
"Sekretaris, untuk apa?" tanyanya tidak mengerti.
"Aku akan mendirikan beberapa usaha dan dua buah perusahaan, tentu aku memerlukan orang yang bisa dipercayai dalam dunia bisnis," jawab Steven tersenyum.
Febria mencoba bersabar, "Aku bersedia, tapi jawab dulu apa Steven masih hidup?"
"Dia masih hidup, setidaknya sampai sekarang..." jawaban ambigu dari mulutnya, kemudian mulai melangkah,"Aku harus berganti pakaian, turunlah ke lantai satu, untuk sarapan. Nanti aku akan menyusul membawa kontrak kerjamu..."
Febria menghela napas kasar, berusaha tersenyum,"Baiklah tuan Hudson..."
Baiklah Hudson br*ngsek, entah dimana kamu menyembunyikan Steven... batinnya.
"Jangan mengumpatku dalam fikiranmu!" ucapnya berjalan meninggalkan ruangan gelap.
"Dia tau? Apa dia bisa membaca fikiran?" gumamnya tidak mengerti, dengan pemuda yang dikenalnya sebagai tuan Hudson, pemuda yang sejatinya ikut andil dalam membesarkannya.
***
Terdiam dengan berbagai macam makanan di atas meja, menunggu sang pemilik rumah turun. Febria menelan ludahnya, cukup lama menunggu, mungkin pemuda itu tengah mengobati luka di kakinya seorang diri.
Hingga sebuah kursi roda di didorong seorang pelayan. Pria yang berwajah mirip dengan Hudson mulai meminum air putih.
"Tuan Hudson, apa tost-nya kurang matang?" tanya seorang pelayan, menatap majikannya.
"Tidak ini sudah cukup," jawabnya kembali makan.
Febria terdiam mendengar nama Hudson. Pemuda yang menyelamatkannya bernama Hudson. Seseorang yang duduk di kursi roda ini juga bernama Hudson.
Apa ini? Apa semua orang di rumah ini bernama Hudson?
Hingga dirinya memberanikan diri berkenalan,"Selamat pagi namaku Febria,"
"Eden Hudson, kamu sudah ditandai oleh adikku. Jadi, cepat atau lambat aku akan menjadi kakak iparmu..." ucapnya memotong daging ham di hadapannya.
Narsis, siapa juga yang mau dengan pria sepertinya... gumam Febria dalam hati berusaha tersenyum.
"Jika aku boleh memberimu saran. Buat siluman ular putih itu mabuk, lalu kunci pintunya. Maka dia akan melilitmu dari malam hingga pagi. Hasilkan bayi siluman yang banyak..." kata-kata tidak berdosa keluar dari mulut Eden dengan mulut penuh.
Saran? Itukah saran seorang kakak? Agar adiknya menghamili wanita sebelum menikahinya. Dunia sudah terbalik, kakak b*jat... cibirnya dalam hati ingin rasanya memukuli Eden, mengatakan dirinya adalah wanita dengan harga diri yang tinggi.
"Kenapa menyebut Hudson, siluman ular putih?" tanyanya tidak mengerti.
"Yang kamu maksud Hudson aku, atau adikku?" Eden balik bertanya.
"Adikmu orang yang membawaku kemari. Omong-ngomong kamu memiliki adik lain bernama Steven?" tanyanya menatap wajah Eden Hudson juga mirip dengan Steven, meyakinkan pernyataan pemuda yang memberinya tawaran sebagai sekretaris. Steven adalah salah satu anggota keluarga ini.
Eden yang masih mengunyah seketika tersedak. Terbatuk-batuk, meminum segelas air,"Steven, si br*ngsek Albinisme itu..." kata-katanya terhenti.
Steven tiba-tiba datang, menepuk bahu kakaknya, kemudian duduk di sampingnya. Memakai setelan jas rapi, serta dasi lengkap dengan penjepit. Benar-benar seperti seorang atasan di perusahaan besar.
Eden menipiskan bibir menahan tawanya,"Kamu benar-benar serius ingin merestorasi bisnis kita?" tanyanya.
Steven mengangguk,"Aku ingin segera menikah dan memiliki anak," ucapnya meminum segelas air, kemudian beralih menatap Febria,"Ini kontrak kerjanya, tidak perlu baca, tandatangan saja. Lagipula kita sudah membuat perjanjian bukan?"
Steven mulai makan dengan tenang, tangan Febria yang memegang pena gemetar, memberanikan dirinya bertanya."Aku akan tandatangan tanpa membaca kontraknya, tapi katakan dulu dimana Steven,"
Eden mengenyitkan keningnya mulai bergumam,"Wanita ini harus memeriksakan dirinya pada dokter mata,"
Hingga keputusan diambilnya...
