My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Akan Merindukanmu



"Ha... harus tidur! Salah, maksudku makan, a...aku akan memesankan makanan lewat aplikasi," jawaban cepat dari mulut Febria segera turun dari pangkuan Steven. Meraih phonecellnya, memesan makanan terlihat gugup.


Sungguh aneh? Bukankah ini Steven remaja idamannya? Namun fikirannya membuat Febria ketakutan untuk menerimanya.


Hingga Steven duduk di sofa, terbatuk-batuk seorang diri, sesekali berlari ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya, pemuda yang terkadang terlihat kuat, namun disaat yang sama juga memiliki sisi rapuh.


Perlahan gadis itu mendekat memasuki kamar mandi mencemaskannya, tapi Steven hanya tersenyum, menyiram isi wastafel dengan cepat,"Kenapa mengikutiku ke kamar mandi? Ingin kita melakukannya disini? Menyukai tantangan, membuat anak di tempat ekstrim?" tanyanya dengan wajah pucat.


"Tidak!! Kamu salah paham!!" Febria segera keluar dari kamar mandi duduk di kursi kerja milik Steven, menjauhi sofa, tidak ingin digoda oleh pemuda itu lagi.


Pemuda yang berusaha tersenyum, berjalan duduk di sofa, meminum segelas air di meja, kemudian membaringkan tubuhnya kembali,"Febria, aku akan memiliki pacar, apa kamu tidak cemburu!?" tanyanya memelas.


"Tidak, lagipula hanya pacar pura-pura bukan?" ucapnya acuh.


"Benar, hanya pacar pura-pura. Tapi jika suatu hari nanti aku kembali menghilang, tetaplah ingat aku sebagai seorang kakak..." kata-kata ambigu dari mulutnya yang tetap tersenyum, menatap langit-langit ruangan.


"Kakak? Bukannya kamu tidak suka dipanggil sebagai kakak?" tanyanya Febria menyandarkan dagunya di meja kerja Steven.


"Iya, aku tidak menyukainya, panggil aku sayang maka aku tidak akan pergi lagi..." jawabnya.


"Pembohong, ketika papa menarik telingaku dan telingamu dulu, saat ketahuan berciuman, kamu menarikku ke tempat lain, ketika papa lengah. Mendudukanku di sofa kamarmu, lalu berjanji tidak akan pergi asalkan aku mencium bibirmu lagi,"


"Pedofil, entah berapa kali kita berciuman saat itu, tapi pembohong sepertimu tetap menghilang di Singapura," lanjutnya.


Mengingat segalanya, sang remaja pedofil yang menciumnya. Perbuatan tercela yang dilakukan kakak angkatnya, namun benar-benar aneh. Setelah bertahun-tahun hanya Steven yang berhasil mencium bibirnya.


Sedangkan pemuda yang masuk ke bisnis ilegal ini. Entah berapa perempuan yang sudah ditidurinya, benar-benar tidak adil menurut Febria.


Febria mengepalkan tangannya,"Kamu punya berapa mantan pacar?"


"Tidak ada..." jawaban dari mulutnya.


Gadis itu mengenyitkan keningnya, tidak percaya,"Aku ganti pertanyaannya, sudah pernah ada berapa wanita yang tidur denganmu?"


"Satu," Steven kembali menjawab masih berbaring menatap langit-langit ruangan.


Benarkan? Aku masih perawan, sedangkan dia sudah celap-celup seperti pucuk daun teh pilihan... gumamnya dalam hati menahan kekesalannya.


"Siapa? Model? Selebriti? Anak pengusaha? Anak pejabat? Anak raja?" wajah Febria tersenyum, namun sejatinya memendam kekesalannya.


"Pemain Harpa, peretas cerdas, anak dari ayah angkatku sendiri...kamu..." pemuda itu masih menjawab dengan tenang.


"Jadi kamu tidak pernah mencium atau berhubungan dengan wanita lain?" tanyanya dengan wajah malu-malu, salah tingkah.


"Iya, setiap hari harus berlatih menembak dan berkelahi, pendidikan formal semuanya juga di rumah. Aku merindukanmu..." jawab Steven tanpa menoleh masih hanya fokus menatap langit-langit ruangan.


Febria menipiskan bibir, menahan senyuman bahagianya. Wajahnya berseri-seri, perlahan berusaha menetralkan dirinya menjaga image.


"Steven, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak menyukaimu jadi..." kata-katanya terhenti, disela olehnya.


"Karena itu jika tidak berakhir bersama dan aku menghilang, ingat aku sebagai kakakmu. Tapi jika berakhir bersama, belajarlah mengatakan perasaanmu yang sebenarnya," ucap Steven mulai bangkit.


Tok...tok...tok...


Suara pintu diketuk, pertanda makanan mereka telah sampai. Steven bangkit, membuka pintu, meraih dua kantung makanan, kemudian membayarnya."Ayo makan..."


Febria mengangguk, sembari tersenyum...


