My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Kue Kering



Seorang wanita menghentikan mobilnya di dekat gang pemukiman padat penduduk. Bibirnya berusaha tersenyum, berjalan menelusuri gang yang berliku tidak begitu luas. Hingga akhirnya pemuda itu terlihat juga, tersenyum mendapatkan bekal dari ibunya.


"Aku berangkat..." pemuda itu berjalan pergi dengan cepat.


"Hati-hati," sang wanita paruh baya melambaikan tangannya.


Amel segera mengalihkan pandangannya, masuk ke dalam cabang gang lainnya, berharap Dava tidak melihatnya. Jemari tangannya mengepal, saat ini dirinya masih gemetaran. Alasannya? Ini adalah dunia yang diimpikan suaminya, dimana dirinya tidak sendiri, memiliki orang tua untuk tempatnya bersandar.


Wanita itu menyadari, bagaimanapun dirinya ingin membuat suaminya terhibur dahulu, lubang menganga dalam hatinya tidak akan dapat terisi. Tersenyum bahagia? Mungkin tidak sepenuhnya, bahkan saat malam pertama pernikahan mereka. Pemuda yang terus-menerus menatap bintang, memikirkan keluarganya.


Ini adalah dunia sempurna yang diimpikan Kenzo dimana dirinya memiliki kedua orang tua yang utuh dapat dirawat dan dikasihinya.


Haruskah dirinya mengganggu dunia sempurna yang diimpikan suaminya? Ini harus.... Amel menyeka air matanya. Mulai berjalan mendekati rumah tersebut.


Perlahan pintu diketuknya...


"Pagi..." Amel melambaikan tangannya tersenyum.


Vanya yang membukakan pintu, menatap wanita itu tanpa berkedip, bahkan artis sinetron kejar tayang yang sering ditontonnya menggunakan TV analog tidak secantik ini.


Kulit putih alami, wajah natural tanpa riasan, memakai pakaian kalangan menengah keatas. Boneka Barbie? Bukan, tubuh boneka Barbie terlalu kurus dadanya terlalu datar. Tapi wanita di hadapannya ini memiliki bentuk tubuh yang diidamkan setiap orang. Dada bervolume, pinggang dan perut ramping namun tidak begitu kurus.


Rambut hitam sedikit bergelombang, wajahnya jangan ditanya lagi, terlalu membuat semua wanita iri.


Satu kata yang menjabarkan semuanya,"Malaikat..."


Amel terdiam sejenak, menipiskan bibir menahan tawanya... Aku memang cantik ... gumamnya dalam hati, rasa percaya diri yang begitu tinggi masih ada. Mungkin jika Kenzo ada di sana, melihat senyumannya menerima pujian, telinganya sudah ditarik.


"Siapa buk...?" Damian yang tengah mengenakan sepatu boatnya hendak bekerja, menatap ke arah pintu yang terbuka.


"Boleh saya masuk?" tanya Amel tersenyum ramah.


"Silahkan..." Vanya memberi jalan mempersilahkannya memasuki rumah.


Perlahan Amel masuk duduk diatas kursi rotan tanpa canggung. Vanya segera berjalan cepat ke dapur membuatkan tiga gelas teh hangat, kemudian duduk di dekat suaminya setelah menyajikan.


"Maaf sebelumnya anda siapa? Apa seles bank? Tapi maaf kami sedang tidak ingin meminjam uang atau membuka rekening tabungan..." ucap Damian, menatap penampilan Amel dari atas hingga bawah. Rapi, berkelas, dari kalangan atas, apalagi tujuannya memasuki rumah mereka yang sempit selain menawarkan pinjaman bank.


Aku dikira seles bank... Amel berusaha tetap tersenyum, memendam rasa kecewanya, setelah malaikat kali ini seles bank? Apa ada malaikat yang berprofesi sebagai seles?


"Bukan, aku memiliki keperluan yang lebih penting..." ucapnya tetap terlihat anggun dari kalangan menengah keatas.


"Keperluan apa? Dan kamu siapa?" tanya Vanya.


"Perkenalkan, aku Amel Anggraini. Tujuanku kemari adalah Kenzo, pemilik perusahaan W&G Company..." jawab Amel masih setia tersenyum, sedikit menunduk.


Damian mengenyitkan keningnya, dirinya dahulu memiliki perusahaan yang cukup ternama. Sebelum akhirnya pailit akibat pesaing bisnis tidak sehat dan anggota keluarga jauhnya yang mengkhianatinya. Kenzo? W&G Company? Nama yang cukup diketahui orang-orang dari kalangan pebisnis, sebagai musuh jika diakuisisi atau dapat menjadi tempat kokoh untuk bersandar dalam investasi.


Tapi kenapa tiba-tiba nama itu disebutkan? Seseorang yang tidak pernah mempublikasikan wajahnya sama sekali.


"Kenzo? Kenapa..." kata-kata Damian terhenti.


"Aku adalah istrinya, terimakasih sudah menyelamatkan suamiku Kenzo..." kata-kata Amel terhenti sejenak, bibirnya tersenyum dingin,"Atau aku bisa memanggilnya dengan nama Dava..."


