My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Adik



Keceriaan masa muda yang terasa pekat. Tiga orang wanita mulai turun dari mobil Grisella. Menatap rumah mewah di hadapan mereka, sedikit melirik ke arah Glory yang melambaikan tangan ke arah Ken tanpa henti di depan rumahnya yang terletak bersebelahan.


"Setidaknya Glory sadar diri, peringkat ke dua dengan pria tidak begitu penting..." gumam Grisella tersenyum menghina. Menatap gadis yang selalu berusaha bersaing dengannya kini bagaikan tidak peduli lagi.


"Biarkan! Memang cocok Superman dekil dengan si nomor dua," suara tawa Meka terdengar nyaring.


"Iri!?" Glory mengenyitkan keningnya sombong mendengar celotehan mereka, kemudian berjalan menuju rumahnya. Tidak peduli dengan apapun lagi, hanya peduli pada Ken dan menyelesaikan pendidikannya dengan nilai semaksimal mungkin. Sudah terlalu lelah rasanya, sang pinguin kecil berusaha terbang setinggi burung merpati yang cantik dan kaya.


Jika tidak bisa terbang, lebih baik berenang saja, mungkin suatu hari nanti akan bertemu dengan seekor Dugong di dalam lautan dalam.


"Siapa yang iri!? Pacarku jauh lebih tampan dan kaya! Pamannya seorang menteri, ayahnya pengusaha!!" teriak Meka tidak terima dihina oleh Glory.


"Sabar, kita siswi terpopuler di sekolah. Jangan menurunkan image hanya untuk adu mulut dengan si nomor dua," Lily menghela napas kasar, mulai mengeluarkan gadgetnya, mengirim beberapa pesan entah pada siapa.


"Ayo ke kamarku," ucap Grisella menarik teman-temannya memasuki rumah.


***


Seperti sudah diduga kamar yang luas dengan tempat tidur berukuran king size. Meja rias dan meja belajar berada di sana, serta lemari berukuran besar. Kamar dengan konsep minimalis, tidak lupa beberapa poster Ferrell berukuran besar ada di dindingnya.


Itulah fans fanatik, mekipun termasuk jarang mengadakan konser dan tampil di TV hanya pada job terbatas saja, karena kesibukannya di rumah sakit. Ferrell memiliki cukup banyak fans fanatik.


Video konser yang diunggah manejemennya bahkan jutaan kali ditonton. Setiap singgel, serta mini album yang dirilis selalu laku di pasaran. Suaranya ketika bernyanyi memiliki ciri khas, serta lagu ciptaan sendiri dengan penghayatan setiap menyanyikannya, mungkin menjadi penyebabnya.


Grisella berjalan menuju lemarinya, mengambil sebuah syal yang dibelinya secara online, saat penggalangan dana acara amal. Dimana para selebriti ternama menyumbangkan barang mereka untuk di lelang.


Berjalan menuju teman-temannya, yang tengah duduk di sofa kamarnya.


"Ini hadiah dari Ferrell, saat dia kuliah di Inggris," dustanya, tersenyum.


"Jadi kamu benar-benar akan dijodohkan dengan Ferrell!? Aku ingin bertemu dengannya, sekali saja..." pinta Meka.


"Maaf, dia lumayan sibuk," Grisella tersenyum bersamaan dengan ART yang masuk membawa tiga gelas orange juice, serta cemilan.


"Kamu kan calon tunangannya. Sekali saja ya? Kalau tidak, mintakan aku cangkir dengan tandatangannya untuk ulang tahun adikku," Lily semakin mendekat, mohon pada Grisella.


"Aku akan bicara padanya," jawaban ambigu lagi-lagi keluar dari mulut dari Grisella yang sejatinya masih menunggu kepastian dari ayahnya, akan perjodohannya."Setelah ini aku ada janji dengan kak Tio, kalian mau ikut?"


