
Beberapa hidangan terlihat diatas meja, untuk pertama kalinya Kenzo memakan makanan rumahan. Bukan rasa makanannya, namun perasaan hangat ketika menikmatinya. Amel tersenyum padanya.
"Apa begitu enak?" tanyanya, yang belum mencicipi. Menatap Kenzo makan dengan lahap.
Pemuda itu mengangguk, menitikan air matanya, sejenak kemudian diseka olehnya. Namun, lagi-lagi air mata sialan itu menetes, hangat dan aman itulah perasaannya saat ini. Bagaikan menemukan rumahnya.
"Kenapa menangis? Apa pedas?" Amel mengenyitkan keningnya, meraih sendok hendak mencicipinya.
Kenzo menggeleng,"Terlalu enak, makanya aku menagis..." ucapnya tersenyum pada Amel.
Terlalu enak? Yang tersaji hanyalah ayam digoreng tanpa bumbu, sup dengan bahan sederhana, serta nasi putih hangat. Tidak ada yang istimewa, namun jemari tangan gemuk yang membuatnya lah yang spesial.
Gadis itu hanya tersenyum, memberikan segelas air putih pada Kenzo. Dengan segera pemuda itu meminumnya, kemudian kembali makan, bersama Amel.
"Boleh aku minta sesuatu padamu?" tanyanya menghentikan aktivitas makannya sejenak.
"Apa?" Amel mengenyitkan keningnya.
"Jangan mati, jangan pernah sakit, jangan mencintai orang lain..." ucapnya menggengam jemari tangan Amel.
Pengalaman hidupnya masih membayang hingga kini. Pengalaman hidup yang pahit dari majikan yang membiayai hidupnya. Bahkan setelah meninggal pun. Memberikannya bekal hidup, pemuda baik hati yang kehilangan kekasihnya serta kepercayaannya dengan cinta.
18 tahun yang lalu...
Kenzo kecil saat itu masih memungut sampah di usianya yang ke 11 tahun, sembari mengikuti sekolah gratis untuk anak jalanan. Duduk belajar, dengan bau menyengat dari makanan busuk dekat TPA.
Memakan makanan seadanya, benar-benar seadanya. Bahkan uang dari hasil memulungnya hanya cukup untuk membeli nasi putih dengan sedikit garam. Hanya dapat menikmati nasi hangat itu dua kali sehari.
Tubuhnya yang dekil sudah terbiasa diusir dimana saja. Dirinya hanya membantu membersihkan dengan mencari makan dari botol bekas air mineral serta kaleng bekas. Walaupun kerap kali dimaki oleh security kompleks perumahan elite, atau ketika ada jemuran warga yang menghilang dirinya lah yang dituduh, namun itu harus tetap dilajukannya jika ingin makan.
Sudah terbiasa, mungkin begitulah kehidupannya yang keras,"Saya tidak mengambilnya... mungkin orang lain..." ucapnya membawa karung plastik berisikan kaleng-kaleng serta bekas air mineral.
"Mana ada maling ngaku!! Kecil-kecil sudah maling..." cibiran dari mulut warga, mendorong tubuhnya. Isi karung plastik yang dibawanya, dikeluarkan. Dan benar saja tidak terdapat benda curian.
Anak itu mengepalkan tangannya, menitikan air matanya. Pemulung? Dirinya hanya memungut sampah, kenapa selalu diusir dan dituduh mencuri?
Satu persatu botol bekas yang telah kotor dimasukkannya kembali dalam karung. Bibit penyakit mentalnya, mungkin telah berkembang semenjak dini. Tidak ada yang adil didunia ini, semua terasa menekannya. Tidak memiliki siapapun, hanya sekedar hidup.
Andai dirinya memiliki orang tua, hidup sederhana pun tidak apa-apa. Hanya berkumpul dalam kebahagiaan, merupakan harapannya.
Kehidupan yang benar-benar sulit, hingga usianya menginjak 14 tahun. Tidak ada yang berubah, hanya kecerdasannya yang benar-benar berkembang. Meminjam buku-buku yang terbilang sulit dipelajari dari perpustakaan keliling.
