My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Tidak Jatuh Cinta



Jantungnya berdegup cepat, harum aroma mint di mulutnya, dengan bau alkohol khas rumah sakit, melekat pada tubuhnya."Buka matamu..." suara bisikan yang membuat jantung seorang Glory seakan meronta ingin keluar dari tempatnya.


"Apa aku jelek seperti monster?" tanya Ferrell padanya, tidak terlihat tersenyum sedikit pun. Tepatnya menahan senyumannya. Menggoda remaja yang duduk di pangkuannya.


Barulah wajah itu ditatapnya baik-baik, sialnya benar-benar tampan dengan alis yang tegas, kulit putihnya, bibir dulu pernah yang membelainya perlahan, hidung yang mancung namun tidak terlalu besar, sorot mata tajam bagaikan dapat memberikan mantra padanya.


Bahkan tubuhnya yang berbalut jas kedokteran, mungkin proposional. Satu kata untuk menjabarkan semuanya 'Sempurna,'


"Tidak jelek!! Kalau mau cium, cium saja yang cepat!! Jangan lapor polisi..." ucapnya, kembali memejamkan matanya memanyunkan bibirnya tidak ingin tergoda pemuda yang masih memangkunya.


"Tidak ingin uang jajan dariku?" Ferrell mengenyitkan keningnya, mulai tersenyum.


Spontan gadis itu menggeleng, namun sesaat kemudian mengingat jumlahnya yang bahkan melebihi celengan plastik yang sering dicungkilnya menggunakan jepit rambut, Glory kembali mengganguk, menelan mentah-mentah harga dirinya.


Gadis kecil yang benar-benar aneh, namun menyenangkan untuk menggunakan uang jajan, sebagai godaan untuknya.


"Lihat mataku..." kata-kata dari mulut Ferrell.


Perlahan Glory membuka matanya, menatap sorot mata yang dapat menenggelamkannya.


"Buka mulutmu! Balas apa yang aku lakukan!" bisiknya, mulai menahan tengkuk Glory. Gadis yang perlahan membuka mulutnya, merasakan bibir mereka bersentuhan.


Sensasi gila itu kembali terasa, bahkan semakin intens kali ini. Ferrell lebih agresif lagi daripada sebelumnya, membelit lidahnya, bahkan sempat-sempatnya menyesap pelan bagian bawah dan atas bibir Glory bergantian.


Benar-benar mendebarkan, namun membuatnya menginginkan lagi dan lagi. Bahkan mencoba sesuatu yang berbeda. Lidah mereka mulai saling menyapa diluar area mulut, namun hanya sejenak. Kembali menempel menyatu perlahan.


Tidak menikmatinya? Siapa bilang? Pemuda ini membuat kesadaran sang remaja SMU menghilang, mencengkram jas putih yang dipakai Ferrell.


Keduanya gelisah dengan napas yang memburu, mengetahui kemana perasaan ini berlabuh namun tidak ingin melanjutkannya. Hingga kegelisahan dalam ciuman panas itu yang terjadi. Melepaskan diri dengan napas yang memburu.


Dengan cepat Glory turun dari pangkuan Ferrell, menadahkan tangannya."Uang jajan..." pintanya.


Ini benar-benar seorang bocah SMU, seorang bocah, apa yang sudah dilakukan seorang Ferrell? Tapi beberapa hari ini, memang ini yang diinginkannya sehingga gelisah tiada henti. Bagaimana anak kecil yang kecanduan game. Apa dirinya kecanduan bibir bocah ini? Entahlah...


Matanya menelisik, mengamati penampilan Glory dari atas sampai bawah. Seragam yang tidak putih lagi, sudah mulai menguning, sepatu bermerk abal-abal, sedikit ada beberapa sobekan kecil. Tasnya? Apa itu tas? Bahkan terlihat akan jebol.


"Ini!! Beberapa hari lagi, kalau aku tidak sibuk, aku akan menemuimu lagi disini! Gunakan uang ini untuk membeli baju dan peralatan sekolah! Jaga bibirmu baik-baik, jangan sampai ada yang menciumnya selain aku..." ucapnya memberikan 20 lembar uang dengan gambar tokoh proklamator. Kali ini Ferrell mengeluarkan seluruh uang cash di dompetnya.


"Ini..." Glory mengembalikan setengahnya,"Membeli seragam, sepatu, kuota internet dan tas, ini saja sudah cukup. Sudah ada sisa untuk uang jajan,"


"Bawa saja!!" bentaknya, memaksa Glory menerima semuanya.


Pada akhirnya uang itu masuk ke dalam tas Glory. Benar-benar jumlah yang lumayan untuknya, ingin mempertahankan harga diri, namun ditolak pun sayang.


Tapi, seketika wajahnya pucat pasi mendengar kata-kata Ferrell."Ingat jangan katakan pada siapapun!! Kamu pernah mendapatkan pelajaran biologi tentang cara reproduksi manusia bukan?"


