodidak..."


Kenzo menghela napas kasar, mengecup bibir Amel sekilas,"Belajarlah apa yang kamu sukai. Jika itu membuatmu nyaman, asalkan Amel-ku tidak melihat, mendengar suara, menatap wajah pria lain..."


Amel mengenyitkan keningnya,"Lorenzo adalah laki-laki lalu bagaimana caranya, belajar jika tidak boleh mendengar suaranya?"


Posesif? Benar-benar posesif, Kenzo menempatkan dirinya diatas tubuh Amel, bertumpu pada kedua sikunya, memangut bibirnya perlahan. Seakan tidak pernah menemukan kepuasan, hanya perasaan nyaman, menginginkan lagi dan lagi. Walau hanya pangutan.


Deru napasnya tidak teratur, menatap mata gadis yang berada di bawah tubuhnya."Mudah, jangan anggap dia pria modern. Anggaplah semua pria yang kamu temui manusia purba yang belum berevolusi... dengan rambut di sekujur tubuhnya dan kulit yang kotor..."


Kenzo mendekati leher Amel, sedikit berbisik,"Hanya boleh ada aku di matamu, tidak ada yang lain..."


"Kamu cemburu?" Amel tertawa kecil, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo. Pria yang benar-benar jujur padanya, bagaikan anak kecil polos.


"Jika cemburu kenapa mengijinkanku belajar?" tanyanya kembali.


Kenzo kembali berbaring di samping Amel, tersenyum menatap gadis yang dicintainya,"Karena aku mempercayaimu.... Sebelum kamu mengatakan, aku akan mencoba untuk mengerti. Melindungi jika ada hal buruk yang terjadi..."


Karena itu tolong jangan rubah hatimu. Selamanya tetap seperti ini. Mencintaiku, menjadi tempatku untuk pulang. Karena aku miskin... tidak memiliki apa pun selain dirimu... hanya dapat mencintaimu.... Pria miskin yang menyandarkan hidupnya padamu, bukan miskin kekayaan, namun miskin rasa kasih....


"Aku juga mempercayaimu!! Terimakasih sudah setuju dengan hoby baruku..." Amel tersenyum, memeluk kekasihnya erat.


***


Tapi apa benar demikian? Kenzo menepati kata-katanya. Sebuah ruangan disewakan khusus untuk mereka. Perangkat elektronik bernilai tinggi, bahkan Lorenzo menghela napas kasar, melirik ke arah Amel yang datang dengan supir mobil pick up. Beserta pegawai tempatnya berbelanja perangkat.


"Pacarmu tidak tanggung-tanggung ya?" Lorenzo menghela napas kasar, bahkan dirinya sendiri tidak memiliki perangkat sebanyak ini.


Amel ikut menghela napas kasar,"Dia yang memesannya. Aku bilang jangan pesan terlalu banyak, tapi katanya asalkan mempelajari hoby yang positif dia akan mendukungnya..."


"Mendukung? Ini lebih dari mendukung, dia seperti sedang membentuk perangkat untuk tim IT," ucap Lorenzo, mulai menghubungkan satu-persatu perangkat komputer.


"Ini..." Amel memberikan sebuah kartu debit pada Lorenzo."Katanya biaya khursus, dan jaga jarak, jangan melirikku terlalu banyak. Itu pesan darinya..."


"Posesif..." lagi-lagi Lorenzo menghela napas kasar."Omong-ngomong apa alasanmu ingin belajar IT?"


"Aku ingin menjadi wanita yang hebat untuk pria yang hebat. Dia memiliki perusahaan besar di usia muda, sementara aku dari dulu hanya bermain-main. Kuliah hanya sekedar kuliah, sibuk mencari uang untuk makan. Jadi nilai kelulusanku sangat rendah,"


"Membuka usaha sendiri? Jika membuka usaha sendiri, itu juga pasti karena dia yang mendukungku, selalu melindungiku. Aku ingin suatu hari nanti, aku yang dapat melindunginya.... Jadi ketika kamu mengatakan sistem keamanan data W&G Company lemah. Aku ingin menjadi orang yang pantas berada di sampingnya, melindunginya, berjalan bersama dengannya..." jawab Amel tersenyum, mulai menggunakan earphonenya. Serta menghidupkan perangkat di hadapannya.


