
Hari ini, merupakan hari yang bersejarah dalam hidupnya. Setelan tuxedo telah digunakan olehnya. Sepasang cincin telah tersemat di jari manis mereka.
Janji suci yang terucap pasangan muda, telah berlangsung tadi pagi. Senyuman terlihat di wajah mereka, menatap ke arah tamu di pesta resepsi.
"Kenapa tamunya tidak habis-habis, kakiku sudah sakit..." keluh Glory yang dalam hidupnya tidak pernah memiliki kesempatan memakai hight heels.
Ferrell masih setia tersenyum, mengenyitkan keningnya."Bersabarlah..." ucapnya mengeluarkan keringat dingin, melirik ke arah pengantin wanitanya.
Sejenak kemudian memejamkan matanya, memendam keinginan naluriahnya. Nindy dan Brandon memang ahli dalam mendesign gaun. Gaun pengantin wanita yang terlihat tertutup, namun perpaduan warna seakan membuatnya terlihat terbuka. Ditambah dengan ornamen kain brokat di beberapa sudut.
Untuk pertama kalinya, Glory dirias oleh penata rias profesional. Bukan makeup yang tebal, namun perpaduan wajah dan gaun sukses membuat imajinasi liar Ferrell kambuh. Menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.
Plak...
Bahunya tiba-tiba dipukul seseorang."Tidak disangka kalian sudah menikah..." ucap Budi, memberikan selamat.
"Selamat ya...kamu terlihat cantik," Ira memeluk Glory, kemudian tersenyum, melepaskan pelukannya.
Sementara mata Lily dan Caca menelisik, mengamati tamu undangan. Berjalan mendekati Ferrell dengan cepat.
"Ferrell, dia siapa?" tanya Lily antusias, mencari pemuda paling rupawan disana.
"Jangan dekati dia," saran dari Ferrell.
"Kenapa?" Lily mengenyitkan keningnya kecewa.
"Keluarganya adalah partner bisnis ayahku. Namanya Rafanda Airen..." Ferrell menghela napas kasar, menatap pria yang lebih dewasa darinya itu, tengah berbicara dengan beberapa orang pebisnis.
"Dia kaya bukan?" tanya Caca penasaran, akan pangeran yang mengendarai pegasus (Kuda terbang bersayap). Bagaikan perhatiannya pada pangeran berkuda poni (Ferrell) teralihkan.
"Sangat..." jawaban dari Ferrell."JH Corporation, ada di bawah kendalinya sepenuhnya. Sementara adik kandungnya sendiri meneruskan perusahaan kakek buyut mereka yang berada di Jepang. Mereka sulit ditaklukkan. Tapi jika menjadi partner sangat dapat diandalkan..."
"Dia memiliki penyimpangan?" tanya Caca, sedangkan Ferrell kembali menggeleng.
"Dia pelit, kikir, picik, pura-pura tersenyum, bersikap baik, aslinya lebih keji dari Steven atau pun Eden. Entah apa yang dilakukannya di sini..." gumamnya menatap ke arah pemuda rupawan yang selalu diikuti asisten cantiknya.
Prang...
Seorang wanita dengan sengaja menumpahkan minuman di pakaian Rafa. Mengusapnya tepat di dada sang pemuda menggunakan sapu tangannya."Maaf.. " ucap sang wanita.
"545.456.234...harga jas dan kemeja yang aku beli di Paris, sudah termasuk biaya tiket pulang-pergi, dan pajak bea cukai. Berikan uang ganti rugi, jika tidak aku akan menuntutmu!" ucapnya menadahkan tangan.
"Tapi aku..." kata-katanya terhenti. Asisten Rafa berjalan mendekatinya.
"Tapi aku apa!? Seorang wanita penghibur yang ingin mendekati tuan muda? Sebaiknya, jika mempunyai itikad baik sebagai kalangan atas, transfer uang ganti ruginya..." ucapnya berusaha tersenyum.
"Aku, aku tidak sengaja," sang wanita mengenyitkan keningnya.
"Aku juga tidak sengaja..." ucap sang asisten cantik tersenyum. Menyiram wajah sang wanita dengan minuman keras.
