My Kenzo

My Kenzo
Darah



"Amel..." panggilnya memeluk tanpa rasa canggung.


"Aiko?" Amel tersenyum hangat padanya.


"Ini oleh-oleh untukmu, aku tidak punya teman, jadi..." Aiko tertunduk nampak ragu, sejenak kemudian berusaha tersenyum."Jadi mau menghabiskan waktu denganku, hanya waktu berdua bagi wanita..." ucapnya menunjukkan dua lembar tiket bioskop.


Amel tersenyum mengangguk,"Tunggu sebentar, 15 menit lagi waktu pulang..."


***


Matahari sore menerpa tubuhnya, Aiko menonggakkan kepalanya memejamkan matanya sejenak. Berdiri seorang diri di samping pintu mobilnya.


Gadis itu menghela napas kasar, tersenyum menatap kedatangan Amel. Pintu dibukakan nya,"Silahkan masuk..." ucapnya.


"Terimakasih..." Amel tersenyum padanya.


Tidak ada banyak pembicaraan, satu yang pasti Amel adalah tipikal sahabat yang baik. Mendengarkan apapun yang dikatakan Aiko tentang hidupnya. Bercerita tentang lukisan dan filosofi nya. Tidak ada kelemahan dan rasa iri dalam diri Amel.


Hingga satu pertanyaan yang dikatakan Aiko disela kegiatannya mengemudikan mobil,"Keluargamu dimana? Siapa saja mereka?"


Amel menghela napas kasar,"Ibu dan ayahku sudah meninggal, ibu sambung yang membesarkanku. Ada seorang kakak laki-laki bernama Glen dan seorang adik perempuan bernama Nindy, satu lagi..."


Ekspresi wajah Amel berubah suram,"Seorang ayah sambung bernama Alwi, aku bersyukur dia sudah meninggal...aku jahat bukan?" lanjutnya menghapus air matanya yang tiba-tiba keluar.


Raut wajah Aiko ikut berubah. Ayah sambung, dua kata yang juga dibencinya."Tidak, memang apa yang dia lakukan?" tanyanya berusaha tersenyum, mencengkram stir mobil dengan erat.


"Banyak, orang yang hampir melecehkan saudariku, mengambil uang secara paksa, berselingkuh dari ibuku, memukuliku dan kakakku. Terkadang aku berfikir, sejatinya aku bukanlah orang yang baik... karena tidak sedih sama sekali atas kepergiannya," Amel tersenyum getir, mengambil tissue, tanpa malu mengeluarkan seluruh ingusnya.


Membunuh? Jemari tangan Aiko gemetar, menatap ke arah Amel. Orang yang tidak munafik sepertinya tidak seharusnya mati...


"Aku tidak mempunyai hadiah balasan, jadi bagaimana kalau ini..." Amel mencabut stiker handphonenya, stiker berbentuk bintang yang dapat bersinar. Menempelkan pada handphone Aiko.


"Kamu tidak jahat, orang sepertinya, ayah tiri yang kejam memang memang harus mati..." Aiko menarik Amel memeluknya erat. Menemukan orang yang sepaham dengan dirinya. Orang yang mungkin mengalami penderitaan serupa.


***


Hal yang mereka lakukan? Semua layaknya sahabat. Satupun prilaku Amel tidak menyinggung Aiko, berbeda dengan Seina, jauh berbeda. Sifat, tindakan, dirinya merasa nyaman dengan kehadiran Amel.


Mirip seperti dirinya sendiri, menyukai dan memiliki pandangan serupa. "Ayo kita bermain!!" Mereka tertawa bersama mengikuti tarian dari layar permainan di hadapan mereka.


Masuk ke bioskop, dua jam kemudian, keluar dan kecewa bersama. Mungkin karena ending film yang tidak sesuai keinginan mereka.


"Jal*ng!!" Amel membentak.


"Kenapa wanita rubah sepertinya harus menjadi pemeran utama..." Aiko membenarkan.


Kemudian menangis bersama di depan bioskop, mengingat ending yang menyedihkan saling berbagi tissue.


Niat untuk membunuh? Seperti dilupakan olehnya. Kekasih? Dirinya menginginkan Tatewaki, Ayah? Dirinya menginginkan Hiasi, dan Sahabat....Ketiga hal yang tidak ingin dibaginya.


Amel tidak menyukai Tatewaki, dia bukan orang bodoh seperti Seina. Sahabat yang baik, tidak boleh ada yang dekat dengannya terkecuali Aiko. Pemikiran posesif yang perlahan akan disimpannya.


Hingga phonecell Amel berdering, dengan nama pemanggil Kenzo.


"Hallo..." ucap Amel menghela napas kasar, menahan rasa senangnya sudah dihubungi, bagaikan anak SMU yang pertama kali memiliki kekasih.


