
Suara yang sangat nyaring, tahu bulat digoreng hangat-hangat 500an. Dirinya membantu sang ayah berjualan pada sore hari. Satu persatu dimasukkannya ke dalam bungkusan, beberapa pengendara memesannya untuk sekedar oleh-oleh dibawa pulang.
Ayahnya sendiri bernama Hasan, aneh bukan? Sang ibu bernama Kamila, ayahnya Hasan, sedangkan anaknya Glory. Tentu saja ini karena sang ibu yang ingin kompak memakai nama elite untuk anaknya seperti yang Ratna lakukan.
Glory menghela napas kasar, hari ini benar-benar bahagia rasanya. Bersama dengan Ken, hatinya bagaikan berbunga-bunga, tersenyum-senyum sendiri.
Hingga sebuah mobil merah berhenti di dekatnya, tiba-tiba kaca jendela pengemudi terbuka. "Pesan tahu 5000," ucapnya.
Glory menghela napas kasar, walau bagaimanapun pembeli adalah raja bukan? Wanita paling sempurna itu duduk di kursi pengemudi, dengan pakaian yang terbuka, bagaikan ibu-ibu keluarga berencana yang siap menyusui anaknya.
Seorang pemuda rupawan ada disampingnya, tersenyum acuh. Sedangkan dua sahabat Grisella yang lain ada di kursi penumpang bagian belakang, dengan pakaian yang sama minimnya.
Tujuan yang sudah bisa ditebak olehnya jika bukan tempat balapan liar, tentunya club'malam, memperlihatkan dirinya yang paling menonjol, paling dipuja banyak pria, tarian sensual dengan lekukan tubuh indah, rambut digerai berjingkrak menikmati musik. Hingga harumnya aroma bunga muda yang tercium dapat diendus banyak kumbang.
"Ini!! Mana uangnya?" Glory menadahkan tangannya.
"Ada yang mau tahu?" tanyanya Grisella menawarkan pada teman-temannya.
Semuanya acuh sibuk dengan gadget masing-masing. Hanya pria yang ada di sebelah Grisella yang menjawab, pria yang lebih dewasa, mungkin seorang mahasiswa atau telah bekerja."Aku tidak tertarik pada makanan murah, apa dia temanmu?" tanyanya pada Grisella.
"Dia hanya tetangga yang selalu iri, sirik dengan urusan orang lain. Ingin selalu bersaing denganku tapi selalu jadi nomor dua, jangan difikirkan," gumam Grisella tersenyum.
Sang pria menatap dari atas hingga bawah, mungkin gadis SMU yang memiliki banyak rasa ingin tahu mudah bangga dan diperdaya seperti Grisella. Jika beruntung mungkin masih perawan, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, menatap sang remaja polos tetap terlihat cantik walau tanpa riasan makeup.
"Kamu cantik. Mau ikut kami? Nanti aku traktir..." kata-kata yang keluar dari mulut sang pria tertuju pada Glory. Setelah merasakan surga dunia sekali, mungkin gadis muda ini akan ketagihan seperti Grisella.
"Kak Tio jangan mengajaknya!!" bentak Grisella bersungut-sungut kesal.
Tio tersenyum, Grisella memang lebih cantik dengan riasan dan kulit indah terawatnya. Anak SMU ini tidak akan dilepaskannya,"Kamu tetap yang tercantik sayang," rayuan sang pria, mengecup bibir Grisella sekilas, kemudian mengelus rambutnya.
Glory mengenyitkan keningnya, sudah memiliki Ferrell yang lebih rupawan tapi masih saja mencari yang lain. Dirinya tidak kagum, tapi entah kenapa Kamila menganggap Grisella lebih dari segalanya.
Ratna selalu mengoceh, Grisella selalu belajar hingga larut, mengikuti banyak khursus, akan memiliki penghasilan sendiri di usia muda setelah akan berkarir menjadi penyanyi. Sedangkan Kamila yang tidak pernah keluar rumah, hanya mengangguk penuh kekaguman, menginginkan putrinya Glory seperti Grisella yang pandai dalam segala hal.
Hal itu tidak penting lagi bagi Glory, terserah Grisella dikagumi banyak pria di club'malam. Dirinya menjadi pacar Ken, itulah tujuan utamanya. Hingga Glory kembali menadahkan tangannya tidak peduli,"5000," ucapnya meminta bayaran.
Grisella mengenyitkan keningnya, kemudian tersenyum, "Maaf, tapi aku berubah fikiran, tidak ada orang di mobil ini yang menyukai makanan berminyak, tidak baik untuk kesehatan hanya membuat gemuk..." ucapnya melempar bungkusan tahu ke trotoar.
"Ini uangnya, aku berbaik hati memberikan uang amal seharusnya kamu berterimakasih," lanjutnya melempar uang 5000 rupiah pada Glory kemudian kembali menginjak pedal gas-nya meninggalkan tempat tersebut.
Hasan yang tengah menggoreng tahu di atas mobil pickup, menatap iba pada putrinya. Menghela napas kasar,"Sabar saja, jangan melawan," ucapnya berusaha tersenyum.
"Dapat tahu gratis pak, lumayan buat cemilan," ucap Glory penuh senyuman, memungut tahu yang masih terbungkus sempurna, tidak kotor sama sekali, kemudian memakannya.