"Jika kamu berani-berani mengatakan pada orang lain. Aku akan mempraktekkan cara manusia bereproduksi padamu. Menyemburkan bibitku berkali-kali, membuahi sel telur. Memastikan kamu akan mengandung!! Mengerti!?" tegasnya.


Tanpa disadarinya mulutnya beberapa hari ini bagaikan burung beo, mengoceh kemana-mana walaupun tidak ada orang yang percaya. Bagaimana jika Ferrell mengetahui dirinya bercerita hampir pada semua orang yang dikenalnya? Mungkin hanya penyesalan yang tertinggal, apa mungkin pemuda ini serius akan melakukannya?


Satu kecupan singkat tiba-tiba mendarat di bibirnya. Pemuda yang tersenyum padanya,"Kita masih ada waktu 12 menit, sebelum aku harus kembali ke rumah sakit. Ada yang ingin kamu tanyakan, Glory?"


"Kamu tau darimana namaku Glory!?" tanyanya tidak mengerti.


"Mencari informasi tentangmu yang wajahnya terlihat rekaman CCTV dengan jelas, tidak sulit bagiku, hanya memerlukan waktu beberapa hari," ucapnya tersenyum, tiba-tiba memaksa gadis itu berbaring padanya menjadikan pahanya sebagai bantal. "Berbaring!! Sudah dapat uang jajan tidak mau menurut!"


Pada akhirnya Glory menurut, berbaring menjadikan paha pemuda itu sebagai bantalannya. Walaupun terasa canggung, berbeda dengan Ferrell yang tersenyum puas mengusap rambut Glory, bagaikan memangku kucing peliharaannya.


"Kenapa kamu menciumku?" tanyanya, menghela napas kasar.


"Hanya ingin, dan mulai saat ini, bibirmu hanya milikku..." jawabnya, mengusap pelan bibir Glory dengan jari tangannya.


Pemuda ini sungguh br*ngsek, sudah akan bertunangan dengan Grisella, tapi melecehkannya, bahkan sekarang mengatur hidupnya. Tapi sekali lagi saat tokoh proklamator telah keluar, maka jiwa nasionalisme seorang Glory akan muncul. Berjuang dengan uang jajan yang tidak sedikit.


Apa aku termasuk menjual diri pada sugar Daddy ya? Tapi biasanya sugar Daddy sudah tua dan harus bertanding kemampuan di ranjang. Ini berbeda, hanya cium dapat uang jajan... batinnya bingung dengan dirinya sendiri. Apa dirinya termasuk menjual tubuhnya?


Namun jika di fikir-fikir penggemar Ferrell yang super fanatik pasti akan iri padanya. Mereka membayar berapapun tidak akan mendapatkan kesempatan untuk berciuman dengan orang gila ini.


Tapi dirinya? Walaupun bukan penggemar Ferrell, sudah berciuman dengan artis rupawan, plus mendapatkan uang jajan. Hanya satu harapannya saat ini, semoga Ferrell tidak tahu dirinya telah berkicau ke segala arah mengatakan telah berciuman dengan Ferrell.


Jika tau, apa benar pria ini akan menghamilinya? Glory terdiam sejenak, membayangkan dirinya yang hamil di luar nikah, sementara Ferrell menikah dengan wanita lain. Dan sialnya itu Grisella.


Dirinya tetap kalah, itulah si nomor dua...


Tidak! Dirinya tidak boleh jatuh cinta pada Ferrell, solusinya hanya satu cium dan terima uang jajannya. Jangan memakai perasaan.


"Enam menit terakhir, mau menghabiskannya dengan lebih baik?" tanyanya, membimbing Glory untuk kembali duduk.


Dua orang yang sama-sama saling menatap, perlahan menautkan bibir mereka kembali, sapuan lidah yang membuat keduanya semakin menggila. Apa benar Glory tidak akan jatuh cinta pada Ferrell? Namun, kenyataan tangannya kembali mencengkram erat jas putih sang dokter muda. Seakan limbung, dikalahkan oleh pesonanya.


Semoga Ferrell tidak mengetahui betapa bocornya mulut Glory. Jika tidak entah apa yang akan terjadi...


***


Beberapa jam berlalu, dirinya pulang membawa paperbag berisikan pakaian, sepatu, dan tas sekolah baru. Sisa uang dari membeli kuota, digunakan untuk mengisi celengannya.


Hingga Kamila mendekati putrinya,"Kamu dapat dari mana uang untuk belanja sebanyak ini?" tanyanya heran.


Mengatakan tentang Ferrell? Ibunya tidak mungkin percaya, jadi hanya ada satu pilihan, "Pesugihan!! Anak dari raja iblis dengan ratu siluman rubah putih. Mencium pangeran siluman sekali koin emas bertaburan di tempat tidur!! Ini hasilnya!!"


Bersambung