"Mulia sekali, menjadi wanita yang keren untuk pria yang keren. Karena pacarmu sudah memberiku gaji aku akan mengajarimu banyak hal ..." ucap Lorenzo, mulai membuka permen karet, jemari tangannya bergerak dengan cepat.


Sesekali memberikan Amel instruksi jika melakukan kesalahan. IPK yang rendah? Siapa bilang IQ-nya juga rendah. Amel hanya menjadi pengecut selama bertahun-tahun, dirinya hanya ingin segera lulus kuliah, menjadi karyawan biasa. Sibuk mencari uang di sela waktu kuliahnya, untuk biaya hidup dan kebutuhan perutnya yang bangaikan tidak pernah kenyang.


Setiap sedih atau stres porsi makannya akan bertambah. Bajet untuk keperluan makan juga akan bertambah. Menabung, mungkin satu-satunya hal baik dalam dirinya saat itu. Benar-benar kehidupannya yang kacau.


Mungkin, Amel saat ini merasa lebih bahagia, hingga tanpa terasa dapat dengan mudah mengendalikan porsi makanannya. Bahagia? Saat ditindas Kenzo selama dua tahun bahagia? Tentu saja, penindasan dan perhatian yang sepadan. Membuat hatinya berdebar tidak karuan, dirinya kembali dapat melabuhkan hatinya.


Berusaha dengan keras membuat orang yang dicintainya bangga dan selalu melihat padanya. Itulah Amel...


Mungkin benar, pasangan akan menjadi faktor penentu seorang wanita akan menjadi seperti apa ....


"Kamu membobol sistem keamanan kantor pacarmu?" tanya Lorenzo menahan tawanya.


"Aku ingin tau dia sedang apa..." ucap Amel tersenyum, setelah berhasil menyadap CCTV ruangan Kenzo.


Dalam bayangannya, seorang sekretaris berpakaian minim akan datang, naik ke pangkuan suami, maaf salah pacar resminya. Kemudian membuka pakaian, terjadilah pertempuran panas dimana dirinya akan menagis memergoki Kenzo berselingkuh ke kantornya.


Posesif? Sejatinya Amel lebih posesif dari pada Kenzo. Lebih tidak percaya, lebih takut kehilangan. Bahkan jika bisa, suatu hari nanti Amel ingin bergabung ke W&G Company, setelah memiliki ilmu yang cukup sebagai seorang heaker.


Menemani Kenzo berpetualang dari satu negara ke negara lainnya. Membatunya di perusahaan, menjadi wanita yang dapat diandalkan. Hingga Kenzo tidak memiliki kesempatan dan keinginan untuk berselingkuh.


Namun, bukan perselingkuhan yang terlihat. Seorang pengusaha pemilik perusahaan lain berada di sana, bagaikan berniat untuk mengambil keuntungan dari W&G Company.


Kenzo tersenyum berjalan mendekatinya,"Kamu fikir kamu siapa? Ibuku? Pacarku? Tuhan?"


Brug ...


Satu tendangan di layangkan hingga sang pria tersungkur."I...ini wilayahku, jadi jika tidak menyetujui kesepakatan bisnis dan mencari perusahaan lain. Aku akan..."


"Akan apa?" Kenzo menginjak jari tangannya."Menawarkan ku beberapa wanita malam, bahkan ada diantaranya yang masih di bawah umur!?"


"Aaggh..." sang pria memekik, merasakan jari tangannya bagaikan patah.


