
Ferrell menghentikan langkahnya,"Membantuku? Bagaimana?"
"Aku masih SMU sama dengan Glory, aku akan membantumu membuatnya menyukaimu. Tapi tolong nyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk adikku. Aku tidak memintamu menemuinya secara langsung. Aku hanya ingin rekamannya saja, dia akan menjalani operasi besar di usia 15 tahun jadi..." air mata gadis itu mengalir, mungkin saat ini dirinya benar-benar tidak tahu malu, tapi untuk Fia semua tidak masalah baginya.
"Tidak mau..." jawaban dari Ferrell, kembali melangkah hendak berjalan pergi.
Lily mengepalkan tangannya, memegang gantungan kunci dengan tandatangan yang didapatkannya. Mungkin hanya ini hadiah yang berhasil didapatkan olehnya setelah mengikuti Caca. Namun, beberapa kalimat dari Ferrell, membuatnya membulatkan matanya, tersenyum penuh harapan.
"Aku akan hadir di hari ulang tahun adikmu, bahkan memberikannya kado secara langsung. Jika kamu dapat membuat Glory berkencan denganku seharian besok," lanjutnya, berjalan pergi tanpa berbalik atau menoleh.
Lily mulai tersenyum, mengepalkan tangannya. Ken atau siapapun tidak boleh menghalangi jalannya. Dirinya harus memasuki lingkungan para cumi-cumi besok.
***
Sementara Glory dan Caca kembali berjalan pulang bersama. Gadis itu terus saja tertunduk dengan wajah murung.
"Sudahlah, terima saja perasaan Ferrell, lupakan Ken. Dia juga belum tentu menyukaimu kan?" nasehat yang diberikan Caca, yang sejatinya sudah mengetahui dan terlihat jelas Ken juga menyukai Glory.
Glory menggeleng,"Tidak mau, Ferrell memiliki status yang terlalu tinggi. Aku tidak mau hidup direndahkan mertua, lambat laun memiliki suami yang berselingkuh. Berbeda dengan Ken, dari keluarga biasa yang lebih mudah terjangkau. Sopan dan baik hati, dia memiliki kemungkinan yang kecil untuk berselingkuh," jawabnya, membandingkan.
Dimata Glory, Ferrell adalah seorang playboy kaya yang mungkin memiliki banyak kekasih. Sedangkan Ken pria sederhana, tipikal pria baik-baik.
Caca menghela napas kasar,"Benar juga, keluarga Ferrell lumayan mengerikian, untuk wanita yang tidak menyukai tantangan sepertimu," ucapnya mengeluarkan gadgetnya.
Sebuah foto keluarga yang didapatkannya di internet diperlihatkan olehnya."Ibunya bernama Amel, ayahnya bernama Kenzo, masih terlihat muda, aku iri pada mereka. Tapi reputasi mereka dalam dunia bisnis, di luar negeri sangat buruk, seperti siluman rubah putih yang menikah dengan raja iblis,"
"Ada lagi Joe, Elisha, Elina, Scott, kakak-kakaknya termasuk jenius, memiliki karier yang cemerlang, bahkan mereka semua masing-masing memiliki pasangan dari kalangan atas. Terakhir Febria saudari kembar Ferrell, dia menikahi kakak angkatnya sendiri Steven. Ada desas-desus, Steven pernah menjadi ketua mafia," jelasnya.
"Benarkan? Aku hanya seorang gadis kecil, hanya mainan Ferrell. Jikapun menikah, setelah menikah nanti, aku hanya akan menjadi kelinci putih kecil yang bergabung ke dalam keluarga singa," ucap Glory berdidik ngeri."Jika memilih pasangan, Ken lebih baik, terlihat lebih serius. Lebih mudah digapai. Aku bisa hidup di rumah sederhana, berusaha dengannya dari nol,"
Imajinasi tingkat tinggi Glory membandingkan hidup di rumah besar bersama Ferrell namun menjadi istri tidak dihargai, berbanding dengan hidup di rumah sederhana, merintis segalanya besama Ken.
"Tidak ada istilah Cinderella, aku adalah wanita mandiri..."lanjutnya, suara tawanya terdengar nyaring, lebih mendambakan menikah dengan pria biasa.
"Tapi bagaimana perasaanmu pada Ferrell? Kenapa kamu membalas ciumannya?" Caca mengenyitkan keningnya, tersenyum menggoda Glory.
Tiba-tiba Glory kembali menghela napas, menunduk,"Itulah... perasaanku pada Ferrell sama seperti pada Ken. Seolah-olah mereka orang yang sama. Padahal dua orang yang berbeda, sifat dan karakter yang berbeda. Tapi, ini tidak bisa dikondisikan..." geramnya menunjuk pada kepala dan jantungnya.
