My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Sesal



Dengan kecepatan tinggi, Erlang mengendarai mobilnya pulang menuju kediamannya. Hingga dirinya mulai turun, usai memarkirkan mobilnya.


"Bodoh..." umpatnya kesal, melonggarkan dasinya memasuki kediamannya. Duduk di sofa ruang tamu menunggu kedatangan anak dan istrinya.


Banyak hal yang ada di fikirannya, kata-kata dan alibi Ferrell yang memiliki saksi serta bukti. Sialnya semua masuk akal baginya, putrinya tidak dihamili oleh Ferrell. Teh yang dihidangkan sang ART diminumnya.


Apa yang akan terjadi jika satu saja anggota keluarga Ferrell datang. Elina yang mungkin akan menyerang perusahaannya menggunakan relasinya. Scott? Pemuda itu juga memiliki banyak relasi dan aset. Sedangkan, Elisha, memiliki keahlian di bidang IT, suaminya juga seorang jaksa terkenal menangani kasus-kasus sulit. Sedangkan Joe, terbiasa meruntuhkan sebuah perusahaan, menyerangnya hingga harga saham benar-benar jatuh.


Steven dan Febria, kakak dan adik yang menikah, entah hanya desas desus atau tidak Steven pernah terlibat jaringan bawah.


Satu lagi, orang tua dari ke 7 anak itu. Mereka yang bagaikan mengendalikan segalanya. Ke 7 orang anak yang akan menuruti apapun kata-kata orang tuanya.


Suara mobil terdengar, bersamaan dengan suara gerbang rumah yang terbuka pertanda istri dan putrinya telah tiba.


Pintu utama mulai terbuka, seperti sebelumnya Ratna merangkul bahu putrinya yang terlihat menunduk.


"Kenapa mengumumkannya pada media?" tanyanya menatap tajam.


Ratna menghela napas kasar, mengepalkan tangannya kesal pada suaminya. Mengelus punggung putrinya membimbingnya untuk duduk di sofa berhadapan dengan Erlang."Jika hanya menunggumu bertindak, mungkin setelah cucu kita lahirpun Ferrell tidak akan menikah dengan Grisella..."


Erlang memejamkan matanya sejenak, berusaha bersabar."Grisella siapa yang menghamilimu?"


"Dia sudah menjawabnya, saksi juga ada Ferrell berhenti di depan gang rumah kita pukul 3 pagi," bentak Ratna menyela kata-kata suaminya.


"Aku mendengar kesaksian dari kedua belah pihak. Tidak sepertimu yang percaya buta. Ayah tanya sekali lagi siapa yang menghamilimu!?" tanya Erlang menatap tajam.


Grisella tertunduk mengepalkan tangannya, memilin jemarinya sendiri."Ferrell, kami menjalin hubungan diam-diam. Ayah pasti juga pernah mendengar dari pemilik warung kopi depan gang rumah, Ferrell datang mengantarku pulang pukul 3 pagi,"


Erlang menghela napas kasar menyandarkan tubuhnya di sofa. Bagaimana anak dan istrinya bisa seperti ini. Istri yang terlalu memuliakan putrinya, percaya dengan semua kata-katanya. Anak yang berkeliaran setiap malam seperti wanita bayaran, berbohong pada ibu yang begitu membanggakannya.


"Mengantarmu pulang? Yakin kamu yang diantar? Bukannya ibumu mengatakan kamu sedang mendaki saat itu?" tanyanya menunggu kejujuran dari putrinya.


Tapi tidak...


Remaja itu kembali berbohong, memilin jemari tangannya sendiri."Maaf, aku berbohong malam itu aku pergi dengan Ferrell..."


"Setelah diantar pulang, ibumu mengatakan kamu tidak kembali ke rumah. Pulang dari mendaki langsung berganti pakaian di rumah temanmu menunju ke sekolah. Yang mana yang benar?" tanyanya pada Grisella.


"A...aku saat itu di jemput oleh Lily, jadi langsung ke rumahnya," alasannya.


"Kamu berbuat kesalahan dengan mencurigai putri sendiri!!" sinis Ratna pada suaminya.


Erlang hanya tersenyum."Selain bergosip dan menyombongkan diri apa yang kamu lakukan!? Tidak bisa menjaga putri kita hingga hamil di luar nikah,"


"Lihat Glory! Anak pak Hasan tetangga sebelah, hidup pas-pasan tapi pintar. Tidak terjerumus pergaulan bebas! Anaknya tidak hamil di luar nikah seperti anak kita..." lanjutnya membandingkan.


Kesal? Tentu saja Ratna menatap tajam ke arah suaminya."Calon suami yang dipilihkan Kamila hanya seorang calon perawat, sedangkan Grisella walaupun hamil di luar nikah yang menghamilinya adalah Ferrell. Glory tertinggal jauh, dia selalu menjadi peringkat ke dua di sekolahnya. Anak kita tidak bisa dibandingkan dengan anak tetangga!!" bentaknya tidak terima.


