My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Sayang Ayah



Seperti biasanya, sekretaris yang telah menikah dengan bosnya itu. Membuka matanya, menatap Steven yang tidak memakai sehelai benangpun memeluknya erat, hanya berbalut selimut. Bagaikan enggan bangkit di pagi yang dingin.


Tidak seperti pasangan pengantin baru lainnya, yang memanfaatkan setiap kesempatan untuk berhubungan. Mereka hanya melakukannya paling banyak dua kali, aneh bukan? Namun, tidaklah mengapa, hal itu tidaklah penting. Pemuda ini benar-benar mencintai, membuatnya nyaman dan memperhatikannya itulah yang terpenting.


"Ayo mandi..." Steven tersenyum, membuka matanya.


"Em," Febria yang terbangun terlebih dahulu membalas senyumannya, seraya mengangguk.


Suara derasnya air shower terdengar, diselingi suara tawa sepasang suami istri yang bermain air dalam ruangan bersekat kaca berembun. Samar-samar bayangan pasangan yang tengah berciuman terlihat.


"Aku mencintaimu..." tubuh basah yang sama-sama tidak mengenakan apapun itu, menampakkan senyumannya. Steven merangkul pinggang istrinya satu tangannya lagi memegang tengkuknya. Hanya ciuman, namun suasana yang terasa hangat, lidah mereka bermain-main. Bahkan tetap saling menyapa diluar mulut, kembali bertaut memperdalam ciumannya.


Ini benar-benar indah baginya. Bukannya dirinya tidak ingin, namun beban kerja membuatnya tidak boleh terlalu lelah. Atau nyawanya akan berakhir, tanpa sempat menatap anak-anaknya dan Febria. Meminum suplemen juga dapat mempercepat kematiannya.


Hal yang dapat dilakukannya sekarang? Menahan hasratnya, hingga ada seseorang yang memiliki kecocokan sebagai pendonor. Menunggu dengan sabar, walau berakhir berpisah dengan Febria tanpa mendapatkan donor sekalipun, dirinya sudah cukup bahagia. Merasakan kebahagiaan, ini bersamanya.


"Seperti kata Eden, aku adalah siluman ular putih. Jika aku bertapa, mungkin usiaku akan lebih panjang..." ucap pemuda berkulit putih dengan rambut coklat dan mata birunya itu. Tersenyum pada Febria.


"Jadi aku adalah manusia yang digoda siluman?" tanyanya tertawa. Kembali mandi, sembari bermain air bersama.


***


Fransisca juga melakukan hal serupa, baru saja terbangun dari tidurnya dalam sebuah rumah yang tidak begitu besar. Membuka matanya mendengar tangisan anak berusia lima tahun.


"Zen!! Hentikan tangisan anakmu!!" teriaknya pada suaminya.


Seorang pria berperawakan tinggi besar, kini tengah menyiapkan sarapan untuk putrinya. Berjalan mendekati Aqila anak perempuan hasil hubungan di luar nikahnya dengan Fransisca.


Mereka menikah, namun ketika Aqila berada dalam kandungan Fransisca. Zen sendiri bekerja sebagai asisten artis setelah perusahaan miliknya pailit.


Bekerja pada istri sendiri? Benar itu yang dia lakukan. Terkadang harga dirinya sebagai pria seakan diinjak-injak namun semua pemikiran itu ditepisnya. Dengan alasan ini demi Aqila, agar putrinya memiliki orang tua yang lengkap.


Fransisca menikah, tanpa memberitakan pada media, sekitar lima tahun lalu. Saat itu usaha Zen sedang ada dalam keterpurukan, Fransisca yang tidak mengetahui tentang keadaan perusahaan milik Zen, hendak menjerat Zen dengan mengandung anaknya. Tapi di usia kandungannya yang menginjak bulan ke 5, perusahaan milik Zen dinyatakan pailit.


Menggugurkan anaknya? Zen tidak mengijinkannya. Hingga Fransisca meminta seluruh sisa harta Zen sebagai persyaratan untuk menikah, dan tidak melukai janin dalam kandungannya.


Pemuda itu bersedia memberikan sisa hartanya. Hanya agar anaknya yang ada dalam kandungan Fransisca dapat selamat. Menikah tanpa tercium media juga menjadi syarat dari Fransisca, mengingat kariernya sebagai bintang film dewasa, membuat album dengan suara falesnya, sebenarnya yang tersisa dari karier Fransisca hanya berita miring, sering menjadi simpanan produser dan pengusaha beristri.


"Zen!!" teriak Fransisca, yang baru terbangun sempurna. Sedangkan Zen baru saja usai menyisir rambut putrinya.


"Apa?" tanyanya berlari, lalu berdiri diambang pintu kamar.


"Setelah ini, kosongkan jadwalku. Aku ingin perawatan, lalu siang ini menemui Steven..." jawabnya, memilih pakaian untuk nanti siang melemparnya asal, ingin bertemu dengan pacarnya tersayang, orang yang memberinya black card.


"Steven!? Tidak boleh! Kamu itu istriku, kita..." kata Zen terhenti.


Wanita itu menampar dengan cukup kencang kali ini. Zen mengepalkan tangannya, menahan amarahnya. Pipinya terasa kebas, hanya kebas, tidak sepadan dengan harga dirinya yang selama ini diinjak-injak.


