
Tio mengecup kening wanita yang baru saja menyenangkannya, memenuhi kebutuhan biologisnya.
"Jadi kapan kita menikah?" tanyanya tanpa sehelai benangpun, dalam dekapan tubuh Tio.
"Menikah? Kita hanya bersenang-senang, kamu mau dan aku juga mau. Lagipula uang semestermu aku yang melunasinya bukan?" jawaban dari mulut Tio.
"Ta... tapi, kamu bilang kamu mencintaiku?" tanyanya lirih, menatap wajah pemuda itu.
Tio mulai tertawa kecil, menampakkan wajah dinginnya."Kamu juga mengatakan mencintaiku, tapi kenyataannya? Kekasihmu bukan hanya aku,"
"Dengar, kita hanya bersenang-senang, jangan bermimpi terlalu tinggi untuk menjadi istri seorang Tio, karena wanita murahan sepertimu tidak pantas! Nikmati saja, uang dan kasih sayang yang aku berikan." lanjutnya.
Wanita itu mengepalkan tangannya."Wanita murahan!? Tio aku tidak terima kamu mengatakan..." kata-katanya disela.
"Ingin kita putus? Baik, temani dan bersenang-senanglah dengan kekasih-kekasihmu yang lain. Minta mereka juga melanjutkan pembayaran cicilan motormu." Tio menghela napas kasar.
Sekali? Tidak, situasi seperti ini sudah sering dihadapinya. Dirinya hanya menggoda dan meniduri wanita yang tidak setia pada pasangannya. Sesama pemain cinta seperti dirinya, menjanjikan materi untuk mereka.
Namun, masih ada beberapa yang tidak tahu diri menurutnya. Memiliki banyak kekasih, tapi meminta ingin dinikahi.
"A...aku ..." ucapnya gelagapan, bingung harus bagaimana. Pemuda ini mengetahui segalanya, calon suami yang ideal menurutnya, berwajah tampan, bertubuh atletis, calon pewaris perusahaan milik orang tuanya. Tapi ternyata tidak semudah itu untuk dibohongi olehnya.
"Sebentar lagi aku akan menikah, tunanganku sudah kembali dari luar negeri. Kamu tau? Kecantikan, hati, kehormatan, kepandaian, status sosial, semua tidak sebanding denganmu. Dia mendapatkan semuanya tanpa mengemis dariku, berusaha seorang diri untuk mendapatkan beasiswa, menolak semua sokongan dariku, itulah wanita yang pantas menjadi istri seorang Tio..." bisiknya tersenyum.
"Ingin mengakhiri hubungan kita?" lanjutnya.
Wanita itu tertunduk, berfikir sejenak. Tidak dapat dipungkiri semua miliknya, bersenang-senang ala mahasiswa dari kalangan atas. Makan di cafe, bahkan menyewa tempat kost elite dilengkapi dengan kolam renang, semua karena uang pemberian Tio.
"Tidak, maafkan aku..." jawabnya.
"Tunjukkan kesungguhanmu untuk minta maaf..." suara Tio terdengar lebih berat.
Wanita itu mulai bangkit, kemudian bersimpuh, disamping pinggang Tio yang tengah berbaring. Tanpa ragu menggunakan mulutnya, membuat Tio meracau menonggakkan kepalanya penuh kegelisahan."Akh...ssstt..." gumamnya, berdesis.
***
Sedangkan diluar sana, dua orang yang tengah meminum teh. Suara kencang laknat itu tidak terdengar ke luar kamar lagi.
"Jadi kamu sepupunya Tio?" tanya Gin, mengenyitkan keningnya.
Grace hanya diam tidak menjawab, hanya berusaha tersenyum. Senyuman yang mungkin dianggap Gin sebagai jawaban iya.
Gin meminum teh yang baru dibuatnya."Aku teman Tio, sekaligus orang yang bekerja membersihkan apartemennya. Sebaiknya, nasehati sepupumu, jangan menjadi kuda liar. Walaupun menggunakan alat kontrasepsi mencegah penyakit menular, tapi perselingkuhan bisa menjadi kebiasaan,"
"Bagaimana kalau pacarnya datang dari luar negeri membawa pria bule, karena mengetahui kelakuannya. Lalu dengan penuh arogansi mengatakan, kamu selingkuh aku juga bisa selingkuh..." lanjutnya.
Grace tertunduk sesaat, dulu saat diluar negeri banyak pria baik yang mengejarnya, menyatakan perasaan padanya, bahkan salah satunya dosen muda tempatnya menuntut ilmu. Namun sekali lagi, kesetiaannya pada Tio membuat dirinya, menolak setiap pria yang mendekat, tetap fokus bekerja sambilan sembari kuliah.
"Jadi namamu Gin?" tanyanya.
Pemuda itu mengangguk,"Aku satu fakultas dengan Tio tapi berbeda jurusan, aku mengambil jurusan keperawatan."
Grace mengenyitkan keningnya, pemuda ini benar. Jika Tio bisa selingkuh, dirinya yang kaku pada pria, juga pasti bisa selingkuh."Bisa tolong sembukan aku? Aku sakit..."
"Sakit apa?" tanya Gin kembali menyesap secangkir tehnya, meletakkannya ke atas meja.
"Sakitnya disini, berdebar cepat mungkin karena melihat wajah tampanmu..." jawabannya menunjuk pada kirinya, berfikir keras untuk merayu pria. Memikirkan kata-kata rayuan, seharusnya ini cukup dan berhasil bukan?
