
🍀🍀🍀🍀 Maaf jika ada typo, besok aku revisi 🍀🍀🍀🍀
Beberapa jam yang lalu...
Tepat pada pukul 4 dini hari Glory membuka matanya. Pandangannya menelisik mengamati tempatnya berada saat ini. Masih berusaha mengumpulkan kesadarannya."Kamar Ferrell!?" gumamnya, terduduk di tempat tidur menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut.
Pemuda itu ditatapnya baik-baik, masih tertidur memunggunginya dengan rambut acak-acakan. Kaki ada di bantal dan kepala menghadap ke tempat kaki seharusnya berada. Tapi wajah yang terlihat lelah itu tetap saja membuat hati menjadi tenang.
Terang saja Ferrell memiliki banyak penggemar. Pemuda yang dapat memikat wanita bahkan hanya dengan gaya tidurnya yang urakan, mengeluarkan sedikit liurnya di bibir, dengkuran halus yang terdengar.
Pemuda yang tersenyum dalam tidurnya setelah beberapa hari ini mengalami insomnia. Mengetahui gadis genit yang dirindukannya ada di dekatnya hingga. Mimpi liar pun tiba-tiba terasa.
"Ferrell..." bisik Glory di telinganya.
"Em?" Ferrell, mendekapnya semakin erat, mencari kehangatan. Hingga gadis itu membuka kancing tuxedo yang tidak digantinya semalaman.
"Glory jangan..." pintanya memegang jemari tangannya, merasakan debaran yang semakin kuat. Napasnya terasa benar-benar tidak teratur.
"Aku menginginkannya sekarang. Semua yang ada di tubuhku adalah milikmu. Semua yang ada di tubuhmu adalah milikku..." bisiknya, menyentuh tubuh proporsional dokter muda itu tepat di dada bidangnya menggunakan jari telunjuk.
Benar-benar mudah bagi bocah ini untuk membuainya. Perlahan menahan tengkuknya, mengecup bibir itu beberapa kali. Tapi tangan gadis itu semakin nakal saja, merambat dari dada, perut semua diraba olehnya memberikan nuansa gelisah dalam diri Ferrell.
Hingga pada akhirnya Glory melepaskan pakaiannya sendiri. Hanya meninggalkan sepasang kain kecil yang menutupi tubuhnya. Sepasang mata yang kembali saling menatap, hingga ciuman itu kembali terjadi. Bersamaan dengan tubuh mereka yang hampir menempel.
Tidak dipungkiri organ reproduksinya mulai bekerja, tidak pernah se nikmat ini sebelumnya. Apalagi kala tangan Glory yang merambat setelah puas menelusuri otot dada dan perutnya. Kembali turun lebih kebawah lagi. Hingga memainkan sesuatu yang ditemukannya."Hah...hahhh... Glory hentikan, atau aku tidak dapat menahan diri lagi..." ucapnya.
Tapi Glory hanya terdiam, mencium bibirnya, dengan tangan memainkan area paling sensitif bagi pria."Agh... Glory...akh..." ucapnya kala dirinya masih tertidur.
Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai sekarang Ferrell sejatinya masih tertidur nyenyak terlarut dalam mimpi indahnya. Sementara Glory membuka helai demi helai pakaian Ferrell mencari keberadaan kunci kamar. Hingga menanggalkan pakaian pemuda yang masih tertidur itu. Terakhir sang remaja SMU mencoba mencari dalam saku celana bagian depan membuat beberapa kali tangannya yang berada dalam saku bersinggungan dengan sesuatu yang terasa mengembang.
Wajah Glory seketika merah merona, tangannya gemetar. Pada akhirnya berhasil menemukan kunci kamar di dalam saku.
Salah satu kunci digunakannya untuk keluar. Sementara kunci lainnya diletakkannya di atas meja asal."Ferrell terimakasih atas makanannya semalam. Tapi maaf aku harus segera pergi..." ucapnya menutup pintu, kembali mengunci pintu berjalan mengendap-endap keluar.
***
Saat ini...
Hal yang dilakukan Steven setelah mengetahui dari Vanya adiknya membawa seorang gadis di bawah umur ke dalam kamar? Tentu saja berusaha membuka pintu kamar Ferrell tanpa mengeluarkan suara. Ingin mengetahui domba mana yang cukup dungu untuk masuk ke dalam mulut harimau.
Namun sang domba yang kesulitan keluar dari rumah sejak pagi buta hanya tersenyum memakai pakaian pelayan yang telah digantinya. Berencana akan berusaha melarikan diri saat jam makan siang kala pengamanan telah longgar.
Hingga pintu pada akhirnya terbuka. Ferrell masih antara sadar dan tidak dari alam mimpinya membuka sedikit matanya. Mendekap tubuh orang pertama yang mendekatinya."Maaf aku sudah melakukannya, pasti menyakitkan..." ucapnya mendekap tubuh Steven erat.
