My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Ikhlas



Seorang pemuda yang kembali bekerja seperti biasanya. Berjalan menuju lift guna mengambil beberapa keperluan kolam renang. Pintu lift yang akan tertutup dihentikan oleh seseorang. Tio tersenyum berdiri di sana, tepat berada di samping Gin. Membawa buket bunga, dan cincin.


"Aku akan melamar Grace..." ucapnya tersenyum tanpa sungkan sedikitpun.


Gin mengepalkan tangannya, menatap ke arah Tio, dengan bibir yang berusaha tersenyum."Melamarnya?" tanyanya memastikan pendengarannya.


Tio mengangguk, menghela napas kasar."Jika diterima aku akan dapat membahagiakannya nanti, jika ditolak pun tidaklah mengapa,"


"Grace hanya menggunakanmu untuk membuatku cemburu," lanjutnya tersenyum.


Gin mengangguk, menghela napas berusaha menetralkan dirinya. Yang dikatakan Tio tidaklah salah, dirinya memang hanya dimanfaatkan.


Hingga pintu lift lantai tempat ruangan General Manager terbuka. Pemuda itu hanya berkata,"Selamat berjuang!" pada sahabatnya.


Dirinya akan berakhir dengan Glory, dan Grace? Dari awal hanyalah milik Tio. Namun, apakah hatinya rela? Tangannya gemetar air matanya tiba-tiba mengalir. Hanya terdiam terisak, perasaan apa ini? Seharusnya dirinya hanya fokus pada Glory, calon yang dipilihkan bibi dan ibunya. Dirinya sudah menyetujui perjodohan jadi harus menjalaninya hingga akhir.


***


Hingga sore menjelang, hujan turun dengan deras. Tidak ada guest yang berenang, dirinya diam terpaku duduk seorang diri di gazebo kecil yang memang diperuntukkan untuk tempat mengambil handuk, serta penyimpanan peralatan candle light dinner.


Meringkuk seorang diri dengan teh hangat di tangannya, mencari kehangatan, bersembunyi di bawah meja. Hingga seorang wanita terlihat basah kuyup tiba-tiba ikut berjongkok di sampingnya."Tio melamarku..." ucapnya.


"Lalu?" Gin mengenyitkan keningnya, kembali meminum secangkir teh hangat.


"Lalu? Kamu tidak cemburu!?" tanya Grace.


Gin terdiam, hanya menatap hujan dan kembali minum.


"Gin, aku tanya sekali lagi! Kamu tidak cemburu!?" Grace mengulang pertanyaannya.


Gin masih terdiam, cincin di jari manis Grace diliriknya."Jika aku berkata aku cemburu, tetap tidak akan ada yang berubah,"


Gadis itu tersenyum."Kamu mulai mencintaiku?" tanyanya antusias.


"Apa gunanya...kamu akan menikah dengan Tio, dan aku akan menikah dengan..." kata-kata Gin terhenti, Grace menyambar bibirnya yang dingin. Suara cangkir teh menggelinding terdengar samar-samar. Pasangan yang saling menikmati sebuah kehangatan dalam udara dingin.


Tidak menyadari seorang pemuda berdiri di sekat kaca yang berhadapan langsung dengan area kolam renang. Mengetahui kemana kekasihnya akan berlari, setelah sepasang cincin itu diberikan olehnya.


Memberikan sepasang cincin? Itulah cincin yang Grace beli dengan uang tabungannya ketika SMU. Sepasang cincin yang diberikannya pada Tio, berharap menjadi sepasang cincin yang akan mengikat hati kekasinya.


Tapi semua sudah terlanjur, terlalu lama ditinggalkan Grace. Melihat dengan mata kepalanya sendiri ayahnya membawa gundik-gundiknya pulang ke rumah, menyakiti ibunya. Membuat Tio dendam pada wanita-wanita murahan. Hingga akhirnya melupakan kekasihnya yang tengah menimba ilmu, terlarut akan dendam dan kesenangan.


Air matanya mengalir, dirinya sudah mulai merelakan segalanya. Tidak selamanya manusia itu baik, tidak selamanya manusia itu jahat. Itulah yang disadarinya kala menonton video klarifikasi dari Grisella dan laporan tidak kejahatan pelecehan pada mantan guru bimbelnya.


Lingkungan dan kebiasaan hidup yang merubahnya, hingga menganggap mencari kenikmatan sesaat merupakan hal yang wajar. Dipuja banyak pria melupakan kebanggaan. Orang-orang yang terjerumus terlalu dalam memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.


Daripada berakhir dengan kemiskinan menjadi pengemis, atau kematian ditabrak, dan sakit keras bak sinetron. Seorang antagonis yang egois sejatinya, adalah protagonis dalam kehidupan mereka masing-masing. Berusaha merubah takdir mereka sendiri, menyembuhkan diri mereka dari luka yang terlalu dalam.


Karena itulah hari ini Tio datang untuk menepati janjinya, melamar Grace sekaligus mengembalikan cincin miliknya. Meminta gadis yang dicintainya untuk memilih, akan memberikan cincin pengantin pria pada siapa.


Jika dirinya sudah tidak ada lagi di hati Grace juga tidak apa-apa. Karena sempat mencintainya adalah hal terindah yang dialami Tio.


