
Dua gelas minuman non alkohol diraihnya dari pelayan yang melintas. Memberi satu gelas lainnya pada Amel, yang masih mengunyah cup cake.
"Amel, aku ingin bicara serius..." ucapnya menatap tajam.
"Bi... bicara soal apa?" seketika Amel tegang, dengan perubahan raut wajah Frans, memakan setengah cup cake mewahnya dengan sekali suap.
"Sudah sejak lama aku memikirkanmu..." kata-kata basa basi keluar dari mulut Frans.
Ingin bicara sesuatu yang serius? Mencari tempat yang lebih tenang? Sudah sejak lama aku memikirkanmu? Apa yang akan terfikirkan jika seorang pria mengatakan kata-kata tersebut pada seorang wanita? Benar....
Frans menyukaiku? Tidak mungkin kan... seketika Amel tersedak dengan pemikiran gilanya. Terbatuk-batuk beberapa saat.
"Jangan tersinggung!! Aku sudah menyukai orang lain, jadi tidak bisa menerima..." kata-kata Amel yang ingin menolak perasaan Frans, terpotong.
"Aku mohon, jangan menolaknya lagi..." Frans meletakkan gelas minumannya, menggengam jemari tangan Amel, penuh harap.
"Menolak siapa?" Amel mengenyitkan keningnya, menyadari anggapan tentang Frans menyukainya salah.
Frans menghela napas kasar,"Tolong jangan menolak Kenzo lagi, dia bersungguh-sungguh padamu..."
"Mungkin kamu sudah menyadarinya, sikapnya yang sering terlalu berlebihan, atau melukai dirinya sendiri," lanjutnya.
Amel terdiam sejenak, mengingat luka di tangan Kenzo kala hari ulang tahunnya saat mereka masih tinggal berdua di Jepang. Melukai diri sendiri? Memang ada banyak hal yang aneh dengan pemuda itu.
Frans menghela napas kasar, mengatakan kelemahan terbesar majikannya,"Dia menderita bipolar disorder..." pemuda itu tertunduk bagaikan memohon, air matanya mengalir, suaranya bergetar," Aku tau ini sulit, memiliki pasangan hidup pengidap bipolar yang emosional dan mudah depresi. Ta... tapi aku bisa memastikan Kenzo tidak akan melukai fisik atau hatimu..."
"Tolong jaga dia..." lanjutnya, masih menunduk penuh harap. Harapan agar majikannya, dapat hidup tenang, menjalani kehidupannya dengan baik. Sudah cukup dirinya mengetahui bagaimana sejatinya kehidupan Kenzo, yang seakan berjalan seorang diri dalam kegelapan.
Bahkan memasang jarak pada Frans, tidak mempercayai orang lain. Hanya Amel, Amel yang dipercayai untuk melangkah bersamanya dalam kegelapan. Seorang pemuda kesepian, yang sudah bagaikan sahabat terbaik di hidup Frans, bahkan mungkin bagaikan saudara.
Gadis itu terdiam sejenak, kemudian tersenyum, menggengam jemari tangan Frans,"Aku ingin jujur, a...aku benar-benar menyukainya," Amel tertunduk, sedikit malu.
"Dia terkadang seperti payung yang melindungiku. Terkadang menindasku, tapi dia peduli pada apapun yang aku lakukan. Bipolar? Emosi yang tidak stabil, aku menyukai semua yang ada padanya. Termasuk kekurangannya..." lanjutnya.
Frans menatap ke arah Amel melihat kesungguhan disana. Obat? Wanita inilah obat untuk Kenzo, seseorang yang mungkin dapat menerima menemani dan memeluknya kala terpuruk.
"Terimakasih..." Frans memeluknya, sepi? Tempat mereka berada saat ini adalah kolam ikan koi dekat ballroom. Hanya mereka yang ada disana. Frans tersenyum, menitikan air matanya, hidup bertahun-tahun dalam ambisi yang ditanamkan Suki membuatnya fokus belajar tidak memiliki sahabat sama sekali.
Kecuali Kenzo, pemuda aneh satu fakultas yang membantunya. Membuat dirinya dapat mengangkat kepala penuh rasa percaya diri. Pemuda yang sejatinya adalah Antagonis kesepian, menapaki hidupnya seorang diri, berpura-pura tegar, namun rapuh di dalam.
"Tolong lindungi dia, jangan mengecewakannya..." lanjut Frans pada Amel, masih memeluknya, mungkin bagaikan adik iparnya.
Amel mengangguk, menghela napas kasar. Kekurangan Kenzo? Tidak masalah baginya. Jika pemuda itu tidak ada, dirinya masih menjadi beban keluarganya, sulit mendapatkan pekerjaan. Glen akan dihukum berat, Nindy harus mengubur cita-citanya. Sedangkan Sany bayi mungil yang diadopsinya, mungkin bahkan mainan pun tidak akan dapat terbeli.
Materialistis? Tidak, Amel tidak berfikir begitu, Kenzo adalah payung yang melindunginya. Perasaan yang tumbuh juga nyata, bukan sekedar karena materi. Namun hatinya terasa menyatu dengan kebersamaan mereka satu setengah tahun ini.
***
Acara telah dimulai, Kenzo telah kembali, duduk di kursi meja sudut ruangan dengan Amel. Frans ada di meja yang sama dengan mereka, perasaannya saat ini cemas, benar-benar cemas.
Hingga...
