
Sinar matahari memasuki celah jendela kantornya. Mata pemuda itu terbuka sempurna, tersenyum menatap wajah di hadapannya. Mata, hidung, bibir, kulit semua adalah milik gadis kecil yang dinantikannya dari bayi. Kembali menenggelamkan Febria dalam pelukannya. Ingin merasakan perasaan nyaman ini lebih lama.
"Aku mencintaimu..." ucapnya memeluk tubuh yang hanya berbalut kemejanya yang kebesaran saja.
Benar-benar hari yang hangat untuknya. Memejamkan matanya masih berpura-pura tertidur. Merasakan pergerakan dari sang gadis kecil.
"Emh..." Febria sedikit bergerak mulai membuka matanya,"Tampan," gumamnya tersenyum.
Dada bidang pemuda itu disentuh dengan jari telunjuknya. Memastikan Steven masih tidur dengan nyenyak. Senyuman nakal terlihat di wajahnya merasakan tidak adanya respon.
Satu kecupan mendarat di dahi Steven, belum juga ada pergerakan lagi. Hingga gadis nakal itu berbuat lebih. Dengan cepat mencium kedua pipi bahkan dagu, bermuara pada kecupan di bibir, bagaikan pencuri yang tidak ingin ketahuan.
Namun, sayangnya bibirnya yang terlanjur menempel ditahan. Pemuda itu membuka matanya, kemudian menutupnya kembali menikmati bibir itu agresif, penuh keserakahan.
Lidahnya menerobos, menggoda Febria untuk membalas. Dan benar saja perlahan sepasang mata itu terpejam. Saling memainkan lidahnya, bukan hanya didalam mulut, dari luar pun masih saling melilit.
Perasaan yang benar-benar nyaman, berpelukan di atas sofa yang tidak begitu besar. Tanpa disadarinya yang terhanyut dalam ciumannya, entah dari kapan. Steven ada diatas tubuhnya, masih menautkan bibirnya. Melepaskan dasinya, melempar asal ke atas lantai.
Jas juga ikut dilemparkannya, tanpa melepaskan tautan mereka.
Aku tidak tau sampai kapan usiaku. Haruskah aku melakukannya sekarang? Meninggalkan seorang anak untukmu, sebelum ikatan pernikahan kita... batinnya.
Tubuh Febria menegang kala jemari Steven mulai merengkuh tubuhnya. Membuainya dalam sentuhan, memijat pelan daerah sensitif bagian atasnya yang masih berbalut kemeja.
Febria benar-benar terbuai, mengetahui kemana perasaan ini akan bermuara. Hingga kala jemari tangan itu hendak membuka kancing kemejanya, Febria menghentikan tangannya.
Steven tersenyum, melepaskan pangutan bibirnya,"Maaf,"
"Ki...kita belum menikah! Pacaran saja tidak, a...aku," kata-katanya terpotong, keningnya dikecup Steven yang langsung bangkit dari atas tubuh Febria.
"Ini kesalahanku, aku minta maaf..." kata-kata dari mulutnya, masih tetap tersenyum, tidak terlihat kekecewaan disana, berjalan ke arah kamar mandi.
Febria menghela napas kasar menatap Steven yang telah menutup pintu kamar mandi.
***
Pemuda yang tengah menikmati derasnya air shower menerpa tubuhnya. Perlahan tersenyum,"Akan ada donor, jika tidak ada, lebih baik begini, akan lebih mudah baginya untuk melupakanku..." gumamnya.
Beberapa jam berlalu, Steven kini telah mengenakan pakaian gantinya. Sedangkan Febria dibelikan pakaian, oleh salah satu karyawan wanita atas suruhan Steven.
Bekerja kembali seperti biasanya, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Sesekali gadis itu melirik padanya. Batinnya bertanya-tanya apa Steven marah karena dirinya menolak melakukannya?
Tapi tidak, saat makan siang suasana hangat kembali terasa. Steven menyuapinya, sesekali bercanda dengannya. Pernyataan cinta yang berkali-kali dilontarkannya. Hingga ketika waktu makan siang habis mereka kembali bekerja.
Wajah Steven sudah tidak pucat lagi, hari ini dirinya mengantar Febria kembali pulang ke apartemennya. Mobil mulai melaju meninggalkan gedung perkantoran.
"Hari ini aku akan bertemu dengannya," ucapnya fokus ke jalan raya.
"Siapa?" Febria mulai membuka botol minuman rasa buah, kemudian meminumnya.
"Pacarku..." jawabannya.
Phuh...
Seketika gadis itu menyemburkan minuman yang ada di mulutnya, terbatuk-batuk."Ka ...kamu benar-benar akan mencari pacar!?"
"Si... siapa dia?" tanya Febria berusaha tersenyum.
