My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Like Father Like Son



Kedua orang anak yang tertegun. Inikah rasanya dilindungi seorang ayah? Ferrell yang hampir tidak pernah menangis, kali ini memenangis sekencang-kencangnya.


"Sakit..." gumamnya memegangi lengannya.


Febria, menarik ujung pakaian Dava, berkata jujur, mengadu yang sebenarnya,"Dia yang datang duluan, merebut gulaliku. Menukar dengan gulalinya yang sudah habis. A...aku hanya ingin merebutnya kembali, karena... karena dia tidak mau memberikannya. A...aku menendang kakinya. Maaf..." air matanya mengalir semakin deras saja, terisak menunduk penuh rasa bersalah.


Siapa yang menyangka kedua anak itu selama ini menyembunyikan sisi dirinya yang rapuh. Tidak ingin membebani ibunya, yang juga merindukan ayah mereka, berpura-pura baik-baik saja. Sejatinya tidak, menginginkan seseorang untuk tempat mereka mengadu, seperti teman-teman sebayanya.


"Apa kaki putramu patah?" tanya Dava, menginjak lebih kencang.


"Agghhh..." sang pria berbadan kekar, berusaha melawan. Memegang kaki Dava, memukul-mukulnya. Sakit, benar-benar sakit, mungkin jarinya ada yang patah. Namun Dava kembali mengangkat tepat sampah yang terbuat dari aluminium.


"A...a ...apa yang ingin kamu lakukan?" tanyanya ketakutan.


Pandangan mata dingin, membuatnya gemetar. Badan dan tenaga lebih besar? Percayalah, ketika dihadapkan dengan aura membunuh yang pekat semua tidak akan berguna.


Beladiri? Kenzo tidak pernah memiliki keahlian itu. Namun, ada kalanya kemarahan menguasai dirinya. Tidak takut pada luka fisik atau kematian. Iba? Rasa iba-nya lumpuh sesaat menatap bedebah di hadapannya.


Sang pria mengeluarkan pisau lipatnya, dengan tangan gemetar. Menatap Dava yang terlihat tidak takut sedikitpun. Tenaganya bagaikan menghilang, entah kenapa, terlalu mengerikan baginya.


Pisau lipat hendak ditancapkan pada kaki Dava yang menginjak jarinya. Namun, Dava tersenyum menendang tangannya, menyebabkan luka gores pada kakinya sendiri.


Tempat sampah diangkatnya, hendak kembali menghantam kepala sang pria bertubuh kekar.


Hingga ...


"Dava...!! Apa yang kamu lakukan!?" salah satu staf berteriak.


Tong....tong ...tong...


Tempat sampah yang terbuat dari aluminium, membentur lantai. Seorang staf membantu pria itu berdiri...


Kesadaran Dava mungkin mulai kembali,"Apa yang sudah aku lakukan? Aku bisa dipecat!?" gumamnya berjongkok menjambak rambut sendiri. Tidak mempedulikan luka goresan pisau di kakinya.


Mampus!! Seharusnya aku menunduk dan minta maaf... membawa si kembar pergi, apa jarinya patah? Kalau dia meminta biaya ke rumah sakit bagaimana? Kalau aku dilaporkan ke kepolisian bagaimana? Ibu harus cuci darah secara rutin, bagaimana aku bekerja nanti... gumamnya dalam hati, melirik pria berbadan besar yang memegangi jarinya, terlihat patah. Menatap ketakutan pada Dava, yang sebenarnya juga pucat, takut si pria berbadan kekar meminta kompensasi ke rumah sakit.


"Paman..." Ferrell memeluknya erat, diikuti pelukan Febria.


"Kaki paman, berdarah," Febria terlihat cemas.


"Paman tidak apa-apa? Kita obati lebam di lenganmu ya..." ucap Dava berusaha tersenyum, menggedong Ferrell di punggungnya. Febria berjalan mengikutinya, memegang ujung pakaian Dava, merasakan kehangatan seorang ayah.


***


Selesai begitu saja? Tentu saja tidak semua masalah berakhir di kantor polisi. Sungguh konyol bukan? Pertengkaran anak kecil hanya karena gulali berakhir dengan Dava menjadi tersangkanya.


Sang pria berotot sejatinya termasuk kalangan menengah keatas, memiliki pabrik semen.


Sial, nasib Dava benar-benar sial. Tertunduk, menjalani pemeriksaan.


Bug ...


Seseorang datang memukul pipinya, pemuda yang berprofesi sebagai manager taman hiburan. Saudara sepupu dari Dava yang asli.


