My Kenzo

My Kenzo
Kita Adalah Teman



Kapal expedisi telah meninggalkan pelabuhan. Bersamaan dengan orang-orang bersenjata yang sebelumnya bersembunyi keluar. Berjaga diatas area geladak kapal.


Pemuda itu tersenyum, mulai memainkan pionnya. "A... aku ditugaskan oleh bbbb....bos besar un... untuk me...mendata," kata-kata pura-pura gagap dari mulutnya.


"Masuk!!" ucap seorang penjaga yang ditugaskan mengawasi belasan kontainer tersebut. Belasan? Bukan hanya manusia, obat-obatan terlarang, senjata ilegal bernilai tinggi juga ada di sana. Mungkin hanya sekitar lima kontainer yang menyelundupkan manusia.


Kamera kecil mulai dipasangnya. Bersinggungan langsung dengan mafia? Sesuatu yang sejatinya selalu dihindarinya. Mati karena tembakan? Itu masih lebih baik, jika tertangkap mungkin akan dikurung, kuku yang dicabuti satu-persatu, siraman air keras, hingga berakhir dengan kematian. Dikubur? Itupun jika masih utuh, mungkin seluruh organ yang dapat dijual akan diperdagangkan di pasar gelap.


Satu yang pasti, kemungkinan keberhasilan bagaikan menjadikan, beberapa kertas tipis sebagai pijakan untuk berlari menyebrangi kolam renang, bagi seseorang tanpa kekuasaan seperti Kenzo.


Dirinya akan mati, entah dengan cara apa. Tapi orang-orang dalam beberapa kontainer ini harus hidup. Ingin menebus dosa? Mungkin jika orang-orang ini selamat dan mendoakan dirinya. Tuhan dapat berbelas kasih untuk mengampuninya.


Cincin pernikahan di genggamnya erat. Bagaikan meminta maaf, pada istrinya telah menjadi suami yang egois. W&G Company, sesuatu yang akan menjadi bekal hidup bagi istri dan anak-anaknya, setelah kepergiannya. Mengantarkan kematiannya sendiri.


Dua orang pengawal profesional miliknya, memakai pakaian yang sama dengan anggota mafia lainnya. Kenzo tidak mengijinkan mereka mengorbankan nyawanya. Dua orang yang hanya dimintanya untuk diam-diam mengirim titik koordinat kapal, pada kantor W&G Company. Tempat dimana Phil sudah bersiap-siap menghubungi kepolisian federal menurut wilayah laut negara yang dikirimkan Kenzo. Beserta bukti yang akan didapatkan.


Dua orang pengawal profesional, yang diberinya perintah tidak membuka identitas, walaupun Kenzo, majikannya tertangkap atau mati nantinya. Cukup diam, berpura-pura menjadi salah satu dari anggota kelompok tersebut, hingga kepolisian federal tiba nantinya, untuk menyelamatkan mereka.


Tidak ada jaminan akan selamat, mengingat dirinya yang harus mengirimkan bukti. Jejak digital yang mungkin akan terdeteksi, waktu melarikan diri yang sempit. Di tengah lautan lepas.


"Tuan..." salah satu pengawal masuk, ke dalam kontainer tempat Kenzo berada saat ini.


"Kenapa kemari? Turuti perintahku, tugasmu hanya terus-menerus mengirim titik koordinat kapal, melalui radio. Lakukan seolah-olah kita tidak saling mengenal hingga akhir..." ucap Kenzo, yang tengah sibuk memasang beberapa kamera kecil lagi.


"Tuan, saya tidak memiliki keluarga. Menjadi tentara bayaran selama bertahun-tahun, menjadi *njing peliharaan orang-orang serakah. Anda yang membantu saya, memberikan pekerjaan sebagai pengawal, pekerjaan tetap, tanpa perlu membunuh orang. Karena itu, karena itu...saya mulai paham. Mohon ijinkan saya mempertaruhkan nyawa untuk melindungi anda..." ucapnya.


