My Kenzo

My Kenzo
Rahasia Frans



Sudah empat minggu mereka tinggal di villa. Mengerjakan tugas dari sana. Frans, pria itu datang secara berkala, jika ada hal penting saja.


"Kepalaku sakit," keluh Amel, melepaskan earphonenya.


Kenzo yang tengah mengirim dokumen melalui fax, menghentikan kegiatannya. Tubuh Amel diangkatnya,"Mau aku antar ke tempat tidur?"


Amel tersenyum mengalungkan tangannya pada leher Kenzo,"Walau tidak mau, kamu akan tetap memaksa kan?" ucapnya


***


Tubuh Amel perlahan dibaringkannya, mata itu ditatapnya dalam-dalam. Seakan tidak pernah puas mendambanya, hingga bibir mereka kembali bertaut.


"Aaaa..." Amel memekik, menghentikan tangan Kenzo yang bergerak di dadanya.


"Kenapa?" tanyanya tidak mengerti.


"Sakit..." Amel mulai bangkit, memang terasa aneh baginya, terasa keras dan padat, warna bagian ujungnya juga berubah. Sentuhan nyaman dari Kenzo di bagian dadanya tidak terasa lagi. Hanya terlalu padat dan sakit.


"Aku akan menghubungi dokter," Kenzo segera bangkit, namun Amel menahan tangannya.


"Mungkin siklus bulananku akan datang, makanya terasa sakit," ucap Amel canggung, namun wanita itu juga tidak yakin. Pasalnya, terasa lebih sakit dan kaku daripada biasanya.


Kenzo menghela napas kasar, kemudian tersenyum,"Akan aku buatkan teh jahe dan bubur, untuk makan siang..." pemuda itu mulai melangkah turun ke lantai satu.


Tidak ada pelayan disana, alasannya? Mereka ingin menikmati waktu berdua sebagai pasangan suami-istri, tidak ingin diganggu satu orang pun.


Pasangan yang saling tersenyum dalam kebahagiaannya. Tidak menyadari pertanda awal kehamilan yang dialami Amel sebelum siklus menstruasinya. Benar, rahim itu telah dibuahi, sepasang titik kecil yang telah berkembang di rahim sang ibu.


Tang...tang...tang...


Teh jahe dan bubur labu usai dibuatnya, hingga seorang tamu datang. Kenzo perlahan membuka pintu, menghela napas kasar.


"Sudah selesai menembakkan kecebong?" tanyanya.


"Dasar!! Kamu sendiri belum menikah kan!? Membicarakan kecebong..." cibir Kenzo masuk kembali ke dalam villa diikuti Frans."Perjaka tua..." lanjutnya.


"Tidak pernah menembakkan kecebong!? Kamu tidak tau saja saat di ranjang, Aika sampai..." kata-kata Frans terhenti, menutup mulutnya sendiri, mengingat peristiwa yang tidak sengaja terjadi saat musim semi di Jepang.


Peristiwa yang terjadi? Rekor Frans sudah lama terpecahkan sebelum Kenzo. Kala Aiko tertangkap, Frans menemani Aika semalaman. Gadis yang menangis terisak, tidak memiliki tempat bersandar, menatap Frans yang jauh lebih dewasa darinya memeluknya penuh kasih.


Mata yang bertemu, hubungan yang mereka lakukan secara sadar. Detik-detik dimana Frans kehilangan keperjakaannya, membuktikan pisang yang matang, lebih enak.


Sialnya setelah kejadian itu, Aika menghindarinya, betapapun Frans mengejar untuk menikahinya. Wanita itu akan menolak dengan berbagai alasan.


"Aika?" Kenzo mengenyitkan keningnya, sedikit berbalik.


"I...iya Aika, dia terjatuh dari ranjang pasien. A...aku bisa mengangkatnya sendiri..." elaknya, tidak ingin hal memalukan yang dialaminya diketahui Kenzo.


"Aku kira kamu menembakkan kecebongmu padanya..." Kenzo menghela napas kasar berjalan menuju sofa,"Kamu tidak akan tau, betapa menyenangkannya saat menatap mata orang yang kamu sukai, menginginkan sentuhan mu lagi dan lagi..."


Aku tau rasanya, tapi masih ditolak untuk melamar hingga sekarang. Bagaimanapun caranya membujuk calon mertua. Anaknya tiba-tiba menghindar... aku juga ingin menembakkan kecebong lagi... gumamnya dalam hati. Frans hanya dapat ikut menghela napas kasar, duduk dengan tenang.


"Ada apa kemari?" Kenzo mengenyitkan keningnya.


"Dokumen yang harus kamu tanda tangani..." Frans memberikan beberapa map pada Kenzo.


Satu persatu dibacanya, Kenzo menghela napas kasar, sedikit tertunduk kemudian tersenyum,"Frans, ini jika... jika sesuatu yang buruk terjadi padaku. Tolong jaga W&G Company dan Amel untukku..."


Alasannya, kata-kata Farel dan Tomy masih diingat hingga kini olehnya. Bisnis tidak akan selalu maju, umur juga tidak akan ada yang tahu kapan penghujungnya. Dirinya kini juga memiliki Amel, istri yang ingin dibahagiakannya.


"Kenzo? Kamu tidak memiliki fikiran untuk bunuh diri lagi bukan?" tanya Frans, sudah siap sedia hendak menghubungi psikiater.


