My Kenzo

My Kenzo
Belajar



Suara tawa itu terdengar juga pada akhirnya, sesuatu yang tidak tertahankan. Matsumi, menghela napas kasar, berusaha mentralkan dirinya, agar dapat berbicara,"Kenzo, aku tidak akan meresepkan obat, biaya konsultasi akan aku tagih pada asistenmu..."


Pemuda itu masih duduk di dalam bathtub, mengeluarkan kepalanya dari air, kemudian mengangguk.


"Lain kali, jangan buruk sangka terlebih dahulu. Memang sulit untukmu, tapi tidak semua orang akan berakhir meninggalkanmu," nasehat terakhirnya, bukan bicara bagaikan psikiater. Namun, lebih terlihat bersahabat seperti teman akrab.


Matsumi mulai melangkah pergi, melihat ke arah Amel yang menatap tajam padanya. Bagaikan seorang jenderal wanita, yang wilayah batas negaranya diganggu.


Tawa yang lebih kencang lagi terdengar dari wanita tua itu. Tidak mencintai? Jangan bercanda, wanita itu bagaikan ingin menelan bulat-bulat nenek-nenek sepertinya.


"Cemburuan, wanita posesif..." cibirnya masih tertawa, bahkan memegangi perutnya. Melangkah meninggalkan kamar hotel.


Satunya pemuda pengidap bipolar yang cenderung terlihat percaya diri diluar, namun mudah terpuruk di dalam. Satunya lagi, wanita tidak peka, terlalu ragu, namun kejam ketika sifat posesif yang disimpannya keluar.


Dua orang yang saling melengkapi ketika bersama. Kenzo dapat dengan mudah mengendalikan emosinya saat Amel ada. Sedangkan Amel, bagaikan begitu membutuhkan dan bergantung pada Kenzo, tanpa disadarinya.


Bolehkah sang antagonis jatuh cinta? Tidak menginginkan putri yang cantik, hanya menginginkan wanita yang dapat mengisi lubang di hatinya.


***


Selingkuh? Sikap Amel saat ini bagaikan wanita yang memergoki kekasihnya berciuman dengan wanita cantik. Mereka tidak memiliki status bukan? Amel tidak pernah menerima Kenzo, menganggap semua kata-kata seriusnya adalah omong-kosong.


"Kenapa berdua saja dikamar mandi!!" bentaknya mengeluarkan air matanya. Menduga-duga hal yang terjadi, bagaikan tidak mendengarkan kata-kata sang psikiater.


Kenzo mengenyitkan keningnya, menatap Amel yang berjalan mendekat.


"Kenzo, kenapa kamu harus melakukan dengannya?" tanyanya berurai air mata.


"Kenapa menangis? Kamu cemburu? Sudah mulai menyukaiku? Takut kehilanganku? Menjadi pacarku?" pertanyaan beruntun darinya, mengambil kesimpulan seorang diri.


Amel membulatkan matanya, terdiam sejenak. Kenzo benar, tingkahnya saat ini, bagaikan tidak seharusnya. Air mata dihapus olehnya, menahan bibirnya, berusaha untuk tersenyum,"Maaf, aku permisi dulu ..."


Gadis itu berbalik hendak pergi, masih cemburu? Tentu saja, namun dirinya sudah bertindak bodoh bagaikan telah menyerahkan diri pada Kenzo.


Mengaku cemburu, berarti kalah, mengaku mencintai, berarti bersedia mengikat hatinya. Terlalu takut patah hati, mungkin menjadi penyebab Amel menghindari perasaan sesungguhnya.


Hingga tanpa diduga, lengannya ditarik, entah kapan Kenzo telah keluar dari bathtub. Membuat Amel kehilangan keseimbangan, hingga dengan mudah, pemuda itu menjatuhkannya dalam bathtub.


Tempat sempit yang basah, benar-benar tidak nyaman, Punggung Amel menyender pada pinggir bathtub, sedangkan Kenzo berada diatasnya, bagaikan mengunci pergerakannya.


