My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Sebuah Kebiasaan



Tig...


Suara beberapa gelas terangkat, berbenturan. Kalangan sosialita itulah tempatnya berada saat ini. Tidak diduga olehnya, inikah pesta kelas atas? Berbeda dengan pesta yang selama ini diadakannya, hanya pesta di rumah itupun dengan katering lumayan mahal.


Namun ini? Menyewa seluruh restauran kelas atas hanya untuk mengadakan semacam arisan? Kagum begitulah dirinya, saat ini. Apalagi kala Amel yang bagaikan menjadi pusat perhatian.


"Bagaimana bisnismu? Tidak di sangka kamu mau hadir padahal dari dulu kami sudah mengundangmu ikut..." ucap salah seorang wanita paruh baya, selaku ketua arisan.


"Aku lumayan sibuk, lagi pula aku bukan anggota arisan," Amel tersenyum, mulai meminum sekaleng soda berwarna bening.


"Kamu bukan anggota arisan?" Diah mengenyitkan keningnya.


"Walaupun dia bukan anggota, tapi Amel selalu akan menjadi tamu kehormatan..." ucap sang ketua arisan, menuangkan kembali wine dengan angka tahun 1940 dalam gelas Amel.


"Aku tidak minum alkohol, soda sudah cukup," Amel menghela napas, sembari tersenyum.


Salah seorang anggota arisan, ikut menghela napas, membukakan kaleng baru untuk Amel,"Kamu melakukan ini untuk mengenang almarhum suamimu ya? Sayang sekali dia mati dalam usia muda. Aku tau dia menyukai soda, karena keponakanku bekerja di kantor pusat W&G Company sebagai wakil direktur selama 9 tahun. Aku turut berduka ya? Tidak disangka selama ini kamu berpura-pura kalau suamimu masih hidup,"


Mengundang simpati Amel adalah tujuan mereka, berteman untuk memuluskan hubungan bisnis. Menjadi pusat perhatian? Begitulah Amel saat ini, Diah terdiam, memakan hidangan di hadapannya.


Pakaian seharga puluhan, bahkan ratusan juta, perhiasan berlian, mereka benar-benar dari kalangan atas. Dirinya merasa rendah saat ini, namun tetap saja, Amel akan menjadi menantunya, dirinya dapat melampaui mereka dengan mudah.


Hingga pandangan matanya menelisik, salah satu wanita kelas atas, suaminya pemilik perusahaan besar, berada disana. Diah mulai mendekat pada wanita yang memiliki status sosial lebih tinggi darinya.


"Bu Salma, apa kabar aku..." kata-kata Diah terpotong.


Wanita itu mengenyitkan keningnya,"Kamu siapa ya?" perhatian semua orang yang ada di ruangan itu beralih padanya. Mulai berbisik-bisik mencemooh Diah, orang dengan penampilan paling buruk disana.


Senyuman tertahan di bibir Amel inilah saatnya, mengambil perhatian sebagai kandidat menantu yang baik."Namanya tante Diah, keluarga jauhku..." ucapnya tersenyum.


Salma tiba-tiba tersenyum, sifatnya mulai berubah,"Oh iya aku lupa. Istri Virgo bukan? Bagaimana dengan kabar anakmu yang baru lulus dari luar negeri?"


Begitu pula wanita-wanita kalangan atas lainnya, mulai melayaninya, mulai mengajaknya bicara bahkan memuji Diah secara berlebihan. Yang dilakukan Amel? Tersenyum, merasa ini terlalu mudah.


Diah melirik padanya, dengan adanya Amel, Virgo mungkin akan memiliki status lebih tinggi. Praba? Tidak perlu bekerja pada orang lain, perusahaan multinasional akan resmi menjadi miliknya dan keluarganya.


Namun, apa benar? Wanita ramah kalangan atas itu hanya tersenyum, dengan tubuh indah berbalut pakaian rancangan adiknya.


***


Club'malam menjadi tujuan akhir dari arisan, dentuman musik terdengar kencang. Sudah mengetahui segalanya? Tentu saja, Amel mengetahui grup arisan macam apa yang didatanginya.


"Diah kamu harus ikut minum..." ucap Salma, menuangkan Vodka pada gelasnya.


Diah melihat ke arah sekitarnya, semua orang memang minum kecuali Amel. Amel tidak apa, tidak ikut minum, dia adalah pusat perhatian dari awal.


Tapi dirinya? Ini adalah kalangan sosialita kelas atas yang sebenarnya, Diah harus mengikuti apa yang mereka lakukan. Tujuannya? Tentu saja untuk berteman, mempermudah jalan keluarganya untuk naik status sosial suatu saat nanti.