"Sudah makan?" tanya Kenzo tersenyum sendiri, pria yang kasmaran? Jatuh cinta untuk pertama kalinya? Mungkin itulah, dia bingung harus mengatakan apa.


Hingga, ada seseorang yang merebut phonecell Kenzo,"Biar aku yang mengatakannya!!" kesalnya, dalam situasi genting, menyaksikan dua remaja kasmaran,"Amel!! Ini Frans, bisa katakan pada Aiko, kami menunggunya di atap gedung parkir mall?" tanyanya.


"Kalian disini!?" Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Iya, jangan banyak bertanya, sampaikan saja yang kami suruh!! Setelah itu duduk dengan tenang, makan di salah satu restauran. Jangan mengikuti Aiko!! Mengerti!!" bentak Frans.


"Iya...iya ...Bos dan asisten sama saja, penindas!!" cibirnya mematikan panggilan sepihak.


Aiko mengepalkan tangannya,"Siapa?" tanyanya tersenyum.


"Kenzo, dia mengatakan, dia ada di atap gedung parkir mall. Dan ingin bicara denganmu..." jawab Amel menghela napas kasar.


"Tunggu disini ya? Aku akan segera kembali..." saling menyingkirkan? Mungkin Aiko dan Kenzo memiliki tujuan serupa.


Amel mengangguk, menatap Aiko yang meninggalkannya. Penasaran? Tentu saja, gadis itu hanya berbohong. Tentunya dirinya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


***


Jok belakang mobil dibukanya, senjata dipersiapkan dengan peluru penuh. Kenzo mengetahui segalanya, mungkin Aika menceritakan segalanya pada Kenzo.


Selain itu, pria menjijikkan yang mungkin akan lebih memilih Aika yang sempurna daripada Amel. Alasan yang cukup untuk menjadikan Kenzo sasaran selanjutnya.


Langkah demi langkah, menapaki tangga darurat. Wajahnya tersenyum, bermaksud menyingkirkan sampah berikutnya. Pintu dibukakan, dua orang pria berdiri di sana.


"Kenapa memanggilku?" Aiko mengenyitkan keningnya. Rambutnya yang panjang terkena terpaan angin musim semi. Dress putih indah selutut yang dipakainya, menambah indah penampilannya.


Kenzo tersenyum,"Amel adalah Seina..." dustanya."Ayahmu membatalkan kerja samanya denganku. Karena itu, bujuk dia untuk kembali kesepakatan kerja sama seperti semula. Jika tidak Seina akan..." kata-kata Kenzo terhenti mendengar tawa dari mulut Aiko.


Gadis itu menghela napas kasar,"Seina sudah benar-benar mati. Aku memastikannya sendiri, napasnya terhenti, denyut nadinya sudah tidak ada... Siapa yang akan percaya kata-katamu,"


"Wajah mayat saat ditemukan rusak, Amel adalah Seina. Mayat di tebing bukanlah Seina, aku sendiri yang menemukannya dan menyelamatkan nyawanya..." Kenzo berucap meyakinkan, berdiri dengan jarak sekitar tiga meter dari Aiko.


"Benarkah? Akan aku katakan kebenaran dari kata-kata memuakan di mulutmu. Lagipula kamu akan segera mati..." Aiko menodongkan sebuah senjata api di tangannya, mengarah ke kepala Kenzo.


"Aku yang mendorongnya, karena tidak mati juga. Aku sendiri yang memukul kepalanya menggunakan batu. Hingga akhirnya napasnya benar-benar habis..." senyuman menyungging di wajah Aiko. Tidak menyadari titik merah berada di beberapa anggota tubuhnya. Tanda penembak jarak jauh mulai membidiknya.


"Turunkan senjatamu, atau kami akan mengambil tindakan..." ucap seorang anggota kepolisian, keluar dari tempat persembunyiannya. Mengamati situasi yang tidak kondusif lagi.


"Perangkap...?" tanyanya geram, menarik pelatuk senjatanya. Jika harus mati, maka harus membawa pria baj*ngan yang menjebaknya. Itulah yang mungkin ada dalam fikirannya.


Tapi diluar dugaan, Amel yang baru sampai memeluk Kenzo seakan menjadikan tubuhnya sebagai perisai.


Aiko menatap tidak percaya, namun terlambat, pemicu terlanjur ditariknya.


Dor...


Suara letupan senjata terdengar, darah mengucur di lantai atap gedung parkir itu deras. Bersamaan dengan polisi yang mendekat dengan cepat melumpuhkannya.


Tangan Aiko gemetar... dirinya menitikan air mata kali ini, air mata yang berasal dari dalam hatinya...


"Ayah..."


Bersambung