"Ke... Kenzo aku..." kata-kata Amel terhenti, pemuda itu mengecup keningnya.


"Hukuman pulang terlambat," ucapnya, menatap mata Amel tiada henti. Hati gadis itu berdegup kencang. Rambut yang basah, jubah mandi sedikit terbuka. Menampakan otot-otot perut dan dada seorang pria, walaupun dengan bekas luka tembakan di bagian dadanya. Namun tubuh itu benar-benar sempurna, secara naluriah Amel ingin menyentuhnya.


Tapi...


Dia hanya makhluk penindas, tidak akan mungkin serius padaku. Aku .... kata-kata dalam hatinya terhenti.


Pipinya kembali mendapatkan belaian dari bibir dingin pemuda itu, dirinya tidak dapat berkutik. Seluruh syarafnya bagaikan dilumpuhkan, ingin pergi, tapi tidak rela perasaan berdebar ini berakhir."Hukuman, karena mengira aku akan berbuat hal aneh pada psikiater yang menanganiku,"


Amel menonggakkan kepalanya. Psikiater? Pakaian kedokteran, semua kata-katanya pada Kenzo, serta usia wanita itu yang mungkin telah memiliki cucu. Psikiater? Jadi dirinya salah menduga.


Bodoh!! Jika aku bertemu nenek tua itu lagi, aku akan bersembunyi. Memalukan... merasa bodoh? Tentu saja, menuduh nenek-nenek adalah wanita malam yang disewa Kenzo. Malu, dirinya benar-benar ingin bersembunyi selamanya.


"Kenzo aku..." kata-kata Amel terhenti, bibir dingin itu tiba-tiba bertaut dengan bibirnya. Bergerak perlahan, menautkan lidahnya, bermain sedikit demi sedikit. Tanpa sadar Amel memejamkan matanya, mencengkram jubah mandi basah yang dikenakan Kenzo.


Bagaikan tidak ingin ini berakhir, tidak ingin tautan ini terlepas. Agresif? Tidak mempedulikan kata agresif ketika otak dan syarafnya telah lumpuh oleh sensasi aneh. Bahkan perlahan lidahnya bermain dalam mulut Kenzo. Saling membalas, hukuman yang indah menyenangkan baginya.


Darahnya bagaikan berdesir, hanya karena sebuah ciuman. Lebih? Apakah jika berbuat lebih akan menimbulkan sensasi yang lebih memabukkan.


Hati yang masih sama-sama berdebar, mengetahui batasan mereka. Menginginkan lebih, namun setelah menyematkan cincin di jemari manis Amel.


"Aku sudah selesai mandi, sebelum menjemputmu. Mandilah, dulu aku akan memesan makanan..." ucapnya tersenyum, bangkit dari atas tubuh Amel. Jubah mandi dilepaskannya, menaruh dalam tempat pakaian kotor. Hanya mengenakan boxer keluar dari sana.


"Jangan sembarangan melepaskan pakaian!!" Amel membentak, menoleh ke lain arah.


"Iya!! Iya!! Lain kali aku akan telanjang bulat!!" Kenzo keluar, menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Amel komat-kamit mengoceh seorang diri.


Tubuhnya menyender di pintu kamar mandi yang sudah ditutupnya dengan sempurna, tersenyum seorang diri mengingat tiga hukuman yang baru diberikannya. Darahnya berdesir kala itu, hatinya berdebar dengan cepat. Hingga kini jemari tangannya masih gemetaran."Aku ingin, lebih... menyentuhnya lebih banyak..." gumamnya benar-benar menahan diri.


Sementara Amel,"Pria menyebalkan!! Penindas ...aku..." gadis itu meraba bibirnya sendiri, kemudian menenggelamkan kepalanya dalam bathtub.


