
Kenzo mengenyitkan keningnya, tidak mengerti alasannya menerima tamparan.
"Kakakmu ..." kata-kata Kenzo disela.
"Dimana kak Amel!? Apa kamu membunuhnya demi siluman ini!? Aku bersumpah akan membalas dendam kematian kakakku kalau kamu..." kata-kata yang keluar dari mulut Nindy terhenti.
"Nindy?" suara itu terdengar, suara si Dugong dari mulut siluman penggoda di belakangnya.
Wajah Nindy pucat pasi, menoleh ke asal suara. Kemudian kembali menoleh pada Kenzo.
"Dia kakakku?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo."Ka...kamu membawanya ke Korea kemudian membedahnya?"
Kenzo menarik tangan Nindy, menggiringnya menyentuh pipi Amel."Apa ada tanda-tanda operasi? Kakakmu memang cantik, hanya saja tertutup godaan lemak jahat..."
"Kakak..." Nindy mulai memeluk Amel dengan erat, menitikan air matanya. Merindukan? Tentu saja, tinggal jauh hampir dua tahun dari keluarga, kakak gemuknya seperti gajah besar kini bagaikan foto model majalah dewasa. Bahkan terlihat perubahan warna kulit yang drastis, akibat minimnya polusi, kwalitas udara yang berbeda, serta air.
"Nindy, aku merindukanmu..." Amel ikut menitikan air matanya. Tidak pernah berkomunikasi dengan keluarganya? Alasannya, Nindy tengah berkonsentrasi mengambil program percepatan.
Sedangkan, terakhir kali Amel berkomunikasi dengan sang ibu saat dirinya berada di Malaysia. Wina membawa Sany memutuskan untuk tinggal di desa terpencil sementara waktu. Desa tanpa jangkauan internet.
Sedangkan Glen fokus mengambil kuliah di bidang jurnalistik, sembari bekerja mencari sendiri biaya kuliahnya, tidak ingin merepotkan sang adik. Mewujudkan cita-cita yang dipendamnya. Mengapa baru sekarang? Kebutuhan hidup yang tinggi, biaya sekolah Nindy, juga membiayai seluruh keperluan rumah, membantu sang ibu yang memiliki pendapatan tidak seberapa.
Bukan hanya uang Amel, uang tabungan Glen yang diperuntukkan untuk biaya kuliahnya pun juga tidak lepas direbut almarhum Alwi, demi kesenangannya sendiri. Berjudi serta menikmati tubuh kupu-kupu malam.
Baru sekarang Glen dapat menata hidupnya sendiri, berhemat demi mengejar cita-citanya. Tidak memiliki phonecell, hanya menggunakan laptop tua bekas Amel untuk keperluan kuliahnya.
Saking hematnya Glen bahkan hanya menggunakan WiFi kampus untuk mengerjakan tugas. Menghubungi Amel sesekali, menggunakan phonecell sahabatnya. Menutup panggilan dengan cepat, mengingat biaya panggilan internasional cukup mahal.
Amel melonggarkan pelukannya pada tubuh Nindy. Tersenyum, menghapus air mata adiknya.
"Aku sempat berpikir kenapa diantara kita bertiga hanya kakak yang jelek!! Ternyata kamu hanya ulat yang terlalu lamabat berevolusi..." ucap Nindy sesegukan.
Amel mengenyitkan keningnya, kenarsisan tingkat tingginya kambuh,"Apa aku cantik?" tanyanya.
Nindy mengangguk,"Cantik tapi tidak lembut, seperti seorang tokoh antagonis di novel atau film..." jawabnya.
"Ibu tiri putri salju?" tanya Amel kembali.
"Tepat!! Seperti wanita cantik yang culas..." jawabnya.
"Kamu dan Kenzo sama saja..." geram Amel, menarik telinga adiknya.
"Sa... sakit!!" pekiknya, mengusap-usap telinganya sendiri.
Nindy memperhatikan tubuh Amel dengan seksama. Terutama bentuk dadanya, menghela napas kasar.
"Kalian belum pernah melakukannya?" tanya Nindy, setidaknya dirinya tahu bagaimana bentuk tubuh wanita yang sering dipermainkan pria.
Kenzo tidak menjawab, menoleh ke tempat lain, pura-pura tidak mendengar. Sedangkan Amel, menutup mulut blak-blakan adiknya.
"Lepas!!" Nindy, menepis tangan Amel, mengenyitkan keningnya."Berganti tubuh, ternyata otak ikut dangkal ya?"
"Ayo minum coffee..." ucapnya menarik Amel ke salah satu cafe dekat kampusnya, langkah mereka diikuti Kenzo.
Alunan suara musik jazz terdengar, barista yang tampan meracik minuman. Hingga tiga minuman hangat, berikut cheese cake untuk cemilan pelengkapnya diantarkan waiters.
"Bagaimana kuliahmu?" Kenzo memulai pembicaraannya.