Memenjarakan mereka atas tuduhan penipuan, dan pemalsuan dokumen. Namun, yang paling disesali mereka, kehilangan sosok pemuda yang sudah dianggapnya sebagai anak mereka sendiri.


"Ja... jadi dia Kenzo pemilik W&G Company?" mata Damian berkaca-kaca, menahan tetes air mata yang hendak mengalir. Tidak dapat dikendalikan olehnya, benar-benar takut kehilangannya. Tidak dapat dibandingkan hidup dengan keluarga kalangan bawah sepertinya dan keluarga aslinya. Dava mungkin akan memilih kembali, dan meninggalkan mereka.


Vanya mengepalkan tangannya,"Jadi kamu ingin merebut putraku!? Jika iya, keluar!!" bentaknya.


Damian meraih jemari tangan istrinya,"Dava harus kembali cepat atau lambat, dia memiliki orang tua, istri, mungkin juga anak...kita..." kata-katanya disela.


"Tapi dia Dava...kamu bilang dia akan bisa menemani masa tua kita..." jeritan tangisannya terdengar, bersamaan dengan Damian yang mulai menenangkannya.


Hei...Aku masih disini, bisakah kalian tidak mendramatisir... gumam Amel dalam hatinya, masih berusaha tersenyum.


"Aku tidak akan mengambil Kenzo, ini adalah dunia impiannya dari dulu. Suamiku seorang yatim-piatu sejak lahir, tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya. Bahkan, pengasuh yang membesarkannya (Kinan) juga sudah meninggal,"


"Karena itu... karena itu..." Amel menitikkan air matanya, berucap penuh keseriusan."Terimakasih sudah menyelamatkannya dari lautan yang dalam. Jika kalian tidak ada, mungkin anak-anakku tidak memiliki kesempatan untuk melihat wajah ayah mereka..."


Wanita yang terlihat berkelas, arogan, membantu pengelolaan perusahaan multinasional, berlutut dihadapan pasangan renta yang tidak memiliki apapun."Terimakasih, Kenzo masih hidup..." jemari tangannya mengepal, air matanya bahkan sedikit menetes ke lantai.


"Ka...kamu tidak ingin merebutnya? Membawanya jauh dari kami?" Vanya menghapus air matanya.


"Tidak!! Jadilah mertuaku!! Agar dia bisa tersenyum seperti hari ini... Ingatannya tidak akan aku paksa untuk kembali," Amel menghirup napas dalam-dalam, mengatakan semuanya,"Suamiku mengalami banyak trauma dan rasa depresi dalam hidupnya. Karena itu biarlah dia mengembalikan ingatannya perlahan, karena mungkin dengan itu luka di hatinya dapat pulih... aku dan anak-anakku tidak akan egois,"


"Kami akan menunggunya dengan sabar... Tolong!! Jadilah mertuaku!! Suamiku menyayangi kalian..." pintanya, sembari tertunduk.


Damian dan Vanya terdiam sejenak, lega? Tentu saja, mereka tidak akan menjalani masa tua seorang diri. Memiliki menantu yang terlihat tulus, serta cucu yang belum pernah mereka temui.


"Bangunlah, aku yang bersalah padamu..." Vanya membantu Amel bangkit dari lantai memeluknya erat.


"Kenzo bahagia bersama kalian..." Amel menghapus air matanya, menghela napas kasar.


***


Damian memutuskan untuk tidak bekerja hari ini, berbincang dengan wanita yang mengatakan bersedia menjadi menantunya. Bukan wanita arogan kalangan atas yang terlihat, namun wanita biasanya yang memperlakukan mereka dan menghormati mereka, tidak peduli statusnya.


Hingga Damian mulai bertanya, pada Amel yang tengah membantu Vanya membuat kue kering,"Jadi apa rencanamu?"


"Aku membutuhkan bantuan kalian untuk mengikat suamiku, selama ingatannya belum kembali..." jawab Amel sembari tersenyum.


"Bantuan apa?" Vanya mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Ayah mertua, bisa berpura-pura terlilit hutang dalam jumlah besar? Ibu juga, aku akan mendatangkan seseorang untuk berpura-pura sebagai dokter, tolong bohongi lah Kenzo... berpura-pura sakit..."


"Jika dia memerlukan pertolongan dan bantuanku maka, kami akan sering bertemu. Anak-anakku tidak akan kekurangan kasih sayang hingga ingatannya kembali..." pinta Amel penuh harap.


Pasangan suami-istri itu saling melirik, kemudian mengangguk tanda setuju.


"Bagus, jika suamiku segera pulih, perusahaan kalian yang sempat pailit juga akan didirikan kembali olehnya. Mungkin orang-orang yang menghina kalian, dapat kalian ludahi atau injak. Karena dia anak dan suami yang berbakti..." ucapnya tersenyum tanpa dosa, kembali mengambil adonan kue.


Pasangan suami-istri itu kembali saling melirik. Dava yang ceria, polos, baik hati akan membangkitkan perusahaan yang sudah pailit. Bahkan membalaskan dendam dengan cara yang keji? Dua kata 'Tidak mungkin,'


Bersambung