
Pakaian yang berserakan di lantai, kamar hanya dengan lampu tidur yang menyala, dua makhluk kini terlelap dalam tidurnya. Pemuda yang memeluk seorang wanita dalam dekapannya, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka. Hanya seonggok selimut berwana krem.
Mata Dava perlahan terbuka, tidur yang benar-benar nyenyak, terasa nyaman. Wajah cantik yang ditatapnya kini, menampakkan beberapa bekas keunguan di bagian leher, mungkin bagian lain ada, hanya saja masih tertutup selimut.
Milik siapa? Apa dirinya mengenal seseorang bernama Kenzo? Nama yang pernah ada dalam mimpinya, seseorang yang jatuh ke lautan, namun wajahnya tidak terlihat jelas.
Wajah Amel ditatapnya lebih dalam."Apa dia lebih tampan dariku?" tanyanya, mulai merasa nyaman dengan wanita yang tertidur dalam pelukannya.
"Aku harus segera pergi, sebelum suamimu kembali..." lanjutnya, mencoba meletakkan kepala Amel perlahan diatas bantal. Benar-benar bagaikan pasangan selingkuh yang takut tertangkap.
Namun dengan cepat wanita itu mendorongnya, berada di atas tubuhnya,"Ingin melarikan diri?" tanyanya.
"Tidak, uangnya nanti siang saja, sebaiknya aku pergi sebelum nanti suamimu pulang..." ucap Dava gelagapan mendapatkan serangan tiba-tiba dari Amel.
"Benar ingin pergi?" Amel menatap sinis, merasa benda yang ada di bawahnya kembali menegang.
"A...aku hanya... itu normal, aku seorang pria di pagi hari ada wanita..." kata-kata Dava disela.
"Kamu bereaksi seperti ini pada setiap wanita?" tanyanya kembali.
"Tentu saja tidak, aku..." kalimat Dava lagi-lagi disela.
"Aku minta maaf..." ucap Amel tersenyum, mengecup kedua pipi Dava.
"Untuk apa?" tanya Dava tidak mengerti.
"Katakan, kamu akan memaafkanku, tolong..." pintanya.
Maaf, karena membuatmu ragu, pada perasaanku... batinnya.
"Aku memaafkan, apapun kesalahanmu. Sudah?" Dava mengenyitkan keningnya.
"Terimakasih..." Amel tersenyum.
Senyuman yang membuat Dava tertegun sejenak, mata jernih yang ditatapnya dalam-dalam, hingga tiba-tiba wanita itu menariknya untuk duduk di tempat tidur. Memeluk tubuhnya, menyatukan tubuh mereka tanpa aba-aba.
"Uggh... sudah hampir pagi, bagaimana jika suamimu da... datang," ucapnya, pada Amel yang ada di pangkuannya. Tubuh mereka benar-benar kembali menyatu.
Amel hanya diam, membimbing Dava untuk kembali menggerakkan bibirnya, mencumbui dua benda yang ada di hadapannya. Rambut pemuda itu dijambaknya pelan.
Wanita sialan!! Aku tidak bisa berhenti, bagaimana jika suamimu datang... gumam Dava dalam hatinya, namun menikmati semuanya, pasrah. Bahkan bagaikan tidak pernah menemukan titik kepuasan. Seolah-olah mencintai wanita yang kini membuat tubuhnya tidak dapat berhenti mendamba.
***
Dan benar saja, hari sudah mulai pagi, barulah dirinya terbangun, tubuhnya berbalut selimut dengan punggung dipenuhi bekas cakaran. Hal yang pertama kali dilihatnya? Sepasang anak kembar berdiri sembari tersenyum.
"I...ini tidak seperti dugaan kalian. Jangan bilang pada siapapun, termasuk ayah kalian, aku tidur di kamarnya ya?" pintanya gelagapan, menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut.
Kedua anak itu saling melirik dan tersenyum, membuat ayah mereka lebih nyaman tinggal di rumah adalah tujuan mereka.
"Paman, tolong jaga kami...mama sedang pergi, ada janji temu dengan investor..." pinta Ferrell.
"Iya, kak Scott dan Steven juga sedang membantu mama ..." Febria mendekatinya, duduk tanpa ragu di tepi tempat tidur. Memegang jemari tangan ayahnya, penuh harap.
