My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Kuda Liar



Sebuah perasaan berdebar yang tidak asing baginya. Namun, tidak dihiraukan, inilah Ken pemuda yang akan menemaninya hingga tua nanti.


Lidah yang menyapa semakin intens, asupan nutrisi yang baru didapatkan sang dokter muda. Meyakinkan diri hatinya telah hanya dimiliki gadis ini. Pada akhirnya pangutan itu terlepas sempurna, meninggalkan sang pelakunya yang saling menatap penuh senyuman. Sejenak mengalihkan pandangannya menahan rasa malu dan canggungnya.


Kenapa Ferrell jadi seperti ini setiap berhadapan dengan Glory menggunakan identitas Ken? Karena wajah, dirinya tidak percaya diri dengan rupanya saat menjadi sosok Ken. Tidak tampan, tapi juga tidak jelek, siapa sangka makeup efek khusus dapat merubah wajahnya begitu banyak.


Namun dengan rupa seorang Ferrell dirinya dapat bagaikan menjadi pribadi yang berbeda, memiliki status sosial tinggi dan wajah rupawan. Tidak memiliki rasa rendah diri untuk menggoda gadis genitnya.


"Aku mencintaimu..." ucap mereka, entah kenapa bisa bersamaan, tertawa kecil duduk mulai bercerita berbicara penuh canda.


Seorang dokter muda berhati dingin yang jatuh cinta untuk pertama kalinya.


***


Di sebuah restauran...


Sepasang kekasih tengah menikmati makan malam mereka, bukan restauran elite, hanya restauran biasa kelas menengah. Terbiasa hidup sederhana sebagai anak dari seorang gundik itulah Grace. Ibunya hanya seorang istri simpanan seorang pengusaha terkemuka. Ibu yang sejatinya telah meninggal 5 tahun lalu.


Karena itulah dirinya selalu berhati-hati dalam bertindak, tidak ingin nama buruk ibunya juga menempel berada padanya. Mengambil beasiswa kuliah di luar negeri, tidak ingin dianggap benalu oleh sang ayah dan keluarga sahnya.


Ayah yang tidak peduli pada, hanya mengirimkan uang sebagai tanggung jawabnya saja. Bahkan hingga saat ini Grace tidak memiliki status di akte kelahirannya, hanya ada nama ibunya di sana, dia bukanlah putri sah sang ayah.


Karena itu, hanya Tio yang dimilikinya, seseorang yang dipercayainya dapat menemani dirinya di masa depan. Membangun keluarga, memiliki status sebagai seorang istri dan ibu nantinya. Namun, apa semua harapannya akan terwujud?


Tio menggengam jemari tangannya, tersenyum padanya. Hatinya tulus untuk mencintai Grace, meniduri wanita lain? Itu hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja. Grace tidak ingin berhubungan sebelum pernikahan. Alasannya? Tidak ingin citra almarhum ibunya melekat pada dirinya.


Namun, inilah penyebab segalanya, Tio bermain dengan wanita lain. Sedangkan, Grace menahan rasa sakit, berpura-pura tidak mengetahuinya, tidak ingin kehilangan satu-satunya tali tempatnya bergantung pada sebuah jurang.


Tidak memiliki keluarga, hanya seorang ayah yang tidak mengakuinya dan ibu yang telah meninggal. Hanya Tio yang dimilikinya, namun ada saatnya, rasa sakit itu menghujam, bagaikan dirinya semakin dekat dengan kematian.


"Aku sudah bicara pada ibu tentang pernikahan kita. Kamu menyukai konsep apa? Garden party, atau pesta besar di ballroom hotel?" tanyanya tersenyum, menatap kekasihnya yang kini baru saja mendapatkan pekerjaan sebagai General Manager sebuah hotel berbintang.


Lulus dengan nilai yang bagus, mendapatkan karier yang baik, bukan tipikal wanita otoriter, bukan juga wanita murahan. Cantik? Grace benar-benar cantik, memiliki bentuk tubuh yang indah. Hati yang baik, walaupun anak dari seorang istri simpanan, namun ibu Tio menyukainya. Calon menantu yang sempurna.


"Yang sederhana saja..." jawaban dari Grace, berusaha tersenyum. Sejenak kemudian kembali tertunduk, anak seorang pengusaha itulah Tio berasal dari kalangan atas. Dirinya sudah berusaha keras untuk dapat mengimbanginya.


Tapi setelah merasa pantas, Grace baru mengetahui entah berapa banyak wanita yang ditiduri kekasihnya, kala dirinya menimba ilmu. Terdiam menulikan telinganya, menutup matanya, merapatkan mulutnya, seolah-olah menjadi wanita bodoh yang tidak mengetahui segalanya.


"Sebentar..." ucap Tio tersenyum, mengecup pipi Grace, kemudian berjalan menuju toilet mengakat handphonenya yang berbunyi.


"Aku tau..." gumamnya, terisak mulai menitikan air matanya, mengetahui Tio tengah mengangkat panggilan salah satu diantara wanita-wanita yang mengejarnya. Hanya diam, ingin tetap bersamanya.


