
Ketakutan tentu saja, Doom sudah mati, itulah yang pasti saat ini. Jantungnya berdegup cepat, tapi bukan karena jatuh cinta, namun lebih pada ketakutan. Tempat itu tengah digeledah, orang-orang yang ditemukan ditembak mati, bahkan pelayan atau supir sekalipun. Darah ada dimana-mana dirinya mengeluarkan keringat dingin, bahkan merasa mual.
Hingga, pintu lemari pakaian ganti dekat kolam renang dibuka. Seorang pria menodongkan senjata padanya.
"Bos, kelihatannya aku menemukan jackpot! Kekasih Doom ada disini..." ucap seorang pria yang terlihat lebih muda darinya.
Memiliki sesuatu harus ada konsekuensinya, menjadi simpanan, suatu saat akan diketahui istri sah. Itu tidaklah mengerikan bagi Fransisca, dengan hasil yang sedikit resiko yang sedikit pula didapatkannya.
Tapi menjadi kekasih seorang ketua mafia? Dirinya baru mengetahui, betapa mengerikannya hal itu ketika mengalami kekalahan. Uang yang didapatkannya seakan tidak ada artinya.
Rambut panjang Fransisca ditariknya. Wanita itu hanya menangis,"Aku tidak tau apa-apa tolong lepaskan aku ..." ucapnya lirih, mayat Doom diliriknya masih dalam kondisi mengapung di atas air kolam renang yang merah.
"Cantik, badannya juga bagus. Kalau kalian ingin pakailah dulu di sini. Agar terlihat oleh mayat si k*parat, jangan lupa gores wajahnya, baru buang ke tempat yang jauh..." perintah petinggi kelompok Dragon, berjalan pergi hendak meninggalkan villa.
Dan benar saja, tangannya diikat, entah berapa orang yang menikmati tubuhnya. Membuang benih mereka di atasnya. Benar-benar menjijikkan.
"Ayo menjeritlah!! Buat kami semakin bersemangat memuaskan kekasih seorang Doom!!" ucap salah seorang dari mereka tersenyum.
Tidak di tempat tidur, tapi diatas ubin dingin dekat kolam renang. Sebuah penghinaan, benar-benar sebuah penghinaan. Bibirnya tidak dapat berhenti meracau, mengerang, namun juga berteriak kelelahan tidak ada yang peduli. Mereka hanya memejamkan mata menonggakkan kepalanya, memikirkan kepuasan mereka sendiri.
Lebih buruk daripada wanita penghibur? Itulah yang dirasakannya. Hingga terkulai lemas, kesadarannya menghilang.
Dirinya terbangun di dekat area hutan, dengan darah mengalir di pipinya, wajahnya digores entah oleh siapa. Sakit dan perih, itulah yang dirasakannya. Tubuhnya hanya berbalut sebuah kemeja kebesaran saja. Hal pertama yang dilakukan? Tentu saja berjalan kembali menuju villa, mengambil barang-barangnya, kartu kredit pemberian Steven, uang yang diberikan Doom, serta perhiasan miliknya.
Villa? Mungkin villa yang diberikan Doom padanya itu dapat dijual. Jika saja mayat-mayat itu telah tersingkir.
Hingga beberapa jam berjalan kaki, villa mewah itu terlihat kembali. Telah hangus tanpa sisa, hanya abu dan arang yang ada disana. Tentunya kelompok Dragon tidak ingin meninggalkan satu jejakpun dari perbuatan mereka.
Kaki Fransisca lemas, berlutut menangis menatap dirinya yang tidak memiliki apapun lagi. Andai saja dirinya tetap setia dan tidak membunuh Steven, semua ini tidak akan terjadi.
Namun, penyesalan juga tidak ada artinya...
***
Satu tahun kemudian...
Cleaning service sebuah mall adalah pekerjaannya saat ini. Dirinya cukup beruntung, teman SMU-nya bersedia mempekerjakannya.
Menghapus peluhnya berusaha untuk bertahan hidup. Berbeda dengan kehidupannya yang dulu ketika menjadi kekasih Doom, menginginkan apapun tinggal tunjuk saja. Dielu-elukan semua orang karena kecantikannya.
Tapi kini berada, kulitnya kusam tanpa perawatan seharga puluhan juta, dua luka goresan besar di pipinya juga terlihat. Rambutnya yang halus, kini hanya tinggal rambut kasar yang keramas dengan shampo murah. Siapa yang menyangka dirinya adalah seorang Fransisca.
Hingga suara yang dikenalnya terdengar,"Mama!!" teriakan Aqila, membawa sebuah paperbag berisikan 3 kaleng minuman bersoda.
Air mata Fransisca mengalir, satu-satunya anggota keluarganya masih mengingatnya? Namun, senyuman itu memudar kala sang anak berlari ke arah Yessi yang mendorong kereta bayi, dengan tubuh sedikit terlihat berisi, mungkin pasca melahirkan.