"Seharusnya kamu merasa beruntung!! Tadi malam aku memesan mereka secara khusus dengan bayaran mahal! Bahkan dua diantaranya masih perawan!!"


"Bukannya berterimakasih sudah memberimu hadiah tambahan untuk kesepakatan bisnis. Kamu malah marah besar, berniat membatalkan kontrak, pergi menyetir dalam keadaan..." ucapan pria itu terhenti. Dirinya mencampur sedikit obat dalam minuman Kenzo.


Hingga, efek obat bercampur minuman berakohol, membuat sang pemuda kecelakaan dalam perjalanan pulang. Sebenarnya, kecelakaan yang dialami Kenzo bukan sepenuhnya kesalahan sang pengusaha, andai saja Kenzo tetap tinggal dan menikmati tubuh para wanita hadiah yang disediakannya. Kecelakaan tidak mungkin terjadi.


"Camkan ini baik-baik!! Seumur hidupku aku tidak pernah menerima tender dengan embel-embel wanita sebagai hadiahnya. Kontrak dibatalkan!! Denda pembatalan kontrak aku akan membayarnya. Tapi ingat ini!! Selamanya, perusahaanmu akan aku intai, mencari kesempatan untuk memakannya..." ucapnya mencengkram leher sang pria paruh baya.


Huk...huk...


Leher sang pria paruh baya yang hampir kehabisan napas dilepaskan. Dengan cepat pria paruh baya itu berlari meninggalkan ruangan, ketakutan.


Sedangkan Kenzo, melempar sebuah asbak ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Kemudian duduk di kursinya, tersenyum-senyum sendiri menatap foto Amel di wallpaper handphone. Barulah dirinya kembali bekerja, dengan mood yang lebih baik.


Lorenzo dan Amel yang menyaksikan semuanya dari kamera CCTV terdiam sejenak,"Pacarmu mengerikan..."


Sedangkan Amel masih tertegun menghela napas kasar,"Aku semakin jatuh cinta pada antagonis sepertinya..." gumamnya, tersenyum-senyum sendiri.


***


Sore menjelang, Kenzo menatap ke arah jam tangannya menunggu kedatangan Amel. Hingga pada akhirnya wanita itu keluar, masuk bersamanya ke dalam mobil.


"Pasti berat menahan diri semalam. Pantas saja kamu meminum banyak air putih, bahkan berendam air dingin dalam bathtub..." gumam Amel menatap wajah suaminya yang meminum sedikit obat tapi tidak mendapatkan jatah.


Salah, maksudnya menatap wajah kekasihnya yang tidak sengaja meminum sedikit obat, namun menciumnya berkali-kali, menahan sesuatu, hingga harus berendam air dingin cukup lama, sebelum akhirnya kembali ke kamar untuk tidur.


"Menahan apa?" Kenzo mengenyitkan keningnya.


"Bukan apa-apa... omong-ngomong kenapa bisa kecelakaan?" tanya Amel menguji kejujuran kekasihnya.


"Karena aku mencintaimu..." jawab Kenzo ambigu.


Karena aku mencintaimu, aku menjadi buta tidak melihat kecantikan wanita manapun...


Karena aku mencintaimu, aku menjadi tuli, tidak mendengar rayuan wanita maupun...


Karena aku mencintaimu, aku menjadi bisu, tidak dapat merayu wanita manapun...


Karena aku mencintaimu, aku menjadi lumpuh, hanya dapat terpedaya olehmu. Tidak dapat menyentuh wanita lain...


Supir yang merupakan warga asli Prancis hanya terdiam. Melirik sekilas dari spion, mungkin merupakan hal yang biasa menurutnya.


Kenzo menahan tengkuk Amel, menyesap bibirnya penuh rasa rindu dan gemas. Anggaplah rindu pada kekasihnya yang tidak ditemuinya selama 8 jam. Membalas? Amel mengalungkan tangannya memejamkan matanya. Mungkin merindukannya juga ...


Bersambung