Kenzo tidak ada di negara yang sama dengan putri dan istrinya. Tempatnya berada saat ini? Kantor pusat W&G Company, memakai kacamata bacanya, sesekali mengirimkan e-mail pada seseorang.


'Aku akan menang taruhan,' pesan yang dikirimkannya kini.


'Belum tentu, tapi jika aku yang menang, kamu akan menjadi besanku. Penyokong dana terbesar untuk bisnisku,' balasan yang didapatkannya dari seseorang yang berada di negara lain.


'Yang terpenting kebahagiaan anak-anakku. Siapapun yang menang, hasilnya akan tetap sama hanya jalannya yang berbeda,' tombol enter ditekannya pertanda dirinya mengirim balasan.


'Aku mendengar kabar, putrimu akan mengikuti perjodohan dengan cucu tunggal Hiasi (Hitoshi). Apa kamu mengingkari janjimu?' balasan lagi-lagi didapatkannya.


Jemari tangan Kenzo kembali bergerak membalasnya,'Kamu tidak mempercayaiku? Jangan mengira aku tidak dapat menghancurkan bisnismu, jika mengerahkan semua kemampuanku,'


'Tenang...tenang, jika menikah dengan putraku nanti. Aku akan memperlakukan putrimu dengan baik. Kita lanjutkan lain kali, aku harus off line sekarang, ada yang masuk,' kata-kata balasan yang baru saja masuk.


Kenzo menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas kasar, kacamata minimalis, namun terkesan modern yang dikenakannya mulai dibuka olehnya,"Phil! Panggil Elina!!" perintahnya, pada asistennya yang tengah mencari beberapa dokumen di ruangannya.


"Baik Tuan..." ucapnya menyanggupi segera melangkah keluar dari ruangan.


Beberapa belas menit berlalu, seorang wanita cantik berusia hampir 40 tahun melangkah. Bentuk tubuh yang benar-benar menggoda dari segala sisi, mata coklat yang indah, rambut sedikit bergelombang. Dialah anak angkat tertua Kenzo, Elina.


Pintu besar ruangan itu terbuka,"Papa..." ucapnya sedikit tertunduk sembari tersenyum.


"Pergi ke negara tempat mamamu berada, pastikan tidak ada masalah yang terjadi. Selidiki dengan cermat, dengan siapa saja Febria memiliki hubungan," perintah Kenzo, menghela napas kasar.


"Febria memiliki hubungan? Apa dengan si bocah Jepang pemain piano?" tanya Elina, sembari tertawa kencang,"Setelah patah hati dengan Ultraman konyol, putus asa pacaran dengan pramugara. Pada akhirnya jatuh ke pelukan bocah piano..."


"Memang kamu sudah pernah punya pacar?" Kenzo mengenyitkan keningnya. Seketika tawa Elina terhenti.


Raut wajahnya murung,"Belum pernah." jawabnya.


"Jangan jual mahal, sebenarnya tipemu seperti apa!? Bahkan adikmu Scott sudah mempunyai tiga orang anak," Kenzo kembali menghela napasnya.


"Aku mengidap father complex, hanya akan menikah dengan pria sesempurna atau lebih sempurna dari papa. Papa dan mama adalah panutan kami dalam mencari pasangan..." jawabnya.


"Ingat kamu itu perempuan, memiliki batasan usia untuk menikah. Tidak selamanya perut itu dapat mengandung anak dengan baik..." ucap Kenzo menunjuk-nunjuk dengan penanya.


"Memang, bentuk tubuh ideal, ramping tapi berisi..." Elina tersenyum memasang pose, mengedipkan sebelah matanya, ala iklan susu pelangsing.


"Narsis! Tapi satu saran papa, bagaimanapun tipemu. Jika sudah terjerat, jatuh cinta pada seseorang menyerahlah, terima dia apa adanya. Papa mencintai mamamu walaupun dulu berat badannya lebih dari 90 kg. Dan mamamu mencintai papa, rela menunggu papa selama 7 tahun, tanpa ada niatan menikah lagi..." petuahnya sebagai seorang ayah.


"Tidak janji, orang menikahi seorang Elina harus tampan dan kaya. Karena aku juga cantik dan kaya," pujinya pada dirinya sendiri. Berjalan meninggalkan ruangan ayahnya.


Kenzo menghela napas kasar,"Mereka tumbuh dengan cepat, menentukan jalan hidupnya masing-masing..."


Pria itu mulai bangkit, memasang earphone di telinganya. Setelan jas berharga tidak murah yang dipakainya, diganti dengan jas serba hitam, berharga lebih murah. Sarung tangan putih dikenakannya. Tersenyum menatap dirinya, bagaikan supir pribadi profesional.


Amel dihubunginya melalui panggilan internasional,"Amel, maaf beberapa hari ini aku tidak akan dapat menghubungimu...".


"Kenapa?" suara manja terdengar dari seberang sana.


"Aku sedang sibuk, tapi aku akan merindukanmu..." ucapnya sembari tersenyum, meninggalkan ruangan kerjanya.


Bersambung