"Aku menyesal memberimu pekerjaan!! Bos menegurku tadi siang karena ulahmu!! Jika bukan karena paman (Damian) yang memohon, aku tidak akan menolongmu!! Manusia tidak tau diuntung..." bentaknya, menarik kerah Dava, yang juga terlihat jengkel.


Terlihat jengkel? Tentu saja, sudah 7 tahun dirinya tertunduk, menerima gaji yang kecil, bahkan kerap dipotong tanpa alasan. Sejatinya ini perbuatan Romi, sepupunya. Memotong gajinya yang sudah kecil, dengan dalih Romi lah yang memberinya pekerjaan.


"Aku memang tidak tau diuntung!! Kembalikan seperempat gajiku selama 7 tahun..." ucapnya memberanikan diri.


"Manusia sial!! Anak durhaka yang bermain dengan pacarnya, menghambur-hamburkan uang orang tuanya, bahkan tidak memiliki pendidikan yang baik!! Kamu bisa apa!?" ucap Romi kembali menampar sepupunya.


"Hanya karena dua orang anak, kamu mempermalukanku..." lanjutnya


"Dia bisa menuntutmu atas penganiayaan dan penggelapan," suara seorang wanita terdengar, memasuki ruangan sembari tersenyum.


"Kamu siapa? Jangan ikut campur jika tidak mengetahui masalahnya..." Romi menatap tajam.


Amel mulai mengambil kursi untuk duduk dengan tenang,"Aku ibu dari kedua orang anak kembar yang duduk disana. Hari ini aku yang menitipkan mereka pada Dava..."


"Jadi kamu sumber dari semua masalah!! Karena anak-anakmu aku ditegur oleh atasanku..." kesal Romi.


"Sebelumnya boleh aku meminta ijin meretas CCTV taman bermain? Kita harus tau yang benar dan salah bukan?" tanyanya tersenyum.


"Kami akan segera membuat surat ijinnya..." seorang polisi, segera bergerak ke ruangan lain.


"Febria, kamu boleh menggunakan komputer paman polisi..." ucapnya pada putrinya yang jauh lebih tenang.


Ragu dan aneh? Tentu saja, anak itu mulai duduk. Jemari tangan kecilnya bergerak dengan cepat. Hingga rekaman itu didapatkannya.


"Mama..." Febria mulai bangkit, berlari naik ke pangkuan Amel.


"Anak pintar..." Amel tersenyum, mengelus rambutnya."Disaat anakmu yang didik dengan baik merengek tidak mau ke sekolah, dan bahkan tidak mau mandi. Putriku yang tidak berpendidikan, sedang belajar meretas jalur komunikasi..." ucapnya tersenyum ramah.


Pemilik pabrik semen itu melirik putranya, yang memang sulit dibujuk untuk sekedar mandi atau bersekolah. Tidak dapat membela atau berkata-kata.


"Ini karena sifat menurun dari ayah mereka. Kalian beruntung suamiku sedang tidur, jika tidak dia tidak akan segan-segan menghancurkan pabrik semen milikmu..." lanjutnya, tetap tersenyum cerah.


Dava mengenyitkan keningnya, apa suami wanita yang menjadikannya pria simpanan, begitu mengerikan? Dirinya akan mencari lebih banyak tentang siapa sosok Kenzo. Pria yang harus diwaspadai olehnya.


Petugas kepolisian, menatap semua kejadian dari rekaman CCTV dengan seksama.


"A...aku mendapatkannya!! Ada hukum di negara ini. Paman tidak bersalah, dia hanya membelaku, tidak menciderai dengan motif balas dendam. Ini juga karena paman itu mengeluarkan pisau lipat..." alasan yang dibuat Ferrell, memperlihatkan pasal yang dicarinya di internet. Pasal-pasal yang dapat menyatakan ayahnya tidak bersalah. "Kalian bisa melakukan visum padaku, lenganku dicengkeram hingga lebam, kaki paman Dava juga terkena pisau..."


Handphone miliknya disodorkan pada polisi, anak manis pintar, mengundang rasa iba."Nak, saat besar nanti kamu cocok menjadi seorang pengacara," seorang petugas kepolisian tertawa kencang, menertawakan Ferrell yang terlihat polos dan lugu.


Pemilik pabrik semen mengenyitkan keningnya, kembali melirik putranya yang makan snack sembari menonton video di handphonenya,"Ayah air..." ucap sang anak hanya tinggal membuka mulutnya. Sang ayah membukakan botol air mineral, meminumkan pada putranya.


"Jodi, apa kamu sudah bisa penjumlahan?" tanya sang ayah berusaha tersenyum.