Kenzo masih tertunduk sibuk memasang kamera kecil, menyembunyikannya agar tidak terlihat,"Kamu masih muda. Masih memiliki kesempatan untuk memiliki keluarga, akan memiliki anak dan istri nantinya,"


"Tapi anda juga..." kata-kata sang pengawal terhenti.


Kenzo tertunduk,"Aku tidak memiliki keluarga, Frans? Hanya dia temanku, istri? Aku bahkan tidak tau dia benar-benar bahagia atau tidak saat bersamaku. Saudara? Orang yang aku anggap adik bahkan menginginkan kematianku,"


"Anggaplah ini, sebuah penebusan dosa. Membuatku pantas bersanding dengan istriku. Terlepas aku dapat atau tidak menggengam tangannya nanti..." lanjutnya.


"Tuan, saya..." kata-kata sang pengawal kembali disela.


"Jika kamu menganggapku sebagai majikanmu hingga akhir. Jaga istri dan anak-anakku, jangan biarkan mereka terluka..." Kenzo mulai bangkit tersenyum menatap padanya,"Jangan mati... agar kamu dapat hidup untuk melindungi istri dan anak-anakku. Mereka adalah majikan barumu nantinya,"


"Tuan..." air mata pria itu mengalir deras."Istri anda si bulat bukan?" tanyanya yang pernah bertemu dengan Amel hanya sekali.


Tepatnya ketika rumah Amel didatangi keluarga almarhum Alwi.


"Iya...si bulat yang aku sukai," Kenzo tersenyum, menepuk bahu pengawalnya. Berjalan meninggalkannya di dalam kontainer seorang diri.


Mata Kenzo memerah, menahan bulir-bulir air mata yang hendak mengalir. Pandangan matanya menatap kearah langit. Teringat akan masa kecilnya kala untuk pertama kalinya mendatangi makam kedua orang tuanya. Membawa sebuah karung plastik putih, berisikan besi dan botol bekas. Bukan seikat bunga yang dibawanya, menjenguk ke peristirahatan terakhir orang tuanya untuk pertama kalinya, hanya besi panjang untuk mengorek sampah.


Menangisi dirinya yang tidak memiliki keluarga. Bahkan setelah bertahun-tahun, hasilnya tetap sama, dirinya sejatinya hanya seorang diri. Tidak pernah memiliki apapun.


Kebahagiaan? Hanya kenangan selama dua tahun terakhir yang diingatnya. Kala dirinya mencium gadis gemuk yang dicintainya dalam kolam renang dingin. Saat dirinya hanya merindukannya, ingin membahagiakannya.


Hukuman-hukuman tanpa alasan dilakukannya hanya untuk menyentuhnya. Bahkan ketika kue ulang tahun yang diantarkannya membawa kebahagiaan bagaikan lilin terang di hatinya.


Jika Tuhan mengasihiku, Beliau akan mengantarku pulang bagaimanpun caranya...


Tapi jika Tuhan, terlalu membenciku. Aku hanya akan memohon pada-Nya dapat menatap wajahmu, menemuimu ketika dirimu tertidur lelap. Itu sudah cukup untukku...


***


Beberapa orang pria tertawa dengan wanita-wanita cantik di pangkuannya. Menuangkan minuman berakohol, bahkan ada yang membuka helai demi helai pakaiannya, menari erotis.


"Semua sudah akan diantar, sayang kamu minta apa?" tanyanya pada wanita bertubuh menggoda dengan hanya bikini yang menutupi tubuhnya.


Semuanya sudah direkam dan disadap oleh pemuda yang kini melepaskan earphonenya. Mengirimkan semuanya dari atas salah satu kontainer, menggunakan perangkat khusus. Tidak ada yang menyadari? Dua orang pengawalnya yang ikut berjaga di bawah sana menjadi pion utamanya.


