
Deru napas yang saling beradu."Ferrell hentikan..." pintanya kala pemuda itu mencium lehernya, melepaskan tiga kancing kemejanya.
Sang pemuda menatap gadis yang mulai menitikan air matanya."Ayahku mengatakan berciuman saja tidak boleh. Malam pertama harus diberikan pada suamiku..." ucapnya terisak.
Ferrell tersenyum, kemudian membatunya duduk di atas tempat tidur, memeluknya erat. Masih gadis lucu, manis dan lugu yang sama."Jika aku berjanji akan menikahimu, boleh aku melakukannya?" tanyanya.
Dengan cepat Glory menggeleng."Tetap tidak boleh. Kita tidak saling mencintai..."
"Coba jelaskan kenapa kamu tidak bisa mencintaiku?" tanyanya dengan posisi sama-sama duduk di atas tempat tidur, memeluk gadis itu erat.
"Kamu itu playboy kaya, mempunyai status sosial yang tinggi. Entah akan ada berapa pelakor, juga keluarga yang akan menentang. Lagipula aku sudah lebih memilih Ken, walaupun dia berselingkuh dengan Lily, aku merindukannya..." ucapnya masih saja menangis, membuat pemuda itu semakin gemas.
"Jika aku bukan playboy, bukan dari kalangan atas, apa kamu akan menyukaiku?" tanyanya tersenyum.
"Tetap tidak, aku tidak mau mengambil jalan sesat menjadi playgirl. Aku menyukaimu, juga menyukai Ken, karena itu jangan menggoda, mendekatiku lagi!!" jawaban jujur begitu polos menunjukkan sisi buruk darinya, tapi masih saja menangis.
"Jadi kamu juga menyukaiku?" tanya Ferrell menipiskan bibir menahan tawanya.
"Bukan itu intinya, intinya aku tidak mau menjadi seorang playgirl! Tidak juga ingin memiliki kehidupan keluarga kaya yang sulit nantinya..." jawaban begitu manis darinya berurai air mata.
Ingin rasanya Ferrell tertawa, inilah gadis yang dicintainya, memang seperti ini bukan? Gadis manis yang hanya ingin gaya hidup simpel, baru belajar untuk menjadi nakal, mencintainya dalam dua sosok yang berbeda.
Perlahan pelukan itu dilonggarkannya, air mata gadis yang sama sekali tidak membalas pelukannya itu dihapusnya. Satu persatu kancing kemeja yang sebelumnya dibuka olehnya kembali dipakaikannya."Lalu bagaimana dengan perjodohanmu?"
"Itu keinginan ibuku, aku akan menolaknya. Jika tidak bisa menolak, aku akan berusaha mengikutinya. Ken tidak menyukaiku lagi, jadi..." kata-katanya terpotong.
"Ken tidak menyukaimu, lalu bagaimana dengan aku..." bisiknya tersenyum.
"Kamu sama saja, aku ingin pulang," ucapnya mulai bangkit, berjalan beberapa langkah. Hingga Ferrell kembali menghadang jalannya.
"Nanti malam aku akan mengantarmu pulang, bahkan mempertemukanmu dengan Ken untuk terakhir kalinya. Tapi tidak gratis, ada syaratnya..." pemuda itu tersenyum, sedikit membungkuk, berbisik di telinganya.
"Terakhir kalinya?" tanyanya menatap ke arah Ferrell."Apa Ken kecelakaan atau menderita penyakit mematikan?"
Ferrell mengangguk, mengelus pipi sang remaja."Nyawanya tergantung padaku, jika aku ingin dia mati maka dia akan mati. Jika aku ingin dia tetap hidup, maka dia akan hidup..."
"Kamu menyekapnya? Atau dia adalah pasienmu?" tanyanya, dengan tangan gemetar.
"Bisa dibilang keduanya, Ken memang sakit, sangat parah. Temani aku tidur, maka aku akan menyembuhkannya..." jawaban dari Ferrell.
Ken sakit jiwa, karena kamu menghilang beberapa hari dengan mengirimkan pesan terakhir, ingin putus... batinnya.
Dengan cepat Glory menggeleng."Aku harus bekerja, aku tidak mau..." kata-katanya terhenti. Ferrell, mengangkat paksa tubuhnya. Merebahkannya di atas tempat tidur, mendekap tubuhnya erat.
"Aku hanya ingin tidur, beberapa hari ini aku tidak bisa tidur. Mencemaskan milikku akan direbut orang lain," ucapnya memejamkan matanya memeluk erat tubuh Glory.
"Benar-benar hanya tidur? Hanya itu syaratnya kamu tidak akan melukai Ken?" tanya Glory ketakutan, hingga suara dengkuran halus terdengar, dari Ferrell."Dia benar-benar tidur..."
Wajah pemuda yang tersenyum, setelah beberapa hari ini tidak tidur dengan cukup. Akhirnya asupan nutrisinya terpenuhi, walaupun belum puas sepenuhnya, namun kini gadis itu ada di kamarnya.
Janji mengantar pulang? Rumah ini, lebih tepatnya kamarnya merupakan rumah Glory mulai sekarang. Mempertemukannya dengan Ken? Bukankah Ken ada disini saat ini?
Menyekap seorang remaja, itulah yang akan dilakukannya. Tidak memperbolehkannya pergi lagi, kecuali saat cincin telah tersemat di jari manisnya.
***
Beberapa jam telah berlalu, hari mulai sore. Glory yang menunggu pemuda itu terbangun, tanpa sengaja tertidur dalam dekapannya.