Hasan mulai ikut tersenyum, tidak apa putrinya selalu peringkat kedua. Karena dirinya tau betapa sulitnya usaha putrinya untuk belajar sembari bekerja membantunya.
Hingga sudah hampir larut, saatnya bagi Glory untuk pulang, membawa tas ransel berisikan beberapa buku pelajaran, merenggangkan otot-ototnya meninggalkan sang ayah yang masih harus berjualan.
Benar-benar jatuh cinta pada sang anak baru...
Tidak menyadari dirinya melewati sebuah mobil hitam yang lumayan besar. Melompat-lompat dengan santainya, hingga, jemari tangannya ditarik seorang pria yang memakai masker.
Membawanya paksa ke dalam mobil hitam miliknya yang terparkir di tepi jalan raya. Seorang pemuda yang tiba-tiba membuka maskernya menampakkan wajah rupawannya. Dengan celana jeans hitam dan kaos putih, bagian luarnya dilengkapi jaket jeans hitam. Model rambut yang tanpa pome, terlihat natural, model rambut sang selebriti idola, tatapan mata tajam, alisnya yang tegas dan kulitnya yang putih. Membuat jantung gadis manapun akan berdebar hebat.
"Fe... Ferrell!?" Glory gelagapan, berusaha melepaskan diri, melarikan diri dari pemuda berbahaya ini."Calon tunanganmu Grisella akan ke club'malam besama pria lain. Le... lebih baik kamu menyusulnya," ucapnya gelagapan.
"Calon tunangan?" Ferrell mengunci pintu mobilnya, memojokkan Glory di ruangan sempit, wajahnya mendekat, mengamati baik-baik rupa sang gadis polos.
Sialnya, jantung Glory berdebar cepat, sensasi sama yang didapatkannya saat Ken menggenggam jemari tangannya. Tidak, tidak boleh dirinya tidak boleh jatuh cinta pada bintang yang tidak dapat dijangkau olehnya.
Harus tegas, hatinya hanya harus fokus ingin mendapatkan Ken.
"Aku tidak memiliki calon tunangan, jalannya hidupku tidak pernah diatur, bahkan oleh ibuku. Aku diberikan kebebasan, namun tetap dalam pengawasannya," bisik Ferrell, mengecup telinga Glory.
Darah gadis itu semakin berdesir hebat, debaran hatinya tidak dapat dikondisikan lagi. Pria ini sudah bagaikan pemain cinta profesional."Mau mencoba hal baru?" tanyanya sudah menahan rasa gemasnya dari pagi.
Spontan gadis itu mengangguk, namun sejenak kembali menggeleng, "A...aku tidak ingin berciuman lagi. Sudah ada orang yang aku sukai, lagipula kamu memiliki banyak penggemar, kenapa harus aku yang..." kata-kata Glory terhenti.
Ferrell tersenyum, mulut cerewet itu sungguh menggemaskan baginya. Semakin banyak mengomel semakin baik, bibir yang kini dibelai lembut jemari tangannya.
"Berusahalah tidak membalas, maka aku akan percaya kamu menyukai pria lain," ucapnya dengan napas dingin beraroma mint menerpa wajah Glory.
Bertekuk lutut, tubuhnya luluh kala bibir mereka bersentuhan. Mencoba mendorongnya pun percuma, tenaganya bagaikan diserap oleh gerakan bibir Ferrell yang menggoda.
Tidak memiliki pijakan, ini benar-benar sulit untuk di tahan. Otaknya benar-benar dilumpuhkan, oleh lidah yang bergerak di mulutnya, membelai lidah sang remaja untuk membalas.
Dan benar saja, Glory memejamkan matanya, membalas gerakan lidah yang menggodanya. Tangannya mengalung tanpa sadar pada leher Ferrell, seakan tidak ingin ingin pangutan ini berakhir.
Masih bermain terkadang sepasang lidah yang keluar masuk dalam mulut mereka yang terhubung saling membelai dan membelit. Mencari kepuasan, yang tidak menemukan ujungnya. Tidak ada kata terlalu lelah atau bosan.
Hingga Ferrell, memisahkan bibirnya,"Apa pria yang kamu sukai dapat membuatmu seperti ini? Jika iya, bagaimana jika aku menyingkirkannya dari hidupmu.." ancaman darinya dalam sebuah senyuman.
"Dasar br*ngsek!!" bentaknya, tapi sekali lagi jiwa nasionalismenya keluar kala dihadapankan dengan 10 lembar gambar tokoh proklamator.
"Sudah telanjur, kita lakukan sekali lagi, lupakan sejenak pria yang kamu sukai. Maka aku akan memberikan lima lembar, uang jajan tambahan lagi. Kali ini kamu yang mulai dan harus lebih agresif..." bisiknya, menarik Glory ke atas pangkuannya.
Ken maaf...ini demi uang jajan!! Aku janji malam pertama setelah menikah, hanya untukmu... batinnya, memejamkan matanya, memonyongkan bibirnya.
Ferrell menipiskan bibir menahan tawanya,"Jangan tegang..." ucapnya menarik tengkuk Glory.
Bersambung