
Pria itu terdiam menatap ke arah putrinya yang masih menadahkan tangan. Inikah anak kebanggaannya?
"Bukannya kamu kuliah di Australia, kenapa..." kata-kata Antoni disela, sang anak menatap tajam padanya.
"Ayah tidak adil!! Aku sudah mengetahui tentang pernikahan Kristin!! Ayah menjodohkannya dengan anak pemilik perusahaan ternama kan!? Mendorong dia untuk hidup bagaikan putri bangsawan dengan mudah!!"
"Sedangkan aku, aku dipaksa harus kuliah, menempuh pendidikan untuk menjadi sukses suatu hari nanti!! Percuma sukses, kalau hasil akhirnya tetap saja harus bekerja pada orang!! Seharusnya ayah menjodohkanku dengan anak konglomerat!!" bentaknya yang segera pulang dari Australia, setelah mendengar pernikahan kakak tiri yang tinggal terpisah dengannya.
Marah!? Tentu saja, sejak kecil Antoni selalu memberikan kehidupan sempurna untuknya. Tidak menunjukkan rasa kasihnya pada Kristin. Namun apa!? Kenapa tiba-tiba Kristin menikahi pria kalangan atas.
Ini adalah rencana busuk ayahnya, yang lebih menyayangi sang kakak. Ayah yang tidak adil! Itulah anggapan Airin tentang ayahnya saat ini. Guci besar diambilnya, di banting di hadapan sang ayah.
"Berikan aku uang!! Jika ayah tidak mau menjodohkanku dengan pria kaya, aku akan mencarinya sendiri!!" teriaknya, mengepalkan tangannya emosi.
"A... Airin, Kristin mengenalnya sendiri, ayah tidak pernah menjodohkannya. Sebaiknya kamu kembali ke Australia ya? Pendidikanmu..." kata-kata Antoni terpotong, Elvira yang duduk di sofa ruang tamu menyelanya.
"Dia sudah dikeluarkan, karena sering tidak hadir, dan jika hadirpun dalam keadaan mabuk berat," kata-kata dari mulut Elvira yang sibuk dengan handphonenya, membeli pakaian secara online.
Antoni mengepalkan tangannya, entah dimana tanggung jawab Elvira sebagai seorang ibu."Bagaimana kamu mendidiknya hingga menjadi begini!?" bentak Antoni menatap istri keduanya.
"Aku!?" Elvira mulai bangkit, melempar handphonenya asal,"Seharusnya kamu bercermin! Sudah tua, bangkotan, bau tanah! Seharusnya kamu merasa beruntung menikah denganku yang lebih muda 15 tahun dari usiamu!! Bukannya menikah lagi, sibuk liburan ke luar negeri dengan istri mudamu!"
"Keyla juga istriku! Lagipula kamu juga istri kedua yang dulu merayuku dengan setiap hari mendatangi toko. Bersedia menjadi istri kedua berbagi dengan Mika. Tapi sekarang ini apa!? Mika sudah meninggal, aku hanya memintamu berbagi dengan Keyla. Apa sulitnya!?" ucapnya tidak mengerti mengepalkan tangannya menahan amarahnya.
"Apa sulitnya!? Kamu fikir saja sendiri, apa ada wanita yang dengan ikhlas rela cintanya dibagi? Kamu fikir almarhum Mika juga rela!?" kata-kata dari mulut Elvira menatap sinis.
"Tapi Mika dulu..." kata-kata Antoni disela.
"Hanya wanita bodoh yang mau bertahan bersama pria yang membagi cintanya dengan madu yang lebih cantik. Menerima kasih sayang yang tidak adil. Mika menjadi lebih pintar sebelum kematiannya, hingga memilih untuk bercerai, mati sebagai janda terhormat," Elvira semakin mendekat, mencium sisa aroma parfum yang ada di tubuh Antoni, parfum wanita yang dipakai Keyla."Bau maduku masih melekat di pakaianmu,"
"Ibu! Ayah! Dengar atau tidak!? Aku perlu uang sekarang!!" bentak Airin kembali.
Antoni menjambak rambutnya sendiri, menghela napas kasar, merogoh sakunya. Mengirim uang ke rekening putrinya.
Tanpa permisi atau mengucapkan terimakasih, sang anak meraih kunci mobil. Berjalan meninggalkan rumah, guna mencari kesenangan duniawi.
Pria paruh baya itu terdiam, mengepalkan tangannya. Kenapa dirinya tidak bahagia juga? Memiliki kekayaan dua orang istri yang cantik, seorang anak, apa yang kurang?
