
🍀🍀🍀🍀 Awal bulan novel ini akan segera tamat. Mungkin akan ada cerita tentang Ferrell, tapi dalam novel lain, Happy Reading...🍀🍀🍀🍀
Tidak dapat menerima segalanya, kali ini Victor akan membongkar dirinya yang sebenarnya tidak mengalami koma sama sekali.
Perlahan pintu kamar dibuka Eden yang melangkah mendekati ayahnya. Pria yang terlihat terbaring tidak berdaya.
"Kalian bilang ayahku bergerak! Mana!?" teriaknya pada seorang perawat.
"Tuan, sebaiknya buka mata anda..." ucap salah seorang perawat.
Victor membuka matanya, entah kebahagiaan apa lagi yang lebih baik dari ini. Tangan Eden gemetar. "Ayah..." lirihnya.
Namun, Viktor bergerak dengan cepat memegangi putranya. "Apa yang kalian lakukan pada Dark Wild...?"
"A...aku minta maaf ini ide Steven!!," teriaknya berusaha menggerakkan sendiri kursi rodanya menjauh.
"Ayah tidak peduli kesalahan siapa! Tapi kenapa bisa adikmu memiliki scandal dengan artis yang bagaikan wanita penghibur?" tanyanya benar-benar terlihat kesal.
"Ini semua hanya rencana! Rencana! Steven melindungi istrinya yang asli!! Namanya Febria..." ucapnya gelagapan.
"Febria?" Victor mengenyitkan keningnya mengingat nama anak kandung Kenzo. Anak paling bungsu yang bernama Febria.
Barulah kursi roda Eden di lepaskan sang ayah."Jadi ayah berpura-pura koma?" tanyanya memastikan, pasalnya orang koma biasanya tindak dapat menggerakkan tubuhnya dengan leluasa pasca sadar.
Victor mengangguk tanpa dosa, mulai tersenyum, menghubungi seseorang menyalakan laptopnya. Mengirimkan e-mail pada Kenzo.
'Perjanjian kita tidak batal, anak kita sudah menikah,' pesan e-mail yang dikirimkannya, menutup laptopnya tanpa menunggu balasan.
"Buat pesta resepsi pernikahan adikmu secara besar-besaran..." perintahnya.
"Tidak bisa, Doom belum tertangkap, kelompok Dragon juga..." kata-kata Eden disela.
"Ayah tidak peduli! Setelah Doom tertangkap buat pesta besar-besaran untuk menyumpal mulut Kenzo!" ucap Victor tegas."Kamu juga membawa seorang wanita kemari, dia siapa?" lanjutnya.
Eden tertunduk sejenak, cukup memalukan baginya,"Dia Elina, istriku sekaligus ipar Steven. Kakak angkat Elina..." jawabnya.
Awalnya Victor terdiam dengan wajah pucatnya, "Kamu sudah menikah? Bahkan dengan putri angkat Kenzo yang super sempurna?" tanyanya memastikan dijawab dengan anggukan oleh Eden.
"Apa kamu sudah sembuh?" tanya kembali menatap sinis.
"Sudah!! Aku belum mencobanya!! Tapi sudah mulai dapat bangkit hanya di hadapannya!!" jawabnya bersungut-sungut.
"Syukurlah, kalau begitu..." ucap Victor mulai mengambil sebotol anggur dan sebuah gelas di bawah tempat tidurnya, meminumnya di hadapan putranya.
"Sekarang ayah yang ceritakan, kenapa ayah bisa pura-pura koma...?" tanya Eden.
"Ini karena sebuah taruhan ayah berjanji akan menikahkan Steven dengan putri orang yang menyelamatkan ayah. Kami membuat taruhan kalian akan merestorasi bisnis saat aku berpura-pura koma atau tidak,"
"Jika kalian merestorasi dan berhasil aku akan mengikuti keinginan kalian, melakukan apapun demi kalian. Jika gagal seseorang bernama Kenzo akan mendanai Dark Wild sebagai besan ayah. Dan harus menerima jika putrinya menjadi istri dari seorang mafia ..." jelasnya.
"Jadi ini hanya karena sebuah taruhan aku harus menangis siang dan malam berdoa untuk kesembuhan orang tuaku?" tanya Eden kesal.
Victor mengganguk,"Kenyataan lebih menyakitkan daripada imajinasi..." gumamnya tersenyum.
Ayahku ini!! Kenapa dia bisa menjadi pimpinan mafia? Aku sendiri tidak mengerti... dasar... batinnya tidak dapat mengumpat pada sang ayah. Hanya bisa berusaha tetap terus tersenyum.
***
Hari ini, Steven pergi lebih awal tanpa sepengetahuan Febria melajukan mobilnya seorang diri menuju rumah sakit. Semakin lama semakin mudah kelelahan, apa ada obat untuk mengembalikan staminanya?
Entahlah, sudah dapat hidup sampai hari ini, merupakan sebuah rasa syukur baginya. Dokter ditemuinya, memeriksa keadaannya secara menyeluruh, namun tidak ada solusi permanen selain mendapatkan donor. Beberapa jenis obat-obatan ditebusnya. Membawa sebuah paperbag hingga pandangan matanya beralih.
Hitoshi berdiri di sana, pria baik hati yang sepertinya menjadi relawan di rumah sakit tersebut. Air matanya mengalir tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. Apa Febria akan berakhir bahagia bersamanya? Orang yang dapat mati kapan saja.