Kedua pemeran utama dalam acara hari ini masuk, mengenakan setelan putih. Melangkah menaiki panggung.
Gilang? Yang akan bertunangan adalah Gilang? Amel baru mengetahui semuanya. Matanya mulai berkaca-kaca, dengan air mata tertahan di pelupuknya.
Bukan karena kecewa, dirinya sudah lelah kecewa selama dua tahun. Menjadi badut di matanya, seorang manusia yang bodoh. Hati yang dipermainkan bagaikan boneka, dengan dalih sahabat.
Hanya dirinya yang menanggung perasaan sakit selama dua tahun. Menanti sahabat yang tengah merangkul kekasihnya yang cantik. Menanti sang sahabat melihat sedikit saja pada badut sepertinya. Namun, Gilang memalingkan wajahnya hingga akhir.
Badut yang dipukuli oleh si kekasihnya yang cantik, tidak dipercayai, dikatakan berbohong untuk uang. Hanya kecantikan yang ada dimatanya, Amel merasa bodoh, benar-benar bodoh.
Sosok Amel yang dahulu terbayang di benaknya. Tersenyum bersama Gilang, memakan makanan di pinggir jalan bersamanya. Namun, setiap Gilang menemukan kebahagiaan, badut gemuk itu akan tersingkir, tersisihkan dengan nama sahabat.
Selama dua tahun, dirinya menjadi badut yang bodoh. Menangisi pria yang tidak mencintainya...
Amel tertegun, air matanya menetes, tapi bukan untuk Gilang lagi. Dirinya menangisi dirinya sendiri, badut bodoh yang memberikan perasaan cinta tulusnya dahulu. Berkali-kali merasakan sakit seorang diri, perasaan itu telah lama menghilang, Amel kini mengasihani dirinya sendiri.
Hingga tangan hangat, menggengam jemarinya. "Kenapa menangis?" tanyanya, menghapus air mata Amel.
"Aku ingin memiliki akhir bahagia? Apa bisa?" Amel mulai tersenyum menatap wajah Kenzo.
Kenzo mengangguk,"Antagonis berakhir celaka karena menginginkan sesuatu yang bukan menjadi miliknya, jadi..." kata-kata Kenzo terhenti.
"Jika aku menginginkan antagonis lainnya, apa aku dapat berakhir bahagia?" Amel tersenyum tulus, menggengam erat tangan Kenzo.
Kenzo tertegun, kemudian mengangguk... pernyataan cinta? Anggaplah masih terlalu ambigu. Namun, memiliki kesempatan untuk berada di dalam hati Amel. Wanita yang dicintainya, tidak akan dilepaskannya, kecuali maut menjemputnya pergi...
Frans menghela napas kasar, tidak ada yang terjadi. Pasangan di hadapannya terlihat baik-baik saja. Tapi apa benar? Frans masih ragu, menyembunyikan fakta seorang diri, Gilang mencari keberadaan Amel, bahkan sudah mengaku mencintainya.
Harapannya? Gilang tidak akan pernah menemukan Amel. Tidak akan memohon pada kakaknya untuk mengalah meninggalkan wanita yang dicintainya.
Amel? Harapan terbesar Frans ada pada wanita itu, Kenzo memiliki kelemahan akibat gangguan kepribadiannya, memiliki ambisi tinggi, berpindah dari satu negara ke negara lainnya, tidak tinggal menetap.
Sedangkan Gilang, pemuda tanpa celah, hidup dengan stabil, mungkin calon ayah dan suami yang sempurna.
Tangan Frans mengepal, ketakutan terbesarnya. Amel akan mengingkari kata-katanya untuk tetap menjaga Kenzo, jika mengetahui perasaan Gilang padanya. Memalingkan wajahnya dari Kenzo, meninggalkannya seorang diri lagi.
Dunia yang sudah hancur tidak akan terasa sama. Bagi hati yang berkali-kali terluka dalam setiap langkah hidupnya. Kenzo tidak akan pernah bahagia lagi...
Tepukan tangan dari undangan, menandakan acara pertukaran cincin telah usai. Senyuman palsu dari dua orang yang berada di atas panggung terlihat ditengah bleach lampu kamera wartawan.
***
Malam semakin larut, pesta telah lama usai. Pasangan tanpa status yang jelas, telah kembali ke kamar hotel. Tidak membersihkan aksesoris maupun berganti pakaian, berbaring di atas ranjang bersama, saling memeluk dalam senyuman.
"Aku mencintaimu..." Kenzo mengecup kening Amel, menggeliat mencari posisi nyaman untuk kembali tertidur. Suara dengkuran halus terdengar, bersamaan dengan Amel yang membuka matanya.
"Aku lebih mencintaimu lagi, jangan pernah terluka, atau melukai hatiku. Kamu adalah milikku..." otak Amel yang polos mungkin telah diracuni. Ucapan bagaikan antagonis keluar dari mulutnya, serakah menginginkan Kenzo hanya untuknya, mengeratkan pelukannya, tidak akan pernah melepaskannya. Walau apapun yang akan terjadi.
Di tempat lain...
Gilang tertunduk tersenyum seorang diri, di balkon sebuah apartemen."Maaf, selama ini mengecewakanmu. Apa begitu menyakitkan, hingga kamu menghilang? Aku ingin kamu kembali, aku berjanji bukan sebagai sahabat lagi..." ucapnya di hadapan gedung pencakar langit, seakan Amel ada disana, entah dimana.
Bersambung