
Seorang pelayan wanita, berjalan menelusuri lorong. Semua pasang mata melirik padanya, pelayan yang tetap saja tersenyum. Membebaskan adiknya yang ada dalam kondisi mengenaskan adalah tujuannya. Ayahnya sudah beberapa hari ini tidak dapat dihubungi entah kenapa.
Dalam bayangannya, Febria tengah menangis dengan tubuh yang memar pelipis mengeluarkan darah segar. Tanpa mengenakan sehelai benangpun,"Sudah!! Tolong sudah!! Ampuni aku..." lirih sang pemain harpa cantik kala sang pemimpin Dark Wild kembali menikmati tubuhnya. Mengikatnya di sandaran tempat tidur, mencumbui sembari mengambil ikat pinggang mencambuk tubuh sang adik. Itulah yang ada dalam imajinasi Elina, mengingat hingga sekarang handphone Febria tidak dapat dihubungi.
Rumah milik keluarga Hudson tempatnya berada saat ini. Membawa pistol kecil yang diikat di pahanya, terlihat tersembunyi di balik roknya. Satu persatu ruangan dimasukinya, hingga sampai pada pintu terbesar di rumah tersebut. Kamar yang diyakininya sebagai kamar pemimpin Dark Wild. Dengan cepat tanpa permisi pintu dibukanya. Namun sesuatu yang tidak lazim terlihat, seorang pria yang duduk di kursi roda tengah berusaha memakai boxernya.
Suasana tiba-tiba terasa canggung. Tempat tidur rapi dan kosong pertanda Febria tidak ada di kamar tersebut.
"Palayan sialan!" Eden segera menutup modalnya untuk membuat anak dengan kedua tangannya. Masih kesulitan menaikkan boxernya.
"A...a...aku salah kamar, maaf..." ucap Elina gelagapan, hendak pergi.
"Tunggu!! Diam disana atau aku akan menyuruh orang untuk membunuhmu," perintah Eden, seketika Elina terdiam ketakutan. Dirinya hanya sendiri, melawan banyak orang itu artinya mengantarkan nyawa.
Eden segera memaksakan boxer yang baru dipakainya untuk naik. Kemudian meraih piama berbentuk yukata pria miliknya, lalu mengikatnya asal.
"Berbalik!! Kemudian melangkah kemari!!" perintahnya.
Elina menurut, mencari celah yang tepat agar dapat melarikan diri. Sedangkan Eden mengenyitkan keningnya, sudah bertahun-tahun dirinya tidak dapat bereaksi pada wanita usai cidera serius yang dialaminya.
Steven sudah menikah, dirinya juga ingin menguji apa dirinya sudah dapat bereaksi pada wanita? Hingga Elina yang sudah dekat dengannya ditarik ke pangkuannya.
Dirinya sudah terbiasa, sudah mengetahui nama dan wajah pelayan-pelayan di rumahnya yang berjumlah puluhan. Wanita ini bukan pelayan, atau dia mata-mata? Rok Elina dimasuki tangannya dengan cepat, menemukan senjata api berukuran kecil disana.
Elina mencoba lepas dari seorang pria cacat yang seharusnya tidak berdaya. Namun sulit tenaga dan gerakan tangannya yang cepat mengunci dirinya. Sabuk hitam karate sepertinya percuma di hadapan pria cacat yang kini mengacungkan pistol kecil milik Elina sendiri ke kepalanya.
"Kamu dari kelompok mana? Dragon, atau orang-orang Doom? Mungkin kelompok lainnya?" tanyanya, masih mengacungkan senjata ke kepala Elina, yang mengeluarkan keringat dingin tidak berani bergerak.
Matilah aku, dia hanya duduk di kursi roda, tapi kenapa dengan mudah mengunci pergerakanku... gumamnya dalam hati, sekujur tubuhnya gemetar merasakan ini adalah akhir hidupnya.
"A...aku..." Elina bergeser-geser di pangkuan Eden ketakutan. Hingga wanita itu membulatkan matanya merasa ada benda yang tiba-tiba mengganjal di bawah sana. Begitu juga dengan Eden menatap wanita di pangkuannya, yang tidak sengaja membuat gesekan. Sungguh suatu keajaiban setelah 15 tahun alat reproduksinya koma, akhirnya berfungsi.
"Maaf!! Aku harus pergi!!" Malu, Elina benar-benar malu untuk pertama kalinya duduk di pangkuan pria, merasakan ada benda yang perlahan tumbuh disana. Benda apa? Dirinya mengetahui tapi terlalu malu membayangkan.
Namun jika bergerak sedikit saja mungkin kepalanya akan di tembak oleh pemuda keji ini.
Eden tersenyum, sedikit tertawa kecil. Karena putus asa dengan dokter, dulu ayahnya pernah mengirim wanita penghibur untuk setidaknya membuatnya dapat memiliki keturunan. Namun apapun yang dilakukan sang wanita penghibur, telanjang, bahkan memainkan modalnya memiliki anak, tidak mempengaruhinya.
Tapi setelah belasan tahun ada kejadian sekonyol ini? Pemuda itu ingin mencoba hal yang lain,"Cium aku atau aku akan membunuhmu..." ucapnya.
