
Kamila terdiam, terlihat ragu menatap ke arah wanita di hadapannya."Rumah Ratna ada disebelah, rumah dengan cat orange. Aku tidak bisa ikut...aku ..."
Takut terlibat masalah? Tentu saja, tidak ingin Ratna salah paham dengannya. Mengingat bukan hanya tetangga, hubungan persahabatan yang erat mereka miliki.
"Kamu harus ikut, jika tidak ingin berita hubungan putraku dan putrimu tersebar," kata-kata yang tidak bisa dibantah keluar dari mulut Amel.
Kamila menghela napas, dengan terpaksa ikut mengantarnya.
***
Wanita itu melangkah di belakang Amel, benar-benar cantik. Sulit dibayangkan Amel berusia lebih tua darinya. Tapi sekali lagi, terlalu menakutkan memiliki besan dari keluarga berkuasa.
Hingga tombol bel pintu depan rumah Ratna ditekan. Seorang ART membukakannya."Apa Ratna ada?" tanya Kamila canggung.
"Masuk dulu, nyonya ada di dalam..." jawab sang ART yang memang sudah mengenal Kamila.
Termasuk rumah yang cukup mewah, dengan tiga lantai dan beberapa kamar. Ruang tamu yang luas, Kamila menghela napas kasar setiap memasuki rumah teman sekaligus tetangganya itu. Bagaikan rumah-rumah yang sering di pakai syuting sinetron kejar tayang.
Hingga sang ART membawakan minuman dan kue kering untuk mereka. Sosok itu akhirnya turun juga dari lantai dua. Ratna melangkah perlahan, menatap baik-baik sosok yang datang bersama Kamila.
"Amel Anggraini?" gumamnya mengetahui foto-foto keluarga Ferrell dari internet.
Bibirnya tersenyum, akhirnya putrinya akan menikah juga. Mungkin kedatangan wanita ini untuk melamar Grisella, hingga akhirnya ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.
"Tolong panggilkan Grisella," ucap Ratna pada sang ART. ART segera mundur, melangkah menuju kamar Grisella.
Amel menghela napas kasar segera bangkit."Perkenalkan aku Amel Anggraini,"
"Aku Ratna ibunya Grisella..." Ratna tersenyum canggung ke arahnya."Sebenarnya, ini tidak sepenuhnya kesalahan Grisella, sebelumnya aku minta maaf sudah mengumumkannya pada media. Tapi jika saja Ferrell bersedia bertanggung jawab..." kata-katanya disela.
"Kita bicara setelah putrimu yang mengandung cucuku berada di sini," ucap Amel tersenyum, meminum minuman dingin di hadapannya.
Situasi yang benar-benar terasa canggung bagi Kamila. Pada akhirnya Kamila memberanikan dirinya bicara."Karena sudah mengantarmu, aku pamit pulang..."
"Tidak boleh, masalah ini juga ada hubungannya denganmu," Amel tersenyum mulai meraih kue kering di hadapannya, tanpa canggung sedikitpun.
"Kamila tidak ada hubungannya dengan ini, jadi..." kata-kata Ratna kembali disela.
"Kamu ingin Ferrell bertanggung jawab? Sebaiknya biarkan Kamila berada di sini." Amel, meraih majalah yang ada di meja.
Ratna hanya terdiam melirik pada Kamila yang sepertinya begitu canggung dari tadi. Canggung dan takut lebih tempatnya. Takut jika Amel membeberkan hubungan Glory dengan Ferrell, hingga perjodohan putrinya dengan Gin dibatalkan.
Pada akhirnya Grisella melangkah turun, menatap kedatangan orang yang awalnya asing baginya. Perlahan mengingat-ingatnya, sebagai ibu dari Ferrell pria idamannya.
"Maaf aku baru turun, apa bibi sudah makan siang?" tanyanya pada Amel yang sedang membaca majalah. Sedang, Amel terdiam merasa tidak mengenal ataupun akrab dengannya.
"Bibi sudah makan, selamat kamu mendapatkan peringkat kedua. Glory turun ke peringkat ketiga, andai saja dia pintar sepertimu..." puji Kamila tersenyum pada Grisella, merasa dirinya yang diajak bicara.
Ratna yang juga tidak menasehati putrinya menganggap kata-kata tidak sopan dari putrinya merupakan hal yang biasa.
