
Sudah tepat tengah malam, sang kakak yang malam ini menemani adiknya. Rumah sakit tempat sang adik dirawat? Tentu saja rumah sakit yang dimiliki selebriti idola sang adik. Kedua orang tua yang ingin memberi perhatian sepenuhnya pada Fia yang dahulu memang tidak begitu mereka perhatikan.
Lebih memperhatikan Lily yang rupawan dan bersikap manja, sedangkan Fia sendiri anak mandiri yang ceria. Tidak menyangka semua ini akan terjadi, putri yang selalu bersikap baik-baik saja saat sang kakak dibelikan laptop keluaran terbaru, putri yang tidak pernah mengeluh kala Lily meminta menu yang tidak disukai Fia pada sang ibu. Seorang anak yang hanya dapat tersenyum, mencintai ibu, ayah, dan kakak perempuannya.
Kini tubuh itu terlihat lemah, berusaha mengambil air diatas meja, menatap ketidak beradaan sang kakak di kamar rawatnya. Namun sebelum meraih gelas itu, tangan seseorang meraihnya lebih cepat, tangan seorang pemuda yang mengenakan cincin perak memanjang di jari tengahnya.
"Pesanan sudah tiba," ucapnya tersenyum.
Fia tertegun membulatkan matanya, menutup mulutnya agar tidak berteriak histeris."Kak Ferrell?"
"Seseorang bernama Lily memintaku kemari untuk adiknya yang berulang tahun," ucap Ferrell
Lima orang lainnya tiba-tiba masuk, membawakan kue ulang tahun dengan lilin yang menyala, angka yang ada diatas kue benar-benar terlalu muda 16 tahun. Wajahnya tersenyum bahagia, menangis terisak,"Terimakasih..." lirihnya.
Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan Caca, Lily, Glory, kedua orang tuanya dan Ferrell. Bahagia? Dirinya benar-benar bahagia,"Aku tidak mimpi kan!?" ucapnya masih menangis.
"Sebelum meniup lilinnya, ini hadiah dariku," Ferrell meraih kotak besar yang dibawanya, sepasang sepatu ada di sana, serta sebuah mini dress selutut yang tertutup.
Gadis berusia 16 tahun itu dibantunya duduk, sepasang sepatu dipakaikannya,"6 bulan lagi aku akan mengadakan konser, jika kamu sembuh. Aku berjanji akan membawamu naik ke atas panggung. Saat itu gunakan sepatu dan pakaian ini,"
Fia menutup mulutnya sendiri, air matanya mengalir tidak terkendali, berapa kalipun diseka olehnya, tetap saja mengalir. Seseorang yang hanya dilihatnya di TV atau internet kini ada di hadapannya, memakaikan sepatu untuknya.
"Aku boleh memeluk kakak?" tanya Fia pada Ferrell.
"Minta ijin dulu pada wanita yang aku sukai," jawab Ferrell tersenyum, tertuju pada Glory.
"Kenapa a...aku?" ucapnya salah tingkah.
"Boleh aku memeluknya?" Fia tersenyum dengan wajah pucatnya pada Glory.
Glory menghela napas kasar membalas senyumannya, kemudian mengangguk.
Fia segera menarik Ferrell, memeluknya erat. Sepatu ini akan dikenakannya 6 bulan lagi. Dirinya akan sehat, dapat terbangun dari operasinya. Itulah keyakinannya saat ini, menjerit terisak lebih kencang.
Kini saatnya lilin pada kue itu ditiup, Fia memejamkan matanya... Aku ingin sembuh, untuk membahagiakan kakak, ibu dan ayah yang menyayangiku. Pergi ke konser bersama keluargaku 6 bulan lagi... batinnya, berharap harapan itu terpenuhi, meniup lilin ulang tahun yang sudah mulai meleleh.
Entah harapan yang dapat terkabul atau tidak, dirinya mungkin akan sehat, atau meregang nyawa di meja operasi, mungkin juga berakhir koma. Namun satu yang pasti dirinya ingin hidup, sangat... kehidupan yang terlalu membahagiakan untuk ditinggalkannya.
Hal yang terjadi setelahnya, Ferrell mengajarinya bermain gitar akustik. Tersenyum pada sang remaja, hingga remaja berusia 16 tahun itu tertunduk di sela kegiatannya."Aku takut tidak dapat bangun lagi saat dioperasi, pasti akan gelap kan?" tanyanya.
Ferrell mendekat sedikit berbisik padanya,"Aku sudah mengajukan diri sebagai salah satu dokter yang menangani operasimu. Kamu tidak percaya pada kemampuanku?" tanyanya.
Fia tersenyum, kemudian mengangguk,"Aku ingin hidup ... terimakasih..." ucapnya mempercayakan segalanya.
Matanya melirik ke arah bintang yang terlihat dari jendela kamar ruang rawatnya. Memiliki keinginan hidup yang lebih banyak lagi. Pemuda yang kembali mengajarinya bermain gitar akustik. Suara yang membuatnya memiliki semangat hidup kini ada di sini, mengarahkan tangannya menekan senar dalam senyuman.