Wajahnya baru dirias kembali olehnya. Kini sosok Ken lah yang terlihat, memakai pakaian Ferrell."Glory bangun..." ucapnya mengecup kening, pipi hingga bermuara pada bibirnya.
Pemuda itu mengangguk."Sekarang ceritakan kenapa kamu ingin memutuskan hubungan kita?"
Glory mulai duduk di tempat tidurnya kemudian menunduk, mencengkram pakaiannya sendiri."Kamu menyukai Lily kan? Kalian berpelukan di belakang sekolah. Maaf, aku plin-plan tidak bisa menolak perjodohan dari Ibuku. Tapi kamu dan Lily kalian selalu bersama, jadi wajar saja..." kata-katanya terpotong.
Ferrell menggenggam jemari tangannya kemudian tersenyum."Aku tidak menyukai Lily, aku hanya ingin memberi semangat padanya dan adiknya yang akan dioperasi."
"Tapi masalah pelukan di belakang sekolah?" tanya Glory menatap mata kekasihnya.
"Aku adalah dokter yang menangani operasinya, jadi wajar saja jika..." Ferrell terdiam sejenak, mengigit bagian bawah bibirnya merasa salah berucap.
"Dokter?" tanya Glory memastikan pendengarannya.
"Kita akan menikah cepat atau lambat. Jadi kamu harus tau tentang ini. Ken dan Ferrell orang yang sama..." Ferrell menunjukkan kartu identitasnya. Meraih tissue basah melepaskan kacamata dan sedikit riasannya.
Glory akan senang dengan ini, akan menjadi istrinya? Siapa yang tidak mau menjadi calon istri seorang Ferrell.
Namun...
"Aku ingin pulang!! Aku akan menikah dengan jodoh pilihan ibuku," keputusan yang diambil sang remaja labil tiba-tiba, menarik tangannya dari genggaman Ferrell.
"Ke ... kenapa seharusnya kamu senang kita akan," kata-katanya terpotong.
Gadis itu kembali menangis."Aku ingin pulang, aku tidak ingin disini lagi," ucapnya mulai bangkit, berjalan menuju pintu. Namun, sialnya pintu itu masih terkunci.
"Aku ingin pulang!" teriaknya, antara ketakutan dan malu, sudah begitu banyak dipermainkan.
Ferrell memijit pelipisnya sendiri."Apa yang akan kamu lakukan setelah pulang?"
"Ibu, aku akan mendengarkan semua nasehat ibuku. Kamu bukan orang yang baik..." jawaban darinya, takut akan dilecehkan sekaligus merasa dipermainkan. Berciuman dengannya menggunakan sosok Ferrell. Di sisi lain, berpura-pura menjadi sosok Ken untuk merebut hatinya.
Tidak memiliki harga diri, entah apa keinginan pemuda ini. Terkadang manis padanya, terkadang juga pemaksa.
Ferrell mulai bangkit, mengangkat tubuh Glory kembali keatas tempat tidur, tidak mempedulikannya yang kembali meronta."Kamu tidak mengerti? Aku begini karena aku mencintaimu. Jangan pernah berfikir untuk kembali pada calon pilihan ibumu..." tegasnya.
"Tapi..." kata-kata Glory disela.
"Kamu sudah terjerat pesugihan, terjerumus ke dalamnya. Maka harus berani menerima akibatnya, menjalani pesugihan seumur hidupmu, bahkan sampai matipun akan tetap terikat denganku. Aku janji setelah menikah tidak akan ada koin atau sisik emas di tempat tidur, tapi langsung perhiasan, atau banyak gambar cetak wajah Benjamin Franklin," tubuh Glory diletakkannya di atas tempat tidur.
"Aku tidak ingin uang. Aku mau pulang," ucapnya mulai bangkit. Namun kaki panjang Ferrell bergerak lebih cepat. Keluar, kemudian kembali mengunci pintu kamarnya dari luar.
"Ken! Maksudku Ferrell, aku ingin keluar, ini termasuk penyekapan! Akan ada jerat hukum untuk ini!" teriaknya mengetuk pintu dari dalam.
"Aku tidak akan membiarkanmu keluar! Kecuali kamu sudah memaafkanku! Menerima perasaanku," ucapnya dari luar kamar.
"Tolong buka pintunya, ibuku akan kemari untuk menyelamatkanku! Melemparkan pancinya ke kepalamu," suara Glory masih terdengar lagi.
"Berani mengikuti pesugihan, berarti juga berani menanggung resikonya! Aku akan melamarmu, jangan khawatir! Nanti aku akan membawakan makanan enak ke kamar!" Ferrell ikut-ikutan berteriak, berbatasan pintu yang tertutup berdebat dengan Glory.
Vanya menatap cucunya yang masih bertengkar, mempertahankan gadis itu agar tidak kabur lagi darinya. Entah dimana cucunya yang keren, dingin dan tidak tersentuh. Kali ini benar-benar terlihat seperti anak kecil.
Hingga Vanya berjalan mendekatinya."Ferrell ada orang yang ingin bertemu denganmu. Dia sedang bicara dengan kakekmu saat ini. Katanya kamu mengencani putrinya..."
Ferrell terdiam sejenak dengan wajah pucat, apa Hasan secepat ini menjemput putrinya kemari? Dirinya bahkan belum sempat untuk merebut hati Glory. Memberikan kembang 7 rupa, membakar kemenyan, menyiapkan sesajen...
Bersambung