"Membanggakan anak yang hamil di luar nikah? Kamu ingin putrimu di cap sebagai wanita bayaran pinggir jalan yang merayu pria untuk singgah..." sinis Erlang, dengan air mata tertahan.


Plak...


Tangan Ratna gemetar, untuk pertama kalinya dirinya menampar Erlang. Suami yang mencintainya, tidak pernah mengeluh sedikitpun, selalu mengalah dalam setiap pertengkaran. Berbuat kasar? Tidak pernah, bahkan Erlang yang merawatnya setiap kali sakit, menjaganya, mencemaskannya, ada kalanya menyuapinya, itulah pria yang mencintainya.


"Erlang aku..." mata Ratna berkaca-kaca penuh rasa bersalah melihat pipi suaminya yang memerah karena perbuatannya.


Erlang tetap menatap pada mereka."Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Menunggu Grisella untuk jujur, Ferrell menjalin hubungan dengan Glory, malam itu dia mengantarkan Glory pulang setelah menghadiri ulang tahun adik Lily di rumah sakit,"


"Dia mengatakan memiliki bukti CCTV, kamera dasboard mobil, dan saksi Caca, serta Lily," lanjutnya.


"Ibu aku tidak berbohong. Tidak mungkin Ferrell bisa mengenal Glory..." ucap Grisella memegang tangan Ratna.


"Rekaman CCTV dan dasbor mobil bisa di rekayasa. Caca dan Lily dulu sahabat Grisella, mereka berbuat buruk pada putri kita. Hingga Grisella menjauhi mereka, jadi wajar saja kalau..." kata-kata Ratna disela.


Suaminya tertawa, menghela napas kasar."Glory menjalin hubungan dengan Ferrell, yang memiliki identitas Ken, teman sekelasmu. Ayah akan membawamu pada psikiater, entah gangguan kepribadian apa yang kamu miliki karena pergaulan dan didikan yang salah,"


"Kamu fikir Grisella gila!?" tanyanya kembali menatap ke arah suaminya.


"Tidak, mungkin dengan dibawa ke psikiater sifat Grisella akan..." kata-kata tenang dari Erlang.


Plak...


Satu tamparan lagi yang didapatkannya, tidak dapat menerima kata-kata suaminya."Aku memang kesulitan mempunyai anak, setelah salah satu rahimku diangkat! Jika kamu tidak percaya pada putri kita satu-satunya! Lebih baik kamu pergi! Buat anak yang sempurna dengan wanita lain!!" bentak Ratna menitikan air matanya.


Terasa menyakitkan baginya, semua yang diucapkan oleh suaminya. Wanita yang hanya tertunduk dengan membiarkan air mata mengalir di pipinya.


Erlang mulai bangkit."Aku mencintaimu, begitu juga dengan putri kita. Aku sendiri yang menidurkannya saat dia baru saja terlahir. Berjanji untuk menjaganya dan istriku yang bersusah payah melahirkannya untukku."


"Tapi jika kamu merasa ini kesalahanku, aku tidak apa-apa. Aku akan pergi menenangkan diri, mengambil keputusan pernikahan ini bisa dilanjutkan atau tidak. Aku tidak pernah memiliki harga diri di hadapanmu..." ucapnya dengan air mata yang mengalir. Mulai berjalan menuju kamar mereka.


Ratna berjalan dengan langkah kaki gemetar menatapnya. Erlang tidak pernah seperti ini, semarah apapun padanya. Pada akhirnya suaminya yang akan mengalah untuk minta maaf terlebih dahulu.


Namun kali ini, beberapa helai pakaian benar-benar dimasukkannya ke dalam koper. Hanya pakaian tidak membawa apapun lagi.


"Kamu mau kemana?" tanya Ratna di ambang pintu.


"Menjernihkan fikiran, dimana kesalahanku selama ini. Mungkin kesalahanku terlalu mencintai kalian..." ucapnya tidak begitu banyak membawa pakaian dalam kopernya.


"Erlang?" Ratna memanggil namanya. Namun kali ini suaminya tidak berbalik.


Rasa kebas di pipi Erlang mungkin masih terasa. Mendidik putrinya sendiri juga tidak pernah diperbolehkan. Perannya sebagai seorang ayah hanya mesin ATM penghasil uang.


Sebagai suami? Tidak ada, dirinya hanya mungkin seorang pelayan yang tidak memiliki harga diri. Tamparan istrinya, membuktikan segalanya.


"Ibu, hentikan ayah..." pinta Grisella.


Namun Ratna hanya terdiam dengan air yang mengalir. Menatap kepergian suaminya, tidak pernah tertunduk di hadapan suami yang selalu memanjakannya.


Apa Erlang benar-benar akan mencari wanita lain yang dapat mengandung benihnya? Seperti kata-kata yang tidak sengaja keluar dari mulutnya. Mungkin itulah yang ada di fikiran Ratna, menatap mobil suaminya yang mulai meninggalkan garasi.


Bersambung