"Aku berusaha lulus dengan cepat, tidak ingin berhutang budi pada mu terlalu lama. Selain kuliah untuk mendesign pakaian manusia, aku juga berlatih mendesain pakaian tokoh game,"
"Temanku yang tadi, bernama Lorenzo, dia mengembangkan teknologi VR game. Bahkan dapat memasukkan wajah secara langsung, bagaikan kita benar-benar menjadi tokoh game. Kak Kenzo harus mencobanya, siapa tau berniat untuk ikut investasi..." lanjutnya, terlihat antusias.
"Lain kali, aku atur jadwal. Belakangan ini aku lumayan sibuk..." Kenzo tersenyum, meminum kopi di hadapannya.
"Pria itu bukan pacarmu? Tadi aku melihat kalian..." kata-kata Amel disela.
"Bukan, disini mencium pipi kanan dan pipi kiri sudah biasa untuk seorang kenalan. Bahkan beberapa pasangan berciuman bibir di pinggir jalan. Membuat jiwa para jomblo meronta-ronta. Lagipula tipeku adalah pria lembut, yang jika tegas tidak dapat di bantah, memiliki jemari yang dapat mendesign lebih indah dari karyaku..." Nindy menghela napas kasar, sulit rasanya menemukan seseorang yang sesuai dengan tipenya. Pria maskulin, pandai mendesign, terkadang lembut dan mengerti isi hati wanita.
"Omong-ngomong, kapan kalian menikah?" Nindy mengenyitkan keningnya. Bersamaan dengan Kenzo yang terbatuk-batuk melirik ke arah Amel.
Wajah kedua orang itu bagaikan mengintimidasi Amel. Wanita yang selalu ragu-ragu, lebih memilih menjalani hubungan tanpa status.
"Da... daripada kita membicarakan ini, lebih baik membicarakan design pakaian yang kamu buat saja ..." ucap Amel gelagapan.
Bug...
Buku tebal dikeluarkan Nindy,"Ini salah satu tugas baruku, sudah mendapatkan nilai terbaik. Kebetulan kalian ada di sini, jadi dapat menilai designnya..."
Amel terlihat antusias. Namun beberapa menit kemudian, setelah buku sketsa design dibuka, Amel melirik Kenzo, pria yang juga diam-diam melirik pada Amel.
"Pakaian dalam wanita, bahannya tidak panas, berenda dengan bagian depan tipis yang mudah dirobek. Menonjolkan keindahan sejati tubuh bagian atas wanita. Bagian bawahnya, diikat dengan tali berbentuk segitiga, dengan sekali tarikan dapat terbuka sempurna,"
"Karena aku membuat tema honeymoon jadi ada untuk prianya. Berbahan elastis, terdapat resleting kecil di bagian kedua pinggirnya. Hingga dapat terlepas dengan sempurna dengan atau tanpa si pria melepaskannya, ketika si wanita menarik kedua resleting di bagian samping, boxer ketat berbahan halus itu akan lepas. Tentang sirkulasi udara saat dikenakan juga membuatnya terasa nyaman. Menutupi bagian..." kata-kata Nindy ditutup oleh tangan Amel.
"Sebagai anak perawan, kamu tidak malu membicarakan ini?" tanya Amel, berusaha tersenyum, memendam rasa canggung. Membuat keinginan honeymoon dalam dirinya meronta-ronta.
Sedangkan Kenzo terdiam, memasang wajah dingin tanpa ekspresi, bagaikan memikirkan sesuatu. Entah apa yang ada di otaknya saat ini.
"Tidak, aku seorang calon desainer, tidak boleh pilih-pilih dalam menjalankan tugas, semua jenis pakaian harus bisa. Tidak hanya gaun, jas, pakaian kasual, topi atau sepatu saja..." ucapnya penuh percaya diri sebagai profesional. Bahkan seorang dokter kandungan pria pun, bukan berarti si dokter orang mesum, bukan?
"Ini design pakaian formal, ini design pakaian non formal, berikut beberapa design aksesorisnya..." Nindy mengeluarkan beberapa buku tebal berisikan gambar sketsa desainnya dengan pakaian tertutup, menunjukkan kesungguhan, belajar banyak hal dalam dua tahun ini, bukan hanya pakaian dalam saja.
"Kamu hebat!!" Amel mengacungkan jempolnya.
"Tentu saja, khusus untuk kakak. Aku hanya mendesain paket honeymoon. Bagaimana kalau ini, banyak tali, terkesan menggoda, hanya menutupi sepasang bagian ujungnya saja!?" komat-kamit mulut itu kembali promosi.
"A...aku akan ke mobil saja..." Amel mati-matian menahan malunya, meninggalkan cafe.
"Kakak ipar masih disini?" Nindy yang hendak membereskan buku-buku design-nya. Mengenyitkan kening menatap Kenzo.
Apa Kenzo akan marah padanya? Menganggap dirinya hanya main-main di Paris? Tapi design seperti ini bukan merupakan hal yang tabu. Malah memiliki nilai jual tinggi.
Kenzo tiba-tiba menggebrak meja,"Sudah aku putuskan!! Hitam, merah tua, biru dongker... buatkan tiga couple untuk kami..." pemuda itu tersenyum, setelah berfikir panjang dengan serius, mencocokan dengan warna kulitnya dan Amel.
Bersambung