My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Aku Harus Apa



🍀🍀🍀🍀 Warning!! Novel ini happy ending!!🍀🍀🍀🍀


Berat, benar-benar terasa berat, napas pemuda itu terasa panas. "Steven?" panggilnya, merasa tidak ada pergerakan. Hingga pemuda itu mengerahkan seluruh tenaganya, bangkit dari tubuh Febria. Berusaha berbaring di sampingnya, masih berada di lantai tempat parkir.


Febria segera duduk di lantai memeriksa keningnya,"Panas, kenapa tidak menghubungi supir atau ambulance?" tanyanya, meraih handphone di saku Steven.


"Tidak, jangan pergi," tangannya menghentikan Febria yang hendak menghubungi ambulance, berusaha keras untuk bangkit, memeluk erat tubuhnya.


"Aku tidak akan pergi, kita ke kantormu ya?" ucapnya, membimbing Steven untuk bangkit, memapahnya menuju lift.


Mata Febria menatap ke arah sang pemuda, ini bukanlah yang pertama kalinya. Dahulu Steven setiap sakit, si rambut putih tidak pernah bersedia ke dokter. Hanya meminum obat, dan ingin disuapi tangan kecilnya. Tidak disangka saat dewasa masih sama.


"Febria, jangan pergi..." lirihnya lagi, menatap matanya.


"Aku tidak akan pergi," ucap Febria berjalan memapahnya hingga sampai pintu ruangan kerja mereka.


Steven tersenyum, sebenarnya dirinya dapat berjalan sendiri. Jika mengerahkan seluruh tenaganya, namun dipapah, menyenangkan rasanya diperhatikan olehnya.


Hingga pintu ruangannya itu terbuka, tubuhnya dibantu untuk berbaring diatas sofa. Matanya menatap ke arah Febria."Mandi dan ganti bajumu. Ada pakaian cadanganku di laci bagian bawah..." ucapnya, dengan nada lemah, menatap Febria yang gemetaran.


Gadis itu mengangguk, segera meraih kemeja dan celana panjang milik Steven berjalan menuju kamar mandi.


Suara batuk terdengar, Steven menghapus sedikit darah yang mengalir dari mulutnya menggunakan tissue, menyembunyikan dalam sakunya.


Tangannya meraih phonecellnya, menyadari Febria yang tidak akan mendengar pembicaraannya.


"Halo, Steven kenapa kamu belum pulang?" suara Eden terdengar dari seberang sana.


"Aku masih di kantor, malam ini aku ingin menginap. Kakak, bisa tolong carikan dokter pribadi untukku?" tanyanya.


"Kamu sakit? Siluman ular putih sepertimu bisa sakit?" Eden balik bertanya pada sang adik.


"Tentu saja bisa, karena itu cepatlah sembuh, bisa berjalan. Hingga aku dapat lepas dari kewajibanku pada Dark Wild. Aku ingin menikah, memiliki anak hidup tenang dengan istri dan anak-anakku..." Steven tersenyum dengan wajah pucatnya.


"Steven, apa kamu tidak menyukai profesi keluarga kita?" Eden menghela nafas kasar, menggerakkan kursi rodanya dekat jendela salah satu ruangan di rumahnya.


"Aku tidak menyukainya, karena itulah aku melarikan diri dari rumah saat berusia 6 tahun," jawabnya.


"Syukurlah kamu melarikan diri, jika tidak hanya akan ada aku seorang diri," air mata Eden mengalir, mengingat kematian saudara-saudaranya. Saling membunuh di tengah hutan yang lebat. Menderita kelaparan tanpa makanan. Eden? Saat itu dirinya hanya bersembunyi, tidak menginginkan kekuasaan.


Namun, siapa sangka pada pertarungan terakhir saudara tertua mereka bertarung hingga mengalami cidera serius. Masih memaksakan dirinya melawan Eden, hingga membuat sang adik tidak dapat berjalan. Sedangkan saudara tertuanya yang memenangkan gelar sebagai ketua, mati kehabisan darah.


Itulah ayah mereka yang penuh ambisi, karena itu walaupun hanya tinggal Steven harapannya, masih didik dengan keras. Kemampuan Steven saat ini mungkin setara dengan kakak tertuanya yang telah meninggal. Tangannya gemetar, bagaimanapun Steven adalah satu-satunya saudaranya yang masih hidup. Karena itu, dirinya akan mengabulkan semua keinginannya melindungi sang adik bagaimanapun caranya.


