
Amel tersenyum penuh kedengkian, seakan sosok baik hati yang mudah tertindas itu menghilang. Wajah Marina seketika pucat pasi, menatap wanita yang dahulunya, terlalu baik.
"A... Amel, jangan..." ucapnya gelagapan.
"Terkadang kakek dan nenek akan menyayangi cucunya, lebih dari kedua orang tuanya," Amel tersenyum, hendak melangkah keluar.
Hingga, menatap seorang pemuda berdiri di depan pintu ruang rawat Gilang."Aku turut berdukacita, dan maaf atas kejadian ini," Tomy sedikit menunduk padanya."Jangan lakukan apapun pada sepupuku, aku selaku kepala keluarga, akan lebih mendidiknya lagi..."
"Kenzo belum mati, jangan pernah katakan, kata berdukacita lagi! Didik sepupumu dengan baik," Amel mengenyitkan keningnya, berjalan beberapa langkah.
"Amel, maaf...aku ingin kita menjadi sahabat seperti dulu. Bukan musuh..." suara Gilang terdengar lirih.
"Menikahlah dengan wanita baik-baik. Mungkin Kenzo tidak akan sungkan lagi untuk kembali menemuiku..." ucapnya pergi menghapus air matanya yang mengalir tidak terkendali.
"A... Amel..." sementara Marina mengejar langkahnya. Tidak ingin Amel melaksanakan sesuai kata-katanya. Menyerahkan Sany pada kedua orang tua Marina.
***
Tomy menghela napas kasar, mulai melangkah masuk. Duduk di sofa, ruang rawat VVIP tersebut. Tersenyum lembut menatap sepupunya.
"Apa benar Kenzo bunuh diri?" tanyanya ragu, dengan air mata mulai mengalir. Tidak terfikirkan kata-kata gegabahnya dapat membuat sang kakak pergi.
Tomy menggeleng,"Dia mati untuk menyelamatkan beberapa orang. Bukan bunuh diri. Jika bunuh diri, senjata api miliknya akan ditembakkan langsung ke kepalanya. Tapi dia memilih menjatuhkan dirinya ke lautan, artinya dia belum ingin mati,"
"A...a...apa yang terjadi?" Gilang terbata-bata, untuk pertama kalinya kata-katanya membuat seseorang memilih mengakhiri hidupnya.
"Blood Cargo, Kenzo mengirim bukti untuk menjerat salah satu jaringan mafia. Membahayakan nyawanya sendiri, hingga sekarang mayatnya belum ditemukan. Mungkin ikan sudah memakannya..." Tomy tersenyum simpul.
"Kak Kenzo tidak mungkin mati!!" teriak Gilang, dengan tangan gemetar.
"Kakakmu sudah mati, itulah kenyataannya. Dia mati karena adik yang tidak pernah menyayanginya," ucapnya, membuka beberapa toples biskuit yang berada disana.
"Aku menyayanginya..." Gilang mencengkram selimut, air matanya mengalir tiada henti.
"Kamu membunuhnya, itulah kenyataannya," Tomy menemukan biskuit yang sesuai dengan seleranya.
Mengambil gelas, menuangkan susu kemasan, memutar Oreo, menjilat, kemudian mencelupkannya ke dalam segelas susu UHT dari peternak susu sapi pilihan, diperah dan diolah sesuai standar kesehatan.
"Kakak, dia orang yang kuat, terbiasa hidup di luar. Aku hanya menginginkan Amel, apa sulit? Kenzo tidak mungkin terpengaruh hanya oleh satu orang wanita. Dia tidak akan bunuh diri, karena ucapanku saja..." Gilang tertunduk dalam air matanya yang terus mengalir.
Hingga Tomy menghentikan kunyahannya, menatap sinis pada Gilang,"Orang yang tidak pernah hidup seorang diri di jalanan sepertimu tau apa!? Kamu pernah tidak makan selama dua hari? Pernah diusir karena baumu yang menyengat?"
"Kenzo tidak memiliki apapun, keluarga? Teman? Dia hanya memiliki istrinya. Dan kamu memintanya? Memprovokasi dengan mengatakan kelemahannya!?" kali ini, untuk pertama kalinya Tomy terlihat benar-benar marah di hadapan sepupunya."Gangguan kepribadian yang dialaminya, juga ada sangkut pautnya dengan keluarga kita..."
"Tapi aku, kakak tidak mungkin memutuskan semuanya hanya karena ini. Lagipula hanya seorang wanita!! Pasti mudah didapatkan gantinya olehnya!!" kata-kata egois itu kembali terlontar.