Kedua orang itu saling melirik kemudian mengangguk. Melepas penat mereka mungkin lebih baik. Menjadi siswi paling populer, siapa yang tidak menginginkannya? Mungkin karena itulah tiga wanita paling populer di sekolah itu selalu bersama. Menjadi pusat perhatian semua mata yang melihat.


Grisella, mulai berganti pakaian di kamarnya, bersama kedua temannya. Namun, Lily yang selesai lebih awal kembali duduk membaca postingan di handphonenya. Wajahnya tersenyum, kemudian dengan cepat mengirimkan pesan pada seseorang untuk menghapus postingannya.


"Aku keluar sebentar," ucapnya duduk di balkon, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih berganti pakaian.


Lily berkali-kali membaca komentar postingan Caca, yang beberapa menit kemudian, dihapus atas suruhan Lily. Tidak menyangka sama sekali gitar yang dimiliki Caca adalah asli.


Ferrell bersedia menyerahkan gitar kesayangannya? Apa yang terjadi sebenarnya? Mungkin yang Caca katakan adalah kejujuran.


Bagaimana Lily dapat mengetahui keasliannya? Salah seorang fans fanatik lain, menawar dengan harga ratusan juta. Bahkan ada yang mencapai 1 miliar. Fans fanatik yang menawar berkomentar dapat melihat detail ukiran yang sama, bahkan sedikit kerusakan kecil berada di tempat yang sama.


Karena itulah Lily meminta Caca menghapus postingannya. Ingin mengetahui dan menyimpan untuk dirinya sendiri, rahasia terbesar seorang Ferrell. Apa yang menyebabkan artis idolanya itu memberikan gitarnya secara cuma-cuma, mengingat keluarga Caca yang sekarang tidak termasuk perekonomian kelas atas lagi. Tidak mungkin Caca membeli Gitar tersebut, hanya ada satu kemungkinan, yang dikatakan Caca bukanlah kebohongan.


Lily menatap dari balkon, mengamati baik-baik, Caca yang mendatangi rumah Glory. Ini kesempatannya, memberikan hadiah untuk adiknya yang sakit.


Mengharapkan Grisella? Mungkin selama ini Grisella lah yang berbohong. Sudah dari 6 bulan yang lalu dirinya meminta satu saja, barang pribadi Ferrell. Namun Grisella selalu mengelak, memberikan alasan ambigu.


Hingga kini adiknya yang akan menjalani operasi pengangkatan tumor ganas, akan berulang tahun dua hari lagi.


"Lily! Kamu mau kemana?" tanya Grisella.


"Kita mau keluar dengan Grisella, kamu lupa," Meka memegang tangannya menghentikan langkahnya.


"Adikku dua hari lagi berulang tahun. Grisella, kalau kamu memang temanku, berikan syal pemberian Ferrell. Kamu bisa memintanya lagikan? Jangan khawatir aku akan membayarmu," ucap Lily menadahkan tangannya, ingin membuktikan persahabatan mereka yang sejatinya hanya berlandaskan pada kepopuleran.


Beberapa saat menunggu, jemari tangannya mengepal, menurunkan tangannya menatap Grisella yang sejatinya mengetahui tentang kondisi adik Lily, hanya terdiam.


"Lalu kenapa kamu pergi pada Caca!?" tanya Meka membentak.


"Walaupun gitarnya palsu, aku ingin meminjamnya untuk adikku," dusta Lily yang sejatinya telah mengetahui keaslian Gitar yang dimiliki Caca.


Berjalan pergi, menepis tangan Meka. Walaupun mengetahui dirinya akan dimusuhi kedua sahabatnya. Itu tidaklah penting, dari dulu tidak ada persahabatan diantara mereka, hanya sebagai perkumpulan untuk menonjolkan diri.


Grisella dan Meka hanya terdiam sejenak, kemudian kembali pada rencana semula, bertemu dengan Tio. Mencari pengganti Lily? Mungkin itulah yang akan mereka lakukan.


***


Lily mulai keluar dari rumah Grisella, berjalan mengendap-endap. Dua orang yang keluar dengan pakaian biasa dari rumah Glory ditatapnya.