Enter, tombol itu akhirnya ditekan olehnya. Segera menghapus semua data dan informasi tempat data itu akan diterima, tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Bahkan laptop dan perangkat yang dipakainya, dilempar ke dalam laut.


Kenzo duduk terdiam menatap ke arah bintang. Ahli IT mereka pasti akan menyadari data sebanyak itu dikirim dalam waktu bersamaan. Pemuda itu tersenyum, mulai melompat turun dari salah satu box kontainer.


"Cari!!" perintah salah seorang anggota mafia. Pertanda ahli IT mereka sudah mencurigai keberadaan mata-mata di dalam kapal.


Suara kegaduhan terdengar, ini di tengah laut. Tidak ada tempat melarikan diri untuknya. Hingga pemuda itu duduk di salah satu sudut geladak kapal. Bersembunyi? Mungkin itulah tujuannya, tapi hanya kecil kemungkinan untuk tidak ditemukan.


Handphone istrinya mulai dihubungi olehnya. Namun tidak ada hasil, mungkin istrinya tengah membersihkan diri. Tidak mendengar panggilan terakhir dari suaminya.


Hingga Kenzo tersenyum dalam tangisannya, Frans dihubunginya.


"Ada apa? Aku sedang di bandara menuju Malaysia. Kalau mau menambah beban pekerjaanku, lebih baik matikan panggilannya!!" ucapnya kelelahan, duduk di area keberangkatan penumpang.


"Jangan dimatikan, aku memerlukan teman bicara..." senyuman menyungging di wajahnya, seakan tidak takut akan ditemukan keberadaannya.


"Ada apa? Apa kamu dan Amel bertengkar?" tanyanya.


"Kamu dan Amel yang akan menjaganya, kenapa jadi aku...aku..." kata-kata Frans terhenti, menyadari ada yang salah,"Gilang, kamu tau sesuatu tentangnya!?"


"Dia istriku, bantu aku menjaganya. Tapi jika suatu hari nanti dia menemukan kebahagiaannya dengan orang lain. Jangan menghalanginya..." setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Orang-orang bersenjata sudah mulai akan menemukan keberadaannya.


"Apa maksudnya!? Amel menyukaimu, dia sendiri yang mengatakannya!! Jangan bertindak bodoh!! Kamu dimana sekarang!?" bentak Frans meninggikan intonasi suaranya.


"Tempat dimana aku merasa lebih lega ..." Kenzo mulai bangkit dari persembunyiannya, menyadari salah satu dari mereka menodongkan senjata padanya. Namun dengan jarak sekitar empat meter.


"A... aku akan menghubungi Amel, dia akan membuatmu lebih tenang. A... atau kita ke psikiater, kamu..." kata-kata Frans terhenti.


"Tidak perlu, aku sudah cukup lelah. Tidak memiliki apa-apa, orang-orang yang mencintaiku sudah dipanggil Tuhan satu persatu..." gerutunya, melangkah mundur.


"Kenzo!!" bentaknya dengan nada tinggi.


"Turunkan senjatamu!!" ucap salah seorang anggota mafia, menatap ke arah Kenzo yang mulai mengeluarkan senjata api berukuran kecilnya."Dan katakan kemana kamu mengirim informasi tentang hal yang kami lakukan disini. Maka kamu akan tetap hidup!!"


Kenzo tersenyum, tetap menggenggam senjatanya dengan satu tangan lagi, tangan lainnya masih memegang phoncellnya.


"Blood Cargo!?" dugaan Frans, dari suara orang yang terdengar mengancam,"Kamu sudah gila!? Aku akan menghubungi kepolisian..."


"Aku memang sudah gila, siapa yang tidak akan gila hidup tanpa memiliki apapun. Hidup hanya untuk iri pada..." kata-katanya terhenti sejenak.


Dor...