"Baik, aku akan mendidik mu, sebagai seorang sepupu yang benar-benar peduli. Lukamu, hanya masih sedikit memar, besok pulanglah dari rumah sakit. Aku akan mengirim mu, ke daerah lain, tinggallah disana dengan bekal hidup 100.000 rupiah. Tanpa ijasah, latarbelakang keluarga dan status sosial," Tomy kembali tersenyum, memutar, menjilat dan mencelupkan biskuit, kemudian memakannya.
Lagi-lagi Tomy menghela napasnya,"Kamu mengatakan seolah-olah kehidupan Kenzo begitu mudah. Aku sendiri pernah hidup di jalanan, menahan rasa lapar. Dihujat sebagai anak wanita malam, tapi memang benar, aku anak dari hasil perselingkuhan ayahku Adrian (adik Leon) dengan seorang wanita penghibur,"
"Dulu ketika kecil, aku sampai tidak dapat berbicara dengan lancar (gagap). Tapi aku mengalaminya hanya hingga usia 11 tahun. Setelah itu kehidupanku menjadi lebih baik. Kenzo, tinggal di jalanan lebih lama dariku, kehidupannya juga pasti lebih sulit dariku,"
"Karena itu, aku mendidik mu dengan cara ini. Paman Leon dan kakek terlalu memanjakanmu..." lanjutnya.
"Aku akan mengadu pada ayah dan kakek!!" Gilang meninggikan intonasi suaranya.
"Mengadu lah! Aku adalah kepala keluarga saat ini. Mengatur semua hal yang ada di rumah dan perusahaan. Tau kenapa?" tanya Tomy masih setia tersenyum. Gilang hanya diam tertegun tidak menjawab.
"Ada alasan kakek memberikan posisi komisaris padaku, bukan paman Leon. Kakek merasa gagal untuk mengurus dan mendidik kalian..." lanjutnya.
"Kakek menyayangiku, dia tidak akan senang jika kamu," kata-kata Gilang terhenti. Tomy menatap tajam padanya.
"Aku tidak suka menjadi komisaris Bold Company, mengatur keluarga tanpa pondasi. Tapi, jika aku berhenti sekarang, meninggalkan rumah dan perusahaan. Frans akan menginjak lehermu, mengakuisisi Bold Company, karena kematian Kenzo,"
"Jadi mau, tidak mau hingga batas waktu yang tidak ditetapkan. Tinggallah di kota lain, hidup dengan berbekal uang 100.000, atau aku akan meninggalkan perusahaan. Membiarkan Frans mencabik-cabikmu hingga mati, kemudian meruntuhkan Bold Company..." lanjut Tomy.
Cerdas, memiliki banyak koneksi di dunia bisnis. Itulah sosoknya, satu-satunya cucu Suki yang berasal dari hubungan di luar nikah. Tidak dibesarkan di rumah utama.
"Gilang, aku harap kamu dapat banyak belajar nantinya. Apa arti sebuah keluarga, dan bagaimana rasanya hidup kesepian, tanpa satu orangpun di sisimu..." ucapnya tersenyum, meminum segelas susu yang berada di atas meja.
Gilang yang masih duduk di tempat tidur mulai tertunduk. Kenapa Kenzo harus mengakhiri hidupnya? Bukankah seharusnya, sang kakak, menyerahkan Amel padanya, menemukan wanita lain yang lebih cantik. Orang seperti Kenzo bukankah banyak gadis rupawan yang akan mengejar?
***
Dua hari kemudian...
Pagi menjelang, dua orang security yang bertugas di rumahnya. Benar-benar menurunkannya di pusat kota lain. Tempat yang begitu jauh dari rumah besarnya. Hanya dengan berbekal sebuah koper, dan uang 100.000 rupiah di sakunya.
Tuan muda yang masih berusaha melangkah dengan egonya. Perutnya terasa lapar, belum sempat sarapan setelah semalam keluar dari rumah sakit.
Toko roti kecil di liriknya, dengan sebuah kotak bertuliskan roti gratis di depannya. Sebuah papan juga bertuliskan.
'Jika sudah makan roti, mohon doakan almarhum ibu saya. Ini amal untuknya,'
Langkah Gilang terhenti sejenak, menghela napas kasar,"Gratis? Pasti makanan sisa atau produk gagal..." cibirnya melangkah pergi.
Tujuan? Tidak pasti, dirinya mencari makanan murah yang bisa di konsumsinya. Serta pekerjaan sementara yang tidak memerlukan ijasah. Mengingat Tomy menahan semua akses dan fasilitasnya.
Sedangkan di dalam toko roti, seorang gadis tersenyum melayani pelanggannya. Gadis yang tidak memiliki apapun, keluarga, teman, ataupun kekasih.
Gadis yang tersenyum, namun tangannya mengepal penuh dendam. Menghancurkan hidup Keyla masih menjadi tujuannya. Mengingat bagaimana sang ibu meninggal. Tuan Antoni? Itu bukan nama ayahnya lagi.
Bersambung