My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Janji



Deal? Kenapa dia setuju... batinnya, wajah Elina seketika pucat pasi, senjata api di tangannya bahkan terjatuh. Duduk di lantai, dirinya benar-benar akan menikah? Ini tidak nyata kan?


Jemari tangannya mengepal, ini demi Febria anak kandung ayah angkat yang menyelamatkan hidupnya. Tapi dirinya harus memastikan keselamatan Febria terlebih dahulu,"Tunjukkan dulu dimana Febria! Aku ingin memastikan dia masih hidup dan baik-baik saja!"


"Tarik pelatuk senjata kalian!" perintahnya sembari tersenyum, para pengawal bersenjata yang mengelilingi Elina mulai menarik pelatuk mereka,"Kamu tidak memiliki pilihan, menikah dan menurut atau mati..." ucap Eden tersenyum.


"Aku hanya ingin memastikan Febria masih hidup! Apa sulitnya!?" tanyanya meninggikan nada bicaranya.


"Setelah acara pernikahan kita, aku akan mempertemukanmu dengan Febria, aku sudah berbaik hati menikahimu baru menidurimu," jawabnya, menggerakkan kursi rodanya meninggalkan ruangan.


"Siapa yang bersyukur menikah dengan orang sepertimu!!" kesal Elina berteriak.


"Jaga kamarku, jangan biarkan dia keluar. Kecuali besok ketika gaun dan penata riasnya sampai," perintahnya.


Elina mulai berfikir, bagaimana caranya menunda, setidaknya meminta bantuan pada Scott, Amel, atau suami Elisha, yang menjadi jaksa,"Kar... kartu keluarga dan identitas! Kamu tidak bisa menikahiku tanpa kartu keluarga. Beri aku kesempatan menghubungi keluargaku,"


Eden tersenyum,"Tidak perlu, aku sendiri yang akan menggeledah tempatmu tinggal dan meminta kartu keluarga dari ibumu secara langsung,"


Tangan Elina semakin gemetar, membayangkan ibu angkatnya yang awet muda bagaikan Dayang Sumbi harus meregang nyawa dengan banyak luka tembakan. Atau lebih buruk, dijadikan pemuas napsu para pengawal.


Brag...


Suara pintu tertutup ditutup terdengar. Dengan cepat Elina bergerak, menggedor-gedor pintu,"Jangan temui mamaku aku mohon!! Jika papaku tau dia akan mengamuk membuat masalah besar!!" teriaknya.


Eden yang masih ada dibalik pintu menelan ludahnya."Bahkan suara teriakannya sangat menggoda..." gumamnya.


***


Cara pembuktian terakhir dilakukannya, menyewa belasan wanita malam. Hal yang dilakukannya? Memangku mereka satu persatu, tapi tidak ada yang terjadi. Tubuhnya tidak merespon sama sekali.


Satu kesimpulan yang diambilnya, kala memangku wanita penghibur yang tangan bahkan merayap mencoba melepaskan kancing kemejanya,"Aku hanya dapat menikahi Elina..." gumamnya, yang hanya merasakan perasaan aneh kala berada bersama Elina.


***


Untuk pertama kalinya orang yang terbiasa memakai setelan jas berwarna gelap itu, mengenakan stelan jas berwarna biru, merapikan rambutnya. Penampilannya terlihat lebih muda, tidak memperlihatkan aura menyeramkan lagi.


Hingga mobil yang ditumpanginya melaju ke rumah calon mertuanya. Sekaligus kini menjadi mertua adiknya. Buah dan bingkisan parsel serta buket bunga dibawanya. Berharap menjadi calon menantu yang baik, bagi mertuanya nanti.


Pintu mulai dibukakan pelayan, salah satu pengawal Eden mendorong kursi rodanya. Hingga pada akhirnya sang pengawal berdiri di belakangnya. Teh hijau disajikan pelayan menunggu majikannya turun.


Hingga pada akhirnya makhluk itu turun, ibu angkat Elina, istri dari pemilik W&G Company. Cantik? Tentu saja, mungkin karena itulah putri-putrinya ketularan cantik.


"Kamu siapa?" tanya Amel to the points, duduk, meraih cangkir tehnya, meminumnya sedikit.


"Calon suami Elina, kami akan menikah besok. Sebagai suami saya akan berusaha membahagiakannya..." jawaban dari mulut Eden.


Pruf...huk...huk...


Amel terbatuk-batuk, bahkan sempat mengeluarkan air dari hidungnya. Mengambil segelas tissue, merasakan sensasi sakit dari saluran hidung ke mulut.


"Kamu bilang apa!? Produk unggulan tidak laku itu akhirnya terjual!?" gumamnya tersenyum, entah sudah berapa pemuda yang diperkenalkannya pada Elina, yang seharusnya sudah cukup matang untuk menjadi seorang ibu. Bahkan terlalu matang.


"Produk unggulan tidak laku?" Eden mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Dia sedang mengatur persiapan, tidak sabaran ingin menikah. Bibi tolong hadir di acara resepsi kami ya? Lusa adalah acaranya di DK Hotel," pintanya sembari tersenyum, seolah-olah sebagai pria baik-baik.