Papa ... batin mereka. Mata kedua anak itu berbinar-binar menginginkan Kenzo yang hanya diketahuinya dari foto, menemani mereka hari ini.
Jenius? Seberapapun pintarnya mereka hanya anak kecil yang mendambakan memiliki seorang ayah. Bermain dengan ayahnya, mendapatkan pujian, bahkan dimarahi sama seperti anak-anak lainnya. Ingin rasanya, Kenzo yang diketahuinya sudah meninggal kembali hidup.
Wajah tersenyum yang kini ada di hadapan mereka.
Apa Amel melarikan diri? Bagaimana dengan 80 jutanya... gumam Dava dalam hati, bingung harus bagaimana. Bukan sisik emas atau uang kertas yang didapatkannya, namun sepasang anak kembar yang tersenyum, penuh harap.
"Paman..." kedua anak yang manis memanggilnya bersamaan, memeluk tubuhnya.
Perasaan yang hangat, ingin melindungi dua makhluk kecil di dekatnya. Bagaikan boneka Chucky dan Anabel... maaf salah, bagaikan sepasang Teddy bear menggemaskan.
Pipi sedikit chubby wajah rupawan yang diwarisi dari kedua orang tua mereka. Cantik dan tampan entah bagaimana rupa ayah mereka.
Dava menghela napas kasar,"Paman harus bekerja, bagaimana jika kalian pergi ke taman bermain bersama paman?" tanyanya mulai luluh.
Kedua orang anak yang tersenyum, sembari mengangguk.
"Aku dan Febria akan ganti baju dulu... pakaian paman masih di cuci. Paman pakai baju yang ada di lemari saja..." Ferrell berlari, menarik tangan saudarinya, tidak sabaran menghabiskan waktu dengan ayahnya.
Pemuda itu mulai bangkit, berjalan tanpa sehelai benangpun, menuju kamar mandi. Dava mengisi air dalam bathtub menuangkan sabun cair kedalamnya.
"Aku benar-benar menjadi pria simpanan istri pengusaha," gumamnya, menghela napas kasar, terdiam sejenak.
Beberapa belas menit berlalu, pemuda itu telah usai membasuh tubuhnya, keluar dengan rambut yang basah, mengenakan jubah mandi.
Lemari pakaian dibuka olehnya, terdapat pakaian pria disana, bukan pakaian baru, namun terbungkus dikemas rapi. Terlihat terawat juga. Pandangan matanya beralih, setelan tuxedo putih tergantung dengan plastik besar yang menutupinya serta gaun pengantin yang terlihat indah, terbungkus rapi juga.
Jemari tangannya bergerak, pakaian itu dirabanya. Membayangkan Amel mengenakan gaun terlihat cantik dan elegan, namun tuxedo putih itu bukan miliknya, sekali lagi dirinya, menghela napas kasar. Wanita yang menghabiskan malam dengannya, adalah milik orang lain.
Menginginkannya? Entah kenapa, hingga satu hal yang mulai ada di fikirannya. Semalam dirinya tidak memakai pengaman, apa wanita itu memakai kontrasepsi?
Dia berkali-kali menabur kecebong tanpa mengingat konsekwensinya. Bagaimana jika kecebongnya berkualitas tinggi?
Namun, Dava mulai berusaha tersenyum, berfikir positif,"Tidak mungkin melakukannya satu malam langsung jadi kan...?" gumamnya, mengingat dari cerita orang-orang sebelum ingatannya menghilang, dirinya kerap berhubungan dengan Kiki. Namun, wanita itu tidak kunjung hamil diluar nikah.
Tapi apa benar kecebongnya tidak berkualitas? Sepasang anak kembar menjadi bukti, ayah mereka dapat menghasilkan anak dengan cepat.
Hingga pandangan matanya menyipit, beralih pada setelan tuxedo. Dirinya tidak menyukai, benar-benar tidak menyukai sosok bernama Kenzo. Mulai serakah menginginkan istri orang. Setelan tuxedo putih itu dilemparkannya penuh dendam, diinjak-injaknya.
