My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Besan



"Aku sudah hampir sampai..." ucapnya dengan earphone di telinganya. Hari sudah mulai siang kala itu. Menyewa mobil di dekat tempat penyewaan dekat bandara, menjadi pilihannya.


Mengetahui wanita yang berkencan dengan putranya? Tentu saja, tanpa Ferrell mengatakannya pun, pengawal yang mengawasi gerak-geriknya diam-diam sudah melaporkan segalanya. Termasuk hubungan Ferrell yang tidak mendapatkan restu.


Wanita cantik yang mengendarai mobil sport, memakai pakaian ala wanita karier. Nampak tertutup, namun lekukan tubuh indah itu terlihat terjaga. Memakai rok selutut, stoking, sepatu hak tinggi serta kemeja dan blazer.


Rambut panjang sedikit bergelombang tergerai, kulit putih alami terawat. Siapa yang akan menyangka dirinya adalah ibu dari 8 orang anak.


Hingga pemukiman itu terlihat, menghentikan mobil sport sewaannya di depan sebuah warung. Mengingat dirinya yang belum sempat pulang ke rumah Damian.


Beberapa ibu-ibu yang tengah membeli keperluannya mengalihkan pandangannya, menatap ke arah mobil yang tiba-tiba berhenti. Hingga pintu mobil mulai terbuka, menampakkan seorang wanita berwajah rupawan.


"Itu model ya?" salah satu ibu-ibu berbisik.


"Seperti artis, wajahnya mulus. Sepertinya seusia dengan putra saya," jawab ibu-ibu lainnya antusias.


Hingga sang wanita berjalan mendekati mereka."Permisi, rumah bu Kamila ada dimana ya? Saya kesulitan mencarinya..." ucapnya tersenyum ramah bagaikan malaikat. Membuat para ibu-ibu itu tertegun.


"Rumah bu Kamila ada di gang nomor dua sebelah kiri dari kompleks pemakaman. Rumah cat hijau, disebelah rumah besar dengan cat orange. Omong-ngomong adek ada keperluan apa ya?" tanya penjaga warung penasaran.


"Merencanakan pernikahan..." jawaban ambigu dari Amel.


"Pak Hasan mau menikah lagi!?" sang penjaga warung membulatkan matanya, menatap ke arah wanita yang mungkin sedikit lebih dewasa dari Glory.


Amel menghela napas kasar."Panggil aku bibi, bukan dek. Mungkin aku seusia dengan ibumu. Aku kesana ingin menjodohkan putraku dengan anak gadisnya..." jawaban dari Amel tersenyum, mengedipkan sebelah matanya. Membuat sang penjaga warung serta beberapa ibu-ibu itu tertegun.


Seusia dengan mereka? Wanita yang bahkan lebih mulus dan cantik daripada selebriti di TV, seusia dengan mereka?


Hingga tanpa disadari sang penjaga warung menelan ludahnya beberapa kali."Cantik, makin tua makin harum. Benar-benar bunga kenanga..." pujinya.


Plak ...


Salah seorang ibu-ibu memukul bahu sang penjaga warung."Ingat anak istri di rumah!!" benaknya kala mobil sport itu telah jauh melaju.


Perlahan mobil Amel mencari lapangan kosong untuk tempat parkir. Berjalan beberapa puluh meter menuju gang tersebut.


Mata semua orang yang berpapasan dengannya, menelisik menatapnya. Hingga sang wanita berhenti di depan rumah bercat hijau.


Berjalan memasuki pintu pagar lapuk yang terbuka lebar. Kemudian mengetuk pintu rumah di hadapannya.


Pintu yang terbuka, menampakan seorang wanita yang berusia sedikit lebih muda dari Amel.


"Cari siapa ya? Kalau menawarkan kredit bank, maaf kami tidak berminat..." kata-kata dari mulut Kamila, menatap dari atas hingga bawah penampilan Amel.


Selalu saja begini, setiap aku memasuki pemukiman padat penduduk selalu dianggap seles bank... batinnya, hanya dapat menghela napasnya, berusaha tersenyum. Dengan beberapa paperbag di tangannya.


"Tidak, aku ingin bicara denganmu. Kamu yang bernama Kamila kan? Ibunya Glory?" tanyanya sopan, dengan cepat Kamila mengangguk.


"Silahkan masuk..." ucapnya canggung, berjalan memindahkan beberapa bolu yang tengah didinginkan sebelum dikemas menuju dapur. Kemudian mempersilahkan Amel untuk duduk, sementara dirinya membuat minuman hangat.


