My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Victor Hudson



Deru suara mesin AC terdengar, hari sudah mulai siang. Wanita itu perlahan membuka matanya, kini dirinya telah dimiliki sepenuhnya oleh seorang Steven.


Wajah rupawan itu disentuh jemari tangannya, hidung, pipi, bibir. Semua adalah miliknya kini, orang yang selalu menjaganya ketika kecil. Tingkah konyol yang membuatnya malu, namun disaat bersamaan juga membuatnya senang.


Perlahan Steven remaja tumbuh dewasa menjadi sosok yang berbeda. Cinta ini benar-benar indah, itulah yang dirasakannya, mengeratkan pelukannya perlahan. Menenggelamkan wajahnya.


"Kamu senang?" tanya Steven perlahan membuka matanya.


Febria menonggakkan kepalanya, menatap mata itu, kemudian tertunduk sembari mengangguk. Mengingat hal yang mereka lakukan pagi ini.


Tubuhnya yang masih sama-sama berbalut selimut, didekap erat oleh Steven."Aku mencintaimu, setelah masalah keluargaku selesai, aku akan mengumumkanmu sebagai istriku. Bersabarlah..."


Febria mengangguk, membalas pelukannya. Seakan rasa malunya tidak ada lagi, saling berpelukan tanpa sehelai benangpun menutupi.


Jika ini mimpi dirinya tidak ingin mimpi ini berakhir. Jantung yang berdegup cepat saat dengannya, sama seperti 14 tahun lalu. Kala ciuman pertamanya diberikannya pada Steven. Remaja yang membalas, memberikan ciuman lebih dalam.


Ini lebih dari itu, mereka benar-benar melakukannya. Mahkotanya telah direnggut, diberikan olehnya tanpa perlawanan. Benar-benar malu, tapi juga terasa benar-benar nyaman.


"Febria, ayo kita mandi dan makan! Kamu harus memberi makanan pada anak kita yang sedang berkembang.." ucapnya, mengelus rambutnya istrinya.


Wanita itu mengangguk, hendak bergerak, namun benar-benar terasa perih. Steven tidak melakukannya dengan kasar, namun entah kenapa rasanya begitu perih.


"Apa masih sakit? Maaf..." ucap Steven membantunya duduk mengenakan jubah mandi di tubuhnya.


Inilah alasannya tidak dapat mencintai pria lain, selain Steven. Apapun yang diinginkannya seakan diketahui oleh pemuda ini.


Steven segera mengambil handuk melilitkan pada pinggangnya sendiri. Tubuh Febria diangkatnya,"Aku bisa berjalan sendiri!!" ucapnya melawan.


"Aku sudah berhasil menikahimu, jadi saatnya aku memanjakanmu..." ucapnya tersenyum, mengangkat tubuh Febria ke tepi bathtub.


Sungguh dirinya berusaha untuk bersikap senatural mungkin, ingin rasanya tersenyum-senyum sendiri mengingat segalanya. Namun sayangnya terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan berdebar ini.


Keran air diputarnya mengatur suhu panas dan dingin yang seimbang bersamaan dengan dituangkannya sabun cair. Menunggu air penuh? Bibir Steven kembali di sambarnya. Menggerakkan bibirnya penuh senyuman, mengecup dan bermain lidah beberapa kali.


"Ayo mandi..." ucap Steven tersenyum.


Febria perlahan memasuki bathtub, rasa perih ketika bergerak perlahan mereda, oleh air hangat yang menenangkan.


Kami akan melakukannya disini... gumam Febria dalam hati, otak mesumnya kembali berfungsi. Mengira Steven akan memasuki bathtub. Tapi, tidak pemuda itu berjalan ke ruangan kecil bersekat kaca, hendak membersihkan dirinya dibawah derasnya shower.


"Steven..." panggilnya.


Steven berbalik, kemudian tersenyum,"Di tempat tidur lebih menyenangkan..." ucapnya, berjalan masuk.


Febria hanya dapat tersenyum, sangat memalukan. Isi fikiran mesumnya seakan dapat ditebak olehnya.


Namun, saat memasuki ruangan, senyuman di wajah Steven juga menghilang. Dirinya lebih cepat lelah, dan tidak boleh terlalu lelah, jika tidak ingin itu menjadi akhir usianya.


"Maaf..." ucapnya menatap bayangannya sendiri pada cermin besar di hadapannya.


***


Pasangan itu keluar dari kamar berjalan menuju ruang makan. Steven menghela napas kasar menatap Eden yang telah berada disana, menghabiskan setengah porsi sarapan yang dimasaknya tadi pagi.


"Siluman ular putih, sudah membuat banyak penerus keluarga Hudson!?" tanyanya meminum segelas susu.


