My Kenzo

My Kenzo
Tiga Sahabat



Matahari belum juga terbit, dua orang itu telah terbangun merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Menempuh hampir 7 jam perjalanan, untuk pertama kalinya Amel menginjakkan kakinya di Singapura. Tapi tidak dengan Kenzo, pemuda itu sudah beberapa kali datang ke Singapura, sekedar untuk urusan bisnis.


Tidak menjadi pemimpin perusahaan secara langsung, tapi bekerja di belakang layar. CEO dan komisaris W&G Company semua dikendalikan olehnya bagaikan boneka tali. Selaku pemegang saham terbesar perusahaan tersebut.


Menarik kopernya menggengam jemari tangan Amel erat, saling tersenyum, mencuri pandang, masih malu-malu bagaikan anak SMU yang baru pertama kali pacaran.


Pertama kali pacaran? Bahkan anak SMU lebih tegas, untuk memiliki kekasih. Apa sebenarnya hubungan mereka? Pacar? Tentunya bukan, Partner ranjang? Mereka tidak pernah melakukan hubungan layaknya suami istri.


Teman tapi mesra? Pelayan pribadi tapi mesra? Sudahlah anggap saja mereka dua makhluk ambigu tanpa status.


Hingga langkah mereka dihentikan oleh Frans, menghela napas berkali-kali menatap kebersamaan mereka.


Ingin ku berkata... Segeralah menikah!! Miliki anak yang banyak!! Tinggallah di pulau terpencil dengan tenang!! Agar aku dapat tidur nyenyak... kesalnya dalam hati menatap tangan mereka yang saling bergandengan.


"Jadi apa status kalian?" tanya Frans.


"Apa Farel (saingan bisnis Kenzo) sudah sampai?" enggan menjawab pertanyaan Frans, pasalnya hingga saat ini Amel belum menjadi kekasihnya.


"Sudah, dia ingin bertemu denganmu, Tomy si brengs*k, juga. Jadwal untuk nanti sore bertemu dengan mereka. Pesta pertunangan akan diadakan besok..." jawabnya, berjalan membukakan pintu mobil milik perusahaan.


"Kita akan menghadiri pesta?" Amel mengenyitkan keningnya, ikut memasuki mobil.


"Iya, jangan terlalu banyak makan-makanan manis dan berlemak disana. Jaga dirimu baik-baik ..." ucapnya, mulai membuka sebuah koper kecil berisikan beberapa berkas. Memeriksa satu-persatu dalam perjalanan mereka menuju hotel.


Tidak banyak yang terjadi, mereka hanya sarapan dan makan siang bersama. Kemudian beristirahat hingga sore menjelang, mengingat perjalanan dari Jepang yang lumayan melelahkan.


Bau parfum pria tercium, Kenzo mulai memakai setelan kemejanya, sementara Amel telah berganti pakaian kasual."Kita akan kemana?" tanyanya pada Kenzo.


"Menemui dua orang menyebalkan, bisa bantu aku memakai dasi?" tanyanya tersenyum. Modus!! Alasan!! Sejatinya memang begitu bukan? Pria lajang yang sudah terbiasa memakai dasi seorang diri meminta untuk dipakaikan dasi?


Namun, tidak ada satu moments pun terlewat, jemari tangan Amel bergerak mengikatnya perlahan. Mata pemuda itu tiada hentinya mengamatinya. Hingga, pada akhirnya...


"Selesai..." Amel menonggakkan kepalanya, sepasang bola mata itu bertemu lagi. Terdiam, saling menatap, saling mendamba.


Kenzo sedikit terduduk, mengimbangi tinggi wanita di hadapannya, matanya terpejam. Begitu pula dengan Amel, gadis itu refleks mengalungkan tangannya pada leher Kenzo, memejamkan matanya menginginkan bibir pemuda di hadapannya.


Bagaikan dahaga yang tertahan, dua buah bibir itu menyatu saling membelit. Amel merasa dirinya bagaikan wanita murahan, namun perasaan berdebar ini nyata. Begitu pula perasaan takutnya jika suatu hari akan ditinggalkan.


Kenzo membuka matanya, mengakhiri tautan bibir mereka, kening mereka masih bersentuhan, menghirup udara dengan serakah. Deru napas yang sama-sama terdengar."Sudah mencintaiku?" tanyanya untuk yang kesekian kalinya.


Amel menatap dalam mata itu,"Aku..." kata-kata terhenti gadis itu tertunduk, bimbang.


"Jika belum, tidak apa-apa, aku akan menunggumu..." Kenzo tersenyum.


Tidak, dirinya tidak boleh mengecewakan Kenzo lagi. Mata itu ditatapnya, bangaikan menghipnotis dirinya, bibirnya seakan pasrah,"Iya...aku..." kata-kata Amel terhenti, suara phonecell terdengar.


"Tunggu nanti kita lanjutkan," Kenzo tersenyum mengedipkan sebelah matanya, berjalan menuju balkon mengangkat panggilan di phonecellnya yang berbunyi.


Sementara Amel menjambak rambut sendiri. Bingung harus bagaimana... 'iya aku mencintaimu, kita menikah, punya anak yang banyak. Kita akan membuatnya...' kata-kata yang tertahan di bibirnya, hampir keceplosan diucapkannya.


Beberapa saat kemudian Kenzo datang dari balkon tersenyum padanya,"Kamu tadi ingin mengatakan apa?" tanyanya.


