My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Donor



Kenzo mengangguk membenarkan,"Kematian anak-anakmu juga ada hubungan dengannya. Sebenarnya pertarungan perebutan kekuasaan macam apa yang sampai membuat anak-anakmu mati!?"


"Jadi itu yang terjadi..." gumamnya, menghela napas kasar."Sebenarnya ini hanya ujian bertahan hidup. Mereka hidup di hutan hanya berbekal pasokan makanan yang minim, peta, pisau, dan korek api. Aku tidak cemas sama sekali, karena mereka sudah terlatih dari kecil. Tapi entah siapa yang memulai, siapa yang mengadu domba, ada orang yang menyelundupkan senjata api pada mereka,"


"Pada akhirnya, saling mencurigai dan saling membunuh. Ini terjadi di hari ke tiga di hutan, aku mencoba untuk menghentikan mereka. Namun dalam satu jam yang tersisa hanya putra tertuaku yang luka parah dan Eden yang bersembunyi ketakutan,"


Victor menghela napas kasar, kembali melanjutkan ceritanya,"Semula aku fikir semua sudah selesai. Ini kesalahanku, tapi putra tertuaku yang masih dalam masa penyembuhan. Tiba-tiba melarikan diri dari ruang rawatnya, menyeret Eden, memukulinya hingga lumpuh. Putra tertuaku juga berakhir meninggal kehabisan darah, karena lukanya yang terbuka pasca operasi saat memukuli Eden,"


"Semenjak itu Eden sedikit menjaga jarak dariku. Ada rumor yang tersebar aku mengadakan pertarungan hidup dan mati untuk anak-anakku, memperebutkan kekuasaan Dark Wild,"


"Aku belum gila! Aku memang melatih mereka seperti tentara pasukan khusus dari kecil. Tapi untuk memberi perintah saling membunuh sesama saudara... orang yang menyebarkan rumor pasti sudah tidak waras..." jelasnya, meminum seteguk red wine di mejanya.


Kenzo mengenyitkan keningnya,"Kamu tidak pernah berfikir itu memang instruksi salah yang diberikan pada anak-anakmu? Mungkin mereka tidak diberi tau itu hanya ujian bertahan hidup di hutan. Tapi pertarungan hidup dan mati memperebutkan kekuasaan. Fikirkanlah tidak mungkin mereka dapat menyelundupkan senjata api jika pemeriksaan tidak longgar,"


"Jadi ini benar-benar perbuatan Doom?" tanyanya, mengepalkan tangannya, mengingat pemakaman anak-anaknya yang meregang nyawa.


Kenzo mengangguk,"Kemungkinan besar begitu, tapi aku sarankan jangan mengotori tanganmu lagi. Anak-anakmu tega saling membunuh, karena keserakahan dan saling ketidak percayaan mereka,"


"Yang terpenting sekarang, berikan penjelasan pada Eden dan Steven yang terlanjur takut padamu. Kamu punya mulut tapi tidak digunakan, bahkan aku bertanya tentang istrimu kamu juga tidak bersedia menceritakan," Kenzo kembali menghela napas, meminum air putihnya.


"Tapi Doom sudah keterlaluan, aku..." kata-katanya disela.


"Itu urusanku! Fikirkan saja perusahaan yang baru dibangun Steven. Dan berikan kekuasaan Dark Wild pada Doom, selaku pemimpin. Lagipula, lebih dari setengah anggota Dark Wild sudah menjadi pekerja pabrik dan perusahaan. Tidak ada istilah Dark Wild lagi, Dark Wild hanya orang-orang yang kini mengikuti Doom," ucap Kenzo.


"Tapi..." lagi-lagi kata-kata Victor disela.


"Kamu tau bukan betapa sulitnya menjadi pimpinan kelompok mafia? Anak-anakku Joe dan Elisha sedang berusaha meruntuhkan perusahaan yang menyokong dana pada Doom. Dark Wild saat ini hanya kelompok mafia kecil yang setengah anggotanya sudah menghilang, kehilangan sumber dana, memiliki banyak musuh. Tanpa berbuat apapun dia akan mati..." ucapnya tersenyum, kembali makan dengan tenang.


Victor mengenyitkan keningnya, orang ini memang seperti iblis tidak tahu malu. Beruntung jika ada di pihaknya, bermain halus namun membunuh dari belakang. Mungkin sifat aslinya lebih keji dari dirinya. Benar-benar seorang antagonis.