Dengan cepat keluar dari dalam air,"Jika mempercayai kata-kata rayuannya. Aku benar-benar sudah ketularan gila!!! Tapi ciumannya..." kata-kata Amel terhenti, mengingat setiap gerakan bibir mereka.


Ciuman pertama di pengadilan, setelah itu entah berapa kali bibirnya kembali dipermainkan bagaikan sepasang kekasih. Ciuman kaku, sedikit demi sedikit menjadi agresif, mereka mempelajarinya bersama.


Hal yang aneh, Kenzo tidak jijik atau menghindari Amel ketika tubuh wanita itu gemuk. Begitupun sekarang, bentuk tubuh yang lebih indah, namun pemuda itu memperlakukannya dengan sama.


Perhatian dan rasa kasih yang sempurna dibalik sikapnya yang berubah-ubah. Antara menindas dan mencintainya...


***


Tidak memakai apapun, hanya jubah mandi yang melekat di tubuhnya. Sedangkan Kenzo telah, mengenakan pakaian milik Frans di lemari.


Amel menghela napas kasar tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Entah dari kapan kulitnya yang kusam terlihat putih, tubuhnya yang sebesar XL pria kini nampak sempurna. Bagaikan model majalah, bolehkah dirinya bangga? Tuhan ternyata adil padanya, Dugong sepertinya dapat menjadi cantik.


"Aku cantik..." gumamnya, tersenyum seorang diri. Tanpa disadari Kenzo, mulai duduk di tepi meja rias di hadapannya.


Jemari tangannya menyentil dahi Amel...


"Sakit!!" pekiknya mengusap-usap dahinya yang terasa kebas.


Kenzo bangkit, berdiri di belakang Amel meraih sisir dari tangannya, perlahan menyisir rambut panjang gadis itu yang masih basah.


"Kamu seperti ratu jahat ( tokoh di dongeng Snow White, ibu tiri putri salju), cermin-cermin siapa yang tercantik di dunia..." guraunya tersenyum menatap pantulan bayangan mereka berdua di cermin.


"Apa aku terlihat sombong dan jahat sepertinya?" tanyanya ikut menatap bayangan mereka. Cemas, begitulah Amel, dirinya tidak ingin menjadi perlahan sombong bagaikan Marina dan Keyla.


Kenzo menghela napas kasar,"Aku menyukai sifat ratu jahat, dia percaya diri, tidak mudah ditindas. Bagus jika kamu perlahan akan sepertinya,"


"Dia antagonis yang membunuh semua orang, yang dikatakan lebih cantik darinya oleh cermin ajaib..." ucap Amel mengenyitkan keningnya, kesal.


Jemari tangan Kenzo, masih bergerak menyisir rambut Amel,"Cermin ajaib, seperti pasangan yang tidak setia. Sedangkan ratu jahat bagaikan seseorang yang mencintai dan hanya peduli pada kata-kata cermin ajaib..."


"Bagaimana jika posisi cermin ajaib diganti dengan suami yang setia pada ratu jahat? Setiap terbangun dari tidurnya mengatakan, kamu yang tercantik. Saat melihat cermin memeluk istrinya dari belakang mengatakan, istriku sangat cantik,"


"Ratu jahat tidak akan menjadi wanita keji yang memiliki sifat iri dengki. Melainkan wanita mandiri yang melangkah penuh kepercaya dirian," lanjutnya.


"Jadi, menjadi seperti apa sifat wanita tergantung pada pasangannya?" tanya Amel menyimpulkan.


Kenzo menggelengkan kepalanya,"Tidak, tapi sejauh mana dia mencintai dan peduli pada pasangannya. Serta seberapa setia pasangannya, untuk hanya melihat kecantikan istrinya..."


Kenzo masih menyisir beberapa saat hingga,"Sudah selesai..."


"Kamu yang tercantik..." gadis itu dipeluknya dari belakang.


Amel menonggakkan kepalanya, menatap ke arah Kenzo. Mendengar kata-kata itu darinya.


Bersambung