"Kamu berani-beraninya! Dasar asisten!" bentaknya hendak menampar, namun dengan cepat Rafa menghentikan tangan yang hendak menampar asistennya.
"Dia mengatakan tidak sengaja..." ucapnya tersenyum dingin, tidak membiarkan budaknya terluka sedikitpun.
***
"Keren..." Lily berteriak dari jauh.
"Dia itu pelit, kikir, sulit didekati, kalian tidak akan mengerti," Ferrell memijit pelipisnya sendiri.
"Terserah..." Lily tersenyum, berjalan mendekati sang pria dewasa.
"Dasar..." Glory tertawa kecil menatap kelakuan kedua sahabatnya.
Tidak menyadari hadiah yang dikirim di antara kotak-kotak hadiah yang begitu banyak. Salah satu isinya adalah hadiah pembelian Grisella. Wanita yang kini tengah mengandung, juga melangsungkan pernikahannya di tempat lain.
Erlang yang kembali pada istrinya, mendukung keluarganya untuk terus bangkit. Grisella hanya remaja yang menempuh jalan salah. Pemikiran buruk yang perlahan mulai diperbaiki, dengan konseling dan dukungan keluarganya.
***
Akhir dari sebuah resepsi pernikahan, sudah hampir tengah malam. Tubuh mereka terasa lelah untuk melakukan apapun. Pasangan yang telah hampir terlelap masih menggunakan setelan kemeja serta gaun.
"Ferrell, kamu tidak ingin melakukannya?" Glory menonggakkan kepalanya.
Ferrell menggeleng."Ini akan menyakitkan, dan kamu terlalu lelah, jadi sebaiknya kita lakukan besok saja..."
"Kamu ingin?" tanya Glory pada Ferrell.
Pemuda itu mengangguk."Tapi aku masih bisa menahan diri,"
Glory tertunduk, bagaikan bersembunyi di balik dada bidangnya."Aku ingin..."
"Ingin?" Ferrell mengenyitkan keningnya.
Ferrell mengenyitkan keningnya, benar-benar ibu mertua yang pengertian."Tidak akan menyesal?" tanya Ferrell memastikan.
"Aku tidak akan menyesal..." jawaban dari Glory.
"Aku akan merebut mahkotamu..." bisik Ferrell berada di atas tubuhnya, mendekatkan wajahnya. Dua pasang mata yang saling menatap, hingga terpejam bersamaan.
Lidah yang menyapa terlalu dalam, tidak ada yang perlu ditahannya lagi. Glory adalah miliknya, napas yang memburu saling bersautan.
"Lakukan dan balas, apa yang akan aku lakukan ..." bisiknya mengecup leher gadis itu, membuat beberapa tanda yang membuat Glory meringis menikmatinya.
Membiarkan tubuhnya dimiliki, mencari kepuasan yang entah ada dimana.
"Glory..." bisiknya mengarahkan tangan gadis itu untuk melepaskan kancing kemejanya.
Tangan kecil yang melepaskan kemejanya, membuat tubuhnya bergetar hebat. Melanjutkan gerakan bibir, lidah rakus yang saling menyapa tiada henti.
Tangan Ferrell melepaskan resleting gaunnya. Malu? Dirinya benar-benar malu, namun kala tangan itu masuk membelai tubuhnya, rasa malu itu menghilang.
Memainkan tubuhnya memijatnya pelan, mendamba dirinya benar-benar membuatnya nyaman sekaligus gelisah.
Kemeja yang teronggok ke lantai, bersama dengan gaun putih yang indah. Tangan kecilnya diarahkan suaminya pada bagian pinggangnya. Seolah memintanya melepaskan ikat pinggang dan celana panjangnya.
Glory hanya menurut terbuai akan sentuhan dan cumbuannya. Sepasang kain terakhir yang menutupi tubuhnya telah tanggal tanpa disadarinya. Sedangkan pemuda yang berada di atas tubuhnya hanya mengenakan boxer.
Lidah yang semakin agresif, bergerak ke bawah, kini tepat di bagian sensitif atas tubuhnya. Menyesap kuat apapun yang ditemukannya, memainkan dengan mulut dan lidahnya secara bergantian.
