My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Misi



Steven menghela napas kasar, duduk di sofa ruangannya setelah menerima panggilan,"Fransisca diculik, mereka meminta uang tebusan seratus ribu dolar..."


"Syukurlah dia yang diculik, bukan aku," Febria tersenyum, duduk di samping suaminya, kala waktu pulang kantor tiba.


"Aku harus memberikan lebih banyak hadiah pada Fransisca setelah ini," Steven mulai minum teh di hadapannya.


"Kapan pertukaran uang tebusan dengan Fransisca?" tanya Febria kembali.


"Nanti sore, kamu ikut? Jika ikut yang perlu kamu lakukan hanya berada di belakangku, bersembunyi jika suasana tidak kondusif..." jawabnya, mengelus rambut istrinya.


"Aku ikut," Febria mengangguk, mengecup pipi Steven.


***


Gudang yang terletak di pinggir kota, wanita itu diikat,"Jangan kencang-kencang sakit!" pekiknya.


"Maaf," orang yang berpura-pura sebagai penculik melonggarkannya. Kemudian, mengenakan potongan lakban pada mulutnya. Jadilah tempat yang bagaikan setting film tempat penculikan.


Hingga suara mobil terdengar, sang Romeo pemeran utama pria turun dari mobilnya. Merapikan setelah jasnya, diikuti sang sekretaris yang terlihat kaku dengan kacamata tebal rambut diikat. Beberapa pengawal berada di belakangnya, hendak menyelamatkan gadis baik hati lemah tidak berdaya, pemeran utama wanita yang dicintai bos besar rangkap sebagai ketua mafia.


Gadis miskin, baik hati yang menjadi Juliet wanita kesayangan sang Romeo. Menyelamatkan wanita tidak berdaya, memperlihatkan aura mendominasinya.


"Apa aku tampan?" tanyanya pada sang sekretaris di ambang pintu gudang.


"Tentu saja, jika tidak tampan tidak mungkin aku bersedia menikah denganmu," jawaban dari sekretarisnya dengan ekspresi wajah yang sama-sama datar.


Brug...


Pintu gudang dibukakan secara paksa oleh orang-orang Steven. Pemuda itu ada paling tengah, memakai pakaian rapi, entah baru pulang bekerja, menjaga image keren, atau malas untuk menggantinya. .


Pria berwajah rupawan itu terlihat bagaikan pahlawan. Pintu gudang yang terbuka menampakkan sinar dari lampu mobil, menerpa wajah rupawannya.


Wanita terikat tidak berdaya itu terlihat juga. Duduk di kursi kayu, matanya terlihat memelas penuh harap, seakan menginginkan untuk diselamatkan.


Sang pemuda datang mendekat. "Aku akan membayar berapapun. Lepaskan pacarku..." ucapnya bagaikan Romeo bucin.


"Tunjukkan dulu uangnya!!" perintah salah satu orang berpura-pura sebagai penculik.


Sang sekretaris membuka koper yang dibawanya, menampakan uang kertas dalam jumlah yang banyak disana.


Salah seorang pengawal Steven menyerahkan uangnya. Sedangkan gadis baik hati, ramah tamah, tanpa dosa, tidak berdaya, dilepaskan sang penculik. Menukarnya dengan koper yang dibawa sang pengawal.


Sang penculik mulai mundur, mengacungkan senjatanya. Melarikan diri dari pintu belakang gudang.


"Steven!!" teriak Fransisca menangis sesenggukan ingin memeluknya, setelah lakban dan ikatannya dilepaskan.


Tapi dengan cepat Steven melepaskan jasnya, memakaikan pada Fransisca. "Kamu pasti ketakutan, maaf...ini karena aku memiliki banyak musuh," ucapnya memegang kedua bahu Fransisca yang telah berbalut jas-nya.


Romantis bukan? Namun ini karena Steven enggan bersentuhan dengannya. Lebih baik mengorbankan jas-nya untuk membungkus Fransisca.


"Nona, maaf atas kecerobohanku..." Febria menunduk bagaikan sekretaris yang baik


"Steven aku takut..." wanita itu kembali berusaha mendekatinya. Tapi lagi-lagi Febria menyela mereka.


"Tuan, sebaiknya kita pergi dari sini. Disini tidak aman," sarannya.


Jangan coba-coba menyentuhnya, selagi aku masih hidup... gumam Febria dalam hatinya masih berusaha menahan kekesalannya.


"Febria benar, sebaiknya aku mengantarmu pulang," ucap Steven, sambil menyodorkan sebotol air putih."Minumanlah agar lebih tenang,"


Fransisca meminum beberapa teguk. Kemudian berjalan, dengan bahunya yang berbalut jas kebesaran dirangkul Steven, bagaikan posesif pada pacarnya.