***


Sedangkan di tempat lain, seorang pemuda berjalan dengan cepat di area kedatangan penumpang bandara Internasional. Pemuda rupawan yang memulai kuliahnya di usia 8 tahun, saat ini telah memiliki gelar Doctorate. Berjalan dengan cepat menarik kopernya. Genius muda yang kaku, itulah dirinya, telah memiliki sebuah rumah sakit saat ini.


Tujuan kedatangannya hingga harus meninggalkan banyak pekerjaan? Tentu saja tidak sabar lagi untuk membedah si brother complex. Wajahnya tersenyum, sudah 14 tahun tidak bertemu. Apa si rambut putih sudah melupakannya?


Entahlah, namun yang pasti ini akan menjadi pertemuan yang mengharukan baginya. Bukan dengan pelukan, tapi dengan memasang jantung baru pada Steven.


Donor belum ditemukan tapi ada seorang pasien yang mengalami mati otak, kondisi dimana pasien tersebut tidak dapat hidup tanpa alat-alat penunjang medis. Masih bernapas, namun tidak dapat bangun kembali, berbeda dengan orang yang mengalami kondisi koma.


Keluarga pasien menyetujui untuk mendonorkan seluruh organnya, sesuai dengan pengajuan yang ditandatangani sang pendonor dahulu ketika masih hidup. Dirinya ingin menyumbangkan organ-organ tubuhnya, jika meninggal nanti.


Mungkin di Indonesia hal ini masih jarang, namun di beberapa negara banyak yang mengajukan dengan sukarela. Bagaikan wasiat ingin memberikan organ mereka kepada yang lebih memerlukan ketika mati karena penyakit atau kecelakaan.


Memang terdengar mengerikan, tapi orang-orang yang berbaik hati itu telah menyelamatkan nyawa seseorang. Memberi kesempatan orang buta untuk dapat melihat.


***


Hingga dirinya yang selama dua tahun ini pasca menyelesaikan pendidikannya, tinggal dengan Damian, sampai. Menarik kopernya memasuki rumah sakit tempat Steven dirawat.


Pintu perlahan dibukanya, Febria ada disana, menyuapi suaminya.


"Kamu masih hidup!?" tanya Ferrell berpura-pura terkejut.


"Tentu saja, lama tidak bertemu," ucap Steven dengan wajah pucat.


"Iya, rambut putihmu dimana? Apa akan menghilang setelah tidak perjaka lagi?" Ferrell menghela napas kasar mulai duduk di sofa ruangan VVIP, tidak tau malu.


"Kakak!!" teriak Febria kesal.


"Keperjakaanku di ambil adikmu, daya hidupku dihisap Febria hingga sekarat, dan berakhir di rumah sakit. Memangnya kamu masih perjaka? Jangan-jangan kamu tidak normal hingga masih perjaka," tanya Steven dengan mata menelisik.


"A...a...aku.... tidak perjaka!!" jawab Ferrell gelagapan.


Apa mimpi basah termasuk menghilangkan status keperjakaan? Entahlah, anggap saja termasuk agar aku tidak dipandang remeh... batinnya, dengan bibir masih berusaha tersenyum.


"Bibi Nindy menitipkan hadiah untuk kalian, ini dia..." ucapnya mengeluarkan sebuah paperbag besar yang hampir memenuhi kopernya.


Isinya dikeluarkan satu persatu tanpa malu sedikitpun olehnya.


"Boxer dengan bahan yang elastis dan tidak panas bisa dibuka dengan mudah, ada 12 macam warna. Dan khusus untuk Febria baju laknat dengan banyak tali, gaun tipis seperti tissue, agar lebih mudah sobek. Dan..." Ferrell memegang pakaian yang lebih laknat lagi.


Dengan cepat Febria merebutnya, memasukannya kembali ke dalam paperbag."Apa kamu tidak malu!?" bentaknya.


"Kita kembar walaupun memiliki wajah yang berbeda. Tinggal bersama di rahim mama, tidak memakai baju selama 8 bulan di dalam perut," jawaban dari Ferrell.


"Dasar dokter sinting!! Mana ada sel telur yang baru dibuahi langsung memakai baju!!" bentak Febria.


"Nanti aku pesankan baju pada bibi Nindy khusus untuk sel telur. Pakaikan pada calon anak kalian..." candaannya.


Kesal? Tentu saja, sebuah candaan namun membuat mereka sulit berkata-kata pada dokter yang biasanya selalu serius ini. Pasangan suami-istri yang hanya dapat menghela napas menatap Ferrell.


Bersambung