"Aku akan mempertemukanmu dengan Steven, tapi tandatangani dulu, kontrak kerjanya..." ucapnya.
Febria menghela napas kasar, pada akhirnya dirinya mendatangi berkas itu tanpa membacanya sedikitpun. Ingin mengetahui keberadaan Steven, hanya itulah yang ada di benaknya.
"Sudah!! Dimana Steven?" tanyanya, memberikan berkas yang sudah ditandatangani.
"Sejak kapan kecerdasanmu menurun?" tanya Steven tersenyum, meraih berkas. Menunjukkan salah satu dari beberapa lembar kontrak yang ditandatangani Febria."Baca, dengan baik, siapa pemilik sekaligus CEO perusahaan,"
Febria meraihnya, seketika wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar."Steven Hudson?" ucapnya menatap ke arah Steven."Tapi rambutmu tidak putih! Matamu tidak sama dengannya! Tidak mungkin Steven berubah jadi orang c*bul!!" kata-katanya terhenti, kala sepasang softlens itu dilepaskan.
"Gejala Albinisme dapat berkurang seiring bertambahnya usia. Karena itu rambutku berubah menjadi coklat..." Steven tersenyum tanpa dosa.
Tubuh Febria seketika lemas, menyandarkan punggungnya di sofa. Sudah 14 tahun tidak bertemu, hanya ada samar-samar ingatannya tentang cinta pertamanya. Sosok pintar, humoris, baik hati, sering menyatakan cinta dan menyuapinya. Sosok berambut putih seperti tokoh animasi pangeran impian yang berhati baik.
Tapi pemuda ini? Dia adalah Steven? Baku hantam dengan beberapa orang, fokus menembak bagaikan mafia di film-film, bahkan dapat mengeluarkan peluru dan menjahit lukanya sendiri.
"Ka...kamu Steven?" tanyanya kembali.
Tampan, memang tampan, terlihat dingin dan dapat melindunginya. Tapi seperti dua sosok berbeda malaikat dan iblis.
"Iya, adikku tersayang, makanlah yang banyak, agar pinggangmu tidak kurus. Mempermudah saat melahirkan nanti..." kata-kata dari mulut Steven penuh kebencian dengan kata kakak yang paling disayangi.
"Ultraman!! Kamu si br*ngsek yang pergi dari rumah 14 tahun yang lalu..." Steven hanya mengangguk, berusaha tersenyum.
***
"Dimana datanya?" tanyanya masih fokus pada pekerjaannya.
"Sudah terkirim," ucap Febria mengirim data ke komputer Steven.
Sudah satu minggu perusahaan yang bergerak di bidang farmasi itu berdiri. Sulit, bagian awal memang sulit, karena itulah sekertaris dan bos-nya ini sering bekerja lembur.
Beberapa pabrik yang membuat jenis obat berbeda. Memiliki marketing dan pemasaran yang berbeda juga. Bagian penelitian dan kwalitas yang baru dibentuk, terdiri dari orang-orang yang dahulunya berada dalam kelompok Dark Wild, sebagai bagian peracikan obat-obatan terlarang.
Mereka sebenarnya memiliki pengetahuan farmasi. Sang ayah yang merekrut mereka secara paksa, untuk menjadi ahli pembuat obat-obatan terlarang.
Kini kemampuan mereka akan lebih berguna, membuat obat penurun panas, pereda nyeri, bahkan berusaha membuat berbagai obat-obatan lain yang berguna di bidang medis. Orang-orang yang biasa ditugaskan sebagai pembunuh, kini bekerja di pabrik dan perusahaan. Sesuai bidang yang mungkin mereka kuasai.
Ada ketakutan tersendiri jika kembali ke kelompok mafia lain atau bekerja di tempat berbeda, pasalnya Dark Wild memiliki banyak musuh. Jika kelompok mafia itu masih bersama dalam satu lingkup ruang kerja maka tidak akan ada kelompok lain yang memiliki keberanian mengusik mereka.
Waktu makan siang tiba, sesuai kontrak kerja gila yang disepakati Febria. Maka...
"Emmh..." Steven tiba-tiba memojokkan sekretarisnya, mencium bibirnya. Memainkan lidahnya, membuatnya terbuai untuk membalas.
Hati yang sama-sama berdebar dalam kegelisahan. Hingga tautan itu terhenti,"Sudah!?" teriak Febria kesal.
"Sudah..." senyuman terukir di bibir Steven."Aku harus segera mencari pacar, untuk melindungimu..." bisiknya di leher Febria.
"Pacar! Kamu akan memiliki pacar! Kalau begitu hentikan kontrak gila kita!! Aku harus menciummu setiap istirahat makan siang!!" ucapnya kesal, menendang tulang kering kaki Steven. Pemuda yang dengan sengaja menerima serangannya.
Bersambung