Tiga mobil berada disana, dua diantaranya dimasuki pengawal sedangkan dirinya satu mobil dengan Steven yang duduk di sampingnya dan Febria yang duduk di kursi penumpang bagian depan samping supir.


"Steven, aku ingin minum berdua saja denganmu malam ini, tanpa Febria..." ucapnya.


"Tapi aku..." Steven terlihat ragu.


"Ayolah kita habiskan waktu berdua sekali-sekali. Aku juga mengalami trauma ketika diculik. Kamu tidak iba padaku?" tanya Fransisca.


Steven tersenyum kemudian mengangguk menyetujui. "Tidurlah, kamu pasti lelah setelah sampai hotel nanti aku akan membangunkanmu..."


Fransisca mengangguk, mulai memejamkan matanya. Entah karena terlalu lelah akibat aktivitas ranjang yang dilakukannya atau dirinya memang mengantuk. Dirinya tertidur dengan bibir yang tersenyum, semua bagaikan sebuah keberuntungan baginya.


Menjadikan Steven batu pijakan untuk mendapatkan hal yang lebih banyak. Tidak perlu berpura-pura menjadi wanita baik lagi di hadapan pemuda ini.


Entah berapa lama dirinya tertidur, namun terasa hanya sebentar. "Fransisca... Fransisca... Fransisca...." suara seorang pria membangunkannya.


Matanya perlahan terbuka, menatap wajah rupawan yang bahkan tidak dapat disentuh olehnya.


"Kita sudah sampai di depan hotel," ucap Steven penuh senyuman.


Suasana di luar jendela di tatapnya sebuah hotel berbintang. Febria? Wanita itu tidak ada di kursi penumpang bagian depan, mungkin sudah pulang terlebih dahulu.


Inilah saat untuk mengakhiri nyawa Steven. Perlahan mereka melangkah berdua memasuki loby. Steven segera memesan kamar menggunakan identitasnya. "Kamu suka minuman apa?" tanyanya.


"Cocktail saja..." Fransisca mengeluarkan keringat dingin, sejatinya dirinya tegang menatap wajah itu.


"Kami order dua cocktail, antar ke kamar kami nanti," ucapnya tersenyum, meraih kunci dan kartu kode akses kamar.


***


Kamar yang cukup mewah, dilengkapi fasilitas kolam kecil dalam ruangan. Pemandangan yang indah terlihat dari jendela.


"Mandilah dulu, aku mau tidur sebentar..." Steven membaringkan dirinya di sofa terlihat kelelahan dengan beban pekerjaannya.


Sedangkan Fransisca, memasuki kamar mandi, meletakkan senjata kecil berisikan tiga butir peluru dan obat tidur. Tangannya masih gemetaran hingga saat ini. Hingga mencoba menenangkan diri dengan aroma lavender di bathtub.


Tubuh itu masih diingatnya, walaupun Doom berusia jauh lebih tua namun juga lebih pandai untuk memuaskan. Dirinya menyandarkan tubuhnya di bathtub, terasa lebih rileks lagi. Perlahan membilas tubuhnya, keluar dari kamar mandi dengan rambut basah hanya dengan memakai jubah mandi berwarna putih.


Steven masih berbaring di tempatnya, sedangkan dua gelas minuman keras itu telah berada di atas meja.


Sungguh, jika tidak bertemu dengan Doom, Steven adalah yang paling sempurna baginya. Tapi ini harus dilakukannya, memasukkan obat tidur ke dalam salah satu gelas. Kemudian membangunkannya. "Steven..." panggilnya.


Mata pemuda itu terbuka perlahan,"Kamu sudah selesai mandi?" tanyanya.


"Sudah, ayo minum udara disini sedikit dingin," ucap Fransisca mulai meminum minuman miliknya.


Melirik ke arah Steven yang berjalan menuju balkon. Berdiri di sana mengangkat gelas, terlihat mungkin sudah meminumnya.


Saat ini dirinya hanya perlu menunggu reaksi. Beberapa menit pemuda itu hanya terdiam di balkon akhirnya berbalik berjalan menghampirinya.


"Aku akan tidur duluan..." kata-kata yang keluar dari mulut Steven, berjalan bagaikan limbung. Hingga roboh di lantai dalam posisi terlentang.


Dengan tangan gemetar, Fransisca mengeluarkan senjatanya. Mengarahkan pada dada kiri pemuda yang berbaring.


Dor...dor...dor...


Suara letupan senjata yang tidak begitu terdengar akibat design kamar yang kedap suara dan senjata yang dipasangi peredam.


Cairan merah mengalir dari bagian pakaian yang berlubang. Membasahi lantai...


Fransisca mulai memeriksanya menggoyang-goyangkan tubuh Steven dengan kakinya. Tapi tidak ada pergerakan, pertanda misinya telah berhasil.


Bersambung