My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Cara Manusia Bereproduksi



Matanya mulai terbuka, menelisik mengamati tempat dirinya berada saat ini. Ruangan rawat VVIP rumah sakit miliknya sendiri. Hal pertama yang dicarinya adalah phoncell, mengambilnya dari atas meja ruang rawatnya.


Sudah satu hari dirinya tidak sadarkan diri, dilihat dari tanggal dan jam yang ada di handphonenya. Ferrell mencoba bangkit, tangannya masih terpasang selang infus. Lebih segar rasanya setelah tertidur 24 jam penuh.


Sedangkan Damian tiba-tiba masuk, membawa bubur untuk cucunya. Sempat sadarkan diri sebelumnya? Memang benar, namun Ferrell kembali tidur setelah minum air dan makan beberapa suap.


Pria itu mulai duduk di kursi samping tempat tidur cucunya. Menghela napas kasar, menatap Ferrell yang bagaikan hendak bangkit.


"Mau kemana?" tanya Damian dengan nada dingin.


"Aku akan melakukan pemeriksaan ulang kondisiku. Kemudian meminta ijin untuk meninggalkan rumah sakit lebih awal," ucapnya tengah berkemas.


Damian mengepalkan tangannya, tidak boleh terus seperti ini. Amel benar, Ferrell seharusnya menghabiskan masa remaja hingga dewasanya seperti anak-anak seusianya. Namun, bahkan senior high school pun ditempuhnya dengan cepat. Hingga satu keputusan diambil Damian.


"Kamu harus kembali ke bangku SMU!!" perintahnya.


"Kakek, lalu rumah sakit, kontrak dengan perusahaan iklan. Bagaimana!?" ucapnya masih memakai baju pasien, mengingat jadwal konser dan jadwal operasinya yang penuh satu minggu ini.


"Kamu mau terkena stroke di usia muda!! Atau mati tiba-tiba di meja operasi ketika membedah pasienmu!?" untuk pertama kalinya Damian membentak cucunya, memijit pelipisnya sendiri.


"Kakek tidak menyayangiku?" tanya Ferrell mengundang simpati.


Namun bagaikan tidak berpengaruh pada Damian."Mulai besok berpura-puralah berusia 18 tahun. Ulangi masa remajamu, bermain dan tertawa bersama teman-teman barumu. Besok penata rias akan merubah penampilanmu agar tidak ada yang mengenalimu sebagai selebriti,"


Pria itu mulai akan melangkah pergi, hingga cucunya kembali mengancam...


"Kakek! Tidak boleh egois nyawa pasien tergantung padaku!!" ucap Ferrell masih ingin berdebat.


"Memangnya cuma kamu dokter bedah di dunia ini!? Jika kamu tidak mau, kakek akan mengatakan tentang kondisi fisik dan psikologismu pada ibumu!" Damian berjalan berlalu, masih menatap sinis. Jika menyangkut nama Amel, Ferrell tidak akan membatah.


"Aku akan menghamili anak SMU!! Membuat kakek malu!!" teriak Ferrell kesal, mengucapkan kata-kata ancaman asal.


Tapi tidak berpengaruh juga pada akhirnya, Damian melangkah pergi meninggalkan cucunya dengan bubur yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.


"Aghhhh..." teriak Ferrell kesal.


Kesal? Tentu saja, bekerja sebagai dokter dan bermusik adalah hobi baginya. Suatu kebiasaan yang mulia. Namun, harus kembali ke bangku SMU? Ini benar-benar aneh, berkumpul dengan pasukan putih abu-abu.


***


Pagi ini terasa lebih suram, walaupun kondisi kesehatannya sudah jauh lebih baik. Beberapa orang penata rias, merubah penampilan Ferrell. Mereka benar-benar profesional, bahkan sangat profesional.


Kulit putihnya dirubah menjadi sawo matang, model rambutnya juga sedikit dirubah dari ala selebriti idola, menjadi ala superman. Ini benar-benar menyebalkan, bagaikan bukan dirinya sendiri. Dipakaikan kacamata, lengkap dengan tahi lalat dibawah bibir.


Tampan? Tidak, jelek? Juga tidak. Jadilah seorang siswa dengan wajah standar. Damian menipiskan bibir menahan tawanya, menatap cucunya menggedong ransel, hendak berangkat ke sekolah.


"Namamu siapa?" tanyanya berusaha agar tidak tertawa.


"Ferrell, kakek lupa dengan cucu kakek sendiri?" cibirnya.


"Bukan itu maksudnya, maksud kakek putuskan nama panggilanmu di sekolah. Tidak mungkin kamu mengatakan namamu Ferrell bukan!?" Damian yang masih memakan sarapannya, dengan tenang.


"Ken... agar lebih mudah. Memakai nama ayah Kenzo. Puas!?" ucapnya duduk mengambil nasi goreng buatan sang nenek.