Mengikuti mereka dari belakang, bahkan Lily menunggu dari jauh Glory selesai membantu ayahnya, berjualan. Tidak ada yang aneh, hingga perjalanan pulang mereka.


Seorang pria turun dari mobil, memakai masker, menghentikan langkah mereka. Pria yang menyuruh Caca untuk pergi, pertengkaran kecil terjadi. Glory seperti tidak mengijinkan Caca untuk pergi. Tidak didengar dengan jelas olehnya.


Hingga Caca melepaskan tangan Glory yang menggenggamnya. Tersenyum, kemudian menjauh.


Sang pria yang masih memakai maskernya itu, berbisik pada Glory, entah apa yang dikatakannya. Tapi Glory, kemudian terlihat menurut, membiarkan sang pemuda menariknya ke stadion olahraga kosong yang ada di dekat mobil itu parkir.


Benar-benar dipenuhi rasa ingin tahu yang tinggi, Lily mengamati Caca dari jauh yang duduk di trotoar. Beralih mengikuti Glory yang masuk ke stadion olahraga masih ditarik sang pemuda.


Langkah demi langkah mengendap-endap, ingin mengetahui sisi buruk seorang Glory. Terlihat jelas menyukai Ken, tapi masih bersedia ditarik ke dalam stadion oleh seorang pemuda?


Hingga Lily yang awalnya ingin mengintip, membulatkan matanya, kembali bersembunyi, menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.


Pemuda yang sebelumnya memakai masker, telah melepaskan maskernya. Memangut bibir Glory, saling memejamkan mata penuh hasrat. Bahkan kedua orang itu saling memainkan lidah di luar mulut, kemudian kembali saling menyesap.


Pemuda yang ditatapnya dari jauh, dikenalnya sebagai sang idola,"Ferrell?" gumamnya dengan suara kecil, bersamaan Ferrell yang tengah menikmati asupan nutrisinya, sedikit membuka matanya.


Tersenyum, melambaikan sedikit tangannya di belakang punggung Glory, bagaikan memberi instruksi untuk tetap bersembunyi.


Dengan tidak tau malunya, pemuda itu kembali menikmati bibir Glory lebih agresif lagi.


Ferrell? Glory? Apa mereka akan berbuat mesum? Aku menemukan dua skandal sekaligus... batinnya tetap bersembunyi, ingin mengintip, namun telah diberi instruksi untuk tetap bersembunyi.


Takut jika ada suara ikat pinggang yang terjatuh, mengingat ciuman kedua orang itu yang telah memasuki tahap tidak wajar.


Namun, tidak terjadi apapun setelahnya, Lily sedikit mengintip, mereka hanya saling mengecup bibir beberapa kali. Setelahnya, Ferrell memasukan uang ke dalam tas Glory.


Glory terlihat tertunduk murung tidak tersenyum sedikitpun, meninggalkan area stadion. Hingga sepasang kaki tiba-tiba berada di hadapan Lily.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Ferrell mendekati tempat persembunyiannya.


"A...aku hanya ingin meminta tanda tangan. Omong-ngomong kak Ferrell, memiliki hubungan apa dengan Glory? Kalian pacaran?" tanyanya penasaran, menyodorkan gantungan kunci miliknya dan spidol.


"Aku menyukainya, tapi dia menyukai pria lain. Puas!?" geramnya kesal, mengembalikan gantungan kunci yang sudah ditandatangani, hendak berjalan pergi beberapa langkah.


"A...aku akan membantumu, agar dia menyukaimu! Aku akan menjauhkannya dari pria yang disukainya! Asalkan, kamu bisa bernyanyi lagu selamat ulang tahun untuk adikku? Katakan agar dia cepat sembuh, tolong sebutkan namanya..." ucap Lily mengepalkan tangannya, menggenggam handphonenya. Hanya dengan satu rekaman dari selebriti idola adiknya, mungkin akan menjadi hadiah terindah untuknya. Memberinya semangat, menjalani operasi.


Bersambung