Cara Steven memandang dirinya sendiri, bagaikan mayat hidup yang berjalan dapat rubuh menutup mata kapan saja. Ini mungkin sepadan sebagai hukumannya membunuh orang hanya untuk melindungi kelompoknya.
Namun, inilah kenyataannya, orang bernama Hitoshi lebih baik darinya. Pria yang mungkin dapat melindungi Febria nanti, memberikan kebahagiaan yang tidak dapat diberikannya. Besok? Lusa? Entahlah, namun jika pria yang menemaninya sebaik itu dirinya dapat tidur dengan tenang.
Steven terdiam sejenak menghela napas kasar, meninggalkan sang pemuda baik hati tanpa dosa. Kebalikan dari dirinya yang memiliki tangan berlumuran darah segar.
Entah sampai kapan dirinya dapat merahasiakan penyakitnya ini. Hingga sering suara phonecell terdengar, panggilan dari kakaknya.
"Eden? Ada apa?" tanyanya menyetir sembari memasang earphone di telinganya. Menjawab panggilan sang kakak.
"Ayah bangun!! Cepat bawa Istrimu ke rumahku sekarang!" perintahnya.
"Tapi kenapa? Biar hanya aku yang berlutut meminta maaf di hadapan ayah. Ini kesalahanku," ucapnya tidak rela jika Febria harus berhadapan dengan ayahnya.
"Aku bilang!! Bawa Febria kemari, atau aku sendiri yang akan mengirim orang untuk menjemputnya!?" perintah Eden mematikan panggilannya sepihak.
"Kakak!! Kakak? Kakak!?" teriaknya, melempar earphone yang menempel di telinganya asal. Segera menginjak pedal gasnya kembali menuju rumah.
Beberapa belas menit perjalanan, rumah miliknya terlihat. "Febria!! Febria!!Febria!!" panggil Steven memasuki rumah.
"Tuan maaf, tuan Eden tadi menjemputnya..." ucap seorang pengawal menunduk.
Takut? Tentu saja, Steven bergerak dengan cepat, kembali memasuki mobilnya, menyalakan mesin mobil. Tidak peduli pada apapun lagi, pedal gas diinjaknya dalam-dalam. Lampu merah di terobosnya.
Sungguh perbuatan yang tidak terpuji. Hingga akhirnya sampai di kediaman Hudson. Menyelamatkan Febria adalah prioritasnya kini, mungkin istrinya tengah ditodong dengan senjata api oleh ayah mertuanya sendiri.
Satu-persatu lorong ditelusurinya, Victor terbangun dari koma? Ini adalah kabar bahagia atau kabar duka entahlah. Dirinya hanya ingin segera menemukan tempat Febria berada.
Hingga pintu ruang rawat Victor terlihat,"Apa ayahku ada di dalam?" tanyanya pada sang pengawal.
Sang pengawal mengangguk, pintu akhirnya dibuka Steven dengan cepat hendak melindungi istrinya. Tapi yang terlihat di luar dugaannya. Ayahnya tengah tertawa ditemani kedua menantunya.
Sedangkan Eden hanya kebagian mengupas kulit apel disana.
"A...ayah?" tanyanya.
"Kemari..." perintah Victor pada putranya.
Steven menurut, benar-benar pemandangan yang aneh. Apa dirinya bermimpi? Entahlah, perlahan berjalan mendekat.
"Febria mengatakan kamu sering menggodanya ketika kecil!? Kenapa otakmu bisa sebusuk itu," ucapnya tertawa.
"Tidak hanya itu dia pernah berpura-pura demam agar bisa di rumah seharian dengan Febria..." Elina menimpali.
"A...aku...." ucapnya tertunduk malu dengan prilakunya..." menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tapi tunggu sebentar! Seharusnya ayahnya tidak menyetujui hubungannya dengan Febria. Tapi kenapa tiba-tiba baik-baik saja, dan apa itu? Segelas wine di tangan ayahnya?
"Ayah berpura-pura koma?" tanya Steven meyakinkan deduksinya.
"Tidak disangka, orang tua bisa membohongi anak muda!!" suara tawa yang semakin nyaring terdengar.
Steven seketika duduk diatas lantai tubuhnya seakan kehilangan pijakan. Ayahnya hanya berpura-pura koma? Lalu aksi balas dendam yang dilakukannya dan Eden, hampir mengorbankan nyawanya?
"Ini!! Kita sebagai anak hanya kebagian sesi mengupas apel," Eden menghela napas kasar memberikan buah apel dan pisau lain pada Steven.
"Kakak? Apa aku mengalami delusi? Apa aku sudah gila?" gumamnya.
"Aku juga gila karena mereka bertiga..." Eden melirik ketiga orang yang menertawakan foto album masa kecilnya.
***
Kenzo mulai membaca pesan yang masuk ke e-mailnya. Tempatnya berada saat ini? Sebuah club'malam ternama Doom ada disana besama Fransisca.
Pembicaraan mereka terdengar dari alat perekamnya. Pembicaraan yang menyangkut uang bernilai tinggi berharga jutaan dolar.
Orang yang membiayai Doom untuk melakukan pemberontakan pada Dark Wild. Salah satu saingan bisnis Kenzo, pemilik perusahaan yang selalu menyaingi W&G Company.
Pria ber-jas yang tersenyum menatap ke arah Doom.
"Aku akan menghancurkan kalian bersama-sama..." gumam Kenzo tersenyum.
Bersambung