
...Bunga yang indah, bagaikan mekar kala musim semi, itulah dirimu......
...Aku semakin tertunduk, karena aku hanya salju terakhir yang jatuh saat musim dingin......
...Salju yang indah, namun adakah bunga yang dapat mekar disana......
...Bisakah kita bersama......
Kenzo...
Tak...tak ...tak...
Pemuda itu tengah konsentrasi memeriksa dokumen dibawakan Frans, pria yang baru sampai pagi tadi di Jepang, serta menghubungi seseorang dari negara lain. Kenzo menghela napas kasar, beristirahat sejenak dari kesibukannya. Perlahan mendekati kamarnya. Dimana Amel mengatakan tidak enak badan. Ingin tidur seharian di hari liburnya.
Libur? Ada festival salju Sapporo di daerah Hokkaido. Seluruh karyawan merayakannya, kecuali seorang Amel tentunya.
Tidak merayakan? Sejatinya Kenzo telah mempersiapkan segalanya. Berencana membawa Amel keluar pada sore hari. Tapi belum sempat mengatakan akan membawanya keluar. Gadis itu mengatakan sakit dan ingin tidur seorang diri dikamar. Telah memanggil seorang dokter, namun dokter mengatakan kondisi Amel sehat-sehat saja. Hanya meresepkan beberapa vitamin.
Pemuda mengurungkan niatnya memasuki kamar, mulai ke dapur. Memasak sup daging sapi Wagyu untuknya. Cemas? Begitulah sang antagonis kejam saat ini. Dirinya benar-benar ditaklukkan oleh gadis itu, perasaannya dikendalikan oleh Amel bagaikan rantai yang mengikatnya.
"Amel ..." Kenzo mengetuk pintu namun tidak mendapatkan jawaban. Hingga akhirnya menggeser pintu dihadapannya sembari membawa nampan.
Diatas Futon (Tempat tidur lipat) terdapat sebuah gundukan bagaikan manusia disana.
Kenzo mulai duduk, mengguncang gundukan,"Amel?" ucapnya membangunkan, namun benda di dalam gundukan terasa kaku.
Dengan cepat sang pemuda rupawan menyingkapnya. Dan benar saja hanya beberapa bantal disana. Melarikan diri? Itulah yang dilakukan Amel, menyangka Kenzo tidak akan mengijinkannya pergi ke festival.
Mata Kenzo menelisik membuka lemari. Satu set yukata berwarna biru menghilang.
"Melarikan diri? Aku akan menghukummu..." gumamnya tersenyum penuh kekesalan.
***
Seorang gadis memakai yukata biru lengkap dengan payung tradisional Jepang berdiri di hadapan sebuah sungai. Menatap salju yang mulai mencair, merasakan dinginnya penghujung musim salju.
Ranting-ranting pohon masih sedikit membeku, meneteskan air, dengan salju padat diatasnya.
Angin menerpa rambutnya, mengingat kebersamaannya dengan sosok Kenzo.
Aku pergi... maaf....
Matanya menatap lurus ke arah sungai, memegang payung berwarna senada dengan yukata yang melekat di tubuh indahnya.
Andai saja kamu tidak terlalu mengekangku, aku tidak akan meninggalkanmu...
Amel memejamkan matanya merasakan udara kebebasan. Sejenak membuka matanya.
"Kenzo keji!! Aku akan makan sampai kenyang hari ini!!" teriaknya ke arah sungai merasa bahagia bagaikan memaki Kenzo. Berjalan perlahan dengan yukata-nya, menutup payung menuju deretan pedagang makanan.
Cantik? Wanita cantik yang berjalan seorang diri, menatap kagum, bingung harus membeli yang mana terlebih dahulu.
Semua jenis makanan menimbulkan bebauan menggoda.
Hingga makanan pertama yang dibelinya adalah kue ikan. Seperti yang sering dibelikan Kenzo saat menjemput dirinya pulang kerja.
Kerinduan yang tidak disadarinya setelah melarikan diri beberapa jam dari rumah. Rindu? Bagi Amel ini bukanlah rindu, namun kebiasaan bersama yang menyebabkan saling membutuhkan, saling memikirkan, bahkan kerap timbul ilusi dari senyuman Kenzo.
Dirinya tidak merindukan Kenzo, hanya ...hanya... mungkin hanya Amel yang menyangkal perasaan sesungguhnya, dapat menjelaskan apa istilah yang tepat selain rindu.
"Setelah kontrak kerja berakhir, aku akan melamar pekerjaan di perusahaan yang tidak begitu besar. Agar diterima dengan cepat, membesarkan Sany, jika beruntung menemukan jodoh kang cilok, kang siomay, kang parkir pun tidak apa-apa. Hidup sederhana tenang dan bahagia..." gumamnya dengan mulut penuh tidak menyadari penampilannya saat ini.
Jangankan kang cilok, pemuda-pemuda rupawan di sekitarnya mulai melirik. Gadis dengan yukata biru, wajah cantik alami, hidung mancung yang tidak begitu besar, kulit seputih susu, bibir indah menawan, riasan yang tidak tebal, mata jernih yang indah.