Hingga tiba saatnya dirinya harus kembali beristirahat, Ferrell, Caca, dan Glory telah kembali pulang. Tinggallah sepasang kakak beradik dan orang tua mereka dalam ruangan itu.
***
Rumah Glory...
Murka? Tentu saja, putrinya tidak membantu suaminya berjualan. Menghilang dari siang mengatakan akan bekerja kelompok, dihubungi beberapa kali, setiap dirinya akan memulai ceramahnya. Glory hanya akan menjawab akan segera pulang. Tapi kini? Sudah pukul 3 pagi, entah di gua atau gunung mana putrinya mengadakan pesugihan.
Samun benar, putrinya harus segera dinikahkan jika tidak ingin salah pergaulan. Diperkenalkan dengan calon perawat, jika cocok, langsung jerat untuk menikah muda saat lulus SMU. Itulah tekadnya.
Tidak menyadari sebuah mobil berhenti di depan gang rumahnya yang cukup luas."Aku harus pulang!! Ingat kita tidak boleh bertemu lagi," ucapnya ketakutan, akan dilihat oleh tetangga atau bertemu langsung dengan ibunya.
Ferrell mengangguk,"Satu ciuman saja," pintanya.
Glory menurut hendak mencium pipi Ferrell, namun dengan cepat pemuda itu merubah posisi kepalanya. Bukan ciuman pipi, namun ciuman panas dari sepasang muda-mudi.
Takut? Tentu saja Glory ketakutan saat ini, namun pemuda ini begitu pandai membuainya. Hingga tidak menyadari mata Ferrell sedikit terbuka. Meletakkan uang diam-diam ke dalam tas jinjing yang dibawa Glory. Benar-benar sebuah pesugihan yang menggairahkan.
Lagi pula ini uang kuliah calon istrinya, tidak ada yang salah bukan? Gadis centil ini juga cukup berhemat, tidak berbuat macam-macam. Ini uang terakhir yang dapat diberikannya, sebelum harus menjadi Superman berwajah dekil lagi.
"Curang," gerutu Glory.
"Tapi enak bukan? Apalagi jika berbuat lebih," Ferrell tersenyum menggodanya dengan sengaja, agar Glory segera pergi tidak memeriksa isi tasnya.
"Aku pergi!!" dan benar saja Glory melarikan diri menutupi wajahnya dengan tas ketakutan, melewati beberapa rumah tetangganya di gang tanpa seorang pun di sana.
"Steven akan menertawakanku," gumam Ferrell tertawa, meraba bibirnya sendiri. Sebuah ciuman saja dapat senikmat ini? Jika melakukannya dengan orang yang dicintai memang tidak akan memandang apapun.
Mobil mulai dilajukannya meninggalkan area depan gang rumah tersebut, menatap dari jauh Glory telah memasuki rumahnya. Tidak menyadari salah satu ibu-ibu kelompok arisan baru turun dari ojek usai membeli beberapa keperluan warungnya. Menatap mobil dengan kaca jendela yang terbuka. Menampakan sang selebriti menyetir pergi meninggalkan depan gang rumah Ratna.
"Ratna tidak bohong!! Anaknya Grisella memang akan bertunangan dengan artis!!" ucapnya menemukan gosip terbaru. Mobil Ferrell yang sempat berhenti di depan gang tersebut, pertanda memiliki tujuan atau mengenal seseorang disana.
Yang dikatakan Ratna bukanlah kebohongan, wanita itu akan memiliki menantu dari keluarga konglomerat. Itulah berita yang akan disebarkannya.
***
Sementara si pelaku pesugihan berjalan mengendap-endap, menuju pintu belakang rumahnya. Namun belum juga sampai ke pintu belakang, dirinya sudah dijegat oleh wajah murka Kamila."Dari mana saja!?" ucapnya menatap anak gadisnya.
Tidak pernah melihat ibunya semarah ini dirinya kali ini memang bersalah karena pulang pukul 3 pagi,"Maaf, tadi siang Ferrell mengajakku pergi ke mall dan pantai. Kemudian mengunjungi acara ulang tahun adik temanku Lily bersamanya. Ulang tahunnya diadakan sekitar pukul 12 malam. Ibu boleh menelfon Caca kalau tidak percaya,"
"Aku masih suci, masih perawan, kecuali bibirku yang sudah tidak terhitung dicium berapa kali oleh Ferrell," lanjutnya mengatakan kejujuran.
"Kalau berkhayal jangan ketinggian!! Kamu dari mana?" tanyanya tegas, tidak mungkin putrinya pergi bersama Ferrell bukan? Itu hanya alasan, karena Ratna selalu membanggakan calon menantu idealnya di hadapan dirinya dan Glory.
"Iya aku bohong!! Aku melakukan ritual tolak bala di laut, untuk menghentikan pesugihan!! Karena pangeran siluman selalu mengintaiku!!" jawabnya kesal.
Bersambung