"Fransisca Meralat, bintang film, mungkin kamu sering melihatnya di televisi. Dia tergila-gila pada pengusaha muda yang kaya, ingin menghambur-hamburkan uang ala crazy rich," jawab Steven, sedikit melirik ke arah Febria.
Si body gitar spanyol? Dewi operasi plastik? Bintang film dewasa!? Si penggoda busuk... batinnya. Wajah Febria tersenyum, namun hatinya panas membayangkan Steven akan dirayu habis-habisan untuk menikah.
"Ke... kenapa harus dia!?" tanyanya.
"Karena dia selebriti kontroversial, sering membuat masalah. Walaupun aku tidak pernah tampil di TV secara langsung, akan mudah bagi orang-orang untuk mengetahui aku adalah kekasihnya,"
"Kamu mencemaskannya? Tenang saja, aku menyediakan pengamanan lengkap untuknya. Masalah bayaran, walaupun dia tidak mengetahui hanya menjadi pacar pura-pura, semua kebutuhannya akan aku penuhi, termasuk gaya hidupnya. Selama dia menjadi pacarku..." lanjutnya.
Febria tertawa, lebih tepatnya pura-pura tertawa,"Kamu benar, aku mencemaskannya,"
Gadis itu, mengepalkan tangannya, berharap si benalu bernama Fransisca mati saat menjadi pacar Steven. Penyebabnya? Tentu saja sepak terjangnya, menjadi pelakor, pernah ketahuan mengikuti prostitusi online. Tidak ada image positif pada diri seorang selebriti bernama Fransisca Meralat.
Dapat dipastikan mendapatkan pria seperti Steven sebagai pacar, tidak akan pernah dilepaskannya. Walaupun Steven meminta mengakhiri hubungan mereka suatu saat nanti, mungkin Steven akan dijerat mengatakan dirinya hamil, agar mendapatkan status sebagai istri sah.
Tidak ada pembicaraan lagi, hati Febria terlanjur panas. Status istri dari seorang Steven akan segera dimiliki oleh Fransiska. Banyak hal yang berkutat di otaknya. Hingga tidak terasa gedung apartemen tempatnya tinggal terlihat.
Steven berjalan keluar terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu. Pemuda yang begitu manis,"Sampai di apartemen, minumlah ini. Jaga kesehatanmu..." ucapnya memberikan vitamin C.
"Steven, aku..." kata-katanya terpotong, Steven mencium keningnya.
"Aku tau, kamu mencintaiku kan?" ucapnya tersenyum, mengacak-acak rambut Febria.
Kali ini gadis itu tidak membantah, dirinya memang benar-benar mencintai Steven. Tertunduk seorang diri, menatap pemuda itu kembali memasuki mobil. Melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir apartemen.
***
Perlahan Febria melangkah menaiki lift, menelusuri lorong hingga pada akhirnya sampai pada unit apartemen miliknya.
Kode akses ditekannya, pintu dibukanya, apartemennya terlihat juga. Febria berjalan membersihkan dirinya, berendam beberapa saat dalam bathtub. Fikirannya kosong, bagaikan seorang istri yang mengijinkan suaminya menikah lagi. Hingga membilas dirinya di bawah derasnya shower juga tidak berguna. Bayangan Steven yang akan diperdaya terlintas.
Wanita berbody bak gitar spanyol, yang merayap di atas tempat tidur hanya dengan dua helai kain tipis, ala keperluan honeymoon yang menutupi tubuhnya. Bahkan dua helai kain tipis itu tidak menutupi dengan sempurna. Menantang pria manapun untuk mencicipi tubuhnya.
"Sayang, kita sepasang kekasih sekarang. Jangan ragu..." kata-kata dari mulut Fransiska dalam imajinasi Febria. Mengedipkan sebelah matanya, meminta Steven naik ke ranjangnya. Pria yang akan dengan segera menanggalkan pakaiannya.
"Kenapa aku jadi berkhayal yang bukan-bukan," gumamnya, tertawa sendiri.
Tapi hatinya merasa sesak tidak tertahankan. Hingga bayangan itu terlintas, pacar pura-pura berakhir menjadi pengantin sungguhan, berjalan di altar berjanji sehidup semati di hadapan semua orang.
Wajah Febria seketika pucat pasi,"Ultraman br*ngsek hanya milikku!!" teriaknya penuh semangat, dengan segera memakai jubah mandinya. Membersihkan diri, memakai pakaian layaknya sekretaris.
Dengan kacamata tebal dan rambut digulung ke atas. Harapannya? Akan melindungi Steven tanpa membuat kecurigaan dalam diri Fransisca. Sekretaris culun yang selalu mengikuti bosnya itulah dirinya saat ini.
Bagaikan istri posesif yang tidak ingin suaminya menikah lagi. Namun, itulah Febria, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, setelah menerima pesan di mana Steven makan malam saat ini.
"Jangan bermimpi dapat berebut pria dengan anak dari seorang Kenzo!!" teriaknya penuh emosi.
Bersambung