Seorang pemuda menjadi bagaikan gurunya. Bukan lagi mahasiswa, pemuda itu telah menjadi dosen, mengajar sampingan di sekolah anak jalanan. Memiliki beberapa bisnis kecil, beberapa toko serta investasi waralaba.
Iba? Begitulah dirinya menatap Kenzo yang saat di usia 14 tahun telah dapat mengerti materi pelajaran setingkat S1. Anak genius, yang terjebak sebagai anak jalanan.
Yang dilakukannya? Mempekerjakan Kenzo di salah satu toko miliknya. Tinggal bersamanya, bahkan menyekolahkannya di sekolah umum.
Gama, nama sang dosen muda yang menyukai motor Vespa. Memiliki seorang kekasih bernama Dewi, gadis cantik bekerja di devisi marketing salah satu perusahaan ternama. Perusahaan luar negeri yang baru membuka cabangnya di negara ini.
Kehidupan yang benar-benar sempurna...
"Kenzo, Dewi membelikanmu alat tulis, ayo ucapkan terimakasih..." ucap Gama, mengacak-acak rambut anak yang jarang bicara tersebut.
"Terimakasih..." kata-kata yang keluar dari mulutnya dengan wajah dingin, kembali menjaga toko, sembari belajar.
Dewi mengenyitkan keningnya,"Apa anak itu manusia? Dia seperti robot, belajar, belajar dan jaga toko..." kesalnya.
"Sudahlah, Kenzo menang begitu, tapi sebenarnya hatinya baik. Aku mengajarinya di sekolah anak jalanan dari usianya 9 tahun, sebelum menjadi dosen. Aku baru berani membawanya pulang, dia sebatang kara, mirip denganku," Gama tersenyum, menatap sang anak yang terlihat tekun.
"Apa saja yang kamu ajari padanya!?" Dewi mengenyitkan keningnya.
"Di sekolah formal hanya hal biasa yang didapatkannya. Tapi di rumah, dia sudah setingkat S1," tawa terdengar dari mulut Gama, "Muridku memang genius..."
"Kalian berdua bukan manusia, seperti ilmuan gila dengan asistennya..." Dewi menatap jenuh, berjalan ke dapur di lantai dua. Tempat itu merupakan sebuah ruko yang dimiliki Gama.
Hingga hari terburuk itu tiba...
Dewi diminta oleh atasannya menemani klien makan malam. Seorang pegawai wanita menemani klien makan malam hingga larut? Gama benar-benar khawatir saat itu. Menghubungi Dewi pun tidak ada yang mengangkat panggilannya.
"Kak Gama mau kemana?" Kenzo yang terbangun tengah malam, menatap Gama menghidupkan mesin Vespanya.
"Menjemput Dewi, katanya menemui klien, tapi sampai jam segini belum pulang," ucapnya penuh kecemasan setelah mencoba pergi ke rumah Dewi. Firasat aneh ada dalam dirinya. Meyakinkan, seperti akan ada yang meninggalkannya.
Gama hanya seorang anak yatim-piatu, tidak memiliki satu anggota keluarga pun. Kecuali Dewi, kekasihnya semenjak SMU, hanya itulah yang dimilikinya kini.
Motor melaju, mencari di area kantor, serta rumah rekan kerja yang menemui klien bersamanya. Namun, tidak ada gunanya. Rekan kerjanya terdiam seperti ada yang ditutup-tutupi. Hanya mengatakan Dewi telah pulang lebih awal dari tempat mereka menjamu klien.
Tapi apakah benar Dewi telah pulang? Tidak, wajahnya yang cantik, tubuhnya yang indah, menjadikan dirinya sebagai hadiah dari sang atasan pada klien. Jika proyek mereka yang bernilai milyaran diloloskan.
Dewi dicekoki minuman berakohol, sang atasan yang mengantar, meninggalkannya. Wanita yang tidak mengetahui apapun.
