
Kenzo menghela napas kasar, mulai kembali duduk berhadapan dengan Frans kala, suasana hati mereka sudah jauh lebih tenang.
Sakit? Tentu saja, meskipun hanya mengingat sedikit, namun perasaan itu masih sedalam dulu. Pasangan anak kembar yang terlahir tanpa mendapatkan kasih sayang ayah mereka. Istri yang bagai hidup di dunianya sendiri, berusaha tegar menyakinkan dirinya sendiri bahwa suaminya masih hidup, kala semua orang mengatakan Kenzo tidak mungkin selamat.
Menggatikan dirinya, memantau perusahaan, wanita hamil yang harus bekerja. Hingga melahirkan secara prematur karenanya, tetap setia menunggu dengan harapan kosong selama 7 tahun. Wanita yang dicintainya? Amel bahkan terlalu sempurna untuknya...
"Salah satu ovariumnya diangkat, apa kamu akan meninggalkannya? Kecil kemungkinan kalian akan memiliki keturunan lagi. Jika kamu tidak bisa menerimanya aku akan..." Frans mengepalkan tangannya, mengetahui keadaan Amel yang sekarang.
Kenzo menghela napas kasar, kemudian tersenyum. Bahkan perasaannya kini lebih dalam dari sebelumnya,"Tidak masalah, aku tetap mencintainya, selepas kami akan memiliki keturunan lagi atau tidak. Ferrell dan Febria sudah cukup untuk kami. Aku tidak akan pernah melepaskannya, hanya mencintainya, mengejarnya sampai ke neraka sekalipun..."
"Sudah aku duga, jiwa bedebah gilamu tidak pernah berubah..." Frans mulai ikut tersenyum, hingga pelayan masuk menghidangkan makanan di meja mereka.
Kenzo kembali menghela napas, bingung bagaimana cara memakan hidangan di hadapannya. Beberapa garpu, sendok dan pisau berderet dengan ukuran yang berbeda.
"Pakai yang ini dan ini..." Frans menunjuk steak knife dan dinner fork."Kamu benar-benar tidak ingat apa-apa?" tanyanya lagi.
"Sedikit, hanya sedikit... yang aku ingat hanya seseorang bernama Kenzo menghubungi Frans sebelum jatuh ke laut. Pasangan yang bersama di kebun bunga, seorang anak yang terluka di bagian keningnya dan Amel berbicara dengan seorang pria lain di villa," Kenzo mulai mengiris daging di hadapannya, perlahan.
"Awalnya aku kira hanya sebuah mimpi, atau imajinasi. Hingga orang tua dan sepupuku mengatakan aku bukanlah Dava tapi Kenzo... saat itulah aku mulai yakin semua yang ada di mimpi itu adalah wajahku sendiri..." lanjutnya.
"Jadi kamu tidak mengenaliku?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.
"Karena itu aku bertanya pada Hugo, siapa yang bernama Frans. Sambungan telfon terakhir, sebelum aku menjatuhkan diri ke laut tertuju padamu, berarti kamu orang yang aku andalkan dan aku percayai sebelumnya..." asumsinya.
"Kamu masih cerdas seperti dulu..." cibir Frans, mulai ikut makan.
"Omong-ngomong apa yang terjadi? Kenapa aku bisa jatuh ke laut? Dan siapa orang yang berbicara dengan Amel di villa, sebelum ingatanku menghilang?" tanyanya, menancapkan pisau steaknya di atas daging. Cemburu? Benar, walaupun hanya ingatan sekilas, terasa benar-benar menyakitkan, kala mengingat jemari tangan wanita yang dicintainya di genggam pria lain.
Frans menghela napas, menghentikan kunyahannya, meminum sedikit air putih,"Dari ceritamu, mungkin dia Gilang, orang yang sudah kamu anggap seperti adikmu. Dia dulu menyukai Amel..."
"Menyukai Amel?" tanyanya memastikan pendengarannya.
"Iya, mereka dulu saling menyukai sebelum Amel bertemu denganmu. Karena satu hal, hubungan mereka hanya berakhir sebagai sahabat, sebelum akhirnya Amel pindah ke luar kota dan kalian mulai saling mengenal..." jawab Frans, bercerita sejujurnya.
"Lalu kenapa mengganggu rumah tangga kami? Mereka hanya berakhir sebagai teman kan?" Kenzo menghela napas kasar kembali makan dengan tenang.
Frans mengiris daging di hadapannya,"Dia ingin kamu merelakan Amel untuknya. Mengintimidasi dengan bipolar disorder yang kamu idap. Serta perbuatan keji yang dulu kita lakukan..."