"Sudah! Puas!? Sudah aku bilang kamu menikah saja..." jawab Steven mulai kembali mengambil beberapa bahan makanan.


Steven menghela napas kasar, meletakkan margarin dan irisan bawang putih di wajan. Menyalakan kompor, guna akan menumis sayuran. Sisa tempuran yang telah di baluri tepung di gorengnya dengan wajan berbeda.


"Manusia hanya bisa melahirkan satu atau dua anak. Jika kembar lebih dari dua ada, itu pun kecil kemungkinannya. Seberapa banyakpun aku mengeluarkan benihku di dalam sana, tetap saja yang lahir paling banyak dua ..." ucap Steven, mulai memberi beberapa jenis kecap dan bumbu.


"Kamu itu siluman ular putih! Ular bisa menghasilkan puluhan butir telur sekali berkembang biak. Siapa tau saja kembar 20," gurau Eden sembari tersenyum.


Febria mengenyitkan keningnya, wajahnya pucat pasi, mengelus perutnya sendiri, dirinya memang memiliki gen kembar. Tapi kembar 20? membayangkannya saja rasanya ingin mati.


"Jangan difikirkan, Eden hanya bercanda, kamu tidak mungkin melahirkan 20 orang anak sekaligus. Kita cicil sepasang anak kembar saja ya, setiap tahunnya. Dalam jangka waktu 10 tahun, 20 orang anak akan lunas," ucapnya tertawa.


"20 orang anak apanya. Dasar Steven menyebalkan, aku akan berpisah denganmu! Tidak ingin melihat wajahmu lagi ..." ucapnya bersungut-sungut.


"Aku hanya bercanda, aku ingin selalu melihatmu..." godanya, mendekati Febria mencium pipinya sekilas.


"A...ada Eden disini," Febria mengalihkan pandangannya menyembunyikan perasaan malunya.


"Kakak, apa kamu tadi melihat sesuatu?" tanya Steven tersenyum.


"Tidak," dustanya.


"Kalian kakak adik memang tidak tau malu," Febria, berjalan ke dapur, mengangkat masakan Steven, untuk diletakkan pada piring. Memakannya dengan cepat.


"Apa enak?" tanya Eden mengenyitkan keningnya.


"Lumayan, hanya kurang sedikit garam," jawab Febria dengan mulut penuh.


"Maksudku apa perlakuan adikku di tempat tidur padamu enak? Apa dia pelan-pelan atau terburu-buru, ukurannya lumayan besar jadi wajar saja jika cara berjalanmu seperti sekarang..." Eden berucap tanpa dosa. Tersenyum menatap Febria yang tersedak, mendengarkan kata-kata kakak iparnya.


Steven memberikan segelas air pada istrinya, segera diraih, diminum oleh Febria,


"Kakak!! Jangan begitu! Jika dia marah nanti malam aku harus merayunya lagi..." kata-kata yang sama tidak tau malunya keluar dari mulut Steven.


"Steven!!" bentak Febria.


Steven tersenyum, duduk di sampingnya, menyuapi Febria,"Jangan marah, aku hanya bercanda. Makan yang banyak, agar jika mungkin anak kita sudah akan ada di dalam sini. Dia dapat lahir dengan sehat,"


Ini sudah biasa untuknya, ketika kecil, remaja itu akan menyuapinya jika tidak napsu makan. Mengatakan pinggang yang terlalu kecil, akan kesulitan melahirkan anaknya nanti. Tapi kini terasa berbeda, Steven benar-benar telah menjadi suaminya.


"Aku mencintaimu," satu kecupan mendarat di keningnya.


***


Sementara itu di tempat lain, Victor Hudson masih terbaring dengan segala alat penunjang kehidupannya. Pria paruh baya itu mengalami cidera di kepala, ketika kelompoknya hampir dihancurkan oleh kelompok mafia Dragon.


Kenapa Victor Hudson dapat keluar dengan selamat, tidak tewas terbunuh? Entahlah, Eden menemukan ayahnya di luar markas yang terbakar habis. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, berlumuran darah segar.


Keadaannya terlihat baik-baik saja, namun tidak menunjukkan pertanda akan sadarkan diri. Alat bantu pernapasan masih terpasang, dilengkapi dengan beberapa alat medis lain.


Dor...dor...dor...


Suara tembakan terdengar, beberapa penjaga jatuh tersungkur berlumuran darah, bersamaan dengan masuknya Doom beserta beberapa anak buahnya.


"Victor, maaf tapi pecundang sepertimu dan keturunanmu harus mati, tanpa sisa..." ucapnya tersenyum menyeringai mendongkan senjatanya tepat di kepala Victor yang masih belum menunjukkan pertanda akan sadarkan diri.


Bersambung