Namun, seketika Dava menampar dirinya sendiri... Itu istri orang, aku yang salah sudah menidurinya. Tapi semalam ... bayangan itu masih terlintas hingga kini. Kala tubuh itu melenguh dalam dekapannya.
Hingga setelan yang terbungkus rapi itu kembali ditaruhnya dalam lemari. Mengambil pakaian asal, pakaian suami dari wanita yang ditidurinya. Dimana harga diri Dava? Entahlah, namun tidak ada pilihan lain.
Pakaian mulai dikenakannya, terasa pas di tubuhnya, bahkan celana panjang jeans berwarna hitam. Tangannya, refleks terangkat bagaikan mengetahui letak batang-batang, parfum dengan aroma maskulin disemprotkannya.
Dava mengenyitkan keningnya, pakaian dengan selera yang sama dengannya, bahkan bau parfum yang tidak asing. Apa sebelum memory-nya menghilang dirinya mengenal Kenzo? Entahlah...
Namun satu yang pasti, sebagai pria simpanan dirinya harus waspada.
Kedua anak itu mulai masuk, mengenakan pakaian terbaik mereka, bagaikan dua anak iblis, maaf salah lagi anak malaikat yang manis.
"Paman, ini..." ucap Ferrell, memberikan sebuah dompet pada Dava,"Mama menitipkannya..."
Pemuda itu mengenyitkan keningnya, dompet itu diraihnya, beberapa kartu kredit black card berada di sana, kartu debit, dan ATM, serta beberapa lembar uang tunai.
"PIN-nya tanggal kemarin, masalah hutang sudah dilunasi oleh mama..." anak itu tersenyum pada ayahnya.
Jemari tangan Dava gemetar, black card? Limitnya dipastikan mencapai lebih dari satu miliar, untuk satu kartunya. Pesugihan? Ini lebih dari pesugihan.
"Aku tidak bisa menerima ini, kembalikan pada mama kalian ya?" pintanya, mengembalikan dompet.
Papa ragu menggunakan uangnya sendiri? Bagaimana ini... Ferrell melirik ke arah saudari kembarnya.
"Paman, i... ini uang jajan kami untuk pergi bersama paman seharian. Paman tidak mau mengambilnya?" Febria, memeluk Dava erat, matanya berkaca-kaca.
Papa itu uangmu... terimalah... gumamnya dalam hati.
"Baik, tapi hanya menggunakannya untuk jajan kalian..." Dava tersenyum, mengangkat tubuh Febria, mencium pipinya gemas.
"Ci...cium aku juga!!" ucap Ferrell iri, menahan rasa malunya.
Dava tersenyum, berganti memeluk Ferrell mencium pipinya. "Anak laki-laki juga senang dicium ternyata..."
Tentu saja, aku juga ingin dicium oleh papa, seperti teman-temanku... hangat... Ferrell mendekap tubuh Dava erat, seolah tidak ingin melepaskan sang ayah lagi.
***
Dirinya sudah hampir terlambat, menutup dua buah kotak bekal berisi sarapan, beberapa potong roti yang telah diolesi selai. Serta dua botol minuman, membimbing kedua anak itu mengikuti dirinya seharian ini.
Berjalan dengan cepat hendak meninggalkan villa.
"Ferrell!! Febria!! Ayo!! Taksi onlinenya sudah hampir sampai..." panggilnya.
Berjalan membimbing kedua orang anak kembar itu hingga area parkir depan villa. Taksi online baru saja sampai, bersamaan dengan sebuah mobil mewah memasuki villa, berhenti di dekat mereka.
Bug...
Pintu terbuka, seorang pemuda rupawan turun dari sana, terlihat berdarah campuran Asia dan barat. Membawa beberapa paperbag, serta buket bunga yang indah.
"Ferrell!! Febria!!" panggilnya tersenyum, membawakan beberapa oleh-oleh. Mendekati anaknya, agar sang ibu takluk nantinya.
Dava kembali mengenyitkan keningnya, merasa bersalah dan gugup, menatap pemuda rupawan yang baru datang,"Apa dia Kenzo ayah kalian...?" tanyanya sedikit berbisik.
"Hah?" Ferrell tidak habis fikir dengan ayahnya. Sementara Febria melihat ke arah lain, menipiskan bibir menahan tawanya.
Bersambung