"Kakak, aku ingin tidur sebentar..." ucapnya lirih.


"Buatlah anak yang banyak, kamu menginap di kantor dengan sekretarismu kan? Aku tau semua akal bulusmu..." Eden mengenyitkan keningnya.


"Sedikit lagi, jika restorasi sudah selesai aku akan melamarnya. Dulu kakak pernah bercerita, ayah adalah pebisnis yang memiliki perusahaan kecil. Tapi perusahaannya dihancurkan oleh sekelompok mafia, beberapa karyawannya dibunuh dihadapannya, saat itulah ayah berubah. Karena itu, aku ingin mengembalikan perusahaan ayah, ingin melihat ayah yang dulu sebelum aku lahir..." ucapnya tersenyum.


Seorang pria berbaring di sana dengan segala alat penunjang hidupnya."Ayah dengar, Steven melakukan ini untuk ayah. Saat ayah bangun nanti jangan memarahi atau memukulnya, tolong sayangi kami, jadilah seperti dulu..." ucapnya memegang jemari tangan sang ayah yang masih terbaring dalam keadaan koma.


***


Steven berusaha bangkit, mengambil beberapa jenis obat di lacinya. Meminumnya dengan cepat, berusaha untuk tidur setelahnya.


Hingga sekitar satu jam kemudian, tangan dingin terasa di dahinya, matanya mulai terbuka. Gadis itu masih disini, mengenakan kemeja kebesaran miliknya. "Tidak panas lagi, kamu tadi minum obat?" tanyanya.


Steven mengangguk kemudian tersenyum, "Aku menyukaimu,"


Satu kecupan tiba-tiba mendarat di keningnya, sang pemuda yang berusaha bangkit walaupun tubuhnya masih lemas. Menatap mata gadis itu lekat.


"Usiamu 21 tahun, harusnya aku dulu tidak meninggalkan rumah. Hingga kita sudah memiliki anak sekarang..." guraunya tersenyum.


"Kamu akan meniduri remaja!?" Febria bersungut-sungut kesal.


"Aku akan memohon pada mama untuk menikahimu segera saat usiamu matang untuk mengandung anak kita. Andai saja, aku tidak harus pergi..." jawabnya.


"Untunglah kamu pergi!! Kalau tidak..." kata-kata Febria terpotong.


"Kalau tidak entah berapa banyak kecebong milikku yang berenang dan berkembang di sini," Steven mulai duduk di sofa menunjuk ke arah perut Febria.


"Kamu sekarang sedang sakit, kalau aku menginjak pisangmu kamu juga tidak akan bisa melawan!! Jadi tutup mulut mesummu!!" ucapnya dengan nada tinggi.


Menyembunyikan otaknya benar-benar terkoneksi. Membayangkan bagaimana jika masa remajanya dihabiskan dengan pemuda ini. Pemuda yang mungkin akan masuk diam-diam ke kamarnya, saat kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kemudian menggodanya perlahan untuk melakukan dosa yang indah.


"Ini satu-satunya alat untuk menyenangkanmu, juga untuk memproduksi anak kita! Jangan merusaknya!" ucapnya serius.


"A...a...aku tidak mengatakan menyukaimu! Juga kita tidak memiliki hubungan jadi..." kata-kata Febria terpotong.


Steven mengenyitkan keningnya menatap tajam,"Jadi apa?"


"Jadi, aku tidak menyukaimu!!" teriaknya.


"Kamu mencintaiku, bukan si komposer. Nona muda ikut syuting film India, hujan-hujanan hingga basah kuyup demi menemui pria yang dicintainya," ucap Steven mendekatkan wajahnya pada Febria.


"I...itu bukan perasaan ci...cinta, tapi..." jantung Febria berdebar cepat, seiiring wajah itu yang semakin dekat, otaknya kelu untuk berfikir membuat alasan.


"Memakai kemeja bosmu tanpa celana panjang milikku, untuk menggodaku seperti di film Korea," wajah itu semakin dekat, bahkan menarik dirinya ke dalam pangkuan.


"Itu karena celana panjang milikmu kebesaran. Lagipula kemeja ini juga lumayan panjang..." jantung Febria tidak dapat dikondisikan, berdebar cepat tidak menentu. Kala napas pemuda itu menerpa lehernya.


"Begitu? Tapi aku tergoda, kamu berhasil menggoda ku. Aku harus apa sekarang?" tanyanya mengecup leher Febria membuatnya semakin menegang lagi.


"Katakan aku harus apa..." bisik Steven di telinganya.


Bersambung