"Ini pelecehan," Elina yang biasanya angkuh kini menangis. Tapi sejenak tangisannya terhenti, mendengar suara pelatuk di dekat kepalanya.
"A...aku menurut..." lanjutnya gelagapan, sumpah demi apa, dirinya menyesal untuk masuk dan menyelamatkan Febria. Seharusnya dirinya setidaknya membawa beberapa pengawal.
"Lakukan dengan benar, jangan jijik. Lakukan seolah-olah aku adalah orang yang kamu inginkan..." perintahnya.
Elina memejamkan matanya, meraih bibir Eden. Pemuda itu memasuki celah mulutnya. Menggoda lidahnya untuk saling membelit.
Deru napas mereka sama-sama tidak teratur."Sudah aku ingin pergi!!" ucapnya hendak turun, benar-benar suatu penghinaan yang membuatnya malu. Sesuatu yang didudukinya terasa semakin keras. Orang ini memiliki niat buruk padanya.
"Sudah aku bilang! Turuti perintahku atau nyawamu berakhir! Kita berciuman lagi, tapi kali ini balas dengan benar..." bisiknya dengan suara berat.
Sudah anggap saja hanya dihukum membersihkan kloset... batinnya, dengan cepat memejamkan matanya, menangkup pipi Eden, bibir pria itu dijelajahinya. Perlahan Eden memejamkan matanya, merasakan lidah Elina bergerak tidak henti, saling membelit dengannya.
Ini benar-benar sulit untuk diungkapkan, karena kecantikan wanita bermata coklat itu? Entahlah, namun wanita ini harus dimilikinya jika ingin menikah atau memiliki keturunan nantinya.
Eden bagaikan orang yang putus asa, ada banyak wanita cantik, ada banyak wanita baik-baik, ada banyak wanita pintar. Tapi tidak ada yang dapat membuatnya tergoda seperti ini.
Ini kesempatan bagi seorang Elina, walaupun bibir pemuda dengan aroma mint ini tidak dipungkiri membuatnya terasa nyaman. Memberikan debaran aneh di setiap gerakannya. Tapi tetap saja, dirinya harus berhasil melarikan diri dari si lumpuh gila ini.
Dengan cepat senjata api miliknya yang tadinya direbut Eden. Kini kembali dimiliki Elina, turun dari kursi roda, mengacungkan senjata pada Eden.
"Katakan dimana pimpinan kalian menyekap adikku!!" teriaknya, seakan tidak segan-segan menembak Eden.
"Bibirmu rasanya enak," Eden mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Gemas menatap wanita yang bahkan hanya pernah dilihatnya sekali."Pengawal!" panggilnya, bersamaan dengan masuknya orang-orang bersenjata yang mengelilingi Elina.
Kenapa jadi begini? Febria sialan, kenapa kamu bisa tertangkap kelompok mafia!? Sekarang bagaimana kakak menyelamatkanmu... gumamnya dalam hati.
"Bebaskan aku dan adikku, aku mohon..." pintanya mulai menangis, di hadapan beberapa senjata api. Pandai bela diri? Seakan semua kemampuannya menghilang kala dihadapankan pada situasi hidup dan mati.
"Siapa nama adikmu?" tanyanya.
"Febria!! Kalian menyekapnya kan!? Memaksanya berhubungan dengan pimpinan kalian..." Elina menangis ketakutan, di usianya yang menginjak hampir 40 tahun, ini kedua kalinya dirinya menangis. Ketika diselamatkan oleh Kenzo dan saat ini, berhadapan dengan Eden pria menyebalkan yang super mesum.
"Febria!?" Eden menipiskan bibir menahan tawanya, tenyata wanita ini adalah ipar Steven.
Tapi satu-satunya wanita yang memberikan kesempatan untuk kesembuhannya ini, tidak boleh dilepaskannya. "Aku adalah kakak dari pemimpin Dark Wild, Febria akan dibebaskan, jika kamu bersedia menjadi penggantinya, menemani dan mengikuti setiap perintahku,"
"Maka aku akan meminta adikku untuk berhenti menganiaya adikmu di tempat tidur. Membebaskannya untuk pergi kemanapun," kata-kata ambigu keluar dari mulut Eden.
Elina menunduk berfikir sejenak, pemuda yang duduk di kursi roda ini mungkin akan melecehkannya lebih buruk lagi dari yang sebelumnya hanya berciuman. Namun, Febria? Anak kandung ayah angkatnya? Dirinya diperlakukan baik, setara oleh Kenzo dan Amel dengan kedua anak kandung mereka.
Mungkin ini untuk membalas budi, melepaskan Febria yang masih terlalu muda dari penyiksaan pimpinan mafia.
"A... aku setuju, tapi jangan menyentuhku," ucapnya menurunkan senjata tertunduk dengan nada suara bergetar.
"Tidak mau, aku ingin kamu menyentuh tubuhku. Begitu juga, aku yang dapat mempermainkan tubuhmu sesuka hati," jawaban dari mulut Eden.
Ini sama dengan pelecehan, dirinya hanya boleh disentuh oleh suaminya saja,"Kalau ingin menyentuhku, harus menikahiku!!" ucapnya, berharap Eden menolak, membiarkan dirinya dan Febria pergi.
"Deal,"
Bersambung