
Mencari kesempatan dimana Erlang tidak ada di rumah, itulah yang mereka lakukan. Mengatur jadwal wawancara eksklusif dengan salah satu stasiun TV. Uang yang diberikan Tio? Dipergunakannya untuk membeli pakaian, serta menata penampilannya yang akan muncul di televisi untuk pertama kalinya.
Sisanya masih disimpan olehnya, akan dipergunakan untuk membayar orang membuat komentar miring tentang Ferrell yang memiliki reputasi bersih, tidak pernah terkena skandal nantinya.
Sedangkan Ratna menggenggam jemari tangan putrinya, seakan menguatkan, mempercayai apapun yang diucapkannya. Hingga kamera mulai menyala, presenter membuka acara. Presenter yang terlihat tersenyum, mengetahui kariernya akan melejit setelah ini.
Sedangkan Glen yang penasaran, walaupun berasal dari stasiun televisi yang berbeda datang, berdiri di samping sutradara.
"Kesempatan sebagus ini kamu lepaskan?" tanyanya mencibir Glen.
"Aku memberikan kesempatan bagi orang lain untuk terbang tinggi, kemudian jatuh menukik membentur tanah," jawaban dari Glen tersenyum.
"Bilang saja iri, pemilik stasiun televisi kami ternyata lebih berani dari pada kamu. Biasanya kamu yang terdepan memberikan skandal orang-orang ternama bahkan pejabat," ucap sang sutradara masih menatap dengan seksama wawancara eksklusif dengan Grisella.
"W&G Company lebih sulit dihadapi daripada pejabat gemuk yang korupsi atau selebriti yang terlibat prostitusi menjual tubuhnya," jawabnya, mengamati Grisella baik-baik.
"Yang jelas setelah ini stasiun televisi kami akan mendapatkan banyak sponsor. Dan stasiun televisi milikmu akan tertinggal." Sang produser mengambil secarik kertas, menatap pertanyaan yang masih ditanyakan pembawa acara.
"Ferrell adalah keponakanku, dia 24 jam dalam pengawasan kedua orang tuanya. Salah satu pengawal mengikutinya diam-diam, bahkan pernah ada kalanya pengawalnya mengadu, keponakanku mungkin hampir berbuat di luar batas,"
"Pengawalnya menelan ludahnya berkali-kali, saat melihatnya berciuman dengan seorang remaja di restauran, kios terbengkalai tepi pantai, bahkan stadion olahraga yang kosong. Benar-benar jiwa muda yang ganas..." cibirnya menahan tawa tidak ingin suaranya terekam.
Sang sutradara menatapnya."Jadi kamu menolak karena Ferrell anggota keluargamu?"
Glen menggeleng, mengeluarkan phonecellnya, menunjukkan salah satu foto yang diambil orang suruhan Kenzo. Foto yang cukup fulgar dan tidak terlihat jelas, pasangan yang berciuman di kios gelap pinggir pantai.
Orang yang mengambilnya dari jarak jauh? Tentu saja juga ikut kehujanan saat itu. Kesepian dan kedinginan kala melihat sepasang muda-mudi melakukan ciuman panas.
Mungkin hanya Glen yang mengetahuinya, bahkan Damian sendiri tidak tahu sama sekali. Kenzo terlalu sungkan untuk mengatakan pada ayah angkatnya, bahwa dirinya mengirim pengawal pribadi yang hanya mengikuti diam-diam. Tidak ingin Damian terlalu tegang, atau canggung sang pengawal akan melaporkan segalanya.
Menjaga keselamatan Ferrell? Tentu harus dilakukannya, mengingat Febria yang bahkan pernah terjebak di antara mafia yang menodongkan senjatanya. Bukan hanya Ferrell, semua anak-anak mereka diam-diam diikuti oleh pengawal pribadi.
