My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Handphone Android



Beberapa puluh menit yang lalu...


Iri? Tentu saja, iri tanda tidak mampu bukan? Namun, itulah kenyataannya dirinya memang tidak mampu. Belajar sekeras apapun Glory akan tetap berada di peringkat kedua. Dirinya tidak akan dapat melampaui Grisella. Ada alasan kenapa dirinya terobsesi melampaui Grisella, namun kesampingkan dulu alasan itu.


Hari ini dirinya mengikuti Grisella lagi wanita cantik yang bagaikan tokoh utama novel, nona muda keluarga kaya. Yang katanya memiliki tunangan hasil perjodohan seorang Ferrell.


Tahu bulat pertanda dirinya usai membantu ayahnya berjualan ada di plastik, sedangkan buku pelajaran berukuran kecil ada di tangannya. Mencoba menghafal materi, tidak habis fikir bagaimana pun dirinya belajar tidak akan dapat menyaingi Grisella. Hidup ini sungguh tidak adil baginya.


Menyantap tahu bulatnya, hingga tidak disadarinya security belakang panggung ada di hadapannya. "Kamu sedang apa disini?" tanyanya.


Matanya menelisik, Grisella dapat masuk dengan lancar, lagi-lagi kekuatan uang yang berkuasa The Power of Money.


"Aku ingin bertemu dengan ayahku, dia petugas belakang panggung. Handphonenya ketinggalan..." ucapnya ketakutan, mengeluarkan HP jadul Nokia yang tidak berwarna miliknya, lengkap dengan karet menutupi bagian casingnya yang hampir terlepas. Berharap sang security akan percaya dan benar saja.


"Masuk, temui ayahmu lalu langsung pulang, jangan menggagu artis," perintahnya tegas.


Percaya? Tentu saja, remaja mana yang tidak memiliki smartphone, kecuali Glory tentunya.


Gadis itu mengangguk, langsung tancap gas masuk dengan cepat sebelum kehilangan jejak Grisella. Ingin membuktikan kebenaran dari bualannya yang mengatakan seorang Ferrell adalah kekasihnya. Pasalnya mereka bertetangga, tidak pernah ada makhluk itu di rumah Grisella.


Gadis dengan rambut pendek, lengkap memiliki poni bak Cleopatra itu berjalan mengendap-endap. Matanya menelisik tidak menemukan keberadaan Grisella.


Hingga Ferrell dilihatnya dari jauh, meletakkan sebuah koper, lalu pergi menuju toilet. Dengan cepat jiwa keponya meronta-ronta, membuka isi koper. Jika benar-benar tunangan Grisella setidaknya akan ada foto atau apapun yang berhubungan dengan Grisella disana.


Sesuatu yang ada dalam imajinasinya saat ini adalah membongkar kebohongan Grisella. Kemudian dipuji-puji memiliki banyak teman di SMU-nya, sebagai ratu gosip yang berhasil membongkar kebohongan sang Ketua OSIS.


Namun hal aneh ditemukannya, membuat dirinya membulatkan matanya. Berbagai jenis pakaian dalam pria berbagai warna, bahkan ada yang memiliki resleting. Ini tidak salah kan? Benar-benar koper Ferrell sang artis idola kan? Ada lagi yang tidak kalah mengherankan, kotak berisikan alkohol pisau operasi, dan berbagai benda mengerikan lainnya.


***


Sementara itu di tempat lain dirinya tengah menghubungi Steven. "Mimpi basah tidak dihitung!! Kamu masih perjaka!! Aku menang!!" suara tawa terdengar dari seberang sana.


Ferrell menghela napas kasar,"Tidak ada wanita yang terlalu baik untuk seorang Ferrell, lagipula kamu baru-baru ini melepaskan keperjakaanmu, usiaku masih 21 tahun, jadi wajar saja masih perjaka..." ucapnya tersenyum, menatap ke arah cermin depannya.


"Aku kehilangan ciuman pertamaku di usia 14 tahun. Kamu kehilangan ciuman pertamamu di usia berapa?" tanya Steven dari seberang sana.


Ferrell terdiam, masih terpaku menatap cermin, bibirnya masih original sampai saat ini. Kalah dari Ultraman? Apa dirinya benar-benar hanya pria tidak laku? Tidak, Ferrell adalah jomblo berkualitas.


"Kenapa diam? Jangan-jangan kamu tidak pernah berciuman ya?" suara pemuda itu tertawa kencang terdengar,"Kamu akan tau sensasinya, saat jantung berdebar cepat. Bibir saling bersentuhan, bergerak ingin menerobos, menginginkannya lagi dan lagi..."


"Sudah, selesai mengejeknya? Mau aku tukar jantungmu dengan jantung sapi?" tanyanya, kesal berusaha tersenyum.


"Maaf!!" Steven masih tertawa, segera mematikan panggilannya, sepihak.


Ferrell menghela napas kasar, setidaknya berciuman, dirinya hanya harus berciuman agar tidak kalah dari Ultraman. Tapi dimana menemukan wanita dengan bibir original tanpa harus mencari.