Dan benar saja, Grace menghapus air matanya menggunakan tissue. Bersamaan dengan keluarnya Tio dari toilet, tersenyum mengetikan sesuatu di phonecellnya.


"Sayang, maaf aku harus pergi ke kampus, mendiskusikan skripsi dengan dosen pembimbing..." ucapnya tersenyum.


Grace hanya mengangguk. Tio lebih banyak bermain-main, sedangkan Grace berusaha keras wisuda lebih awal. Hingga, kini kala kekasinya yang sebaya dengannya masih kuliah, dirinya telah bekerja. Baru sekitar 5 bulan kepulangannya ke negara ini, dirinya sudah mendapatkan pekerjaan yang stabil tanpa mengandalkan koneksi.


Kening Grace dikecupnya, memanggil pelayan guna membayar bill. Kemudian pergi meninggalkan kekasihnya.


***


Hal yang dilakukan Tio? Kali ini bukan Grisella, namun wanita lainnya. Lebih tepatnya teman sekampusnya.


Seorang wanita bertubuh tidak kalah indahnya dengan Grace terlihat. Mengenakan dress tipis memperlihatkan belahan dadanya."Sayang, sebentar lagi kamu wisuda, kapan kita menikah?" tanyanya, mendekap tubuh Tio.


Tio tersenyum, kala belahan dada itu terlihat jelas."Aku ingin..." ucapnya.


Pasangan yang berpangut mesra, dress wanita itu teronggok di lantai bersamaan dengan kaos hitam yang dipakai Tio. Satu persatu pakaian mereka terurai, lampu tidak menyala.


Melakukan segalanya di sofa yang cukup luas. Sang wanita menjambak pelan rambut Tio yang terlihat bagian bayi kehausan. Hingga berakhir mengguncang tubuh indah itu. Membuat sang pemilik tubuh dan sang pelaku meracau mengerang mencari kenikmatan duniawi.


"Agh..." hingga satu pekikan lagi keluar dari keduanya."Kita lanjutkan di kamar..." bisik Tio, membuang pengamannya ke tempat sampah, namun hanya terjatuh ke sampingnya tidak tepat sasaran. Kembali membawa tubuh salah satu kekasihnya ke dalam kamar.


Beberapa saat kemudian...


Suara kode akses ditekan terdengar, Grace menghela napasnya hendak menunggu kekasihnya pulang dari kampus. Sakelar lampu ditekannya, dan ceceran pakaian terlihat, bahkan pakaian dalam wanita yang yang benar-benar menantang.


Suara racauan sepasang insan terdengar dari kamar Tio. Grace mundur selangkah menahan tangisnya, hingga...


Bug...


Tubuhnya membentur seseorang yang berdiri di belakangnya.


"Kamu siapa? Teman atau saudaranya Tio?" tanya Gin yang datang untuk mengambil boneka pemberian Tio sebagai hadiah untuk Glory nantinya, sekaligus bekerja sampingan.


Gadis itu mengenyitkan keningnya, berusaha menetralkan napasnya agar tidak kembali menangis, berusaha bertindak sewajar mungkin.


"Ayo masuk..." ajakannya menarik tangan Grace.


Suara racauan dari kamar Tio terdengar semakin jelas.


"Lebih cepat lagi... lebih cepat lagi...ah...Tio... sudah...aku lelah...ah..." suara seorang wanita, bersama dengan racauan dan erangan Tio.


Gin mengenyitkan keningnya."Lebih cepat lagi ... kak Tio...ah..." ucapnya meniru suara sang wanita.


Grace yang awalnya ingin menangis, menipiskan bibir menahan tawanya.


Satu persatu pakaian laknat itu dipungut sang pemuda dari sofa. Bahkan menggulung pakaian dalam wanita tanpa jijik sedikitpun, menaruhnya ke dalam tempat pakaian kotor.


"Kamu duduk di sofa dulu! Tidak akan lebih dari satu jam, kecuali di minum obat kuat!" ucapnya mengenakan sarung tangan karet memungut alat pengaman yang sebelumnya dilemparkan Tio tidak tepat sasaran.


"Kuda liar itu benar-benar menyebalkan!!" umpatnya sebagai sahabat yang digaji untuk membersihkan apartemen Tio, memasukkan alat pengaman ke dalam tempat sampah dengan benar.


Grace hanya dapat terdiam, dari perasaan sedih, menjadi berubah ingin tertawa.


"Kamu sepupunya si kuda liar!? Jika iya, tolong laporkan ini pada pacarnya yang tinggal di luar negeri! Bahkan pacarku ditiduri olehnya, untung saja aku mudah move on, menerima perjodohan bibiku dengan gadis yang lebih cantik. Dasar kuda liar, jika melempar alat pengaman harusnya tepat sasaran!" umpatnya mengambil alat pel.


Grace hanya terdiam, berusaha bersedih tidak tertawa. Namun, memang benar dirinya kini duduk di tempat kekasihnya sebelumnya berhubungan dengan wanita lain. Namun, tidak terjadi apapun, air matanya tidak mengalir lagi...


"Kuda liar! Aku tidak akan memperkenalkan tunangan baruku padanya!!" umpatnya.


Bersambung