Amel kembali meminum minuman dingin di hadapannya."Mau nanti malam makan di restauran Prancis bersamaku?" tanyanya sembari membaca majalah.
"Tentu bibi, aku lumayan suka..." kata-kata Grisella terhenti, Amel menyelanya menatap tajam padanya.
"Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada Kamila. Wanita hamil seharusnya lebih banyak beristirahat dari pada memikirkan untuk berjalan keluar, menunjukkan aib-mu pada semua orang..." Amel tersenyum padanya, menatap tidak suka.
"Maaf, tapi tidak seharusnya kamu begitu pada putriku. Dia..." kata-kata Ratna kembali disela.
"Dia akan menjadi putriku, menjadi menantuku, jika yang dikandungnya benar-benar cucuku. Jadi dia harus belajar lebih memiliki etika, jika ingin anaknya memiliki status di keluargaku. Kamu lihat sendiri kan prilakunya pada orang yang lebih tua?" kata-kata penuh senyuman terdengar mulut Amel.
Ratna mengepalkan tangannya mencoba untuk bersabar. Grisella adalah yang terpenting saat ini baginya.
"Tentang pernikahan..." ucap Ratna ragu.
"Pernikahan akan diadakan setelah usia kandungan Grisella cukup untuk melakukan tes DNA," ucap Amel acuh, kembali membaca majalahnya.
Tes DNA? Tangan Grisella gentar, dirinya bahkan tidak begitu mengenal sosok Ferrell. Mengira ini akan lebih mudah, dirinya akan dinikahi. Masalah tes DNA itu mungkin akan terjadi setelah anak dalam kandungannya lahir. Namun, tidak akan merubah statusnya sebagai istri seorang Ferrell. Tapi ini tes DNA sebelum pernikahan? Tidak, tidak boleh...
Wajahnya seketika pucat pasi."Bibi jika tidak segera menikah, aku, Ferrell, keluargaku dan keluarga bibi akan menanggung malu lebih lama. Karena itu..."
"Keluarga kalian tidak malu untuk mengumumkan ini pada media, daripada bicara baik-baik dengan kami. Jika begitu siapa yang menjadi menyebab semua kegaduhan ini. Menunggu tes DNA, atau aku tidak akan merestui pernikahanmu. Mengirim Ferrell ke negara lain untuk menghindari kalian." Wanita kalangan atas yang begitu tenang menghadapi masalah. Kamila melihat ke arahnya. Kagum? Tentu saja.
Ratna menghela napas kasar."Kami akan menunggu usia kandungan..."
"Ibu!! Tidak bisa! Sudah jelas Ferrell yang menghamiliku! Sudah ada buktinya! Kenapa kalian masih tidak percaya padaku," ucap Grisella menunduk, dengan air mata yang mengalir. Benar-benar terlihat meyakinkan.
Ratna merangkul putrinya, memeluknya dari samping."Jangan menangis ya?"
"Maaf lebih baik pernikahan diadakan secepat mungkin. Putriku mungkin mengalami trauma, mengingat usianya yang masih terlalu muda untuk berhubungan badan, apalagi harus hamil tanpa suami," lanjutnya.
"Kalian bilang ada buktinya bahwa putraku menghamili putrimu. Apa saja buktinya?" tanya Amel, kembali memakan kue kering di hadapannya.
"Ada saksi, mobil Ferrell berhenti di gang depan rumah ini pukul 3 pagi," jawab Ratna.
"Ada bukti lain?" Amel mengenyitkan keningnya. Ratna tidak menjawab, hanya terdiam.
"Ada berapa wanita hamil di gang rumah ini? Jika menggunakan logika kalian, menjadikan itu sebagai bukti. Berarti semua wanita hamil di gang rumah ini dapat menuntut pertanggungjawaban dari putraku," ucap Amel meletakkan majalahnya.
"Tapi hanya Ferrell yang berhubungan denganku. Sudah jelas-jelas mobilnya berhenti di depan gang rumahku, jadi..." kata-kata Grisella disela.
"Kalau begitu, kita geser sedikit logikanya. Jika ada pria yang menghentikan kendaraannya di depan gang rumahmu tengah malam atau dini hari. Sudah pasti menghamilimu. Jadi berapa orang ayahnya?" kata-kata dari Amel penuh senyuman.
Bersambung