My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Pernyataan



Steven tersenyum, kembali duduk di kursi kerjanya, meraih kotak bekal,"Kemari, duduk di pangkuanku, atau aku akan mengikatmu di tempat tidur..." perintahnya.


Febria menghela napas kasar, imajinasinya tentang sosok Steven dewasa benar-benar hancur. Pria lembut, baik hati, humoris tidak ada lagi.


Menurut demi nyawa tetap selamat, itulah yang dilakukan seorang anak perempuan dari pengusaha terkemuka. Tidak ingin melibatkan keluarganya, terlalu berbahaya mungkin baginya. Mafia, satu kata yang menakutkan.


Perlahan Febria duduk di pangkuannya, pemuda itu menghela napas kasar, menyuapinya,"Aku harus segera mencari pacar, jika ada yang tau tentangmu maka nyawamu akan terancam. Banyak orang yang akan menggunakanmu untuk mengancamku atau mungkin untuk membunuhku,"


"Jangan bergurau! Lagipula kita tidak memiliki hubungan. Sama sekali..." kata-kata Febria dengan mulut penuh.


Steven meletakkan sendoknya, menghela napas kasar,"Memang, aku hanya kakak angkatmu dan ada seorang komposer yang sudah kamu sukai. Tapi orang lain tidak akan menganggap demikian," ucapnya tertunduk.


Mencintai Febria, tentu saja. Namun bahkan gadis itu mengirimkan e-mail permintaan tolong pada Hitoshi melalui laptopnya dulu. Ingin pergi darinya dengan meminta pertolongan pria yang dicintainya. Semua akan berakhir seperti perkiraannya berakhir sebagai seorang kakak.


"Hitoshi, kami hanya sahabat. Orang yang aku sukai adalah..." kata-kata Febria terhenti, bibir pemuda yang tertunduk itu ditatapnya. Jantungnya berdegup cepat, tidak mungkin dirinya menyukai pria ini, walaupun dia Steven kan?"A...a... aku menyukai..."


"Menyukai siapa?" tanyanya menatap tajam.


"Kenzo!! A... ayah adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan..." jawab Febria gelagapan.


"Febria, aku menyukaimu..." Steven tersenyum, mengecup pipinya.


Jemari tangan gadis itu terangkat mengelus pipinya sendiri, bahagia bertemu Steven cinta pertamanya? Tentu saja, tapi ini lebih buruk daripada mencintai kakak sendiri. Satu status yang paling harus dihindarinya 'Mafia' sesuatu yang selalu ditekankan kedua orang tuanya.


"A ... aku akan kembali bekerja!" ucapnya gelagapan, kembali ke mejanya yang memang sengaja diletakkan satu ruangan dengan Steven.


Pemuda itu tersenyum simpul, mulai berjalan menarik kursinya sendiri, duduk di samping sekretarisnya."Makan yang banyak, jangan terlalu banyak fikiran. Nanti jerawatmu tubuh," jemari tangannya bergerak kembali menyuapi Febria.


"Steven, apa kamu harus mempunyai pacar?" tanyanya dengan mulut penuh, tidak rela.


Steven mengangguk,"Wanita yang harus aku manjakan, berada dibawah sorotan lampu panggung, kemanapun melangkah kamera akan mengikutinya. Dia hanya sekedar pacar, agar tidak ada yang curiga, mengancam, atau menyelidikimu... jangan mati, sakit atau terluka," kata-kata yang terucap di bibirnya, tetap dengan status seorang kakak.


Pernahkah Febria mencintainya? Entahlah, namun dirinya ingin memilikinya. Takut akan kehilangannya."Aku mencintaimu..." kata-kata bagikan omong kosong yang tidak pernah mendapatkan balasan.


Febria terdiam, tidak memiliki keberanian untuk membalas atau memeluknya. Status yang mengerikan baginya, walaupun isinya masih tetap Steven yang menyayanginya, satu perasaan yang dipendamnya.


Dirinya juga mencintai Steven, menangis dan tertawa untuknya, memukul dengan tingkah menyebalkannya. Bisakah Steven keluar dari dunia kelam itu? Entahlah, namun dirinya ingin melupakan Steven. Ingin meraih kebahagiaannya sendiri, belajar mencintai orang lain.


Yang harus dilakukannya hanya mendorong, pria ini. Untuk tidak mencintainya...


***


Hujan deras turun sore itu, Steven terdiam seorang diri menadahkan tangannya. Tatapan matanya kosong, membawa sebuah payung besar.


Febria ikut berdiri diarea depan kantor, tidak membawa jas hujan. Menunggu hujan reda untuk melajukan motornya.


"Tidak pulang bersama supir?" tanyanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Steven."Kenapa?"


"Ingin berkencan denganmu," jawaban dari mulutnya yang tiba-tiba tersenyum.


"Aku sibuk, tidak ingin berkencan denganmu," jawabnya cepat, menatap ke arah Steven tidak mempedulikan senyuman di wajahnya kembali hilang. Menatap dengan pandangan kosong ke arah air hujan yang turun.


Tin...tin...tin...