Cincin yang mungkin kini dipakaikan Grace pada sahabatnya sendiri.


Tio menghapus air matanya, meletakan buket bunga. Kemudian kembali melangkah pergi...


Gin tersenyum, entah kenapa. Mungkin karena perasaannya dari awal hanya kagum dengan sosok Glory. Tengkuk Grace ditahannya mata mereka kembali sayu, melanjutkan ciuman di tengah udara dingin yang menerpa.


***


Berbagai hujatan negatif terus menyerangnya. Dirinya tidak dapat kuliah, hanya menyembunyikan diri. Ratna berusaha tersenyum, menatap putrinya yang berulang kali harus menemui psikiater. Perut rata yang akan membuncit, mengandung cucunya.


"Ibu, boleh aku melihat phonecell? Berita tentangku bahkan ada di TV. Aku..." ucapnya ragu.


Ratna memeluk putrinya dalam tangisannya."Tidak, tidak boleh! Cucu ibu ada di sini jadi untuk menjaganya kamu tidak boleh mengalami beban fikiran ..."


"Aku mengerti tapi..." kata-kata Grisella dipotong.


"Ibu menyayangimu..." ucapnya lirih, menangis terisak. Ada yang menyebut putrinya sebagai wanita rusak, lebih buruk dari wanita malam, SMU sudah seperti ini, besarnya mungkin menjadi pelakor profesional. Ribuan? Bahkan jutaan hujatan yang menertawakan putrinya.


Menjadikannya konten, sebuah lelucon untuk mereka injak-injak. Ibu yang akan tetap berada di pihak putrinya? Itulah Ratna, hanya sepasang tangan hangat seorang ibu yang ada di hadapannya saat ini.


Bukan tangan-tangan pria yang menginginkan tubuhnya. Tapi tangan hangat seorang ibu, tidak ada yang dapat melebihi cintanya.


"Mau melakukan konferensi pers? Aku ingin mengakui anakku..." jawaban dari seseorang yang berdiri di ambang pintu. Itulah Tio yang tersenyum ke arah mereka.


"Kamu siapa?" tanya Ratna, yang memang tidak pernah mengenal sosok Tio sama sekali.


"Dia ayah dari anakku..." jawaban Grisella tertunduk ketakutan.


Tio berjalan semakin mendekat."Orang tuaku akan marah besar, mungkin juga menghajarku, kemudian tidak menganggapku anak lagi, karena mengakui anak dalam kandunganmu. Apa kalian bersedia menampung menantu yang miskin?" tanyanya.


"Ta... tapi kita tidak saling mencintai. Walaupun ibu sudah mengembalikan uangmu. Aku tetap menerima uang itu dulu, jadi kamu memiliki hak untuk tidak mengakuinya," ucap Grisella gelagapan.


Tio menghela napas kasar."Aku menginginkan anak itu. Apa kamu juga menginginkannya?"


Jemari tangan Grisella mengepal, konseling selama beberapa minggu ini membuat jalan fikirannya lebih dewasa dan terbuka. Lebih mencintai orang-orang disekitarnya, dan mengetahui konsekuensi perbuatan dan kata-katanya."Aku menginginkan anakku..." ucapnya mengelus perut ratanya, makhluk kecil yang mungkin sedang berkembang di rahimnya.


"Mau membesarkannya sama-sama walaupun memiliki suami yang miskin. Hanya bermodalkan senjata..." guraunya.


Grisella tersenyum, lebih tepatnya menahan tawanya. Mengetahui kehidupan sulit yang akan mereka jalani setelah ini. Akan lebih sulit lagi, bahkan untuk mencari sumber kehidupan, nantinya.


***


Sementara Erlang telah mencabut gugatan perceraiannya. Tindakan istrinya salah, namun juga benar. Jika saja Grisella mendapatkan tekanan juga dari ibunya usai mengalami pelecehan, mungkin kondisi mental Grisella akan lebih buruk dari saat ini. Tindakan yang juga salah, sebab terlalu mengagungkan dan mempercayai putrinya.


"Ratna..." gumamnya tersenyum, baru keluar dari gedung pengadilan, menyadari dirinya tidak dapat membenci Ratna hanya dengan dua buah tamparan.


Pria yang bodoh? Namun dirinyalah yang meminta seorang anak dari istrinya. Istri yang pada akhirnya menjadi ibu yang mengagungkan putri mereka. Dirinya juga bersalah dalam hal ini, bahkan pelecehan mengerikan yang dialami putrinya tidak diketahui olehnya ...


Psikis remaja yang rapuh...


Seorang wanita malam profesional dapat berasal dari gadis desa lugu yang ditipu sang mucikari. Mengapa? Karena perlahan sang gadis desa lugu, akan menganggap sebuah dosa adalah hal yang wajar untuk bertahan hidup, menjadi ketergantungan akan kenikmatan dan lembaran rupiah...


Mungkin istilah itulah yang terjadi pada putrinya. Dipaksa melakukan hal yang menjijikkan, melayani tiga pria dalam satu kamar. Psikis yang benar-benar terganggu, melarikan diri pada minuman keras, serta berbagai kesenangan duniawi lainnya. Ini juga kesalahan seorang Erlang...


Bersambung