Otaknya yang selalu tidak dapat berfikir untuk menghentikan tindakan Ferrell, bahkan membalasnya mencari titik kenikmatan yang aneh. Jantungnya yang berdegup jauh lebih cepat, perasaan yang sama dengan Ken saat memegang tangannya.
"Itu artinya kamu memiliki jiwa playgirl yang terpendam," Caca kembali menertawakan temannya.
"Karena itu, bantu aku untuk berhenti melakukan pesugihan!! Agar berakhir bahagia! Menikah dengan pria baik-baik," ucapnya memukul bahu sahabatnya, yang berkata akan membatu, tapi pada kenyataannya hanya berpihak pada Ferrell.
"Maaf, tapi melihat wajahnya, aku tidak tega membantah..." jawaban tidak tahu malu dari Caca.
Sepasang sahabat yang berjalan kembali ke rumah Glory. Tidak setia kawan? Mungkin, tapi itulah sahabat tidak ada yang sempurna, dengan tingkah laku anehnya masing-masing.
***
Pagi ini seperti biasanya, Glory tidak meminta uang jajan. Uang hasil pesugihannya semalam hanya diambil selembar olehnya, sudah cukup untuk uang jajannya selama 20 hari. Sisanya, masuk ke dalam celengan tembikar yang isinya entah berapa juta.
Kamila membawa keranjang belanjaan, berisikan puluhan kilogram tepung, coklat, margarin dan telur, gula serta beberapa bahan lainnya. Merenggangkan otot-ototnya sejenak kemudian kembali berusaha mengangkatnya."Jika aku punya menantu seorang perawat, mungkin dia akan membantu mencarikan dokter untuk meringankan sakit pinggangku..." gumamnya.
Dalam khayalan tingkat tingginya, berhasil menjodohkan Gin dengan Glory. Putrinya kuliah jurusan hukum dengan baik, bekerja di kantor pengacara, memiliki menantu seorang perawat yang menyayanginya. Cucu yang manis dan pintar, menjalani hidup sederhana menjadi keluarga kelas menengah yang bahagia.
Langkahnya terhenti, menatap putrinya yang tertunduk tanpa gairah. Senyuman menyungging di wajah Kamila, meletakkan belanjaannya di teras. Berjalan mendekati putrinya.
"Tidak minta uang jajan?" tanyanya.
"Tidak, sudah punya," jawaban dari Glory tidak tertarik sama sekali, sudah jenuh melihat gambar tokoh proklamator.
Namun dengan cepat, Kamila menghadang langkah putrinya. Menyodorkan dua lembar uang dengan gambar cetak yang serupa, berharap jiwa nasionalisme putrinya bangkit."Ini uang jajan untukmu,"
"Ibu simpan saja, imbalan yang besar, pasti memerlukan tanggung jawab yang besar," ucap Glory sudah menduga sang ibu, akan memintanya melakukan sesuatu.
"Ibu tambah," Kamila mengeluarkan satu lembar lagi.
Glory enggan meraihnya, menghela napas kasar,"Apa keinginan ibu?" tanyanya.
"Tiga hari lagi, keponakan bu Samun ingin datang, berkenalan denganmu, tolong temani dia berkeliling tempat wisata dekat sini ya?" pinta Kamila penuh harap.
"Hanya menemani berkeliling? Atau aku akan dijodohkan kelompok arisan kalian, seperti kak Jannet tetangga sebelah, yang hanya diminta orang tuanya mengantar jalan-jalan tapi berakhir dilamar tanpa sempat pacaran," ucapnya menatap sinis, mengingat pengalaman tetangga depan rumahnya. Yang harus menikah karena terpaksa.
Kamila menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, putrinya memang terlalu cerdas dan itulah kendalanya."Dia seorang calon perawat, tampan dan..."
Kata-kata Kamila tiba-tiba disela,"Tidak mau, aku sudah menyukai seseorang, jadi uang ini tidak dapat membangkitkan jiwa nasionalismeku..."
"Siapa!?" Kamila mengenyitkan keningnya menatap curiga."Ken?"
"Ibu tau saja..." Glory tertawa kecil, sedikit malu-malu.
"Dia jelek, keponakan bu Samun lebih tampan!!" ucapnya.
"Dia tidak jelek, dia baik senyumannya manis," jawab Glory tidak mau kalah.
"Keponakan bu Samun calon perawat!!" Kamila lebih tekun mempromosikannya lagi.
"Ken, cukup pintar!! Dia mungkin akan memiliki karier yang cemerlang nantinya," Glory kembali membela pujaan hatinya.
"Baru mungkin kan? Belum pasti, tidak ada yang tau masa depan," sanggah Kamila.
"Karena tidak ada yang tau masa depan, siapa tau saja suatu hari nanti Ken akan menjadi seorang dokter," gumamnya, cengengesan.
Kamila memijit pelipisnya sendiri...
Entah terkena pelet dukun mana putriku...
Bersambung