My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Aku Cemburu



🍀🍀🍀🍀 Cerita akan dipercepat, supaya cepat tamat... maaf kalau ada typo, besok perbaiki... happy reading...🍀🍀🍀🍀


Tidak ada yang diingatnya, dirinya hanya tertidur usai berhubungan. Mengusir wanita itu pergi, setelah menandatangani surat perjanjian kerjasama proyek dengan perusahaan ayahnya.


Cukup memuaskan memang, tapi apakah akan sama demikian? Dirinya ingin membuka mata, tapi masih saja gelap. Menggerakkan tangannya juga sulit. Tali erat mengikatnya.


"I...ini dimana!? Kenapa aku diikat!?" bentaknya tidak merasakan empuknya tempat tidur king size apartemennya. Hanya tempat duduk seperti sofa, atau mungkin kursi penumpang sebuah mobil.


"Kamu sudah mati, karena itu dapat bertemu denganku. Suami Amel Anggraini yang menjemputmu dari neraka..." Kenzo tersenyum, menginjak pedal gasnya seakan tidak sabaran untuk sampai di tujuannya.


"Br*ngsek!! Kamu siapa!?" bentaknya lagi dalam mobil hitam yang melaju membelah jalanan perkotaan.


"Supir taksi rute neraka. Sabarlah kita akan segera ke neraka..."


***


Matanya masih tertutup, tangannya diikat. Namun, terasa seorang pria mendorong, menyeretnya mengikuti langkah seseorang didepannya.


"Tuan?" terdengar suara seorang, menyapa orang di hadapannya.


Kenzo? Apa benar-benar orang yang membawanya Kenzo? Tidak, Kenzo salah satu pengusaha yang paling ditakuti di dunia bisnis sudah mati. Mungkin begitulah Hugo meyakinkan dirinya sendiri.


Hingga tubuhnya di dorong, tersungkur di lantai yang dingin,"Penipu!! Kalian siapa!? Aku akan melaporkan ini pada kepolisian..."


Langkah seseorang berjalan mendekatinya, menyentuh dagunya,"Ingin menggantikan posisiku? Punya kwalifikasi apa?" tanyanya. Suara yang tidak asing bagi Hugo, berusaha mengingatnya.


"Dava!? Kamu Dava kan!?" teriaknya.


Matanya yang ditutupi kain hitam, dibuka. Cahaya lampu yang cukup terang, wajah tersenyum itu terlihat. Benar-benar Dava, pemuda miskin yang mengaku kerabat jauh Amel.


"Wah, pintar juga..." Kenzo bertepuk tangan, memuji Hugo.


"Tuan..." Kevin yang sudah dihukum memakai pakaian wanita seharian ini menunduk padanya.


"Tuan!? Kevin, kamu pengawal Amel bukan!? Aku bisa membayarmu tinggi. La...lagi pula aku yang akan menjadi tuanmu, setelah menikah dengan Amel. Tolong lepaskan aku!!" ucapnya, menatap keberadaan Kevin disana.


"Belum mengerti juga!? Aku Kenzo!! Br*ngsek!!" bentaknya menendang tubuh di hadapannya, sekuat tenaga.


Kenapa badannya keras? Sial tumit kakiku sakit... gumam Kenzo dalam hatinya, mengamati tubuh besar berotot dengan tatto wajah mengerikan di dada Hugo.


Tenang, berjalan senormal mungkin, agar tidak ada yang sadar kakiku sakit karena salah gerakan saat menendangnya... batinnya. Berusaha tetap memasang wajah dingin, berusaha berjalan dalam keadaan normal.


"Kenzo...? Jangan bergurau, orang gila itu menaklukkan beberapa perusahaan besar. Dia bahkan mati setelah melumpuhkan salah satu jaringan mafia. Hanya dengan berbekal dua orang pengawal..." ucap Hugo tetap tidak percaya, dengan sosok Kenzo di hadapannya.


Dalam pemikirannya mungkin Kenzo, pria berotot sebesar Mike Tyson. Memiliki kemampuan bela diri yang tinggi. Bahkan peralatan serta ruangan rahasia bagaikan Batman.


Tapi Dava? Badannya memang cukup proposional untuk seukuran pria Asia. Tapi tetap saja berkulit putih, lembek, bagaikan selebriti Asia Timur. Kenzo? Tidak mungkin dia ...


Kenzo terdiam, memang dirinya mengingat pernah dikepung orang-orang bersenjata. Tapi dirinya yang dulu sekeren itu? Menaklukkan perusahaan besar, bahkan melumpuhkan jaringan mafia.


Semengerikan apa sebenarnya aku yang dulu, sebelum hilang ingatan... batinnya. Tidak dapat membayangkan tentang dirinya yang dulu.


"Apa maumu? Jika uang aku dapat memberikan berapapun!!" Hugo yang masih tersungkur di lantai menonggakkan kepalanya.


"Sudah aku katakan aku Kenzo. Ingin membawamu ke neraka..." Kenzo memijit pelipisnya sendiri, bingung bagaimana cara membuktikan identitasnya.


Hugo malah tertawa kencang,"Dasar penipu, kamu hanya ingin menikahi Amel kan? Menyimpannya untuk dirimu sendiri. Tapi Amel tidak bodoh, dia akan tau, kalian adalah pengkhianat!!"


Kenzo menoleh pada Kevin,"Apa kepribadianku dulu sangat buruk? Hingga semua orang menganggapku mengerikan?" tanyanya.


Kevin mengangguk,"Tuan pernah, membebaskan seorang tahanan dari penjara. Memberinya uang, untuk membalas dendam. Sekitar 14 orang mati di tangannya, dua orang lainnya terluka,"


"Ada dua orang yang terluka? Siapa?" tanyanya penasaran.