Suara tembakan terdengar, mengenai kakinya. Frans tertegun, menyadari hal yang terjadi, berharap Kenzo masih dapat melanjutkan kata-katanya."Kenzo?"


"Aku iri pada semua orang. Termasuk padamu yang masih sempat menerima kasih sayang orang tua. Karena itu..." tubuh Kenzo kembali mundur mendekati tralis.


Dor...


Tembakan mengenai area bahunya. Pemuda itu tersenyum, mulai memejamkan mata."Tolong katakan aku akan pulang pada Amel. Dan khusus untukmu kita adalah teman mulai saat ini..."


Kenzo menjatuhkan tubuhnya, memejamkan matanya sejenak, bagaikan sudah dapat menerima air laut menelan tubuhnya dalam kegelapan.


Pemuda itu menatap ke atas, lubang di hatinya terasa menganga. Tenggelam dalam gelapnya air laut, matanya mulai terpejam, semua kenangan hidupnya bagaikan terulang. Sebuah mimpi yang bagaikan berjalan ke masa lalu...


Dirinya menemukan sebuah pintu tua...


Kenzo dewasa melangkah perlahan, Kinan yang mengasuh dan menyuapi dirinya ketika kecil terlihat. Kenangan yang hangat baginya, hingga dirinya melangkah mengejar mereka yang berjalan menelusuri lorong rumah milik Suki. Menemukan pintu baru, membukanya dengan cepat.


Hari kelahiran Amel, Kenzo menatap dirinya yang ketika kecil memainkan jemari bayi mungil itu. Senyuman terlihat di wajahnya, air matanya mengalir tiada henti.


Hingga tubuh dirinya yang ketika kecil berubah menjadi anak yang menangisi makam ke dua orang tuanya. Beranjak remaja, menangisi makam Dewi dan Gama. Terlalu banyak kehilangan dalam hidupnya.


Hingga wajahnya remajanya menjadi penuh dendam. Bahu remaja yang ingin disentuh dirinya saat ini. Namun, semua hanya kenangan masa lalu yang menyakitkan. Menghilang lenyap perlahan.


Udara Jepang yang dingin terasa, kala dirinya berjalan bersama di tengah hujan salju, berbagi kue ikan hangat dalam perjalanannya. Mencium dan memeluknya, berharap mendapatkan hatinya.


Kenangan yang indah, dirinya ingin menghentikan waktu di masa-masa itu. Namun, kali ini dirinya melangkah ke tempat yang lebih terang. Kala, sepasang pengantin menyematkan cincin, berjanji penuh kebahagiaan.


"Setidaknya aku pernah bahagia..." Kenzo tersenyum.


Hingga di akhir perjalanannya, dirinya mengetahui segalanya.


'Tidak akan menjadi ayah dan suami yang baik!!'


'Dia tidak pernah mencintaimu, hanya rasa terimakasih'


Hujatan dari orang-orang, tekanan yang diterimanya, sesuatu yang menyakitkan. Air matanya mulai mengalir, berjalan di setiap lorong. Hingga pintu terakhir terlihat, pintu tempatnya bersembunyi, melarikan diri dari lubang menganga di hatinya.


Mengunci semua kenangan hidupnya, seorang anak yang tidak memiliki apapun hingga akhir.


Tertelan dalam air laut yang gelap...


Bersambung


Terkadang melelahkan bagiku untuk mencoba lebih dewasa menjalani hidup.


Tidak memiliki apapun, tidak mencintai siapapun. Yang terfikir hanyalah ingin semua orang mengalami rasa sakit sama sepertiku.


Namun, ketika kebahagiaan itu mulai terlihat, mengajariku bagaimana mencintai. Seseorang menyadarkanku. Tanganku terlalu kotor untuk melangkah bersamanya.


Tidak ada jalan lain, mungkin hanya bersembunyi dari dunia yang begitu menyakitkan....


Maaf, menahanmu...


Aku mencintaimu...


Kenzo...