"Sangat, lagi pula siapa yang akan percaya Kenzo mempunyai putra sepertimu," jawaban Damian tertawa tiada henti.


"Ingat!! Jangan katakan pada ibu kalau aku sempat pingsan!!" Ferrell menghela napas kasar, memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Iya kakek akan tutup mulut, tapi jangan coba-coba membuktikan kata-katamu untuk menghamili anak SMU," peringatan Damian.


"Sudahlah, kamu bahkan tidak pernah menyentuh wanita. Tidak mungkin kamu menyentuh anak di bawah umur," cibir Damian.


Tidak menyadari, cucunya diam-diam tersenyum. Tempatnya bersekolah? Tentu saja diatur olehnya agar satu sekolah dengan Glory. Aneh, benar-benar aneh Ferrell saat ini bagaikan terobsesi padanya.


***


Glory kembali memulai harinya, memakai seragam SMU dengan tas baru. Menatap wallpaper handphonenya, foto pemuda yang membuat dirinya memiliki android second.


Wajahnya tersenyum, merindukannya? Entahlah, hanya saja ingin melihatnya lagi, sekali saja.


Perlahan dirinya mengendap-endap, mendengar ibunya yang sedang bergosip dengan tetangga sebelah. Kamila tidak memiliki hal yang dibanggakannya, hanya mengangguk dan kagum mendengar, Grisella akan memasuki dunia tarik suara. Menjadi artis idola seperti calon tunangannya Ferrell.


Sedangkan putrinya? Tidak ada yang dapat dibanggakan dari Glory. Remaja yang menyadari sesuatu, dirinya belum mendapatkan uang jajan.


"Ibu, uang jajan..." Glory mendekat, menadahkan tangannya.


"Glory masih minta uang jajan!? Berbeda dengan Grisella, Grisella sudah punya penghasilan sendiri, setelah singgelnya keluar nanti," sindir Ratna (ibu Grisella)


Kalau laku, kalau tidak laku pasti tekor alias rugi besar... gumam Glory dalam hatinya, masih berusaha tersenyum.


Kamila menghela, napas kasar,"Kapan kamu berhenti menyusahkan orang tua, belajarlah dari Grisella. Dia itu sudah cantik, pintar, ketua OSIS, mempunyai tunangan dari keluarga konglomerat. Entah kenapa, kamu tidak memiliki kelebihan... mungkin ibu yang terlalu banyak dosa..." komat-kamit mulut itu berceramah sambil membandingkan, mengeluarkan uang 5000 rupiah dari dompetnya.


Sedikit? Iya, namun hanya itulah yang sejatinya dimiliki sang ibu yang super hemat. Menabung di celengan tembikarnya sendiri agar setelah lulus SMU putri tunggalnya dapat kuliah.


Seorang ibu memang begitu bukan? Orang yang paling cerewet, paling hemat, paling banyak menuntut, namun paling menyayangi anak-anaknya. Seakan lebih baik dirinya makan kerupuk dan nasi, namun anaknya dapat bersekolah dengan baik.


"Terimakasih..." ucap Glory, menempelkan uang 5000 rupiah ke dahinya. Berjalan melompat-lompat dengan merentangkan kedua tangannya, bagaikan vampir cina.


Tingkah aneh yang selalu saja membuat Kamila menahan tawa di wajah galaknya."Jangan habiskan uang jajannya!! Tabung sisanya di celengan! Kamu kan sudah bawa air dan nasi!!"


"Iya!! Dasar pelit!!" cibirnya masih melompat-lompat dengan uang 5000 rupiah yang tertempel.


***


Jam pelajaran akan segera dimulai, semua orang berhenti kasak kusuk, menatap wali kelas mereka datang dengan membawa seorang siswa. Wajah, penampilan, semuanya standar.


Semua dimulai saat para siswa usai memberikan salam pada wali kelas mereka.


"Perkenalkan ini siswa pindahan dari luar pulau. Namanya Ken...Ken perkenalkan dirimu," ucap sang wali kelas.


"Namaku Ken, salam kenal," sang pemuda tersenyum ramah.


Matanya menyelidik menata gadis yang duduk paling belakang berbincang dengan teman sebangkunya.


"Ken, cari bangku kosong untuk duduk..." ucap sang wali kelasnya.


Ferrell berjalan mulai duduk di kursi kosong, di belakang Glory.


"Mana aku tau dia dimana! Dia tidak menemuiku lagi setelah memberikan dua juta karena menciumnya..." suara Glory terdengar dengan jelas.


Ferrell menghela napas kasar,"Kalian tau cara manusia bereproduksi? Mungkin kamu tidak tau..." ucapnya pada Glory yang tengah berbicara dengan Caca.


Glory menghentikan kata-katanya, menoleh pada suara yang sepertinya tidak asing baginya.


Bersambung