"Hingga akhirnya kamu memutuskan untuk menyelamatkan orang-orang yang hampir menjadi korban trafficking, agar merasa pantas bersama dengan istrimu. Menurutku lebih tepatnya seperti bunuh diri. Tau berakhir akan mati tetap saja melakukannya..." lanjutnya.
"Tidak masuk akal. Aku? Mengorbankan diri untuk orang lain? Bahkan mengikuti keinginan adik angkat yang tidak memiliki hubungan darah denganku?" tanya Kenzo tertawa kecil, seakan itu semua lelucon.
"Aku serius, ingatanmu belum kembali sepenuhnya. Jadi mungkin gangguan kepribadianmu juga belum kembali. Ada saatnya dulu kamu pernah hampir menembak kepalamu sendiri, ketika mengalami depresi berat..." jawab Frans dengan mulut penuh.
"Entahlah dengan dulu, tapi ketika terjatuh ke laut dalam ingatanku, aku tidak ingin mati. Hanya ingin pulang..." Kenzo kembali tersenyum, memakan makanan di hadapannya.
"Kenzo, apa kamu pernah bersinggungan dengan kelompok mafia Dark Wild, yang ada di Eropa?" tanyanya.
"Aku tidak ingat, hal lain. Memang ada apa?" Kenzo balik bertanya.
"Seluruh keturunan pemimpin mereka mati, sisanya satu orang yang cacat. Awalnya, hanya pertarungan hidup dan mati memperebutkan hak pewaris tunggal. Tapi 8 dari 12 bersaudara mati di hutan, 4 sisanya saling memperebutkan kekuasaan. Semuanya mati menyisakan Eden yang cacat, hanya dapat duduk di kursi roda," jelas Frans.
"Lalu apa hubungannya denganku?" Kenzo tidak mengerti.
"Eden yang cacat tidak dapat mengurus perusahaan resmi dan jaringan dunia bawah (mafia). Pimpinannya mencari putranya yang lain, menghilang di salah satu negara di Afrika. Aku ingat, kamu sempat menyusup ke rumah pimpinan mereka,"
"Untuk mencuri data perusahaan lain yang bekerja sama dengan perusahaan resmi keluarga pimpinan. Aku hanya ingin memastikan, kamu tidak terlibat dalam hilangnya putra pimpinan Dark Wild..." jawab Frans masih mengunyah makanannya.
"Aku tidak ingat, lagipula tidak mungkin aku menculik anak ketua mafia kan?" Kenzo tertawa kecil, kemudian meminum segelas air putih dingin di mejanya.
Tidak menyadari salah satu anak yang diadopsinya memiliki sesuatu yang janggal. Anak yang selalu ingin menikahi putri kandungnya.
***
Villa milik Kenzo...
Steven meninggalkan Febria dan Ferrell, ke kamar, setelah menyelesaikan tugas homeschooling-nya. Earphone mulai terpasang di telinganya, jemari tangannya bergerak cepat diatas keyboard, memasuki data salah satu jaringan mafia. "Mereka sudah mati..." gumamnya mengepalkan tangannya ketakutan.
Air matanya mengalir, ingatan Kenzo belum kembali. Apa dirinya akan berakhir meninggalkan Febria?
Aneh bukan? Belajar mencintainya, mengasihinya, ketika perasaan melindungi itu telah ada. Kini dirinya harus pergi?
14 tahun, mungkin semua orang akan mengira itu hanyalah perasaan remaja yang akan menghilang seiring waktu. Tapi tidak dengan Steven, air matanya mengalir, terlalu mengasihinya. Hingga enggan meninggalkannya.
Namun, jika suatu saat nanti ayah kandungnya menjemput, Steven mungkin hanya akan memilih tertunduk dan pergi. Agar keluarga yang merawatnya 8 tahun ini tidak terluka, agar Febria masih dapat hidup dalam senyuman.
Jemari tangannya mengepal, mengingat kerasnya hidup yang mungkin akan kembali dijalaninya. Muntah kala dipaksa melihat kematian orang-orang yang menentang ayahnya.
Dirinya membenci tempat gelap itu, ingin hidup normal. Tidak ingin di cerca karena ketakutan melihat pembunuhan. Tidak ingin di dikte untuk tidak memiliki belas kasih.
Impiannya hanya satu, menatap Febria menjadi wanita dewasa. Hidup tenang besama dengan anak yang selalu membuatnya merasa nyaman.
"Apa aku harus pergi? Dipukuli jika gemetar memegang senjata?" gumamnya tertunduk, menitikkan air matanya tiada henti.
Hingga Steven berusaha tenang, memesan cat rambut hitam dan softlens hitam melalui online. Berharap dirinya tidak akan pernah ditemukan kembali.
Bersambung