"Ughhh... Ferrell... Ferrell..." berkali-kali nama itu disebutkan Glory entah kenapa. Menjambak pelan rambutnya, merasakan sensasi aneh dari sang pemuda.
"Kamu menyukainya?" bisiknya menghentikan kegiatannya sejenak, menjilati telinga Glory.
Gadis itu mengangguk, kemudian kembali menatap sang pemuda yang menunduk menikmati tubuhnya. Bingung harus bagaimana, ini sungguh sulit di jelaskan.
Pemuda yang sungguh pandai membuatnya terbuai."Ughhh..." racaunya kembali, suara yang mengalir bebas dari mulutnya, menjambak pelan rambut suaminya, tidak ingin ini berhenti.
Namun, Ferrell menghentikannya, membuka penutup terakhir tubuhnya. Tubuh yang kini tidak tertutup apapun.
Glory hanya terdiam, pemuda itu tiba-tiba memeluknya. Tubuh yang menempel tanpa penghalang, bergesekan dalam cumbuan bibir.
Sesuatu terasa menyentuh titik paling sensitif tubuhnya. Hanya menyentuh pelan. Hingga...
"Akk...sa..." kata-kata Glory terhenti, Ferrell, membungkam bibirnya, berusaha menerobos pelan. Ini sulit baginya, namun terasa memabukkan berusaha menyatu lebih dalam lagi.
Hingga darah menetes dalam penyatuan mereka. Sprei dicengkeramnya, masih mengatur napasnya, terasa benar-benar menyakitkan.
"Maaf..." hanya itu kata yang terucap dari bibir Ferrell dengan deru napas memburu.
Glory terdiam, menatap lekat pada mata pemuda yang kini telah menjadi suaminya. Ferrell kembali mencumbui bibirnya, mengguncang tubuhnya pelan. Berusaha membuat diri mereka senyaman mungkin.
Deru nafas Glory perlahan memburu. Tubuhnya benar-benar diguncang, diumbang-ambing tanpa pijakan.
Mulai menikmati segalanya kali ini. Hanya pelan, dua mata yang saling menatap.
Hingga dalam waktu yang cukup lama, menikmati hal yang sulit dijelaskan, gerakan cepat pada akhirnya membuat mereka menonggakan kepalanya bersamaan. Bergetar hebat, saling memeluk menikmati getaran-getaran terakhir di daerah sensitif mereka.
"Aku mencintaimu... tinggallah denganku selamanya..." bisiknya dalam pelukan Glory.
Gadis itu mengangguk."Hanya boleh mencintaiku..." pintanya.
"Aku berjanji, hanya mencintaimu..." ucap Ferrell mengecup pipi Glory.
***
Amel menghela napas kasar, menatap ke arah suaminya. Yang meminum sekaleng soda seperti biasanya, memeluknya dari belakang.
"Aku ingin pensiun, kita tinggal jauh dari keramaian. Hanya berdua..." ucapnya berusaha tersenyum.
"Kenapa?" Amel melepaskan pelukannya.
"Aku ingat sekarang, kenapa W&G Company berdiri. Karena sepasang kekasih yang berakhir tragis. Seorang dosen muda dan karyawati cantik," Kenzo menitikkan air matanya, semua puzzle ingatannya telah kembali sempurna.
Amel menariknya, memeluknya erat."Ceritakan padaku..."
"Mereka meninggal karena... karena..." kata-kata Kenzo terhenti, terisak dalam tangisan dukanya.
"Kita akan pensiun, kita sudah memiliki cukup banyak saham dan aset. Anak-anak kita yang akan mengurus W&G Company milikmu. Menjalani hidup kita di sebuah desa pelosok, kamu tidak akan kehilanganku, seperti pasangan yang kamu katakan..." jawabnya tersenyum.
Kenzo memeluknya erat, takut akan kehilangan Amel seperti Gama yang kehilangan Dewi. Bipolar Disorder yang mungkin kembali kala semua memorinya telah lengkap. Namun, ada Amel saat ini disini, sudah cukup untuknya, wanita yang dicintainya.
Tamat