Satu? Tidak sang klien menghubungi beberapa temannya membawa tubuh Dewi ke sebuah villa. Wanita tidak berdaya, tubuhnya lemah tanpa perlawanan. Tangan serta kakinya diikat, satu persatu pria menikmati tubuh wanita yang hanya dapat menangis. Perlakuan yang kasar, bahkan Gama tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Menyaksikan dan merasakan betapa sakit kehancuran hidupnya.
Pria-pria itu seakan tidak pernah puas. Menjerit pun tidak ada gunanya, tubuhnya dipenuhi tumpahan cairan menjijikkan baginya. Hingga pada akhirnya, hanya satu diantara mereka yang masih ada di ruangan, belum puas menggagahinya.
Lebih buruk lagi, ikatan di tangan dan kakinya dilepaskan dengan pisau. Mengancam Dewi menggunakan pisau,"Lakukan semua yang aku suruh... puaskan aku..." ucapnya, mencari sensasi lain. Menginginkan Dewi yang agresif mengemis untuk hidupnya.
Namun, di luar dugaan hidup wanita itu terasa telah hancur. Bagaimana dirinya dapat menemui Gama setelah ini? Dirinya terlalu menjijikkan untuk menemui Gama, orang tuanya juga akan malu. Menghubungi kepolisian juga tidak akan ada gunanya, wajah orang-orang itu tidak dikenalnya.
Menuntut pada perusahaan? Dirinya hanya akan dipecat, aibnya lebih terumbar lagi...
Hingga, satu tindakan diambilnya dalam keputusasaan hidup...
Hup ...
Darah mengalir deras dari perutnya, membasahi lantai marmer. Dengan sengaja menusukan tubuhnya pada belati salah satu pria.
Mati seperti ini? Dengan tubuh tanpa busana? Sungguh memalukan... Gama aku berharap kamu tidak akan melihat tubuhku yang menjijikkan ini...
Air matanya mengalir untuk terakhir kalinya, tubuh indah tanpa busana dengan banyak tanda keunguan dari beberapa pria yang bahkan tidak bisa diingat semuanya.
Tawaran untuk naik jabatan jika dapat membuat klien menandatangani kontrak? Persentasi? Itulah yang dikatakan atasannya, mencari uang dan naik jabatan dengan cara bersih hingga dirinya terlena pada jerat mematikan. Sesuatu yang menghancurkan hidupnya. Hingga Dewi memutuskan untuk mengakhirinya.
Tidak ada yang tersisa dari tubuh berlumuran darah itu. Hanya korban tipuan dari atasannya, naik jabatan? Mungkin akan didapatkannya, namun dirinya tidak rela jika tubuhnya dijadikan mainan bagi mereka.
Mata wanita itu masih terbuka, namun napasnya terhenti, terjatuh di atas lantai yang dingin...
Dalam kepanikan beberapa pria itu membuang mayatnya dekat hutan. Bagaikan bangkai binatang, bahkan tidak mengenakan pakaian Dewi kembali.
***
Dua hari berlalu, tubuh itu ditemukan sudah mulai berbau. Garis polisi terpasang...
Kriiiiet...
Suara resleting kantung mayat terdengar, beberapa warga berada disana. Menatap mayat wanita dengan tubuh kaku di masukkan pihak kepolisian.
Gama memarkirkan motor Vespanya asal, setelah bagaikan orang gila, mencari keberadaan kekasihnya dua hari terakhir. Berharap informasi penemuan mayat yang diberikan pihak kepolisian bukankah Dewi.
"Anda siapa?" orang tidak berkepentingan di larang mendekat.
"Pacar saya sudah dua hari menghilang, saya hanya ingin memastikan wajah mayat yang baru ditemukan..." ucapnya, menghentikan petugas yang ingin memindahkan mayat ke atas ambulance.
Resleting itu perlahan dibuka, wajah indah yang selalu tersenyum padanya terlihat. Wajah pucat pasi, sang roh memang telah lama meninggalkan raganya....
Tidak ada kata-kata yang dapat keluar dari mulut Gama, lidahnya kelu. Air matanya mengalir tiada henti, satu-satunya miliknya tidak ada di dunia ini lagi. Rumah tempatnya pulang telah pergi ke sisi-Nya.
Bersambung