"Ka...kamu makhluk penindas!! Playboy!! Menyebalkan!!" umpatnya dengan nada tinggi, berjalan cepat meninggalkan kamar hotel. Tidak ingin keceplosan mengatakan isi hatinya yang sebenarnya.


***


Dalam perjalananpun sama, berkali-kali Amel melirik jemari tangan dingin itu. Pemuda yang tidak kunjung menggengam tangannya juga, dalam sebuah mobil yang melaju entah kemana.


Hingga pada akhirnya, Amel tidak tahan lagi, dengan sengaja menuntun jemarinya bersinggungan dengan Kenzo. Satu detik...dua detik...tiga detik...


Perjalanan cinta yang lambat, terlalu perlahan, dari dua orang yang sejatinya telah menautkan hatinya. Hanya sebuah status dan pengakuan yang kurang.


Hingga restauran tempatnya berjanji temu terlihat. Empat orang tidak dikenal Amel berada disana, wajah Kenzo nampak suram, menatap dua makhluk di hadapannya. Seperti biasa, Kenzo menenteng sebuah paperbag berisikan beberapa kaleng soda.


"Kenzo... Akhirnya kamu menuruti saran kami untuk punya pacar..." Farel (pemilik perusahaan JH Corporation, saingan bisnis Kenzo) menyapanya, bagaikan teman akrab.


"Dia sudah punya pacar, tentunya dia yang traktir..." Tomy tersenyum tanpa dosa, enggan merogoh uang di sakunya.


"Ka ... kalian membawa istri kalian?" tanyanya, menghela napas kasar, menatap dua orang wanita yang mendampingi mereka.


"Iya, sekalian berlibur..." Farel tersenyum padanya.


"Bertambah satu orang wanita lagi, bagus!! Frea (istri Tomy) ayo kita pergi sekarang!!," Jeny (istri Farel) tersenyum, menarik tangan Frea dan Amel untuk segera meninggalkan restauran.


"Ta... tapi..." kata-kata Amel terhenti, Kenzo menghentikan kepergiannya, memegang tangan Amel.


"Kalian mau membawanya kemana?" tanya Kenzo.


"Pembicaraan para pria akan membosankan, dasar protektif!! Kami bertiga hanya ingin bersenang-senang!!" Jeny menampik tangan Kenzo, kembali membawa Frea dan Amel pergi.


"Tidak perlu khawatir, biarkan mereka bersenang-senang..." Farel tersenyum, sementara Kenzo mulai duduk. Dihadapan dua orang yang hampir dua tahun tidak pernah ditemuinya.


Status mereka? Farel merupakan pemilik JH Corporation perusahaan pesaing W&G Company.


Sementara Tomy sahabat Farel, kini menjabat sebagai komisaris Bold Company, pengganti kakeknya Suki, dengan kata lain Tomy memiliki jabatan sebagai atasan Gilang, yang kini menjabat sebagai CEO Bold Company.


"Bagaimana rasanya punya pacar? Apa kamu sudah menyentuhnya?" Tomy tersenyum menipiskan bibirnya.


"Jangan begitu pada seorang perjaka," Farel menghela napas kasar.


Orang menyebalkan ini membelaku? Apa otaknya sudah terbalik... gumam Kenzo dalam hati tidak mengerti, dengan perubahan sikap Farel..


"Tidak bisa dibayangkan hari-harinya yang dingin, menginginkan menyentuh pacarnya. Kita bisa lihat dari wajah lugunya, bahkan mungkin berciuman saja, masih malu-malu..." Farel melanjutkan kata-katanya mulai tertawa kencang diikuti tawa Tomy.


Kekesalan Kenzo tidak terbendung lagi, hingga pada akhirnya refleks, menggebrak meja,"Aku tidak malu-malu menciumnya!! Bahkan setiap malam kami tidur bersama!!" bentaknya, tidak mau kalah.


Tomy yang tengah minum terbatuk-batuk, sementara Farel terdiam sesaat.


"Kalian tidur bersama setiap malam!?" tanya Farel pada Kenzo.


Aku salah bicara.... memalukan, benar-benar memalukan....Kesalnya dalam hati.


Tomy menghela napas kasar, menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi ,"Jangan saling mencibir, diantara kita hanya aku yang bersih!! Farel bahkan lebih parah darimu, menghamili Jeny saat bersetatus istri orang!!"


"Jarang-jarang kita berkumpul sebagai teman seperti ini," lanjutnya.


"Aku tidak mempunyai teman seperti kalian..." Kenzo memaksakan dirinya tersenyum, menahan kekesalannya.


"Teman...!!Ya teman...!! Kelak jika ada masalah bisa saling membantu!! Bisnis kita tidak selalu maju, musuh kita akan semakin banyak, atau kita tidak selalu sehat. Jika suatu saat aku atau Farel mati. Kamu dapat membantu menjaga keluarga kami,"


"Begitu pula sebaliknya, kamu sudah memiliki kekasih, akan membangun keluarga suatu saat nanti. Jika terjadi sesuatu padamu, kami yang akan membantu menjaga keluargamu..." Tomy tersenyum, mengambil tiga kaleng soda dari paperbag yang dibawa Kenzo.


Salah satunya dilempar pada Farel yang tersenyum, kemudian menangkapnya. Satu lagi diberikan pada Kenzo,"Bagaimana? Berhenti bertikai dan menjadi teman?" tanyanya.


Kenzo tersenyum,"Iya, tapi jangan perbolehkan istri kalian melarikan pacarku sembarangan lagi..." jawabnya meraih soda dari tangan Tomy.


Bersambung