"Foto ini... lalu kenapa? Ini bisa menunjukkan Ferrell benar-benar bukan selebriti yang patut menjadi panutan bukan?" ucap sang sutradara acara gosip yang juga sering membuat drama setting-an di acaranya, mengembalikan phoncell Glen setelah melihat sekilas.
"Maaf, seharusnya aku mengambil foto yang lebih terang..." Glen tersenyum, memperlihatkan foto lain, seorang gadis yang masuk ke mobil keponakannya.
Seketika wajah sang sutradara pucat pasi."Ini...?"
"Dia memang menjalin hubungan dengan gadis di bawah umur. Tapi bukan Grisella, jika pemilik stasiun televisimu tidak takut dengan cabang W&G Company di negara ini dan beberapa negara lainnya. Itu bagus, selamat menukik jatuh ke atas tanah setelah terbang tinggi..." Glen berjalan pergi, menepuk pundak sang sutradara.
"Cut!! Jeda iklan!!"teriaknya langsung bangkit.
"Sutradara anda mau kemana?" tanya salah seorang kru.
"A...aku mengundurkan diri!! Aku akan menemui pemilik stasiun televisi dan produser untuk menggantikanku dengan orang lain," jawabnya, berjalan keluar.
"Tapi kenapa? Break iklan tidak akan lama, bagaimana..." kata-kata salah seorang kru yang menghentikannya dipotong.
"Itu tidak penting, menukik jatuh ke tanah lebih mengerikan bagiku," jawabnya melirik ke arah Grisella yang tengah meminum air mineral sembari diperbaiki riasan wajahnya.
Kesal? Tentu saja, tapi menyelamatkan diri sendiri lebih baik saat ini.
***
Di tempat lain...
Kamila menggeleng-gelengkan kepalanya heran, menatap ke arah TV dengan beberapa bolu yang tengah didinginkannya sebelum dikemas rapi."Ternyata Grisella benar-benar dihamili Ferrell. Syukurlah, putriku Glory diberkahi calon perawat baik hati seperti Gin. Mereka harus segera menikah sebelum juga berbuat kesalahan,"
Hingga suara ketukan pintu terdengar, seorang gadis yang untuk pertama kalinya mendatangi rumah Glory terlihat merasa tidak nyaman. Paperbag berisikan set peralatan makeup mahal dibawa olehnya. Seperti janjinya pada Ferrell ini untuk menyuap ibu Glory, agar menyetujui Ken sebagai calon menantunya.
Tidak lupa kali ini Lily membawa Caca di sampingnya, orang yang sudah mengenal Kamila dengan baik.
Lily mengangguk."Aku sudah curiga dari gerak-geriknya, tapi melihat wajah Ken yang seperti figuran film tahun lawas, aku selalu menepis pemikiranku..."
Caca menghela napas kasar."Seharusnya aku bersikap lebih baik pada Ken. Mungkin dia akan memberikan rekaman lagu yang belum dipublikasikan olehnya..."
Hingga pintu yang mereka ketuk dibukakan oleh Kamila, seorang ibu rumah tangga memakai daster lusuh. Tapi ajaibnya masih terlihat cantik juga.
"Wajah Glory mungkin diwarisi darinya, walaupun memakai baju rombeng akan terlihat stylish," ucap Lily dengan suara kecil, dijawab dengan anggukan kepala oleh Caca.
"Caca, lama tidak bertemu. Bagaimana pengumumannya, kamu lulus?" tanya Kamila menyambut mereka.
"Lulus, tapi Glory kali ini ada di peringkat ke tiga," ucapnya tersenyum.
"Ketiga? Karena itulah bibi melarangnya pacaran! Menikah dengan pria baik-baik yang bibi pilihkan saja! Lihat sekarang hasilnya, peringkatnya yang selalu nomor dua jadi turun menjadi peringkat ke tiga kan..." komat-kamit mulut itu mengomel sembari memindahkan bolu yang sudah dingin ke dapur.
