My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Misil



Apa yang sebenarnya dialami Brandon? Semuanya baik-baik saja, namun setiap hari menatap pasangan yang akan menikah memilih gaun pengantin membuatnya iri sekaligus iba. Hingga saat ini, mencium Nindy pun terkadang dapat dilakukannya, namun terkadang juga sulit dilakukannya.


Mencintai gadis yang terus menerus memberikan perhatian padanya. Tapi jika terlalu lama begini hanya akan menyakitinya. Hingga menghindar menjadi pilihannya, menyakiti dirinya sendiri dan Nindy.


Sisa nasi kotak bekal masih ada di ruangannya, tengah dibersihkan seorang karyawan. Jemari tangannya gemetar, air matanya mengalir,"Kenapa aku tidak bisa membalas ciumannya...aaghh..." gumamnya, menjatuhkan buku sketsa dan pensilnya.


Sang karyawan yang membersihkan sisa makanan di lantai hanya terdiam menunduk. Memang sudah mengetahui hubungan bos mereka.


Ada kalanya saat terapuh dalam dirinya. Minuman keras menjadi pelampiasannya, kepalanya terasa sakit, meminum alkohol bersama teman prianya dari Singapura yang kebetulan berkunjung dan menginap di apartemennya. Hingga seorang wanita ikut bergabung, pelanggan butik yang diam-diam menyukainya.


Ketiganya kembali ke apartemen menggunakan dua mobil yang berbeda. Entah kenapa wanita itu, mengikuti Brandon dan teman prianya yang kembali ke apartemen.


"Tunggu disini, aku cari tempat parkir dulu..." ucap temannya meninggalkan Brandon seorang diri, di tempat parkir bawah tanah gedung apartemen.


Sedangkan wanita yang menjadi pelanggan butiknya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Berjalan mendekatinya,"Brandon, mau ikut denganku? Kita bisa makan bersama dan nonton film. Rumahku dekat sini, ada home teather-nya..."


Brandon menggeleng, tertunduk dalam keadaan mabuk berat. Hingga wanita itu menghela napas, mulai berbalik. Entah kenapa, punggung Nindy yang melangkah pergi terbayang.


Brandon menarik sang wanita menangkup wajahnya, menatapnya beberapa saat. Hingga jika dilihat dari sudut lain, bagaikan berciuman. Mata itu dilihatnya beberapa menit.


Wanita yang mulai memejamkan mata, mengira Brandon akan mendaratkan bibirnya. Namun, tidak ada yang terjadi,"Kamu bukan dia..." gumamnya, mendorong tubuh sang wanita. Berjalan pergi menuju lobby apartemen dengan langkah gontai. Tidak menyadari segalanya, kekasihnya yang membawakan cup cake untuknya, telah pergi dengan kekecewaan.


Hari berlalu, senyuman hangat di wajah Nindy tidak terlihat lagi. Dirinya yang dahulu menghindar, namun kali ini Nindy ikut menjauh. Ingin menyapa, bertanya mengapa? Tapi urung dilakukannya. Ini salahnya sendiri mengacuhkan kekasihnya.


Apa hubungannya akan berakhir sampai disini? Tiket pesawat masih ada di lacinya, ayahnya terbaring di rumah sakit mengalami patah tulang akibat kecelakaan. Usaha butiknya di Singapura tidak ada orang yang dipercayainya untuk memantau lagi.


Brandon menghela napas kasar, hanya sampai ayahnya sembuh, mengurus usahanya di Singapura. Dirinya juga akan menemui psikiater mengobati mentalnya. Tapi apakah Nindy akan bersedia menunggunya lagi? Jika tidak, mungkin ini adalah guratan nasibnya, akan menyaksikan kekasihnya, bersanding dengan orang yang lebih mampu membahagiakannya.


"Aku akan kembali ke Singapura. Jadi sebaiknya kita..." ucapnya berharap Nindy akan bersedia menunggunya. Sekaligus memaafkan sikap acuhnya.


"Kita akhiri saja, aku sudah lelah..." kata-kata gadis itu dengan air mata yang mulai mengalir, tidak tertahankan.


"Nindy...?" Brandon mendekat hendak menghapus air matanya. Namun wajah itu berpaling, pergi meninggalkannya melayani pelanggan lainnya.


Brandon berjalan menuju ruangannya, mengambil kunci mobilnya. Pergi dari butik menyetir dalam keadaan emosional. Sakit? Benar-benar sakit tidak tertahankan. Rasa sesak menghujam dadanya.


Walaupun tidak selalu, dirinya masih sering muntah. Kala memaksakan diri berciuman dengan kekasihnya. Tapi, hubungannya berakhir?


Hingga mobil pink itu berhenti di tepi pantai, Brandon menyenderkan punggungnya di kursi pengemudi. Bukankah ini keinginannya, agar Nindy perlahan dapat melupakannya? Mengakhiri hubungan, yang entah kapan akan sampai ke pernikahan akibat ketidak mampuannya.


"Sayang..." racaunya, air matanya mengalir mengingat makanan buatan Nindy yang beberapa bulan ini ditolaknya. Foto-foto kebersamaan mereka masih tersimpan di galeri phoncellnya.


"Agghhh...!!" teriaknya, melempar phonecellnya asal, hingga layarnya retak.


***


Hari kepergian Brandon...


Sudah diduga olehnya, Nindy tidak akan datang. Phoncell yang retak masih disimpannya, akan diperbaikinya jika sudah sampai Singapura nanti. Menjaga ayahnya, mengurus butiknya. Kesembuhan dari traumanya? Itu, tidak penting lagi, karena kekasihnya mungkin telah melupakannya saat dirinya kembali nanti.