Cantik? Marina dan Keyla memang cantik, namun cantik dengan riasan. Sedangkan wanita yang tengah mengunyah kue ikan jauh lebih cantik dan elegan tanpa riasannya.
Tatanan rambut polos, berhiaskan jepitan murah, leher jenjang itu terlihat. Membuat musim dingin tidak terasa, bagaikan wajah Amel adalah guguran bunga sakura. Bagi pria manapun yang melihatnya.
Seorang pemuda bahkan ditegur kekasihnya, karena menghentikan langkahnya, menatap Amel tanpa berkedip. Menimbulkan pertengkaran hingga sang pria mengejar kekasihnya yang merajuk.
Amel terdiam menyantap kue ikannya, merasa banyak pasang mata yang memperhatikannya."Mereka kenapa? Apa wajahku kotor? Atau yukata-ku robek," gunamnya memeriksa penampilannya sendiri.
Hingga seorang pemuda rupawan berkebangsaan Jepang memberanikan diri berjalan mendekatinya, sedikit menundukkan dirinya. Mungkin inilah terjemahan kata-kata yang diucapkan sang pemuda dalam bahasa Jepang, bahasa yang sudah mulai dikuasai Amel.
"Perkenalkan nama saya Tatewaki, saya bekerja sebagai konsultan di perusahaan dekat sini," ucap Tatewaki, tersenyum pada wanita cantik di hadapannya.
Amel sedikit membungkuk, ikut berucap dalam bahasa Jepang, kita terjemahkan saja,"Nama saya Amel..."
"Kamu bukan orang Jepang?" tanyanya mengenyitkan keningnya, mengetahui dari nama wanita di hadapannya. Amel mengangguk canggung.
"Bagaimana jika kita menyaksikan festival bersama? Aku hafal setiap sudut jalan ini..." lanjutnya.
"Terimakasih..." jawab Amel penuh senyuman.
Sebenarnya cukup sulit untuknya, bagaimana cara meredakan amarah Kenzo nantinya. Membeli hadiah? Mungkin dengan hadiah pemuda aneh itu tidak akan menghukumnya.
Tapi hadiah apa? Keberadaan Tatewaki bagaikan suatu keberuntungan baginya. Dapat membantunya memilihkan hadiah untuk Kenzo.
Sepasang muda-mudi beda negara berjalan menelusuri ramainya hiruk-pikuk festival salju Sapporo yang akan diadakan. Tidak menyadari, seseorang mengikuti mereka mengenakan topeng Inari kitsune (topeng rubah putih) yang dijual salah satu toko souvernir.
Mengepalkan tangannya, membuka sedikit topengnya. Wajah rupawannya terlihat.
Dia memilih ke festival bersama orang lain? Apa aku benar-benar harus ganti penampilan...
Ganti penampilan? Pemuda yang berjalan dengan Amel memakai kacamata. Walaupun kacamata minimalis yang terkesan modern.
***
Yang ada difikiran Amel hanya hadiah untuk Kenzo. Agar Kenzo tidak marah, menghentikan langkahnya di depan penjaja aksesoris handphone.
Gantungan phonecell yang indah, berbentuk sepasang kupu-kupu putih dengan lampu di bagian dalam dapat bersinar.
"Aku ingin membeli yang ini..." gadis dengan yukata birunya itu tersenyum. Menemukan sebuah hadiah untuk Kenzo. Meminta pemilik kios membungkus nya, kemudian Amel membayarnya.
"Dia tidak akan marah..." gumamnya tersenyum.
"Siapa yang akan marah?" Tatewaki mengenyitkan keningnya.
"Seseorang..." Amel kembali melanjutkan perjalanannya lagi, belum menyadari Kenzo yang mengikutinya dari jauh.
"Tenang, Amel hanya kebetulan bertemu dengannya," Frans menahan tawanya, menatap kue ikan di tangan Kenzo telah hancur, pemuda dengan ekspresi yang benar-benar bagaikan siap untuk menerkam pemuda yang berjalan bersama Amel.
"Tidak aku sangka, setelah beberapa bulan tidak bertemu, si gendut menjadi cantik. Pangeran dan putri ditakdirkan hidup bersama, bahagia selamanya, kamu menyerah saja..." saran Frans yang sebenarnya hanya memanas-manasi.
"Ada aku monster Antagonis!! Putri? Dia adalah Teddy Bear-ku!!" Kenzo berjalan cepat mendekati mereka, masih mengenakan topeng Inari.
"Teddy bear? Bukannya pacar!?" Frans berbicara sedikit lebih kencang, menyindir Kenzo.
Namun, tidak mendapatkan jawaban dari Kenzo. Pemuda itu hanya fokus berjalan mendekati Amel.
"Satunya menyatakan cinta terlalu gamblang, hingga terlihat kata-kata omong kosong dari seorang playboy. Sedangkan satunya lagi terlalu datar, ingin hidup bahagia tanpa tantangan..."
"Mereka sandal jepit kiri dan kanan. Berjalan saling melengkapi. Tapi masalahnya bagaimana membuat dua idiot itu menikah?" gumamnya yang sejatinya, masih belum menikah hingga sekarang. Mencibir dan memikirkan orang lain, tanpa bercermin.
Bersambung