Bahkan ada saatnya kala Kenzo menodongkan senjata api tepat pada kepalanya, menangis seorang diri menarik pelatuknya. Putus asa, rasa bersalah, terlalu banyak luka dalam dirinya. Membentuk seseorang yang tidak mudah ditindas, namun rapuh di dalam. Bagaikan memiliki keinginan hidup yang kecil.


Mungkin dengan keberadaan keluarga kecilnya, Kenzo dapat lebih menghargai hidupnya. Setidaknya itulah yang diinginkan Frans.


"Tidak, jika aku mati, siapa yang akan menjaga istriku. Siapa yang akan merawat anak-anakku nanti..." ucapnya tersenyum, bagaikan berusaha mengalihkan perhatian Frans. Membaca dokumen, meraih pena kemudian menandatangani salah satunya.


"Lalu kenapa kamu memintaku berjanji?" tanya Frans menatap curiga.


Kenzo tertunduk kemudian tersenyum,"Karena aku mencintai mereka. W&G Company, begitu juga dengan Amel. Tidak ada yang tau panjang usia manusia, karena itu... jika terjadi sesuatu padaku tolong jaga mereka..."


Mata Frans berkaca-kaca, air matanya mengalir,"Dasar iblis!! Kenapa kamu harus bipolar!? Lebih baik kamu menjadi psikopat saja!!"


"Aku jadi menangis begini kan?" lanjutnya, mengambil tissue, mengeluarkan ingusnya.


Frans menghela napas kasar, menetralkan emosinya,"Dengar, usiaku sudah 35 tahun. Aku lebih tua darimu!! Aku akan lebih dulu mati darimu. Jadi jangan pernah membicarakan tentang umur lagi!! Kita ini antagonis, tidak akan pernah mati!! Jika mati, tinggal panggil dukun hidupkan kembali memakai boneka chucky atau Anabel sekalian,"


Gurau Frans membuat mereka tertawa bersama, satu satunya orang yang Frans percayai tidak peduli apapun. Tidak peduli Kenzo yang pernah melempar sekaleng soda padanya, ketika emosi. Namun, Frans memahaminya, Kenzo merasa bersalah setelahnya.


Bipolar? Pemuda itu sudah berusaha mengendalikan emosinya. Namun tetap sulit, hingga Amel kembali hadir di hidupnya. Membawa kembali Kenzo kecil yang polos, seorang anak yang menyayangi bayi mungil yang dilahirkan Kinan.


Gangguan kepribadiannya? Semua bagaikan dikendalikan, Amel adalah obat baginya. Frans menyadarinya, mungkin dengan begini satu-satunya orang yang dianggapnya sebagai sahabat, dapat menjalani hidupnya dengan tenang. Bermain dan mengasihi anak serta istrinya.


"Benar..." Kenzo tertawa, namun sejenak perhatiannya teralih,"Buburnya mungkin sudah sedikit lebih dingin. Aku ke lantai dua sebentar," ucapnya pada Frans, berjalan menuju dapur, mengambil nampan dengan bubur labu dan teh jahe hangat diatasnya.


"Itu untuk siapa?" Frans mengenyitkan keningnya, menahan tawanya.


"Amel, dia sedang tidak enak badan..." jawab Kenzo mulai menapaki tangga menuju lantai dua.


"Bucin!! Jangan terlalu lama di lantai dua!! Aku masih menunggu tanda tanganmu!! Menanam jagung dan menebak kecebong nanti malam saja!!" teriak Frans, duduk di sofa berusaha agar tidak tertawa.


"Perjaka tua!! Jangan cerewet!!"


***


Perlahan pintu dihadapannya didorong olehnya. Wajahnya tersenyum, menatap istrinya yang kini duduk di atas tempat tidur mengenakan earphone dengan sebuah laptop di pangkuannya.


"Kenzo?" wanita yang kini menjadi miliknya, tersenyum padanya."Lorenzo mengirim beberapa dokumen perusahaan lain. Jadi aku..."


Kata-kata Amel terhenti sesendok besar bubur masuk dalam mulutnya. "Jadi kamu harus makan yang banyak agar cepat sembuh,"


Wanita itu mengangguk, tertegun menatap suaminya yang tiba-tiba memindahkan laptop di pangkuannya. Menyingkap selimut dan kaos yang dipakainya, telinganya bagaikan berusaha mendengar sesuatu di dalam perut Amel.


"Apa kecebongnya sudah berhasil berkembang?" tanyanya.


"Kecebong? Kamu kira anak kita katak..." Amel tertawa kecil, kemudian menghela napas kasar, "Jika aku tidak dapat memberimu keturunan, apa yang akan kamu lakukan?"


Dalam bayangannya akan ada diposisi hati yang tersakiti. Diselingkuhi, suaminya memiliki anak di luar nikah, dimadu, madunya hamil dan lebih disayangi suaminya. Khayalan tingkat tinggi Amel kambuh lagi, membuat wanita itu hampir menitikkan air matanya. Mungkin akibat perubahan hormon yang dialaminya.


"Kita baru sebulan menikah, waktu masih panjang. Lagipula kita sudah memiliki 6 orang anak. Jika ada malaikat dalam perutmu, maka akan kita kasihi, didik dan besarkan dengan baik ... tapi jika tidak, kita akan tinggal berdua, menghabiskan waktu bersama hingga tangan kita keriput, rambut memutih,"


"Kalau belum puas juga, matipun makamku akan berdampingan dengan Amel-ku. Kita tidak akan pernah kesepian..." ucapnya tertawa kecil, mengusap air mata istrinya.


"Aku mencintaimu..." Amel tiba-tiba memeluknya erat.


"Aku juga..."


Bersambung