"Melakukan apa!? Kamu mengalami mimpi basah ya?" tanyanya dalam pelukan adiknya yang bertelanjang dada.
Bukan suara manja Glory terdengar, namun suatu bariton seorang pria. Ferrell melonggarkan pelukannya, bukan bentuk tubuh kenyal yang indah sesuai di mimpinya. Namun tubuh atletis di balik sebuah kemeja."Kakak!? Dimana Glory?" pekiknya.
"Pacarmu tidak ada disini?" tanya Steven mulai berjalan menelusuri kamar Ferrell menggeledah kamar mandi, lemari, bahkan kolong tempat tidur. Tapi keberadaan Nyai-nya seperti sudah menghilang, seperti serial drama kolosal lainnya, setelah penyatuan tubuh maka raga siluman akan menghilang memberinya kekuatan. Tapi bukan kekuatan yang didapatkannya dari sang Nyai tapi hanya rasa malu.
"Dia tidak ada?" tanya Ferrell, belum bangkit dari tempat tidurnya.
Ferrell dengan cepat meraih phonecellnya, mencoba menghubunginya, namun nomor gadis itu tidak aktif.
"Kamu di tolak setelah kehilangan keperjakaanmu!?" tanya Steven tertawa.
"Aku masih perjaka!!" ucapnya spontan.
"Masih perjaka!? Dasar dokter kaku! Pantas saja kamu ditolak, ternyata pisangmu tidak berfungsi..." tawa Steven semakin kencang saja bahagia di tengah penderitaan adiknya.
"Ini berfungsi! Makanya basah!" ucapnya tidak terima.
"Sudah-sudah sekarang kamu mandi dulu! Baumu benar-benar amis! Elina sudah sampai, ayah juga sudah ada di ruang keluarga sekarang..." ucapnya masih berusaha agar tidak tertawa.
Ferrell mengangguk, mulai berjalan menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya. Celana panjang dan boxer di tanggalkannya mulai mengguyur dirinya di bawah derasnya shower.
Haruskah dirinya sedih atau bersyukur, semua itu hanyalah mimpi? Bayangan tubuh remaja itu yang memekik kesakitan akibat ulahnya masih terasa. Apa berhubungan dengannya akan senikmat itu? Entahlah...
Tapi yang jelas, ada rasa syukur dirinya tidak merusak gadis yang dicintainya. Menunggu pernikahan yang entah kapan diadakan.
***
Sedangkan di tempat lain, Glory yang memakai pakaian pelayan menunduk. Perlahan melewati beberapa penjaga yang membawa senjata api."Aku akan mati kalau ketahuan..." gumamnya ketakutan, dirinya hanya ingin bekerja hari ini. Kemudian mengikuti ujian masuk universitas pada sore hari.
Hingga ibunya yang baru memasuki ruang tamu dilihatnya. Takut? Tentu saja, ini lebih mengerikan daripada dikelilingi pengawal bersenjata. Hingga Glory kembali berjalan dengan cepat, menuju tempat teraman di rumah ini... kamar Ferrell.
Untuk apa bersembunyi jika pada akhirnya akan kembali juga. Entahlah...
Bingung harus bagaimana, itulah kondisi Glory saat ini duduk di tepi tempat tidur. Membiarkan pintu kamar tertutup namun tidak terkunci.
Tapi siapa yang sangka Ferrell akan keluar dari kamar mandi dengan cepat.
"Glory..." ucapnya tersenyum menatap sang gadis yang kembali.
Glory bergerak cepat, menutup mulut Ferrell menggunakan tangannya. Memojokkan sang pemuda ke dinding."Ibuku ada di lantai satu, tolong aku agar dapat melarikan diri dari rumah ini..."
Ferrell mengangguk, inilah kesempatannya...
Glory membuka bekapan tangannya. Namun, dengan mudah Ferrell memojokkannya. Menciumnya secara paksa, perlahan Glory bagaikan terhanyut akan ciuman sang pemuda. Lidah yang membelitnya menyesapnya pelan menggodanya untuk membalas.
Bahkan terasa semakin panas permainan lidah mereka."Aku mencintaimu..." bisiknya mengecup bibir Glory beberapa kali, saling bertatap mata beberapa saat. Kemudian kembali melanjutkan tautan bibir mereka, menutup matanya, membimbing Glory menuju tempat tidur.
Perangkap? Ini mungkin perangkap dari Ferrell hanya untuk mendapatkan restu. Walaupun tidak merusaknya, namun jika ditemukan dalam posisi ini...apa yang dapat dikatakan Kamila nantinya?
"Diam dan rasakan sensasinya..." bisik Ferrell, membuat tanda keunguan di lehernya.
"Sssthhh..." desis Glory kala tanda itu diciptakan.
Bersambung