Jemari tangannya mengepal, "Mungkin ini yang terbaik, setelah 2 tahun ternyata aku masih sama saja..." gumamnya penuh penyesalan.


Singapura...


Tidak banyak yang terjadi setelahnya, handphone yang diperbaikinya masih menjadikan foto kebersamaan mereka sebagai wallpaper. Perlahan mengambilkan air untuk ayahnya, sebelum perawat yang disewanya untuk mengurus sang ayah datang ke rumahnya.


Tidak dapat berjalan? Tidak sepenuhnya, hanya kaki kirinya yang patah. Mungkin setelah sekitar beberapa bulan, gips akan dilepaskan.


Wilson (ayah Brandon) menghela napas kasar tersenyum menatap perubahan penampilan putranya. Namun tetap saja, wajah itu semakin dingin saja, terlihat murung.


"Pantas saja rambutnya pendek. Pisang lembek, sudah punya pacar..." racaunya tidak dapat menahan tawanya lagi. Entah kemana Brenda pergi, tiba-tiba Brandon yang datang kembali dari negara lain.


Wilson menghela napas berkali-kali, menetralkan tawanya, menatap kedatangan sang anak dengan air yang memenuhi teko kaca."Ekhm...kamu sudah punya pacar?" tanyanya.


Brandon hanya tertunduk tidak menjawab, menuangkan air untuk ayahnya.


"Kenapa tidak menjawab? Punya pacar bukanlah aib. Atau jangan-jangan..." Wilson menghentikan kata-katanya sejenak, mulai berfikir dengan diamnya putra tunggalnya.


"Apa pacarmu pria!?" lanjutnya dengan wajah pucat, tidak mungkin gadis manis di wallpaper handphone putranya adalah waria bukan? Bagaimana jika anaknya mulai main pedang-pedangan? Tidak mungkin, keturunan keluarganya tidak boleh pupus, dirinya juga ingin punya cucu.


"Aku tidak punya pacar..." Brandon berusaha tersenyum, namun wajahnya masih terlihat murung juga.


"Lalu foto wanita yang ada di handphonemu?" sang ayah mengenyitkan keningnya.


"Katanya, dia ingin ini berakhir..." gumamnya, berusaha tersenyum.


"Lalu kamu setuju begitu saja?" tanya Wilson dengan tingkat kemarahan ada di level 3.


"Iya, aku tidak mampu membahagiakannya," Brandon menghela napas kasar.


"Tidak mampu ya harus berusaha!! Jika tidak punya uang untuk membelikannya hadiah, kamu bisa merancang pakaian untuknya!! Jika dia materialistis, jerat dia seperti novel CEO-CEO yang tidak sengaja melakukan one night stand!! Hingga dia hamil!! Beg*k!!" geramnya dengan tingkat kemarahan naik menjadi level 6.


Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya ada dedemit yang dapat menyihir putranya agar berhenti menggunakan rok perempuan. Berharap pisang itu dapat difungsikan suatu saat nanti untuk membuatkan banyak keturunan untuknya.


"Bukan masalah barang branded, dia juga desainer...dia juga tidak materialistis..." ucapnya kembali menghela napas.


"Apa saingan cinta? Ada pria yang lebih tampan dan kaya darimu? Jika itu masalahnya, ayah sendiri yang akan bertindak!! Tidak peduli anak pejabat mana!! Tidak peduli anak pengusaha mana!! Anak jendral pun akan ayah hadapi!!" kalimat yang diucapkan Wilson bagaikan tentara tidak takut mati, bagaikan ingin menyelamatkan cucu-cucu manis yang akan ada nanti. Kemarahannya saat ini ada di level 8.


"Tidak ada saingan...dia hanya mencintaiku..." jawab Brandon kembali.


"Lalu??" tanya Wilson tidak mengerti.


"A...aku tidak mampu menciumnya. Atau berbuat lebih, terkadang aku muntah..." jawaban dari mulut putranya membongkar aibnya sendiri.


Wilson memijit pelipisnya,"Jadi kamu tidak dapat memberinya kepuasan?"


Brandon hanya mengangguk membenarkan...


"Apa kamu impoten?" sang ayah kembali bertanya.


"Pernah bereaksi dua tahun lalu ketika dengannya saja, tetapi tetap saja. Sampai dua tahun kami bersama itu tidak terjadi lagi..." Brandon tertunduk, menyesalkan hubungannya yang berakhir.


"Apa kamu pernah berada dalam situasi mendebarkan dimana hanya ada kalian berdua?" tanyanya kembali.


Brandon hanya menggeleng."Di butik ada karyawan, berkencan di luar kakaknya Glen akan mengikuti. Bahkan ketika di bioskop dia duduk diantara kami sambil tertawa kencang, menumpahkan popcorn dimana-mana. Aku tidak memiliki kesempatan berdua dengannya..." keluhnya.


"Dengar!! Kamu itu keturunan papa!! Keturunan dari Wilson!! Memiliki kekuatan ranjang yang memuaskan!! Setelah papa sembuh, kembali padanya!! Papa akan bawa pergi orang yang bernama Glen!! Guncang tempat tidurnya!! Sampai dia tidak bisa bangun..." ucap sang ayah, penuh ambisi untuk memiliki cucu. Tingkat kemarahannya kini ada di level 10.


"Jadi harus begitu?" Brandon terlihat ragu, di jawab dengan anggukan oleh ayahnya.


"Aku akan menemui psikiater!! Ketika sembuh nanti!! Dia tidak akan bisa bangun!!" teriaknya penuh semangat.


"Itu baru anak kebanggaan papa!! Bangkitkan senjata misilmu!! Tembak dia berkali-kali dengan peluru kendali..." saran sesat dari seorang pria paruh baya yang sudah menginginkan cucu dari jelly nata de coco.


Bersambung