"Leon, dia salah satu anggota keluarga yang membuang anda dulu. Satu lagi..." Kevin tertunduk enggan bercerita.


"Frans pernah bercerita tentang Leon, dia pantas mendapatkannya. Satu lagi siapa?" Kenzo semakin penasaran saja.


"Anda sendiri, senjata makan tuan, untuk melindungi adik angkat anda. Peluru menembus dari punggung hingga dada anda..." jawab Kevin jujur.


"Lepaskan aku atau aku akan mengatakannya pada Frans dan Amel!" teriaknya kesal.


"Jangan memandang tinggi dirimu. Setelah kamu membocorkan berita kematianku..." kata-kata Kenzo disela.


"Bukan kematianmu, tapi kamu akan segera mati," ucap Hugo geram, masih juga mengira Kenzo di hadapannya hanya penipu.


"Baik-baik aku revisi, kematian Kenzo. Puas!?" Kenzo menghela napas kasar, enggan berdebat.


"Kevin...bawa mucikarinya masuk," perintahnya.


Seorang wanita paruh baya datang, menghela napas kasar."Badannya besar berotot. Jadi ini yang mau dijual?" tanyanya.


"Iya, tolong perlakuan dia dengan baik satu minggu ini. Dia bisa melayani pria atau wanita, tidak kenal waktu karena staminanya yang besar. Jika dia menolak berikan obat padanya. Awasi dia dengan baik agar tidak kabur. Tentang bayaran hasil kerja kerasnya, transfer ke rekeningnya..." Kevin menyodorkan, nomor rekening milik Hugo selama tinggal di negara ini.


"Apa yang kalian lakukan!?" bentak Hugo meronta.


Kenzo berjalan mendekatinya, sedikit berjongkok, tersenyum bagaikan iblis,"Aku dengar-dengar kamu memiliki penyimpangan dan haus akan berhubungan. Jadi aku ingin menguras semua tenagamu, untuk melayani wanita keriput yang kesepian dan pria-pria dengan prilaku menyimpang..." bisiknya.


"Kurang ajar!! Apa maumu!?" teriak Hugo.


"Tidak ada, aku hanya ingin pisangmu terlalu lelah, bahkan trauma untuk bermain lagi. Jadi tidak akan berfungsi sementara waktu," Kenzo mulai bangkit menatap tajam penuh hina padanya.


Aura yang tiba-tiba membuat Hugo gemetar, enggan menatap padanya.


"Berharap dapat menikahi istriku? Kemudian mengikatnya, memukulinya di tempat tidur? Walau dalam mimpimu pun, aku akan menarikmu ke neraka jika melakukannya, mengurungmu selamanya disana..." ucapnya melangkah pergi.


Kevin berjalan cepat mengikutinya, tersenyum puas dengan keputusan Kenzo. Memberi pelajaran pada Hugo bagaimana rasanya disiksa di tempat tidur.


Mengapa dirinya hanya setia pada Kenzo? Inilah alasannya, Kenzo memang bukan orang baik. Tapi juga bukan orang jahat yang membunuh orang tanpa belas kasih. Walaupun tidak pasti, semoga saja dengan ini Hugo lebih dapat menghargai pasangannya.


***


Untuk pertama kalinya Hugo gemetar. Punggung itu ditatapnya berjalan keluar, tertegun akan aura mendominasi yang dirasakannya. Bagaikan dapat berbuat apa saja, jika melihat sedikit penyimpangan.


Apa orang itu benar-benar Kenzo? Namun, satu yang pasti dirinya tidak akan berani lagi berurusan dengannya. Tatapan pria yang seakan dapat menggores wajahnya dengan belati jika dirinya ingin.


"Bawa dia pergi..." perintah sang mucikari pada preman di belakangnya.


"A...aku akan memberimu bayaran tinggi! Lepaskan aku..." pintanya.


"Maaf tidak bisa, sesuai perjanjian setelah satu minggu melayani tamu-tamu dengan baik. Aku akan melepaskanmu..." ucap sang mucikari tersenyum.


***


Amel menghela napas kasar, menatap kehidupan yang di jalani suaminya 7 tahun ini dalam kamar kecil di sebuah rumah kontrakan. Pandangan matanya menelisik, mengamati foto lama. Foto masa SMU dari Dava yang asli.


Amel mengenyitkan keningnya, kemudian tersenyum. Air matanya mengalir, teringat dengan sahabat Glen, orang humoris yang tidak diingat namanya oleh Amel.


"Jadi namanya Dava?" gumamnya.


Dava dalam ingatan Amel yang saat itu duduk di bangku sekolah dasar. Bukalah orang yang jahat, dia pandai membuat lelucon. Bahkan, sering menunjukkan trik sulap amatir padanya dan Nindy.


Tapi apa yang merubah sosok Dava pemuda berpakaian SMU, sahabat kakaknya Glen? Semua tidak dimengerti oleh Amel.


Hingga tangan terulur memeluknya dari belakang,"Kenapa kamu melihat foto Dava tanpa mempedulikan kedatanganku?"


"Dava yang asli, orangnya seperti apa?" tanya Amel pada Kenzo.


"Tidak tau, menurut orang-orang dia sering membuat masalah. Kenapa?" Kenzo memeluk tubuh Amel erat dalam kamar kecil yang ditempatinya 7 tahun ini.


"Almarhum Dava, dia sebenarnya orang yang baik..." Amel yakin dengan pendapatnya.


"Jangan membuatku cemburu..."


Bersambung