"Aku minum..." Diah meraihnya, minum dalam sekali tegukan.


Tapi sudah cukup untuk mengantarnya, menemui jalur neraka kali ini. Biarlah dia yang melompat seorang diri.


"Tante Diah, kepalaku tiba-tiba sakit, mungkin kelelahan karena beban kerja. Aku harus pulang, bill-mu apapun yang kamu lakukan dan makan dan minum disini, aku yang traktir. Maaf aku harus pulang duluan..." ucapnya memegangi kepalanya.


Diah menghela napas kasar, haruskah dirinya kembali ke villa bersama Amel? Tapi kapan lagi dia bisa bergaul dengan wanita karier mandiri dan para istri pengusaha ternama ini."Tante akan tetap disini, kamu hati-hati ya ..." ucapnya.


"Iya..." Amel pergi sembari tersenyum, menutup pintu.


"Senangnya memiliki hubungan keluarga dengannya. Hotel sekaligus club'malam ini, separuh saham adalah miliknya. Bahkan aku dengar-dengar dia berinvestasi di banyak bidang, memiliki ratusan hektar tanah yang tersebar di berbagai tempat. Kamu hanya perlu bersenang-senang bersama kami," Salma menghela napas kasar, merangkul bahu Diah, menyodorkan segelas Vodka.


Hingga beberapa belas menit setelahnya, puncak acara arisan berkedok perhiasan akhirnya tiba. Di restauran tadi, memang hanya arisan perhiasan, berupa emas dan berlian. Namun di club'malam?


Para pria sewaan mulai masuk, tampan dan muda. Bahkan seusia Praba, Diah diam tertegun tidak mengerti. Menatap wanita kalangan atas itu mulai didekati para pria muda. Bahkan ada salah satunya yang mendekatinya.


"I...ini...?" Diah gelagapan.


"Jangan takut begitu, suami kita juga tidak setia di luaran sana. Kenapa sebagai wanita kita tidak bisa..." ucap Salma, bibirnya mulai dikecup sang pemuda, yang membawanya berjalan meninggalkan private room club'malam.


Apa semua kalangan atas melakukan ini? Tapi, apa tidak akan ketahuan nantinya? Beberapa wanita menatapnya, menunggu reaksi Diah yang masih ragu.


"Tante tidak ingin pergi denganku? Aku akan memuaskanmu..." bisik pemuda berkulit sawo matang, dengan bentuk tubuh lebih kekar dari Virgo.


Seketika darahnya berdesir... Hanya sekali, lagipula tidak menggunakan uangku. Ini juga demi mengikuti pergaulan kalangan atas... batinnya, mulai mengalungkan tangannya pada sang pemuda.


"Tante, terlihat cantik..." bisiknya lagi, menyentuh pipi Diah, mengangkat tubuhnya ala bridal style, hendak meninggalkan club mencari kamar hotel yang menjadi satu dengan club'malam tersebut.


Wanita-wanita yang semula melirik ke arah Diah yang nampak ragu. Kini kembali fokus pada pasangannya. Mencari kamar, sekedar bersenang-senang dan mengisi rasa sepi mereka.


Pintu kamar hotel mulai dibuka, pengaruh alkohol, berpadu dengan sentuhan pria muda membuatnya bertambah liar. Naik ke atas tubuh sang pria, terkadang bibirnya terbuka, meracau. Pakaian yang tanggal berserakan, kemampuan pria muda ini memang terasa berbeda dari pada Virgo suaminya.


Mengguncangnya tiada henti, membuatnya tidak ingin berhenti, menyentuh otot-otot itu. Perbuatan yang tidak pernah dilakukannya dahulu, terdengar memalukan dan menjijikkan, tapi tidak disangka begini sensasinya. "Agghhh..." racaunya berkali-kali merasakan tenanga pria muda.


***


Amel melajukan mobilnya, menghidupkan musik yang lumayan keras. Hingga villa milik suaminya terlihat, hal yang dilakukannya? Tentu saja, memarkirkan mobilnya di jalan depan villa.


Security hendak membukakan gerbang, "Silahkan masuk nyonya..." ucapnya.


Tapi Amel menggeleng,"Aku tidak akan masuk ke villa. Ini baru jam sebelas malam..." gumamnya ingin dihukum oleh suaminya.


Sang security mengenyitkan keningnya, tidak mengerti dengan majikannya, akhirnya kembali menutup gerbang. Membiarkan Amel tetap berada di mobilnya yang terparkir di pinggir jalan depan villa.


Tidak menyadari Kenzo menatap dari balkon kamar mereka, yang terletak di lantai dua."Dia minta di hukum..."


Pemuda itu tertawa kecil, menertawakan istrinya yang semakin hari semakin manis saja.


Bersambung