Hingga langkahnya yang baru keluar dari toilet pria terhenti, menatap seorang wanita menggeledah kopernya. Menurunkan beberapa boxer rancangan bibi Nindy-nya tersayang.


Wanita yang jika dilihat-lihat mungkin masih remaja. Menyebalkan tentu saja, apa orang ini penggemarnya?


"Apa yang kamu lakukan?" suara bariton seorang pria terdengar.


Wajah Glory seketika pucat pasi,"Ha...ha...hallo..." ucapnya gelagapan. Menonggakkan kepalanya menatap idola remaja yang telah mengganti pakaian panggungnya."Aku..bisa menjelaskan, aku adalah teman Grisella tunanganmu. Jadi..."


Tidak, tidak boleh, jika dirinya berhadapan dengan polisi maka habislah sudah. Sang ayah akan kecewa padanya, ibunya akan lebih tidak menganggap keberadaannya lagi.


Hingga hanya satu tindakan yang dapat diambil seorang kaum tertindas yang selalu iri ini."Aku mohon!! Jangan lapor polisi ya! Aku akan berbuat apa saja..."


Senyuman menyungging di bibir Ferrell, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri.


"Pertama, jawab pertanyaanku dengan jujur, apa kamu menderita penyakit menular!?" tanyanya menatap tajam.


Dengan cepat Glory menggeleng,"Aku tidak sakit, tidak akan ada infeksi kuman pada barang-barang dalam kopermu,"


"Bagus, pertanyaan kedua apa kamu pernah memiliki kekasih?" Ferrell mengenyitkan keningnya.


Glory kembali menggeleng,"Aku tidak memiliki koneksi orang kaya, atau kekasih kaya untuk menolongku lepas dari kantor polisi. Jadi aku mohon kerendahan hatimu. Biarkan aku pergi ya!?" pintanya, hampir menangis.


"Satu pertanyaan lagi, pernahkah kamu berciuman?" kali ini Ferrell kembali tersenyum.


"Be... berciuman?" Glory mulai tidak mengerti pertanyaan pemuda ini mengarah kemana nantinya.


"Jawab saja!!" perintahnya.


"Aku tidak pernah..." kata-kata yang keluar dari mulut Glory, bersamaan dengan jemari tangannya ditarik paksa dalam lorong buntu dekat gudang.


Tubuhnya dipojokkan,"Aku tidak akan melaporkanmu pada kepolisian. Jika kita berciuman," bisiknya.


"Ta ...tapi..." kata-katanya terhenti bibir itu dibungkam pria yang hanya pernah dilihatnya di televisi analog lama rumahnya.


Mereka sama-sama tidak tahu apa yang harus dilakukan setelahnya. Hanya dua bibir yang saling bersentuhan. Jantung yang sama-sama berdegup cepat sensasi yang aneh. Sama seperti kata-kata Steven, ini mendebarkan, benar-benar mendebarkan.


Tidak bisa tinggal diam, bibirnya bergerak, membuai bibir lembut di hadapannya, lidahnya mencoba ikut bermain. Ingin menemukan sensasi lebih banyak lagi dari kenalan yang pertama kali dilakukannya dalam hidupnya.


Tapi gadis ini tidak juga membuka mulutnya sama sekali. Sumpah demi apapun, otak Glory masih mencerna saat ini, debaran di jantungnya benar-benar cepat.


Hingga pemuda ini tersenyum, menjauhkan sedikit bibirnya. "Ingin menentangku? Buka mulutmu, atau aku akan memanggil security..." ucapnya menatap gadis muda yang baru dikenalnya mulai sedikit membuka mulutnya ketakutan.


Mama!! Aku hanya ingin mengikuti Grisella!! Kenapa jadi dilecehkan pacarnya... batinnya.


Dan benar saja, lidah pemuda itu menerobos dalam penyatuan bibir mereka. Membuainya lebih dalam, menggoda lidahnya untuk membalas.


Perlahan tanpa disadarinya tangannya memegang erat sweater yang dikenakan Ferrell.


Hingga pada akhirnya tautan itu terlepas juga. Napas mereka terengah-engah, saling memburu...


Glory menatap sang pemuda tidak mengerti dengannya.


Pemuda itu tidak mengatakan apapun beberapa saat, merogoh saku belakangnya. Mengeluarkan dompetnya, memberikan sepuluh lembar uang dengan gambar tokoh proklamator."Ini uang jajan untukmu! Jangan mengingat hal ini lagi! Jangan ceritakan pada siapapun! Jika bertemu lagi kita tidak saling mengenal! Atau berikutnya aku akan menghamilimu..." ancaman dari seorang pria perjaka tulen. Yang ingin memberikan kesan play boy.


Play boy? Tadi itu bahkan ciuman pertama seorang Ferrell. Hingga Ferrell melangkah pergi, meninggalkan Glory yang tertegun dengan lembaran uang di tangannya.


"Pria br*ngsek ini!!" geramnya kesal, karena dianggap bagaikan wanita bayaran, tapi tetap saja menghitung uangnya. Kemudian menyimpannya,"Lumayan untuk beli handphone android second..." gumamnya.


Bersambung