Namun seketika Gin tertawa kencang."Dasar ratu gombal!"
"Ratu gombal? Lalu cara merayu pria yang benar bagaimana?" tanyanya antusias.
"Liar? Pasrah tapi juga menantang?" tanya Grace.
"Dalam artian seperti video dewasa," jawaban aneh darinya, membayangkan Glory naik ke pangkuannya memakai pakaian maksiat di malam pertama pernikahan mereka. Membiarkan tubuhnya dibuai olehnya.
"Maksudmu berhubungan di luar nikah?" Grace kembali bertanya tidak mengerti.
"Bukan begitu, jika belum menikah bisa dengan berpelukan dan berciuman, saling meraba tubuh. Walaupun tidak berhubungan..." jawaban dari pria yang keperjakaannya telah direbut seorang anak SMU (Grisella).
"Begitu ya? Wanita yang memiliki dua sisi. Sekarang sudah malam, jadi..." kata-kata Grace terhenti. Selingkuh dengan cara instan? Tio bisa selingkuh kenapa dirinya tidak.
Gin yang duduk di sofa tanpa kewaspadaan sama sekali, tersenyum-senyum sendiri membayangkan gadis yang dijodohkan dengannya.
Bug...
Dirinya di dorong, Grace yang naik ke pangkuannya."Jika dia berselingkuh, aku juga bisa..."
"A... apa maksudnya?" tanya Gin gelagapan.
"Maksudnya ini..." bibir pemuda disambarnya tanpa aba-aba, bukan ciuman pertama, karena ciuman pertamanya telah diberikan pada Tio.
Gin yang masih berfikir wanita ini adalah sepupu Tio, ingin mendorongnya. Namun lidah gadis itu menerobos, membuatnya memejamkan mata.
Ini sepupu Tio, aku bisa dipecat olehnya... batinnya.
Tapi sekali lagi, mungkin sebuah rejeki orang teraniaya. Grace memeluk tubuhnya, membuat Gin tidak berkutik. Perlahan hatinya berdebar cepat, tapi sekali lagi tidak boleh. Ibu dan bibinya sudah memberikan jodoh gadis segelan, cerdas, ibu rumah tangga pengatur keuangan yang baik, calon pengacara nantinya.
"Hentikan!" ucapnya dengan deru napas tidak teratur, bentuk tubuh menantang yang indah. Kucing mana yang dapat menahan diri ketika seekor ikan salmon berkwalitas tinggi ada di depan matanya. Namun sekali lagi, dirinya sudah jera memilih sendiri pasangan hidupnya. Bibi dan ibunya lebih cerdas akan hal ini.
Bersamaan dengan lepasnya ciuman mereka, Tio keluar membuka pintu kamarnya hanya memakai boxer usai membersihkan dirinya, saling merangkul dengan seorang wanita, yang juga hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi dari area dada hingga pahanya saja, dengan entah berapa tanda keunguan di area lehernya.
"Grace!?" ucapnya menatap kekasihnya ada di pangkuan sahabatnya.
Dengan cepat Gin mendorong Grace agar segera berdiri."Tio! Bisa aku jelaskan, sepupumu tidak sengaja jatuh ke pangkuanku!" ucapnya, berharap Tio percaya dengan kebohongannya, tidak ingin dirinya dipecat mengingat wisudanya yang mungkin tinggal 7 bulan lagi.
Tapi tanpa diduga, Grace menarik tangannya."Kamu berselingkuh! Karena itu juga aku berselingkuh!" jawaban dari mulut Grace mengikuti kata-kata Gin sebelumnya.
"Berselingkuh?" Gin mengenyitkan keningnya tidak mengerti, menatap ke arah sang wanita.
"Gin, kamu berani berkencan dengan Grace!? Dia itu pacarku yang baru datang dari kuliah dari luar negeri!!" bentaknya pada sahabatnya.
Mampus...aku mati kali ini ... aku mati... batinnya ketakutan, berada diantara pertengkaran sepasang kekasih.
"Lalu dia siapa!? Aku mendengar semuanya!!" ucap Grace menitikkan air matanya, menatap wanita yang berada di samping kekasihnya."Aku hanya berselingkuh dengan satu pria, hanya berciuman dengannya, tapi kamu seperti ini? Kamu pernah memikirkan perasaanku saat kamu meniduri mereka!?"
Tio terdiam, hendak berjalan mendekati kekasihnya. Mungkin dirinya memang sudah keterlaluan.
Namun, langkahnya terhenti."Jangan mendekat..." Grace tersenyum, menghapus air matanya."Aku bahkan sempat berfikir untuk mengakhiri hidupku, saat kamu berkencan di hotel tempatku bekerja dengan remaja SMU,"
"Tio bisa aku jelaskan, aku..." kata-kata Gin terhenti, Grace menarik tangannya dengan kencang.
"Ayo pergi! Aku bisa memberikan pekerjaan baru dan lebih banyak uang padamu!" ucap Grace, menggunakan mantra pesugihan, membangkitkan jiwa nasionalisme seorang Gin.
"Kalian mau kemana!?" Tio berjalan hendak menghentikan, namun langkahnya terhenti hingga pintu depan, mengingat dirinya yang hanya menggunakan boxer.
"Melakukan apa yang kamu lakukan!!" jawaban dari Grace menarik Gin ke dalam lift, menunjukkan arogansinya.
Bersambung