"Keyla sedang hamil, lagipula apa kebiasaan Airin yang pemberontak bisa berubah dengan mudah!? Tidak kan!?" ucapnya meraih kunci mobil. Enggan berdebat lebih banyak lagi.
"Br*ngsek..." teriakan nyaring dari mulut Elvira, mungkin begini juga perasaan Mika dahulu, kala dirinya mengambil kasih sayang Antoni.
Perasaan Mika? Bahkan akan terasa lebih buruk, mengingat telah menemani Antoni berjuang dari nol. Tinggal di rumah tua yang sempit, hanya mendapatkan jatah uang 1.000.000 rupiah setiap bulannya. Istri pengusaha batubara yang harus bekerja ditengah fisiknya yang sakit-sakitan. Hingga akhirnya sang istri pertama yang memilih bercerai, di ujung usianya. Terlepas dari kewajibannya untuk selalu mencintai Antoni, menemani kala susah dan senang.
***
Mobil kembali melaju, fikirannya benar-benar kosong. Tidak dapat tenang besama Keyla maupun Elvira, dua orang wanita cantik yang tidak dapat memberikan kebahagiaan baginya. Hanya menambah beban di hatinya.
Istri ketiga yang menyukai suami anaknya sendiri. Istri kedua yang terus menerus menyalahkannya. Tidak memiliki tujuan, hingga entah kenapa laju mobilnya terhenti di rumah Mika. Rumah yang sertifikatnya telah diberikan almarhum mantan istrinya, kala mereka masih ada dalam proses perceraian.
Wanita yang tertunduk dengan wajah pucat di pengadilan, menyerahkan sertifikat rumah dan sebidang tanah warisan dari orang tua Mika, 'Ini kompensasi karena sudah menafkahi kami selama ini. Jangan menganggapku sebagai istrimu lagi, dan Kristin dia tidak berhutang apapun padamu, jangan menganggapnya putrimu sama seperti dahulu. Agar tidak ada dendam antara kalian, biarkan dia hidup tenang,'
Tidak memiliki tempat yang tenang untuk melangkah, pada akhirnya Antoni memasuki rumah tua itu. Listrik sudah dicabut, saklar lampu tidak berfungsi sama sekali.
Mika sudah tidak ada di sana lagi, istri pertamanya telah kehilangan kesabaran untuk menunggunya pulang. Tinggal dengan Elvira dan Keyla yang cantik selama ini.
Bahkan memaksakan dirinya menyusul ke Singapura juga percuma. Mika mungkin menganggap Antoni suaminya yang berjualan kopi dan snack keliling telah meninggal. Agar dirinya dapat menerima segalanya, menerima Antoni yang memiliki beberapa toko besar menikahi Elvira, Antoni sang pengusaha batubara menikahi Keyla.
Rumah itu telah dipenuhi dengan debu tebal, dan sarang laba-laba. Harum aroma teh manis yang disaring tidak tercium lagi. Seorang gadis kecil yang bermain dengan tanah membuat kue lumpur, tidak mempunyai uang untuk membeli mainan. Kini telah tumbuh dewasa, menikah, membangun rumah tangganya sendiri.
Menyisakan dirinya seorang diri yang tidak pernah bahagia. Walaupun memiliki perusahaan besar, walaupun memiliki dua orang istri rupawan.
Antoni mulai berjalan, menatap sebuah foto pernikahan tua disana. Wajah cantik istrinya kala itu, bersanding dengan dirinya, wajah cantik yang terbakar sinar matahari menyengat kala membantunya berjualan keliling. Mika tidak jelek, dirinyalah yang membuat kulit putih itu menjadi hitam.
Menyesal? Tidak, dirinya tidak menyesal karena Airin hadir akibat pernikahan keduanya dan anak dalam kandungan Keyla juga akan hadir karena pernikahan ketiganya.
Suami yang bodoh bukan? Mungkin memang benar Antoni yang mencintai Mika telah menghilang. Namun setetes air mata mengalir di wajah keriputnya. Dengan segera diseka olehnya.
"Aku bahagia, aku bisa bersenang-senang, jika Elvira dan Keyla tidak bisa membahagiakanku akan ada wanita lain yang dapat membahagiakanku..." gumamnya, meletakkan foto pernikahan lama itu kembali. Pintu rumah kecil itu dikuncinya. Meninggalkan kenangan lama, dari istri pertama yang menunggunya untuk pulang.
Bersambung