"Apa kalian saling mencintai? Apa pekerjaanmu?" tanya Amel mengenyitkan keningnya.


Eden menghela napasnya,"Aku mencintainya, dia mungkin juga mencintaiku karena hati manusia tidak ada yang mengetahui," jawaban ambigu, sok bijak keluar lagi dari mulut lancar sang penipu ulung.


"Tentang pekerjaan, aku membantu bisnis keluarga di bidang farmasi," lanjutnya.


"Kapan kalian pertama kali bertemu? Maaf aku hanya penasaran saja, bagaimana si high quality bisa menemukan orang yang dicintainya," Amel kembali meminum teh hijau miliknya.


Eden memilin jemarinya memikirkan cerita baru untuk menjawab."Kami bertemu di toko buku aku..." kata-katanya tiba-tiba terpotong.


"Sudahlah, tidak perlu berpura-pura lagi. Aku melihatmu dipernikahan Febria! Dikelilingi pengawal bagaikan perisai. Ceritakan kejadian yang sebenarnya, maka akan aku pertimbangkan," Amel menghela napas kasar, berhenti berpura-pura.


"Sebenarnya, aku adalah kakak kandung Steven. Namaku Eden, tadi pagi Elina mendatangi ruamahku untuk mencari Febria. Tapi kami malah bertemu, awalnya aku mengira dia musuh. Menariknya ke pangkuanku dan mengancamnya dengan senjata api yang dibawanya sendiri... tapi..." Eden menghentikan kata-katanya bingung harus menjelaskan pada wanita di hadapannya.


"Tapi?" Amel seakan bertanya, ingin Eden melanjutkan kata-katanya.


"Tapi, aku yang memiliki masalah di organ reproduksi, tiba-tiba berfungsi hanya karenanya. Karena itu tolong berikan anakmu untuk menjadi istriku, hanya dia satu-satunya harapanku agar bisa menikah..." kata-kata Eden memberanikan dirinya, mengumbar aibnya.


Detik pertama Amel terdiam dengan wajah serius, benar-benar menegangkan menatap wanita berusia sejuta pesona itu menatap tajam. Detik kedua, calon mertuanya itu masih diam. Apa dirinya tidak diterima? Hingga detik ketiga.


"Ha...ha...ha...haha..." suara tawa yang benar-benar kencang terdengar. Wanita yang hampir menginjak usia 50 itu, bahkan memegangi perutnya berguling-guling di sofa ruang tamu.


"Karena itu kamu ingin melamarnya? Jangan bilang kamu mengancam dan mengurungnya sekarang?" tanya Amel lagi, dijawab dengan anggukan oleh Eden.


Air mata wanita itu bahkan mengalir, saking kencangnya tertawa, segera dihapus dengan cepat olehnya. Memperlihatkan mimik wajah serius dalam beberapa detik.


"Elina, berbeda dengan adik-adiknya. Dia wanita mandiri yang tidak suka dikekang, apa kamu bisa menjaganya nanti!?" tanya Amel sebagai seorang ibu.


Eden mengepalkan tangannya,"Aku akan berusaha..."


"Usaha, hanya usaha. Tidak tegas! Katakan dengan tegas kalau kamu akan melindungi dan menaklukkan hati Elina..." ucap Amel menatap tajam.


"Aku akan menaklukkan hatinya!! Mempertahankan nyawaku untuk menjaganya!!" tegasnya tidak akan melepaskan satu-satunya peluang untuk membangun keluarga sendiri.


Cinta? Apa itu cinta? Eden juga tidak yakin, namun jika wanita itu dapat menyembuhkannya. Dirinya akan berusaha keras menjaga dan mencintainya, tidak akan pernah melepaskan perasaan berdebar yang tidak pernah terasa sebelumnya.


"Aku setuju, karena dua hal, yang pertama Elina tipikal wanita yang keras, tidak ada pria yang baginya cukup baik baginya. Jika tidak menikah denganmu mungkin dia tidak akan menikah seumur hidupnya,"


"Alasan kedua, karena kamu hanya ketergantungan padanya. Maka kamu tidak akan pernah bisa berselingkuh dengan wanita lain..." lanjutnya, menunjuk dari jauh pangkal paha Eden.


"Jadi bibi setuju?" tanyanya memastikan.


"Tidak 100%, kalian menikah karena kesembuhanmu dan ego Elina yang pada usianya kini tidak kunjung menikah. Jadi jika suatu saat nanti, kamu menyakitinya atau dia sendiri yang ingin pergi darimu, tidak dapat belajar mencintaimu. Biarkan dia pergi, jangan menghalanginya..." syarat yang diajukan Amel. Menginginkan putrinya memiliki pasangan, namun juga ingin kebahagiaan untuk Elina. Mungkin dengan tinggal bersama Eden perasaan itu akan mulai tumbuh.


Eden menghela napas kasar,"Aku berjanji, akan melepaskannya pergi, jika dalam dua bulan, tinggal bersama, dia tidak juga dapat mencintaiku..."


Bersambung