"Sudah..." jawab sang anak.


"35+25 berapa?" tanya sang ayah kembali.


"Emmm..." anak itu berfikir, mungkin melupakan kalkulator yang terdapat pada phoncell pintarnya. Tapi tidak apa, seharusnya masih bisa menggunakan kertas dan bolpoin yang ada di meja untuk membuat hitungan susun bukan? Tapi hanya satu jawabannya,"Tidak tau ..." sang anak menyerah.


Apa anakku yang terlambat berevolusi atau kedua anak itu yang berevolusi terlalu cepat ya ... sang pemilik perusahaan semen, lagi-lagi menghela napasnya.


"Like father, like son..." Amel tertawa mengejek.


***


Tidak ada yang terjadi setelahnya, semua berakhir damai sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Tapi apa benar? Tentu saja tidak, Scott tersenyum, menginjak punggung Romi.


"Dia memukul berapa kali?" tanyanya pada Ferrell.


"Dua kali, belum lagi menggelapkan uang selama 7 tahun. Mama melepaskannya karena masuk penjara beberapa bulan terlalu ringan untuknya..." Ferrell tersenyum, menakan buah fruit salad dengan satu skup vanilla ice cream diatasnya. Mengingat Romi yang memukul wajah ayahnya di kantor polisi.


"Wah, wajahmu tampan juga ya..." gumam Scott, menginjak wajah Romi.


"Apa tujuanmu!? Kenapa menculikku? Apa karena Dava, si anak yang durhaka pada orang tuanya? Dia itu hanya b*jingan!!" tanya Romi ketakutan, namun masih dendam pada sepupunya yang membuat kehidupan Damian terpuruk.


Steven berjalan mendekatinya, memegang ice cream gelas, dengan dessert spoon di tangannya."Aku hanya mengatakannya padamu, agar kedepannya menjaga sikapmu. Dia bukan saudara sepupumu, Dava yang sebenarnya sudah meninggal 7 tahun lalu. Tapi ayah kami Kenzo,"


"Taman bermain tempatmu bekerja? Nilainya tidak lebih dari secuil aset yang dimiliki ayah kami. Jadi, saran ku hanya satu... bersimpuh di bawah kakinya, sebelum ingatannya kembali..."


Pandangan mata Scott, beralih pada Steven,"Apa yang kamu lakukan pada binaraga pemilik pabrik semen?" tanyanya.


"Aku? Aku hanya mengirim bukti pelanggaran pajak perusahaannya. Tapi ... Febria..." Steven menghela napas kasar, tidak mengerti sekaligus mengagumi pemikiran gadis kecil yang tumbuh di depan matanya. Hal yang dilakukan Febria? Menghubungi Elina untuk meruntuhkan pabrik yang tidak begitu besar.


***


Villa milik Kenzo...


Dava mengobati lukanya seorang diri, menghela napas kasar, dari dulu dirinya memang tidak berguna. Menyaingi tuan pemilik villa ini? Sesuatu yang tidak mungkin, pemuda itu membaringkan dirinya di sofa ruang tamu menatap lampu kristal yang menggantung di atasnya.


Dipecat? Dirinya mungkin akan dipecat. Tidak memiliki pekerjaan, lalu bagaimana dengan biaya pengobatan ibunya.


Pandangan matanya beralih, mengambil phoncellnya. Ingin mengetahui tentang pemilik W&G Company, suami dari wanita yang perlahan dicintainya.


Kenzo? Berbagai informasi didapatkannya. Walaupun tidak mengetahui wajah Kenzo yang tidak pernah dipublikasikan, wajah Dava seketika pucat pasi. "Aku akan dibunuh oleh iblis yang bernama Kenzo. Karena menjadi selingkuhan istrinya..." gumamnya, membayangkan pria rupawan seumuran dengannya, menyiapkan senjata laras panjang untuk menembaknya.


Hingga seorang wanita datang tersenyum padanya."Boleh aku obati lukamu?" tanya Amel membawa kotak P3K.


Senyuman yang membuat hatinya berdebar tiada henti, diam-diam balutan luka di kakinya dicabutnya dengan kasar, seolah-olah belum diobati.


"Iya, kebetulan aku belum mengobatinya..." dustanya yang hanya ingin diperhatikan oleh istri orang. Pura-pura memasang wajah dingin, namun aslinya, ingin mendekap wanita yang menggetarkan hatinya.


Masa bodoh suaminya mengerikan... matipun tidak apa... tapi apa dia tidak mencintai suaminya? Dimana suaminya sebenarnya...


Bersambung