Lily menghela napas kasar, ternyata inilah kehidupan Glory. Dirinya sudah lulus saja, kedua orang tuanya akan membawanya dan Fia berlibur ke Paris. Tapi ini? Peringkat umum ketiga malah mendapatkan mantra (omelan) dari dukun kesurupan.
Wajar saja Glory ada di peringkat ke tiga, sekeras apapun dirinya belajar tidak akan dapat menandingi sang pemenang kunci jawaban (Grisella) yang ada di peringkat kedua. Dan sang pemegang gelar bachelor termuda (Ferrell) seseorang yang selalu tidur saat ujian yang berada di peringkat pertama.
"Bibi, ini oleh-oleh untuk bibi, perkenalkan aku Lily, temannya Glory," ucapnya memberikan set peralatan makeup yang nilainya mencapai jutaan rupiah. Bersamaan dengan Kamila yang menghidangkan teh hangat untuk mereka.
"Terimakasih, tapi Glory sudah tidak tinggal disini lagi. Dia menyewa tempat kost dekat dengan kampus tempatnya akan kuliah, ini juga untuk menghindari Ken. Kalian juga bantu bibi ya? Bukannya bibi pilih-pilih, tapi Glory sudah dijodohkan dengan Gin, calon perawat, tampan, pintar, dan juga dari keluarga yang baik." Kamila menghela napas kasar, membanggakan calon menantunya.
Caca mengepalkan tangannya, jiwa fans fanatiknya tiba-tiba bangkit."Bibi, Ken lebih baik dia tampan, pintar berasal dari keluarga crazy rich!!" teriaknya penuh kebanggaan.
"Keluarga crazy rich!?" Kamila mengenyitkan keningnya.
Caca tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangannya merasa salah bicara.
Tapi siapa yang tidak mau memiliki calon menantu seorang Ferrell. Ini mungkin sudah ditakdirkan, agar Ken disetujui identitas Ferrell harus mereka bocorkan.
"Bibi, aku jujur berkata yang sebenarnya. Ferrell selama ini sering bertemu dengan Glory berciuman dengannya, tapi hanya sekedar berciuman. Handphone dan uang tabungan dalam jumlah besar semua diberikan olehnya,"
"Dia sangat tulus pada Glory. Bahkan, berpura-pura menjadi Ken agar Glory bersedia menerimanya..." ucap Lily menyakinkan.
"Aku dan Lily adalah mak comblang dari mereka. Jadi saat pernikahan mereka tolong undang kami..." dengan bangganya Caca berucap, merangkul bahu Lily.
Dipeluk? Berterimakasih? Mungkin itulah yang ada di fikiran mereka. Yang akan dilakukan oleh Kamila yang mungkin akan pingsan, menangis, histeris saking bahagianya.
Namun...
"Pergi!! Bocah kaya playboy yang menghamili banyak wanita itu selamanya tidak akan aku terima!!" bentaknya.
Sedangkan Lily dan Caca terdiam sejenak tidak mengerti. Hingga Kamila meraih sapu dan sebaskom air. Dirinya tidak berimajinasi, yang saat itu mandi di rumahnya benar-benar Ferrell. Setelah menghamili Grisella berani-beraninya mendekati putrinya? Benar-benar playboy br*ngsek!
"Kalian cepat pergi! Jangan menjerumuskan putriku!" bentaknya, menarik kedua orang remaja. Bahkan melempar paperbag pemberian Lily.
Byur...
Bug...
Wajah kedua remaja itu disiram dengan air, kemudian pintu depan rumah dibanting di hadapan mereka dengan kencang.
Sepasang sahabat yang tertegun dengan sekujur tubuh yang basah.
"Aku akan menghubungi Ferrell, agar langsung menghamili Glory saja saat sudah menemukannya..." gumam Lily melihat pangeran pesugihan tidak memiliki kemungkinan mendapatkan restu.
Bersambung