Namun memang diakui olehnya, anak-anaknya berfikiran cukup luas untuk memilih pasangan. Hingga Kamila datang menyajikan dua gelas kaca berisikan teh hangat.


"Kamu teman kerjanya Glory?" tanyanya memulai pembicaraan.


Amel menggeleng, kemudian tersenyum."Aku ingin menjodohkan putrimu dengan putraku. Pernikahan akan dilakukan setelah usia Glory mencapai 19 tahun," ucapnya meminum sedikit teh hangat di hadapannya.


"Anak?" Kamila mengenyitkan keningnya, menatap wanita yang terlihat lebih muda darinya.


Amel mengganguk."Untuk anakku yang sekarang berusia 21 tahun. Jangan salah paham, usiaku mungkin lebih tua darimu..." jawabnya.


Kamila menghela napasnya."Putriku sudah aku jodohkan. Walaupun orang tua pria yang dijodohkan dengan putriku belum kemari, tapi bibinya sudah sering kemari,"


"Batalkan saja! Aku yang lebih dulu kemari meminta putrimu, untuk putraku Ferrell..." Amel terlihat tersenyum menatapnya.


"Ferrell? Pergi!! Dia sudah menipu Glory, menyakitinya menggunakan nama Ken!! Bahkan menghamili teman sekelas putriku!! Aku tidak akan pernah menerimanya sebagai menantuku!!" teriaknya hendak mengambil sapu dan baskom yang akan diisinya dengan air.


Tapi baru beberapa langkah menuju dapur, Amel bangkit berjalan mendekatinya, lebih tepatnya menghadang jalannya, senyuman di wajahnya sudah menghilang. Menatap dingin ke arah Kamila.


Entah kenapa ibu-ibu galak itu mengeluarkan keringat dingin, gemetaran, menatap wanita yang mulai tersenyum kembali, mendekatkan wajahnya pada leher Kamila. Bukan tipikal senyuman ramah, namun senyuman yang dingin.


"Bicaralah baik-baik denganku, aku hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anakku. Mewujudkan apapun keinginannya, jika menolak tanpa mengatakan alasannya begitu saja...aku tidak akan segan-segan lagi padamu..." bisiknya, entah kenapa seketika Kamila terdiam, ketakutan pada wanita di hadapannya.


Amel kembali menjauhkan dirinya, aura yang kembali berubah, tersenyum ramah seperti biasanya."Jadi sebaiknya ceritakan baik-baik kenapa putraku Ferrell tidak kamu setujui..."


***


Beberapa belas menit berlalu, kali ini Kamila menceritakan segalanya. Tanpa ada yang ditutup-tutupi olehnya bahkan kehamilan Grisella, tetangga sebelah rumahnya yang mengaku akan bertunangan dengan Ferrell.


Amel meminum tehnya mendengarkan dengan seksama. Kemudian menghela napas kasar."Ini sekedar oleh-oleh untukmu, suamimu dan Glory," ucapnya memberikan beberapa paperbag.


"Aku tidak dapat menerimanya. Walaupun aku miskin, tapi aku ingin memilihkan putriku dengan pasangan yang baik. Agar saat aku tidak ada nanti ada seseorang yang menjaganya." Kali ini Kamila benar-benar tegas menolak pemberian Amel.


Membayangkan putrinya tidak akan diperlakukan dengan baik oleh Ferrell nantinya. Mungkin juga, Ferrell akan menjadikan Glory istri kedua. Tidak, walaupun dari keluarga sederhana, Gin akan lebih bisa untuk melindungi Glory, memperlakukannya dengan baik.


"Ini hanya oleh-oleh bukan suap menyuap. Tentang Ferrell, bagaimana jika kita ke rumah tetanggamu. Aku ingin mendengar cerita darinya, jika yang ada di perutnya memang cucuku. Aku pastikan putraku akan bertanggung jawab..." ucapnya memaksa Kamila untuk menerima pemberiannya.


Orang yang sudah terlanjur disukai oleh putraku tidak akan dapat melarikan diri... batinnya, tersenyum. Memang begitu bukan? Sudah terlanjur ikut pesugihan, tidak akan dapat lepas dengan mudah.


Berniat melepaskan diri dari pangeran pesugihan? Ibunya akan menjeratnya, menyeretnya kembali ke atas tempat tidur putranya.


Dengan ragu Kamila menerimanya tanpa membuka isinya."Tentang Grisella..." kata-katanya disela.


"Aku ingin bertemu dengan wanita yang mengandung cucuku, kamu akan mengantarku ke rumahnya kan..." ucap Amel tersenyum.


Bersambung