Senyuman terlihat di wajah Fransisca,"Kamu kira selama ini kamu dan anakmu makan dari mana!? Dari uangku!! Kamu bisa memberikan apa? Lihat Steven, baru sekali pertemuan sudah memberikanku black card!! Dasar pria tidak berguna..." cibirnya, kembali memilih pakaian.


Zen tertunduk, hendak melangkah pergi, mengantar putrinya ke sekolah taman kanak-kanak. Namun hanya tiga langkah, baru saja tiga langkah.


"Zen buatkan aku sarapan, poch egg dan salt buah, siapkan juga air hangat dalam bathtub. Semua harus sudah siap dalam 15 menit, sebentar lagi aku berangkat..." ucapnya tengah tiduran sambil memainkan phoncell pintarnya, setelah mengeluarkan seluruh isi lemari pakaian menemukan pakaian yang sesuai.


"Aku harus mengantar Aqila! Dia hampir terlambat!" Zen meninggikan nada bicaranya, geram, benar-benar geram.


"Aku yang membayar biaya sekolah Aqila, bukan kamu atau anak itu sendiri! Jadi dia terlambat atau bagaimana terserah, yang jelas aku lapar sekarang..." Fransisca menatap sinis, kembali fokus pada gadgetnya.


Prang...


Sebuah guci dibanting oleh Zen,"Aku sudah tidak tahan lagi! Kamu bahkan tidak peduli pada anakmu lagi!! Dan biaya sekolah!? Aku bekerja pada istriku sendiri tanpa digaji. Menemanimu di lokasi syuting dari pagi hingga malam! Aku sudah mencari kerja, tapi kamu bilang mengikutimu saja, dari pada menjadi karyawan dengan gaji kecil!!"


"Aku lelah!! Kita bercerai saja, jangan khawatir Aqila tidak akan menyusahkan hidupmu!! Karena dia akan ikut bersamaku..." lanjutnya.


"Baguslah! Tinggalkan rumah ini, besama anak nakal itu! Lagipula sebentar lagi aku dan Steven akan menikah, kami akan punya anak sendiri. Dan satu lagi jangan pernah membocorkan pada media atau mengatakan pada Steven, kamu pernah menjadi suamiku, atau hak asuh Aqila akan aku rebut," Fransisca enggan bergerak seakan acuh masih memainkan gadgetnya.


"Aku akan pergi! Tapi ingat ini, selama 6 tahun mengenalmu aku tidak pernah mencintaimu. Jika bukan karena saat itu aku mabuk dan menghamilimu, aku tidak mungkin putus dengan kekasihku dan berakhir menikahimu yang materialistis..." ucapnya mengambil kopernya, meletakkan semua pakaiannya dalam koper.


"Kamu tau? Malam itu, kamu bukan hanya mabuk, tapi aku juga meletakkan obat dalam minumanmu. Tapi siapa sangka setelah aku hamil anak sialan itu perusahaanmu bangkrut!? Pecundang..." cibir Fransisca tersenyum, memasuki kamar mandi hendak membersihkan dirinya.


"Ternyata ini hanya perangkap..." gumamnya, dengan air mata mengalir. Perangkap yang menghadirkan Aqila dalam kehidupannya, itu sudah cukup untuknya. Tidak menyesal telah terjerat, karena kini telah memiliki seorang putri yang dicintainya.


"Papa ..." gadis kecil itu menangis melihat segalanya dari pintu yang terbuka.


"Kemari!" perintahnya tersenyum pada putri kecilnya yang cantik,"Kita pindah ya, tinggal berdua saja. Papa akan mencari pekerjaan agar kamu bisa ke sekolah,"


Aqila mengangguk memeluk tubuh ayahnya. Anak itu menangis terisak-isak, semenjak dilahirkan hanya ayahnya yang merawatnya. Bahkan dirinya diberikan susu formula oleh ayahnya karena sang ibu enggan menyusuinya.


Tidak masalah baginya, Ibu yang tidak pernah menganggapnya ada. Telah menyakiti hati ayah yang mencintainya,"Aqila sayang papa, tidak akan nakal..." ucapnya ketakutan jika harus tinggal dengan sang ibu.


"Papa juga..." ucap Zen berjalan berlalu, mengakat tubuh putrinya hendak mengemasi barang-barang di kamar Aqila.


Zen mengepalkan tangannya, dirinya dapat membesarkan putrinya seorang diri tanpa wanita yang tidak dapat menghargainya. Belajar mencintai istrinya? Sudah dilakukannya, namun berkali-kali sudah Fransisca yang merahasiakan hubungan mereka, membawa pria lain ke rumah tanpa rasa bersalah.


Memperkenalkan Zen sebagai asistennya, yang hanya seorang duda beranak satu. Entah istri macam apa yang dinikahinya, satu yang disadarinya kini, mempertahankan pernikahan adalah hal yang buruk tidak akan baik untuk kondisi psikologis Aqila yang hampir setiap hari melihat ibunya menbawa pria lain ke rumah.


Kening putrinya dikecupnya, mengelus rambutnya. Berjalan bersama membawa dua buah koper meninggalkan rumah yang selama lima tahun ini mereka tempati.


Bersambung