"Febria..." Hitoshi tersenyum, membuka jendela mobilnya."Aku menjemputmu, ayo kita pergi makan. Orang tuaku dan orang tuamu ingin bicara,"


"Iya..." ucapnya menaiki mobil milik Hitoshi. Mata Hitoshi sedikit melirik pemuda yang terdiam menatap derasnya hujan, masih memegang payung besar. Seperti tidak ada niatan untuk bergerak.


Mobil yang bergerak di bawah derasnya air hujan, telah membawa gadis yang dicintainya pergi. Steven tersenyum, namun air matanya mengalir, bagaimanapun dirinya berusaha, sudah 14 tahun, bahkan identitasnya pun sulit dikenali Febria.


Mungkin begini akan lebih baik, hidup di dunia masing-masing hanya mengingat dirinya sebagai seorang kakak. Jika pun pada akhirnya sang ayah yang terbangun dari komanya, membunuhnya karena melakukan restorasi tidak akan ada penyesalan yang tersisa.


Febria telah bahagia,"Kontrak kerja yang aneh..." cibirnya pada dirinya sendiri, ingin menggerakkan sebuah boneka untuk seolah-olah mencintainya.


Namun, tetap saja ada, saat waktu bekerja sudah habis, Febria bukan miliknya lagi. Steven terdiam disana, hanya menatap derasnya air hujan. Wajahnya pucat pasi...


***


Suara gesekan dan benturan antara garpu depan piring keramik terdengar. Sesekali ibunya tertawa, dengan apa yang Frans ceritakan tentang Febria dan Hitoshi.


Gadis itu hanya tertunduk tidak merespon sedikitpun. Teringat dengan Steven yang terdiam dengan wajah tanpa ekspresi. Bagaikan sebuah lubang menganga ada di hatinya kini. Menggengam erat pisau steak dan garpunya.


"A... ayah, ayah tau sendiri aku sudah punya pacar tidak mungkin..." kata-kata yang keluar dari mulut Hitoshi, mencegah kata-kata pertunangan yang dikatakan ayahnya.


"Mama, paman, maaf aku ada janji!!" ucapnya bangkit menunduk lalu pergi dengan cepat, meninggalkan restauran di tengah hujan deras.


Gila!! Dirinya benar-benar sudah gila!! Kembali ke kantor hanya untuk seorang anggota mafia? Tidak ini bukan dirinya sendiri.


Taksi dihentikannya, menaiki dengan cepat, tidak mempedulikan riasan wajahnya yang luntur, mini dressnya yang basah. Air matanya mengalir, terisak menangis usai mengatakan tujuannya pada sang supir taksi.


Dirinya terluka, menatapnya terluka? Apa ini yang namanya mencintai? Tidak, dirinya memang mencintai Steven remaja, tapi tidak boleh mencintai Steven yang ada saat ini.


Sejenak Febria menatap ke arah jendela mobil taksi yang melaju. Semua masih ada di memorinya, bukan Steven remaja yang mengambil ciuman pertamanya.


Namun Steven Hudson, pemuda yang hanya tertidur sambil memeluknya, mempermainkannya, selalu mengalahkannya dalam berkata-kata. Apa dirinya mencintai pemuda kejam itu, mata tajam yang fokus memegang senjata laras panjang.


"Apa aku mencintainya?" gumamnya tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Hingga setelah dua jam kepergiannya gadis itu kembali ke kantor. Turun dari taksi, matanya menelisik mencari keberadaan Steven di sana, tapi tetap saja pemuda itu tidak ada di tempatnya sebelumnya berdiri.


"Steven..." panggilnya di gedung perkantoran yang kosong. Hanya security yang ada jauh di post depan.


"Apa dia sudah pergi? Dia kecewa..." gumamnya tertunduk, berjongkok di area parkir bawah tanah seorang diri. Air matanya mengalir, menangis sesenggukan."Steven jelek!!" racaunya bagaikan anak kecil.


Tubuhnya yang basah terasa hangat tiba-tiba, pemuda itu ikut berlutut di hadapannya. Yang masih berjongkok menangis sesenggukan. Melepaskan jas yang dipakainya, membalut tubuh Febria.


"Aku jelek?" tanyanya tetap tersenyum dengan wajah pucatnya. Mata tajam yang menatapnya dalam tempat parkir bawah tanah tanpa satupun mobil disana.


"Kamu memang jelek..." ucapnya pelan.


"Aku mencintaimu, dari dulu. Jika perasaanmu ada padanya, maka ..." kata-katanya terhenti, kala gadis itu memeluknya dalam tangisannya.


"Hitoshi hanya teman!! Kamu tidak mengerti!?" teriaknya menangis tiada henti.


"Aku mengerti..." Steven tersenyum, melonggarkan pelukannya. Saling menatap beberapa saat, bagaikan menanyakan isi hatinya, menyelami yang ada di sana.


"A...aku..." bibir Steven tiba-tiba membungkamnya. Napas yang benar-benar hangat terasa. Menggodanya untuk membalas.


Bug...


Dirinya yang berjongkok bagaikan didorong paksa hingga terjatuh di lantai. Dengan Steven berada di atas tubuhnya."Aku mencintaimu..." bisiknya di leher Febria.


Bersambung