"Ini untuk mama dan adik..." ucapnya menyodorkan dua kaleng minuman bersoda.
"Ini mama terima, tapi yang ini tidak boleh, adikmu hanya meminum susu," Yessi tertawa kecil menatap putri sambungnya yang manis.
Gadis kecil itu melangkah, menarik ujung pakaian Fransisca yang tengah menunduk, menitikkan air matanya.
"Ini untuk bibi..." ucapnya, matanya menelisik mengamati wajah wanita itu baik-baik,"Bibi mirip mamaku, bukan mamaku yang disana, tapi mamaku yang lain,"
"Bibi jangan tersinggung ya? Walaupun mirip, mamaku lebih cantik..." lanjutnya tersenyum.
Hanya tinggal putrinya yang mengingatnya. Tidak ada orang lain lagi, kecantikan? Apa mungkin hanya itulah kelebihan dari sang ibu yang dilihat oleh putrinya. Anak yang tidak pernah dicintainya dengan tulus.
"Mamamu pasti memang lebih cantik..." ucapnya mensejajarkan tingginya dengan Aqila, memeluk tubuhnya erat. Mulai menitikkan air matanya, satu-satunya orang yang masih mengingat dan mencintainya.
Sedangkan, Yessi tersenyum, melihat semuanya dari jauh. Awalnya dirinya tidak mengenali Fransisca, namun memperhatikan dengan seksama orang yang memeluk putri sambungnya.
Takut Fransisca akan kembali melukai hati Aqila? Tidak, dari sorot mata yang berbeda, telah terlihat. Wanita itu seorang ibu, bukan artis yang sombong dan angkuh lagi.
"Jangan menangis..." ucap Aqila ragu, membalas pelukan seorang bibi yang tidak asing baginya. Merasakan perasaan nyaman yang aneh, perasaan tidak dikenalinya dekapan ibu kandungnya untuk pertama kalinya.
Hingga setetes air matanya mengalir, mulai menyadarinya,"Mama!!" teriaknya.
Mama? Anak ini masih mencintainya, bagaimanapun dirinya dulu menolak kasih sayangnya. Bersyukur? Tentu saja, dirinya tertunduk dan terisak tidak dapat berkata-kata. Perasaan cinta dari pria pemuja kepuasan, ternyata tidak ada apa-apanya dengan perasaan kasih putrinya.
Yessi menghela napas kasar, berjalan mendekati mereka dengan mendorong kereta bayinya.
"Fransisca..." panggilnya.
Fransisca tertunduk, melepaskan pelukannya, mengalihkan pandangannya, mempertahankan harga diri terakhirnya.
"Aku minta maaf..." ucap Yessi.
Yessi tidak menghinanya namun meminta maaf? Dirinya hanya dapat tertegun diam, dapat menatap cerminan dirinya sendiri saat ini. Betapa buruk dirinya...
"Bagaimana pun aku meminta Aqila melupakanmu, dia tetap mengingatmu. Aku minta maaf, sempat berfikir untuk memisahkan kalian. Sempat menjelek-jelekkan dirimu di hadapannya, aku harap dia tidak akan mengadu.." Yessi tertawa kecil, mengusap rambut putri sambungnya.
Bodoh bukan? Kenapa dia meminta maaf? Tangan Fransisca gemetar, air matanya mengalir tiada henti."Maaf..." akhirnya kata itu terucap dalam tangisannya.
Merebut Zen, mengacuhkan Aqila, bahkan merendahkan Zen. Berapa banyak lagi kesalahannya, itu hanya sebuah sampul judul dari buku tebal, daftar dosa-dosanya.
"Maaf, tidak akan menebus segalanya. Tapi bisa ijinkan aku bertemu Aqila? Seminggu sekali juga tidak apa-apa. Ini bukan alasan untuk mendekati Zen...aku..." kata-kata menahan rasa malunya terhenti.
Yessi mengangguk,"Kamu juga mamanya. Aku tidak memiliki hak untuk memisahkan kalian, begitu juga dengan Zen. Seminggu dua kali, aku akan membawanya kemari untuk bermain di area anak,"
"Setiap hari sabtu kamu boleh membawanya, menginap kalau dia ingin. Ada beberapa hal yang harus diingat jika ingin membawanya menginap. Rambutnya harus disisir sebelum tidur, temani dia gosok gigi, Aqila tidak berani ke kamar mandi sendirian, saat buang air besar temani dia, dia sering mengalami sembelit, saat tidur dia..." kata-kata Yessi terpotong.
"Tolong tulis daftarnya saja, kapasitas otakku tidak muat untuk mengingatnya..." ucap Fransisca tertegun. Namun tidak dipungkiri, dirinya bersyukur putrinya diasuh oleh ibu sambung yang baik.
Bersambung